Senin, 05 Mei 2008

Kekuatan Kata-Kata

Menulis atau berbicara, kata-kata selalu menggerakan kita lewat hidup. Kata-kata membuat kita bersemangat atau menyerah, kata-kata begitu menusuk tajam ke dalam hati dan perasaan kita. Kata-kata memiliki kekeuatan untuk memecahkan kebuntuan, membangun persekutuan yang baik atau bahkan memulai perang.



Kata-kata dapat menyatukan atau menghancurkan baik sebagai individu maupun masyarakat. Kata-kata yang kita ucapkan dapat memiliki suatu akibat yang sangat dalam pada orang-orang yang dapat disentuh. Apakah anda mengucapkan hal-hal yang membesarkan atau mengecilkan hati? Apakah anda memotivasi dan membangun anak-anak, teman dan sahabat, keluarga atau orang asing yang anda temui di jalanan lewat kata-kata, atau anda melemahkan mereka degnan kata-kata yang mengkritik, menyakiti atau cenderung menghakimi? Apakah anda pernah menyebabkan kehancuran dalam diri anda sendiri dengan memikirkan dan mengucapkan kata-kata yang membuat motivasi dan keinginan anda menurun? Apakah ketika orang lain atau anda sendiri dalam keadaan sakit, anda mengucapkan kata-kata menghibur yang memberi harapan tetapi dalam kenyataannya membohongi situasi, ataukah anda mengucapkan kata-kata yang realistis dan sesuai kenyataan walaupun menyakiti orang atau diri sendiri?

Dalam Alkitab, Yakobus membandingkan lidah manusia dengan seekor kuda. Kita mengendalikan kuda itu dengan mengenakan kekang pada mulutnya, tetapi kita sendiri tidak bisa mengendalikan kata-kata yang keluar dari bibir kita.
Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak ktia, dengan jalan demikian ktia dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Yakobus: 3:2-3
Pertanyaannya, mengapa kita sangat sulit untuk menahan diri dari mengatakan kata-kata yang kita tahu hanya akan menyakiti? Mengendalikan apa yang kita katakan, walaupun sangat sulit untuk mencobanya. Hal itu adalah salah satu bentuk disiplin diri yang sangat sederhana tetapi tidak kita miliki. Kita mencoba untuk mengendalikan setiap aspek dari kehidupan kita. Bagaimana dengan kontrol diri?
Tentu saja sangat mudah untuk mengendalikan kuda dengan mengenakan kekang pada mulutnya daripada mengendalikan lidah kita. Dalam kondisi yang sudah sangat terkendali pun, ketika emosi kita terbakar, maka lidah tidak akan terkendali lagi. Jangan-jangan karena lidah kita yang tidak terkendali, orang akan memasukkan sepatu dalam mulut kita sebagai kekang mengendalikan kita. Ternyata menjaga lidah adalah perang kita tiap hari melawan diri sendiri. Sesungguhnya barang siapa yang telah mengalahkan diri sendiri dengan mengendalikan lidahnya, dia dapat menjadi berkat terbesar.

“Seni percakapan yang benar bukan hanya mengatakan hal yang benar pada waktu yang benar, tetapi untuk tidak mengatakan hal yang salah dan tidak boleh dikatakan pada kesempatan yang menggiurkan” Dorothy Nevill


Tidak ada komentar: