Rabu, 12 Maret 2008

Refleksi Jumat Agung

Membicarakan kematian adalah hal yang tidak mungkin bagi kita. Kenapa? Karena kita belum pernah mengalami hal itu atau kalau sudah ada yang pernah mengalami kematian, mereka tidak dapat dijadikan informan kunci dalam upaya-upaya penyelidikan yang sifatnya ilmiah tentang pengalaman kematian. Jadi, pengalaman kematian tidak dapat didekati secara empiris karena memiliki kesulitan epistemologis tersendiri.

oleh karena . . . .


Oleh karena itu, agama kemudian dibiarkan berbicara tentang kematian karena pada intinya agama itu menyangkut iman dan iman itu tidak perlu dibuktikan secara empirik. Iman adalah sebentuk keyakinan yang lahir karena pengharapan tentang sesuatu yang lebih baik. Iman dapat menjadi faktor penyebab bagi tindakan-tindakan kemanusiaan yang dapat dikaji secara empirik, tetapi lebih dari itu, iman kemudian menjadikan manusia berpengharapan pada tentang keadaan sesudah mati.
Kematian Yesus menjadi contoh bahwa siapapun dia, manusia, tetap akan mati. Untuk memunculkan keilahian Yesus, maka kemanusiaan dia harus mati. Masalahnya adalah Injil kemudian menceritakan tentang tubuh fisik Yesus yang dibangkitkan. Itulah awal iman kekristenan tentang kematian. Bahwa kematian itu bukan apa-apa. Kematian fisik hanyalah bagian dari siklus alam. Kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemberitaan tentang hidup yang kekal. Untuk hidup kekal, maka kematian fana harus terjadi.
Apa maksudnya ini…? Saya ingin mengajak basudara untuk melihat kembali kisah tentang jatuhnya manusia ke dalam dosa. Aktor yang ditampilkan dalam kisah itu adalah Allah, manusia pertama Adam dan Hawa, Ular yang mewakili si Iblis. Kisah itu diceritakan terjadi dalam Taman Eden. Aktifitas yang terjadi dalam cerita itu adalah bahwa Allah menempatkan Adam dan Hawa serta memberikan perintah dan larangan (ini sangat bermoral karena sebenarnya Allah memiliki kuasa untuk membatasi manusia dari sisi fisik dan psikis – tetapi yang dilakukan adalah, Allah memberikan batasan secara normatif lewat perintah dan larangan). Jadi, karakter siapakah yang diwakili oleh tokoh Allah….? Ok, kita tidak akan membahasnya di sini. Saya kembali lagi kepada perintah dan larangan itu, bahwa semua pohon di dalam taman ini boleh dimakan buahnya, tetapi pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan tidak boleh dimakan karena pada saat mereka memakannya, mereka akan mati. Saya membayangkan bahwa kalau mereka tidak memakan buah dari pohon itu maka tidak akan ada kematian sama sekali. Muncul ular yang mewakili tokoh iblis. Ular menyatakan bahwa mereka telah mendengar perintah dan larangan dari Allah itu, tetapi sesungguhnya, hal itu tidak benar. Yang akan terjadi ketika mereka memakan buah itu adalah mereka akan menjadi seperti Allah, tidak akan pernah mati. Buah pun dimakan baik oleh Hawa maupun Adam. Allah murka dan mengutuk serta mengusir mereka karena tidak taat pada batasan-batasan normatif yang dikeluarkan oleh Allah.
Diceritakan bahwa setelah memakan buah itu, mereka kemudian menjadi tahu (Ibrani = yada) bahwa mereka telanjang dan setelah itu mereka bersetubuh (Ibrani = yada) dan melahirkan anak-anak. Seluruh kata “bersetubuh” secara fisik dalam Perjanjian Lama menggunakan kata Ibrani yada. Begitu juga kata “tahu”, menggunakan kata Ibrani yada. Mereka saling mengetahui setelah memakan buah itu dan hasil dari pengetahuan itu kemudian menjadikan manusia hidup kekal. Apa maksudnya? Ya, apa yang dikatakan oleh ular itu sebenarnya hal yang tidak dapat dipungkiri. Bahwa manusia pertama, Adam dan Hawa akan mati, tetapi spesies manusia akan hidup kekal dan kekekalan itu dapat diperoleh bila manusia saling mengetahui dan pengetahuan itu dapat terjadi bila manusia memakan buah dari pohon yang dilarang itu. Dapatkah anda membayangkan perintah Allah tentang beranakcucu dan penuhi muka bumi ini berada di awal (sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa = sebelum manusia saling mengetahui/dapat bersetubuh dengan yang lawan jenis) harus dilaksanakan oleh Adam dan Hawa dalam keadaan mereka tidak saling mengetahui tentang diri masing-masing dan tidak dapat saling menyetubuhi (yada itu)? Mengapa ular dipilih mewakili tokoh Iblis? Salah satu hal yang dapat dijadikan alasan adalah karena ular pada waktu itu diyakini sebagai binatang yang hidup kekal (tidak pernah mati). Ular selalu berganti kulit, karena pergantian kulit itulah yang menandakan bahwa ular selalu memiliki hidup yang baru (itu pandangan dunia pada saat kitab Kejadian ditulis).
Apa hubungannya dengan kematian Yesus dan kehidupan kita?.
Dalam Injil, silsilah Yesus selalu ditarik sampai kepada Adam. Itu berarti Yesus adalah bagian dari kekekalan manusia. Yang membedakan antara kematian Adam dengan kematian Yesus adalah kalau kematian Adam merupakan awal dari kekekalan spesies manusia, maka kematian Yesus adalah awal dari bentuk baru kehidupan manusia. Kehidupan yang menjungkirbalikkan segala keyakinan lama dan mentransformasikannya menjadi kehidupan yang benar-benar berbeda. Jadi, kematian Yesus adalah kehidupan kita. Tanpa kematian tidak akan ada kebangkitan. Tanpa kelahiran tidak akan pernah ada kematian. Tanpa persetubuhan (yada), tidak akan pernah ada kelahiran.
Bagi saya, kalau harus mati demi kehidupan banyak orang, saya pun mau mati seperti Yesus. Tetapi kalau cuma mati konyol, saya lebih baik memilih tetap hidup dan berupaya untuk merubah apa yang dapat saya ubah, sambil menunggu waktu biologis saya berhenti dan fisik saya kemudian mati (tidak tahu dengan jiwa saya – tetapi saya tetap yakin dalam iman saya bahwa ketika kematian fisik itu terjadi, maka ada sesuatu yang akan terjadi dengan jiwa saya, entah itu diselamatkan dan masuk ke “sorga” ataukah tidak diselamatkan dan masuk ke “neraka”).




Anda Mau Jadi Pemimpin Besar?

Anda tahu 3 hal penting yang dapat menjadikan anda sebagai pemimpin besar? Mau tahu?? .............................
silahkan


Pada tahun 2000, saya mendapat kesempatan berangkat dari Ambon ke Denpasar Bali untuk mengikuti Kongres Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Memang kesempatan itu tidak pernah datang dua kali dan dalam tiap kesempatan, kita dapat belajar dan memahami tentang diri kita dan posisi diri kita berhadapan dengan orang lain dalam suatu komunitas. Saya kembali teringat Heidegger yang berbicara tentang “Pengalaman” sebagai suatu proses keluar untuk belajar dan menemukan dalam peristiwa-peristiwa objektif sehingga secara sadar mempengaruhi inti terdalam kemanusiaan.
Seperti biasa, suasana Kongres suatu organisasi kemahasiswaan apalagi pada aras nasional memang sarat dengan kepentingan dan kepentingan itulah yang kemudian dapat mengombang-ambingkan kesadaran sehingga bisa saja terjadi pembalikkan nilai dari apa yang diyakini benar pada awalnya, menjadi salah dan sebaliknya.
Kegiatan dimulai dengan seminar tentang beberapa isu yang menjadi perhatian GMKI saat itu. Setelah itu masuk dengan acara inti, mulai dari laporan pertanggungjawaban pengurus lama, sampai pada pemilihan pengurus yang baru.
Suasana kongres sering diwarnai oleh peristiwa-peristiwa dramatis. Ada calon sekretaris umum yang melepaskan sepatunya dan memukul-mukul meja sidang, ada perwakilan salah satu cabang yang mengambil palu sidang dari tangan majelis ketua sehingga mengakibatkan keributan yang mengarah pada perkelahian fisik (heheheheee…. Orang yang mengambil palu sidang itu dari Cabang Ambon.. Henpas, begitu biasa dipanggil). Sampai terakhir, ketika salah satu calon ketua yang kami usung tidak lolos menjadi ketua (Wilson dari cabang Kupang). Hal itu membuat kami cukup sedih.
Setelah semua berakhir, kami berkumpul di sudut halaman hotel tempat kegiatan (Dyana Pura), mencurahkan seluruh isi hati kami dan mencoba belajar dari kenyataan yang terjadi. Wilson, sang calon yang tidak terpilih kemudian diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah kata. Yang masih saya ingat sampai saat ini dari kata-kata yang terucap itu adalah: “Saudara-saudara, ingatlah bahwa ini bukan kekalahan yang harus membuat kita terjatuh. Ini adalah bentuk dari daya hidup organisasi ini, sehingga kompetisi untuk menjadi pemimpin itu begitu ketat karena sesungguhnya kita semua yang hadir di sini adalah pemimpin. Hal terakhir yang hendak saya sampaikan, ada 3 (tiga) hal yang akan menjadikan kita sebagai pemimpin besar, yaitu: yang pertama kerendahan hati, yang kedua kerendahan hati, yang ketiga kerendahan hati.”
Sesungguhnya hanya satu hal yang dapat menjadikan kita sebagai pemimpin besar yaitu kerendahan hati. Menarik ketika Bung Wilson menyampaikan bahwa ada tiga hal dan ketiga hal itu adalah sama, kerendahan hati, kerendahan hati, kerendahan hati. Ini adalah bentuk pengungkapan jati diri dari seorang pemimpin yang berjiwa besar.
Kerendahan hati akan menjaga kita dari sikap menyombongkan diri. Kerendahan hati juga yang akan membuat kita tetap sadar bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain. Dan kerendahan hati itu dapat kita pelajari dari pemimpin yang benar-benar rendah hati YESUS.



Senin, 10 Maret 2008

Diskusi Menarik Dalam Room Chatt dengan Kabaressi@blogspot.com

Awalnya Tema yang dibicarakan itu seputar lyrik lagu Naruwe dan kemudian berkembang... silahkan diikuti

saya: ada online ka bos?
Dikirim pada 18:44 di hari Senin

saya: beta usahakan kirim VCDnya bos. Beta ingat ada salah satu filsuf (lupa namanya) yang bilang "Dalam Tuhan Kita Percaya, Yang Bukan Tuhan Harus Datang Bawa Data".. Hehehehe

Steve: iyo kirim akang dolo tamang. supaya ktong bisa orgasme sadiki



saya: hahahaaaa.... orgasme kombali.. Mantap bos, beta kirim
Beta ada komentari gagasan bos tentang ..... cape deh.??
Dikirim pada 18:47 di hari Senin

Steve: fenomena industri rekaman musik pop di ambon menarik untuk dikaji. beta kira kalo ale tertarik studi filsafat di UGM itu bisa menjadi bahan kajian yang menarik.
sudah. beta su lia akang dan su balas komentarnya.
Dikirim pada 18:50 di hari Senin

saya: Tergantung dari yang digantung bu... artinya itu bisa jadi kajian bersama dan beta mau ke Ambon tanggal 15, beta coba cek (jaring sedikit data tentang itu dari beberapa orang)...
Dikirim pada 18:51 di hari Senin

Steve: 2 minggu beta di ambon beta liat "perang" grup musik sedang panas di ambon. sayang beta seng pung kepeng par borong vcd. padahal banyak istilah2 populer yang lucu muncul dalam lagu2 ambon yang sebenarnya bisa dilihat sebagai konstruksi worldview baru orang ambon khususnya kalangan muda.

saya: Ini memang budaya pop yang baik tetapi cukup vulgar (teman-teman di Ambon bilang kalau lagu itu dikritik habis-habisan di sana, beta ingin buktikan dan cari tahu kenapa harus dikritik...?)
Dikirim pada 18:53 di hari Senin

saya: Itu memang menarik, beta cuma bisa berhipotesis saja bahwa hal itu muncul sebagai bagian dari kegamangan akan bombardir teknologi yang membantu semua orang untuk bebas berekspresi tanpa harus melewati tahap-tahap pengkritisan etis budaya katong.

Steve: aneh juga kalau ada yang mengkritik lagu dengan lirik yang dianggap vulgar itu. soalnya, "angka unti" itu sudah menjadi bahasa gaul kaum muda sehari-hari [bahkan bakudapa musti mulai dengan "tuangala cuki ose". Lalu kenapa ketika dia ditransfer dalam lirik lagu lalu dianggap vulgar ya?
Dikirim pada 18:56 di hari Senin

Steve: ale pung istilah "pengkritisan etis budaya" ini menarik. Karena siapa atau institusi mana sebenarnya yang harus menjadi benteng penjaga etis budaya itu. Gereja? Apa masih begitu? Pemerintah? Atau siapa? Di sini etika publik John Ruhulessin bisa didekonstruksi habis-habisan dalam kajian budaya populer.

saya: Itu masalah yang diperhadapkan oleh para dekonstruktor.....
Dikirim pada 18:59 di hari Senin

saya: Etika publik dapat dipahami dari berbagai sisi bung, beta kira yang JR kaji itu lebih pada Modal Sosial (Social Capital) - Kalau memang pengkritisan etis budaya dapat menjadi suatu pendekatan etika khusus di Maluku, dia akan mengarah pada Modal Spiritual (Spiritual Capital).

Steve: Iyo beta melihat orientasi kajian budaya katong sudah harus bergeser dari romantisme "pela-gandong" dan "nunusaku" kepada realisme kebudayaan massa yang termanifestasi dalam terminologi kaum muda ambon pascamodern. Kalo seng katong tinggal barmaeng deng "batu badaong" trus.
Dikirim pada 19:02 di hari Senin

saya: Haahaahaaa.... Itulah maksud beta supaya katong bentuk suatu jaringan yang kemudian menjadi semacam "circle of influence" for teman-teman di Maluku yang mau meneliti khususnya dengan menggunakan pendekatan budaya... Kayanya batul bung, memang terjadi semacam lompatan budaya dari pra-modern, modern pun katong balong jalani bae-bae, diperhadapkan kombali dengan postmodern...
Dikirim pada 19:06 di hari Senin

Steve: betul. beta setuju deng ale. salah satu kekuatan untuk mempengaruhi antara lain dengan tampil online lewat blog. soalnya media ini sekarang bisa membantu kita untuk sosialisasi pemikiran2 talamburang pada ranah tanpa batas. karena itu beta dorong eltom untuk posting tulisan2nya di blog. maksud beta supaya ide2 talamburang itu tidak stagnan hanya karena kita menunggu media mana yang memuatnya. itupun dengan pembaca yang terbatas. beta berharap dengan konsistensi untuk posting artikel2kritis kita sedang mengundang virtual reader masuk dalam dalam katong pung kintal.
Dikirim pada 19:10 di hari Senin

Steve: ada situs ambon-manise.com yang membuka ruang untuk diskusi apa saja. tapi beta untuk sementara ingin pacol beta pung kintal bae2 dengan suatu konsistensi menyajikan refleksi2 ringkas tapi cukup bernas yang bisa dinikmati banyak orang sekaligus menyadarkan banyak orang bahwa ambon tidak selamanya identik dengan gudang penyanyi dan petinju tetapi juga pemikir2. seperti ale pung pertanyaan: kapan ya jadi profesor? hehehe
Dikirim pada 19:14 di hari Senin

saya: Ini juga jadi katong pung masalah. Keberanian untuk masuk dan jadi bagian dari komunitas virtual itu sudah jadi semacam keharusan zaman ini bu... Beta pung pemikiran bahwa kalo bisa katong bikin perkumpulan terbatas yang tidak terbatas. Artinya, kalau memang ide membentuk jaringan itu bisa diwujudkan, berarti dia bisa terbatas untuk orang-orang yang mau kasih "dana restu" saja. Tetapi kemudian kehadiran itu juga tidak terbatas karena katong barmaeng di dunia virtual bung. Menurut bung bagaimana? Artinya, katong yang di luar Maluku ini kasih support for basudara di sana sehingga persoalan-persoalan kebudayaan macam ini nantinya basudara dong di Tanah Air bisa meneliti tentang itu. Seng tahu lah,,.... ini juga talamburang jadi..

saya: Beta pikir katong biking bagus kintal masing-masing dolo... ini juga kenyataan di Indonesia bahwa dalam dunia virtual, katong lebih banyak menjadi downloader daripada uploader... katong coba palang tapi pasti bung... tulis apa saja yang mau katong tulis sebagai bagian dari latihan intelektual.
Dikirim pada 19:21 di hari Senin

Steve: Setuju bung. beta optimis bahwa katong pung nama sudah nyantol dalam jaringan maya internet. sudah pasti ada orang-orang yang membaca tulisan dan diskusi2 kita. beta sempat ikut workshop sekolah penulis pembelajar yang dikelola andreas harefa dkk. mereka sangat mendorong untuk memanfaatkan fasilitas blog untuk self-branding supaya katong yang bukan apa-apa ini berproses menjadi "apa-apa". malah ada teman yang menulis buku dari hasil posting artikel secara konsisten di blognya. ada lagi yang sekarang menjadi penulis e-book yang berkiprah di amrik sono hanya karena awalnya rajin ngeblog. beta kira itu contoh2 pengembangan diri yang bisa katong garap habis. mumpung masih gratis to...

saya: beta jadi ingat bung punya kutipan puisi dalam blog.... hehehe.... jang sampe pas mau mati baru katong manyasal bahwa sebenarnya katong bisa bikin sesuatu for rubah akang dunia ni, tapi katong pikir katong talalu kacil jadi seng bisa biking apa-apa...
Dikirim pada 19:26 di hari Senin

saya: Ok bung, beta kira katong su mau orgasme ni, beta minta ijin for copy n tampilkan katong pung pembicaraan chatt ini di blog bisa ka seng? Beta pikir orang laeng perlu juga ikuti katong pung jalan berpikir bahkan lewat dokumen-dokumen chatting...????? Beta tunggu ijin.. (beta di warnet jadi su mau waktu pulang boss... heheheh jang marah)
Dikirim pada 19:30 di hari Senin

Steve: soal jaringan intelektual untuk membantu basudara di ambon tetap menjadi katong pung konsern. hanya sekarang beta masih agak talamburang atur keluarga. sama seperti ale beta juga sedang merencakankan studi. tapi masih tunggu "dana restu" juga. wah silakan saja bung beta kira seng ada batasan lagi. kalo mau diposting. oke danke lai. amatoo...

saya: Ok bung, salam for usi deng Gaspersz Junior...


Dengan Paul F Knitter

Gimana rasanya ketika anda mengagumi pekerjaan seorang yang terbilang expert di bidangnya dan pada suatu waktu, anda berkesempatan untuk bertemu langsung dengan orang itu? Rasa itu pasti sulit diucapkan dengan kata-kata. Itu juga yang saya alami ketika bertemu dengan salah seorang Profesor yang saya kagumi lewat pemikiran serta pekerjaannya di bidang Teologi Agama-Agama, Prof. Paul F. Knitter dari Xavier University, Cincinnati, Amerika Serikat. Beliau adalah penulis buku One Earth Many Religion dan No Other Names? Pertemuan saya dengan beliau terjadi pada bulan September 2004 ketika Program Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga menyelenggarakan Seminar Internasional dengan Topik: "Religious Dialogue and Global Responsibility".



Dari Kiri ke Kanan:
Saya, Prof. John Titaley (Rektor UKSW waktu itu), Prof. Paul F. Knitter, Bpk. Nico Likumahuwa (beliau yang menerjemahkan buku One Earth Many Religion ke dalam bahasa Indonesia), Izaak Lattu, M.A (salah seorang staf dosen Fakultas Teologi UKSW)



Waktu itu saya dikasih tahu oleh Bung Izaak bahwa akan diadakan seminar internasional dengan pembicara Prof. Paul L. Knitter. Weewww.... ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Saya pun meluncur dari Jogja bersama-sama dengan salah seorang teman, Tika Simatupang (editor di salah satu penerbit besar ibukota).
Menarik juga membayangkan pertemuan dengan salah seorang yang saya kagumi karena karya-karyanya. Kami tiba di Salatiga sebelum kegiatan dimulai.
Saya ingat, pada waktu itu sempat telpon ke Ambon, bilang buat Bung Elifas Maspaitella kalau sementara mendengarkan Prof. Knitter berbicara. Bung Eli langsung sms, coba usulkan buat Prof Knitter, kalau selama ini banyak agama dalam satu bumi dan hal itu bikin masalah, bisakah Prof. menulis buku tetapi dengan tema bahwa bumi ini tidak butuh agama lagi... Hal itu saya sampaikan dan langsung geer di dalam ruangan seminar. Prof. tertawa dan mengatakan bahwa agama itu inti dari kemanusiaan, jadi pandangan anda itu sepertinya menunjukkan bahwa anda sudah tidak percaya lagi dengan keberadaan agama.
Selesai seminar, kami berkesempatan untuk berkenalan dan mengambil gambar bersama. Prof. Knitter balik ke Jogja diantarkan oleh Bung Izaak Lattu, ditemani saya dan Tika. Perjalanan dari Salatiga ke Jogja diisi oleh diskusi kami berempat seputar permasalahan relasi agama-agama. Prof. Knitter sempat menceritakan pengalaman-pengalamannya. Kenangan yang tidak mungkin dilupakan, satu mobil bersama dengan Prof. Knitter dalam perjalanan dari Salatiga ke Jogja.
Kapan ya bisa jadi Profesor....?

Sabtu, 08 Maret 2008

Orgasme Intelektual

Entah siapa yang memunculkan pertama kali terminologi ini, tetapi seingat saya pada tahun 2004 (waktu itu saya masih menimba ilmu di Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM - tidak sampai thesis karena biaya), dan teman-teman yang lain sementara mengambil S2 juga di program Sosiologi Agama UKSW Salatiga, istilah ini sudah biasa kami gunakan kalau lagi berkumpul dan membahas sekian banyak hal tentang studi kami masing-masing.... Weeeewwww.... Kalau orgasme seksual saja sudah nikmat demikian rupa, apalagi orgasme intelektual bagi orang-orang yang memang benar-benar jatuh cinta dengan hal itu...



Beta ingat sekitar Januari 2004, tiba di Yogyakarta dan kuliah dimulai Pebruarinya. Maret atau April, teman-teman dari Ambon sudah tiba di Salatiga untuk melanjutkan studi juga. Mereka itu Bung Elifas Maspaitella, Bung Novi Salenussa, Bung Nus Sahureka, seng lupa Bapak Louis Ubra, dan beberapa teman lainnya. Karena jarak Yogyakarta-Salatiga tidak terlalu jauh, hampir tiap bulan beta menyempatkan diri mengunjungi mereka. Saat-saat bersama mereka, beta selalu mendiskusikan beberapa topik soal konflik Maluku dan hal-hal seputar itu. Gagasan-gagasan seputar filsafat resolusi konflik, mediasi, sosiologi konflik, diperkaya dengan gagasan mereka dari sisi sosiologi agama (konflik di Maluku memang sarat nuansa agama). Istilah ini muncul dari kakak kami, Bung Elifas Maspaitella, entah didapatkannya dari mana, pada saat sudah selesai berdiskusi dan merasa benar


ARISAN PENELITIAN: Masing-Masing Kita pun Dapat Mengubah Dunia

Kalau selama ini yang kita dengar tentang arisan itu selalu tentang konsumsi, sampai pada arisan dengan bayaran cowok (coba tengok film ARISAN), maka muncul ide dari beta untuk bikin ARISAN PENELITIAN. Ide ini lahir dari keinginan sebagai anak Maluku yang jauh dari Maluku untuk biking sesuatu buat Maluku. Mudah-mudahan bisa ada yang berkomentar guna kelanjutan ide ini.



Saya belum pernah membaca buku tulisan Bill Clinton, mantan presiden Amrik itu, tetapi pernah ikuti pembicaraannya di Oprah Winfrey Show. Ia menulis buku dengan judul GIVING: How Each Of Us Can Change The World. Bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk mengubah dunia. Dari situ sebenarnya telah memunculkan gagasan dan ide yang ingin saya share dengan teman-teman semua.
"Katong seng bisa biking apa-apa lai kalo su jauh dari tanah asal" - Itu seng batul. Ternyata katong masih bisa biking sesuatu yang bermanfaat, tetapi dengan idealisme yang mesti dibiasakan. Bukankah pembiasaan menuju kebaikan sebagai idealisme itu adalah hal yang sangat bermoral (Aristoteles bilang bagitu)....
Hasil pemikiran manusia untuk mensiasati kenyataan hidupnya telah melahirkan budaya baru yang juga mempengaruhi katong samua. Budaya itu adalah budaya digital (walaupun katong masih dipengaruhi cuma sebagai downloader di dunia maya ini, seng apa-apa). Kesempatan ini juga bisa menjadi kekuatan for katong yang jauh dari tanah air untuk bikin sesuatu buat Maluku tercinta. Dalam idealisme itu, beta sementara berpikir membentuk kelompok ARISAN PENELITIAN.
Idenya adalah bahwa selama ini orang membayar arisan bulanan dan hasilnya digunakan untuk konsumsi, dapatkah kita membayar secara bulanan yang hasilnya (ketika kita dapat arisan) digunakan untuk membiayai penelitian tentang apa saja di Maluku.
Untuk teman-teman dosen di PTS misalnya, tiap tahun menjelang bulan Maret akan berebut bantuan Penelitian DIPA DIKTI yang 3 jt rupiah itu. Ada yang lolos, ada juga yang seng lolos, karena di Kopertis Wilayah XII Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, tiap tahun dapat jatah hanya untuk 30 orang. Dari 30 orang itu akan dibagi merata kepada 4 propinsi ini. Jadi hitung saja tiap tahun teman-teman dosen di PTS dari Maluku dapat jatah berapa dari biaya penelitian Kopertis itu...?
Ada sekian banyak teman yang mau meneliti, tetapi terkendala dengan biaya. Katong bisa bikin komunitas itu dan juga sediakan jalan-jalan untuk publikasi (Pertama untuk sharing ilmu pengetahuan dengan masyarakat, kedua guna kredit fungsional tentu saja). Katong yang ada di luar Maluku cuma mensupport dan membiayai saja teman-teman yang ada di Maluku untuk bikin penelitian tentang Maluku. Kalo katong mau dibiayai oleh Komunitas arisan ini, maka katong yang di luar Maluku harus bikin penelitian tentang Maluku, bila perlu pulang teliti di Maluku.
Ide ini sementara digagas oleh beberapa orang, mudah-mudahan ada yang juga mau berkomentar untuk menambah gagasan.
Tetapi satu hal, Katong mungkin seng akan tarima orang yang mau sumbang saran dan doa restu saja, artinya: YANG MAU JADI ANGGOTA KOMUNITAS INI ADALAH YANG BENAR-BENAR MAU MEMBAGI BERKATNYA YANG TUHAN SUDAH BERIKAN TIAP SAAT ITU KEPADA ORANG LAIN DEMI KEMAJUAN BERSAMA KATONG PUNG BASUDARA DI MALUKU. KALAU CUMA MAU SUMBANG SARAN DAN DOA RESTU, GABUNG JUA DENG KOMUNITAS LAENG.
Mudah-mudahan katong bisa bajalang segera, supaya tahun ini sudah ada orang yang bisa katong biayai penelitiannya....

Selasa, 04 Maret 2008

Studi S2, tidak bisa ditunda lagi

Sudah hampir 3 tahun di Papua, bekerja dengan mengandalkan kemampuan S1 sangat tidak memadai. Oleh karena itu, tahun ini tidak bisa ditunda-tunda lagi langkahku untuk studi S2. Apalagi sesuai dengan UU No. 14 Thn. 2005 Pasal 45, bahwa semua yang berprofesi sebagai dosen di tingkat D3 dan S1 paling rendah harus berpendidikan setingkat S2.
Pilihan harus dijatuhkan dan akhirnya jatuh pada S2 Filsafat UGM. Mudah-mudahan Tuhan berkenan supaya saya dapat menjalani perencanaan-perencanaan ini dengan baik. Mohon doa restu semuanya.

Senin, 03 Maret 2008

GENINESIX


Geninesix itu Generasi '96. Geninesix adalah nama angkatan 1996 pada Fakultas Filsafat Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku. Beta coba kumpul dorang punya foto, tapi yang beta dapat cuma katong punya foto waktu piknik di Natsepa tahun 2006 lalu. Waktu itu beta sempat pulang dan teman-teman belum ke tampat tugas masing-masing.
Dari kiri ke kanan: Agustinus Luhukay (Nyong Paperu ini sementara Vikaris di Itawaka sana); Agustinus Lopuhaa (Nyong Porto ini s'karang jadi dosen di Politeknik Negeri Ambon); Herlin Tallane (Nona Boy ini s'karang jadi Pendeta di Merauke); Grace Berhitu (Nona Akoon ini s'karang jadi Pendeta di Ambon); ini yang kemarin lupa dia namanya Merianus Sihasale alias Utheng (laki-laki Porto skarang su jadi Pa Pendeta di Ambon juga); Claudia Puttiruhu (Nona Hatalai ini s'karang jadi guru di Ambon); Selomi Jongnain (Nona Kei ini s'karang sudah ada di Holland); Yesayas Polnaya (Nyong Paperu ini s'karang jadi guru di Ambon); Jusnick Anamofa (ini beta, s'karang di Jayapura-Papua); Devi Lopulalan (Nyong Porto ini s'karang jadi Pendeta di Ambon)....

Beta Minta Rokok Saja Bosss

Ada penawaran kepada 3 orang untuk menikmati kehidupan di bulan selama 1 bulan penuh. Banyak orang yang mendaftar dan ikut seleksi. 3 orang yang lulus seleksi berasal dari Amerika Serikat, Afrika Selatan dan Indonesia. Yang mewakili Indonesia adalah nyong Ambon ganteng satu orang. Dorang b’rangkat dengan penuh semangat. Lewat 1 minggu, Panitia dari bumi cek ke bulan, kalau-kalau ada permintaan yang bisa diantarkan ke sana.

Panitia : “Kami mau mencheck, kalau-kalau ada permintaan dari saudara bertiga yang harus kami antarkan ke bulan guna bekal 3 minggu sisa ini?”
Amerika Serikat: “Saya mau Hamburger saja”
Afrika Selatan: “Kalau saya daging kaleng saja”
Indonesia: “Kalo beta, Rokok Sampoerna saja boossss”

Ketika mendengar permintaan, maka panitia pun menyiapkan dan mengirimkan masing-masing 1 palka Hamburger, 1 palka daging kaleng dan 1 palka Rokok Sampoerna dengan pesawat ulang-alik.
Satu bulan kemudian, mereka kembali ke bumi. Panitia menanyakan kepada masing-masing:

Panitia: “Bagaimana perasaan anda sebagai wakil dari Amerika Serikat, khususnya dengan kiriman dari kami?”
Amerika Serikat: “Oh, saya sangat berterima kasih dengan kesempatan ini, apalagi kiriman kepada saya merupakan Hamburger terenak yang pernah saya makan”.
Panitia: “Oke, terima kasih. Bagaimana dengan wakil dari Afrika Selatan?”
Afrika Selatan: “Saya juga mengucapkan terima kasih, ternyata daging kaleng yang saya makan di bulan, rasanya enak tiada tara”.
Panitia: “Ya, terima kasih. Bagaimana dengan anda dari Indonesia?”
Indonesia: “Pa, beta ni mau ucap terima kasih lai. Tapi satu hal, beta seng bisa menikmati kiriman dari bapak dorang!”
Panitia: “Kenapa?”
Indonesia: “Iya, beta cuma duduk nonton akang rokok tu saja. Masakan bapa dorang kirim rokok seng ada dia pung korek api…?”






Mahamuda Maluku di Papua

Hari Sabtu kemarin (1 Maret 2008) anak-anak Mahamuda Maluku yang berada di Jayapura Papua melakukan kegiatan dengan nama Enjoy Party



Kegiatan yang dorang bikin itu ada 3,
1. 3on3 streetball
2. Freestyle motorcycle
3. Battle Dancer

Pokoknya seru banget.... anak-anak Maluku di Jayapura ternyata seng kalah dari yang ada di tempat lain.

Sampah Ambon