Senin, 18 Februari 2008

Modal Spiritual

Pembahasan tentang modal spiritual tidak lepas dari perkembangan teori-teori pembangunan. Namun menemukan sumber tentang modal spiritual (Spiritual Capital) cukup sulit, bahkan di dalam dunia yang tidak terbatas “internet” sekalipun. Sepertinya gagasan tentang modal spiritual ini lebih intens dibahas pada tahun-tahun belakangan ini. 

Peter Berger dan Robert Hefrer dalam papernya tentang Modal Spiritual (2004) berpendapat bahwa gagasan ini sebenarnya telah muncul dan dibicarakan sejak lama, sampai pada saat Max Weber menghasilkan karyanya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Karya Weber tersebut kemudian menjadi bahan studi bertahun-tahun oleh para ahli ekonomi pembangunan yang mencoba menemukan hubungan antara keberagamaan manusia dengan pembangunan khususnya kapitalisme modern. Masalahnya menurut mereka adalah kapitalisme modern itu sendiri telah mengalami perkembangan dan perubahan yang tidak main-main jauh melampaui ramalan Weber. Konteks yang berbeda antara situasi manufaktur sederhana pada masa Weber dengan perekonomian yang didukung oleh pengetahuan dan teknologi informasi melahirkan permasalahan baru, apakah gagasan Weber tentang disiplin diri dan hidup hemat masih relevan, karena kelihatannya konsumerisme telah menjadi daya dukung utama kapitalisme modern saat ini. 

Sepertinya bahasan tentang Modal Spiritual dapat menjadi kerangka kerja bagi studi-studi ekonomi pembangunan dalam hubungan dengan agama dan budaya.

Saya masih berusaha mengumpulkan sumber-sumber tentang modal spiritual (Spiritual Capital). Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi kita, saya berharap saudara sekalian dapat memberikan sumbang saran tentang topik ini. Sumbang saran itu dapat berupa pemikiran, rekomendasi alamat pencarian (perpustakaan, website, toko buku, dll) atau dapat juga berupa judul buku dan artikel atau apa saja.

Saya berharap dapat menjadikan topik ini sebagai bahan studi lanjut dalam konteks Indonesia, lebih khusus di Papua dan Maluku, di mana pertemuan antara tradisi keagamaan besar Kekristenan dan Islam dengan Adat menghasilkan nilai-nilai yang menjadi kearifan bersama masyarakat. Menurut saya, identifikasi nilai-nilai yang lahir dari pertemuan-pertemuan itu telah menjadi bahan kajian bertahun-tahun. Apakah nilai-nilai dari perjumpaan-perjumpaan itu dapat disebut sebagai modal spiritual dalam pembangunan? itulah yang menjadi masalah saya.

Kalau saja kita bisa berbagi, terima kasih.

Tidak ada komentar: