Senin, 05 Mei 2008

MEDIA, AGEN KONSTRUKSI SOSIAL

“Si A mengatakan bahwa . . . , sebaliknya si B ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa . . . “ Demikianlah berita yang pernah penulis baca pada salah satu media cetak lokal di kota ini. Mudah dimengerti bahwa berita-berita yang dikemas oleh media-media lokal kita lebih banyak berisi pernyataan-pernyataan para pejabat atau orang-orang yang berwenang dalam menyelesaikan suatu peristiwa atau isu.



Tulisan ini berawal dari keinginan untuk mengikuti informasi-informasi terkini. Seolah tanpa itu, ada sesuatu yang kurang dari kehidupan tiap hari. Mengikuti perkembangan terbaru tiap saat adalah kebutuhan yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Peristiwa yang terjadi, hanya dalam hitungan detik dapat diketahui orang yang berada dalam jarak ratusan bahkan ribuan kilometer. Lewat teknologi informasi dan komunikasi, dunia dibuat seperti “daun kelor”. Boleh jadi, ungkapan “dunia tidak seluas daun kelor” sudah bukan zamannya lagi, daun kelor sudah terlalu besar untuk dunia saat ini.
Salah satu tempat untuk mengetahui peristiwa-peristiwa atau isu-isu terbaru adalah media massa, baik cetak maupun elektronik. Pertanyaannya adalah bagaimana peristiwa dan isu tersebut dikemas oleh media massa? Pertanyaan ini muncul ketika penulis diperhadapkan dengan berita-berita – khususnya pada media cetak baik lokal maupun nasional – yang sepertinya hanya menyajikan data. Apakah peranan media hanya menghadirkan data dari peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada masyarakat atau ada yang lain? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini terlalu sederhana untuk disampaikan dan dapat dengan cepat dijawab oleh para insan media (jurnalis). Kalaupun penulis boleh mereka-reka jawaban terhadap pertanyaan ini, yang akan disampaikan adalah “media kami bukan saja menghadirkan data, tetapi juga fakta terkini” atau “media kami adalah tempat penyalur aspirasi masyarakat” atau “media kami adalah sarana sosialisasi pembangunan kepada masyarakat” dan lain sebagainya. Kalaupun jawaban rekaan di atas ada yang benar, memang tidak ada salahnya. Tetapi menurut penulis, tidak sampai di situ fungsi media. Sebelum membahas lebih jauh fungsi media, pertanyaan “bagaimana” yang disampaikan di atas penting untuk dibahas.
Penulis menggunakan pertanyaan “bagaimana” karena kecurigaan terhadap pertanyaan-pertanyaan “apa”. Pertanyaan “apa” seringkali tidak menusuk jauh ke dalam jantung bahasan itu sendiri dan hanya mengambang di permukaan. Sebaliknya, pertanyaan “bagaimana” dapat melingkupi seluruh pertanyaan lain seperti “apa, mengapa, siapa, kapan, dan lain sebagainya”. “Bagaimana media mengemas peristiwa dalam berita?” Pertanyaan ini menugaskan kita untuk menemukan proses yang terjadi ketika suatu peristiwa dan/atau isu, menarik para jurnalis untuk mengemasnya dalam berita dan menyodorkannya kepada pembaca yaitu masyarakat.
Ketika suatu peristiwa terjadi atau isu muncul, hal pertama yang sering dilakukan adalah upaya mencari tahu peristiwa/isu apa, di mana, kapan, berhubungan dengan siapa. Ketika peristiwa/isu itu dikemas dalam berita, sering yang muncul adalah hal-hal di atas. Sehingga tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa media cetak kita, khususnya beberapa media lokal masih menghadirkan data kepada pembaca. Dalam hubungan dengan pertanyaan “siapa”, yang dimunculkan adalah para pelaku dan kemudian orang-orang yang terkait dengan peristiwa/isu tersebut. Lebih jauh lagi, berita lebih banyak menghabiskan kolom dan halaman dengan pernyataan-pernyataan para pejabat dan pihak yang berwenang dalam masyarakat. “Apa yang telah dan akan dilakukan” terkait dengan peristiwa/isu tersebut, “siapa saja yang telah dan akan ditugaskan” untuk menangani peristiwa/isu tersebut dan pernyataan-penyataan lain yang hanya sebatas memuaskan keinginan masyarakat. Dalam hal ini, media menjadi sarana penyalur pernyataan yang kadang-kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sekalipun yang mengeluarkan pernyataan itu adalah orang yang memiliki otoritas tertentu (pejabat dsb.).
Hal-hal yang disebutkan di atas lebih menunjukkan bahwa media lokal kita sangat positivis. Sampai di sini kita akan membahas subjektifitas dan objektifitas. Dalam pandangan positivis, suatu peristiwa itu sudah ada dan tinggal diambil dan diliput oleh wartawan. Jadi peristiwa yang dikemas dalam berita dianggap sangat objektif. Tetapi Apa yang disebutkan Penulis membaca bahwa media lokal kita belum berani keluar dari gaya pengemasan yang sangat positivis. (.... belum selesai ....)


Tidak ada komentar:

Sampah Ambon