Kamis, 15 Mei 2008

SEBERAPA HIJAUKAH KITA?

Pemanasan Global menjadi kengerian tersendiri bagi umat manusia zaman ini. Diperhadapkan dengan isu tersebut, apa yang bisa kita lakukan secara pribadi? APAKAH KITA ADALAH BAGIAN DARI MASALAH atau BAGIAN DARI SOLUSI?




Konflik antara kepentingan bersama dan keuntungan pribadi adalah hal penting ketika membicarakan isu lingkungan. Dalam masalah ini, pemikiran moral dapat membimbing kita kepada apa yang diinginkan bersama. Apa yang akan kita lakukan dengan masalah lingkungan yang semakin kompleks ini? Diskusi demi diskusi, pertemuan demi pertemuan, konferensi demi konferensi telah dilakukan. Hal umum yang selalu diinginkan adalah adanya masalah yang adil dalam hal distribusi emisi. Artinya, negara yang banyak menghasilkan emisi tetapi sedikit menyerap emisi harus bertanggung jawab terhadap hal itu. Tanggung jawab itu bisa dilakukan salah satunya mungkin dengan perdagangan karbon. Hutan di Papua telah siap untuk itu. Pembicaraan mengenai perdagangan karbon di Papua telah memasuki babakan baru.
Masalahnya ada pada pertanyaan sederhana, APAKAH ANDA ADALAH BAGIAN DARI MASALAH atau BAGIAN DARI SOLUSI?
Di Papua misalnya, isu pemanasan global hanya menjadi bagian penting dari para pemerhati lingkungan dan orang-orang terpelajar. Kadangkala ketika membahas pemanasan global, kita membicarakannya dengan sangat global, menunjuk pada pencairan es di daerah Kutub akibat peningkatan suhu tanpa terlalu kuatir bahwa pemanasan global juga berpengaruh pada tingkat lokal.
Kita belum sadar bahwa pembakaran demi pembakaran segala hal yang mengandung karbon di dalamnya akan melepaskan karbon ke udara dan bila bercampur dengan oksigen akan menjadi karbondioksida yang berpengaruh besar bagi lingkungan? Kita belum sadar untuk membiarkan saja pohon, ranting dan daunnya membusuk saja tanpa harus dibakar. Kita masih berlomba-lomba membeli sepeda motor bahkan mobil demi harga diri dan kehormatan, bukan karena kebutuhan. Masih banyak cewe yang ”Pantat Bensin” alias pasang harga diri cuma seharga jok motor kawasaki, honda, yamaha, ducati atau lainnya – syukur kalau punya cowo yang pake mobil. Hari gini, siapa yang mau pergi kencan naek angkot. Masih banyak cowo yang gak mau kehilangan harga diri, biar bisa ngegaet cewe, ya mesti pake motor.
Bayangkan, semakin banyak manusia, semakin banyak kendaraan yang diproduksi, semakin banyak kendaraan yang dibeli dan digunakan, semakin banyak emisi yang dihasilkan. Belum bahan bakar fosil yang semakin berkurang, orang lalu berpikir tentang bahan bakar nabati. Hehehehe akibatnya, harga pangan dunia melambung tinggi, bukan karena kebutuhan manusia akan pangan yang semakin banyak, tetapi wilayah-wilayah dan hasil-hasil pertanian yang semula digunakan untuk konsumsi manusia dialihkan fungsinya menjadi bahan bakar nabati demi segelintir manusia yang bermobil dan bermotor.
Dalam kenyataan-kenyatan yang orang awam juga tahu kalau mereka diberi tahu itu, pertanyaannya adalah seberapa hijaukah anda dan saya? Apakah kita bukan tergolong orang yang hijau? Apakah kita masih abu-abu, coklat, kuning, atau lainnya dan bukan hijau?
Saya teringat dengan ideologi NKRI kita yang dijaga mati-matian demi harga diri bangsa. NKRI harga mati, bila perlu nyawa taruhannya. NKRI dijaga dengan jiwa dan raga. Untuk ideologi yang abstrak seperti itu saja kita berani mengorbankan jiwa dan raga, bagaimana dengan kenyataan lingkungan kita yang bukan abstrak ini?
Mungkinkah ada pasukan khusus penjaga lingkungan yang lahir dari jiwa-jiwa bermoral bangsa ini demi kepentingan bersama dan bukan keuntungan pribadi? Mungkin ini masih mimpi dan jauh dari kenyataan, tapi gak ada salahnya kan kalau bermimpi? Wew, Martin Luther King, Jr. mengatakan ”I Have A Dream” dan perlahan-lahan mimpinya itu jadi kenyataan karena mimpi itu dikerjakan.
Saya teringat kata-kata Anggun C. Sasmi dalam Kick Andy di Metro TV. Kalau anda bermimpi, jangan tidur terus untuk menikmati mimpi itu, tetapi bangunlah, cuci muka atau mandi dan kerjakan mimpi itu.
Mari mulai menghijaukan diri sendiri ........
Salut untuk orang-orang yang telah mulai menghijaukan diri dan lingkungan sekitarnya. Menghijaukan diri adalah sesuatu yang abstrak, bukan masalah mengecat tubuh dengan warna hijau atau menggunakan pakaian warna hijau atau memilih partai warna hijau, tetapi lebih pada gagasan mereformasi moralitas kita untuk menjadi orang yang sadar akan isu lingkungan dan menjadi bagian dari solusi terhadap masalah lingkungan itu.


Tidak ada komentar:

Sampah Ambon