Selasa, 20 Mei 2008

KASIH: Inti Kekristenan

Diperhadapkan dengan banyak pilihan, tantangan dan godaan, masih banyak orang yang tetap mampu mempertahankan iman Kristennya dengan sepenuh hati. Pertanyaannya adalah mengapa sampai iman Kristen tetap menjadi pilihan utama dalam kehidupan kita? Pertanyaan ini sewajarnya dijawab oleh masing-masing orang yang mengaku Kristen.
.........................


Bagi saya, pilihan terhadap iman Kristen dapat dibicarakan dari inti kekristenan itu sendiri. Sumber utama untuk membicarakan inti kekristenan adalah Alkitab. Tak seorang pun dapat menyangkali pentingnya Alkitab dalam kekristenan walaupun ada pikiran, gagasan dan studi-studi yang dilakukan untuk mengkritisi Alkitab itu sendiri. Bagi saya, Alkitab merupakan hasil karya tiada duanya dalam sejarah umat manusia, terlepas dari untuk siapa dan maksud apa bagian-bagian Alkitab itu ditulis pada awalnya.
Gagasan dalam Alkitab yang dapat menjadi inti kekristenan dan kemanusiaan bagi saya adalah tentang Hukum Kasih. Dalam Kitab Injil Matius 22:34-40 dikisahkan dengan jelas bagaimana Yesus diuji oleh para ahli

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang Saduki bungkem berkumpullah mereka, dan seorang dari antara mereka, seorang ahli taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Dari bagian Alkitab itu nampak jelas bagaimana penulis menceritakan dengan sangat baik konflik yang terjadi antara Yesus dan orang-orang Farisi, di mana sebelumnya Ia telah membuat diam orang-orang Saduki dan takjub orang-orang lain yang mendengarnya ketika Ia menjelaskan tentang kebangkitan. Alur konflik memang begitu mendukung penjelasan demi penjelasan tentang makna kabar baik yang dibawa Yesus itu.
Pertanyaan yang diajukan oleh seorang ahli taurat kepada Yesus bukanlah karena ketidaktahuannya, tetapi dengan maksud mencobai Dia. Dapat kita bayangkan seorang yang ”ahli” dalam hal Taurat di Israel memanggil Yesus dengan sebutan ”Guru”. Dalam maksud mencobai itu, panggilan guru begitu meremehkan Yesus. Kadang ada yang menganggap bahwa panggilan itu dalam konteks ini sangat tepat karena Yesus memang disebut sebagai Guru oleh para murid-Nya, tetapi ucapan yang keluar dari seorang ahli taurat membalikkan itu menjadi semacam cemoohan. Sinisme yang sangat jelas ada di sini.
Pertanyaannya, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Seperti yang kita ketahui, ada sepuluh hal yang menjadi garis besar dari hukum Taurat, tetapi kemudian dirinci lagi menjadi 613 peraturan, yang terdiri dari 365 larangan dan 248 perintah. Jadi, dari antara sekian banyak perintah dan larangan dalam aturan atau hukum taurat itu, manakah yang lebih utama, demikian maksud pertanyaan yang diajukan tersebut. Dapat kita lihat begitu dalamnya pencobaan yang dihadapi Yesus yang dicemooh dengan sebutan Guru mengikuti panggilan para muridNya oleh seorang ”ahli” Taurat. Sepertinya ada harapan bahwa Yesus akan kelabakan memikirkan jawaban yang harus diberikan.
Ternyata harapan itu jauh dari kenyataan dalam cerita sang penulis Injil. Yesus menjawab mereka dengan sangat sederhana, ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Pertanyaannya, mungkinkah ini menggambarkan cara hidup dari orang-orang Kristen pertama sehingga penulis Injil kemudian menceritakannya? Mungkin kita perlu mempelajari juga dalam konteks apa Injil Matius ini ditulis, untuk siapa dan dengan maksud apa?
Terlepas dari itu, dalam kacamata awam, sebagai orang-orang yang tidak mempelajari Alkitab secara khusus (seperti para ahli taurat), saya melihat bahwa jawaban Yesus inilah inti dari kekristenan saya. Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan jiwa serta akal budi. Itu sudah pasti. Tetapi bagaimana caranya kita mengasihi Tuhan Allah, toh Allah tidak perlu dikasihi karena tanpa kasih dari kita pun Dia tetaplah Allah. Banyak orang yang menganggap bahwa mengasihi Allah dapat dilakukan dengan cara berdoa, memuji dan menyembah, beribadah guna menyenangkan Allah. Heheheheee..... berarti Allah dapat disuap dong dengan pujian dan penyembahan. Belum tentu. Bagaimana bila pujian dan penyembahan itu dilakukan dalam keseimbangan? Maksudnya? Maksudnya adalah apabila pujian dan penyembahan itu dilakukan dalam ibadah yang sejati. Nah apa pula ibadah yang sejati itu? Ya, ibadah yang sejati itu adalah melaksanakan Hukum Kasih. Percuma kita mengasihi Allah bila hukum yang lain diabaikan yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Seringkali banyak orang sulit untuk menemukan keseimbangan dan hubungan antara mengasihi Allah dan Sesama Manusia karena masih menganggap bahwa kedua hal itu terpisah adanya. Menurut saya tidak. Cara kita melaksanakan hukum kasih yang pertama adalah dengan melaksanakan hukum kasih yang kedua. Pernahkah kita harus membunuh diri sendiri? Jarang sekali orang yang ingin membunuh diri sendiri, dan kalau ada mungkin sudah tidak waras lagi. Kalau tidak mungkin, mengapa kita harus membunuh sesama? Pernahkah kita mencuri barang milik sendiri? Tidak pernah karena itu milik sendiri (kadangkala kita lebih menghargai milik sendiri daripada miliki orang lain). Kalau kita begitu menghargai milik sendiri, mengapa harus mencuri milik sesama? Pernahkah kita menipu diri sendiri, memperkosa diri sendiri, dll? Jarang sekali hal itu kita lakukan bukan? So....... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Ada masalah lanjutan di sini, siapa itu sesama manusia bagi kita? Apakah saudara seiman saja (terutama), ataukah keluarga dekat saja, ataukah orang sesuku saja, ataukah semua manusia itu adalah sesama kita?
Kurang atau lebih, itulah pemahaman saya mengapa tetap memilih menjadi orang Kristen. Yang lain bebas memilih, tentu saja dengan penjelasan yang dapat dimengerti. So apalagi yang tidak dimengerti dan dipahami dari penjelasan ”Sang Guru”?


Tidak ada komentar:

Sampah Ambon