Minggu, 17 Agustus 2008

KAUM TERJAJAH DI NEGERI MERDEKA: Refleksi 63 Tahun Kemerdekaan RI

Ada satu iklan menarik di tv-tv kita tentang seorang anak yang harus terlambat mengikuti upacara bendera di sekolahnya karena harus membantu orang tuanya menyiapkan keramik dagangan dan membantu seorang ibu yang diserempet pengendara motor yang ugal-ugalan. Ketika ia tiba ke sekolah, bendera sementara dinaikkan, Indonesia Raya sementara dinyanyikan dan pintu pagar telah terkunci. Dia tetap menghormat walaupun dari luar pintu pagar sekolah yang telah terkunci. Menariknya, pesan iklan itu muncul lewat tulisan KEMERDEKAAN SEJATI ADALAH KEBERANIAN UNTUK MELAKUKAN SUARA HATI (kurang lebih seperti itu).
pesan itu kemudian menggugah saya untuk memulai refleksi 63 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia dengan pertanyaan darimana sumber suara hati kita? Kadangkala, pertanyaan yang salah akan melahirkan jawaban yang salah sehingga saya mencoba untuk hati-hati ketika menyampaikan pertanyaan di atas.

....



ketika berbicara tentang suara hati, maka "pengertian" menjadi hal penting yang patut diperhatikan. Bukan berarti pengertian sama dengan suara hati, tetapi menurut saya, pengertian akan membimbing suara hati kita dan suara hati itu dapat mengarahkan tindakan-tindakan kita.
Umumnya, kita meyakini bahwa manusia berbeda dari hewan walaupun manusia sebenarnya adalah hewan. Yang membedakan manusia dari hewan lainnya adalah kemampuannya untuk berpikir (Manusia adalah hewan yang berpikir). Semua manusia adalah hewan, tetapi tidak semua hewan adalah manusia. Hanya hewan yang berpikirlah yang disebut manusia. Dalam kaitan dengan term berpikir, kita dapat melihat pada pandangan Rene Descartes yang menyatakan bahwa "Saya Berpikir, Maka Saya Ada" (Cogito Ergo Sum). Apa arti dari pendapat itu? Descartes adalah seorang peragu (skeptis). Dia menjadikan keragu-raguannya terhadap segala hal sebagai titik berangkat pengetahuan. Seseorang yang tidak ragu-ragu, kecil kemungkinan memiliki pengetahuan. Dengan demikian, keragu-raguan Descartes adalah keragu-raguan metodis. Ia bahkan sampai pada tahap meragukan keberadaannya sendiri. Apakah ada hal yang tidak dapat diragukan? Menurut Descartes, yang tidak dapat diragukan adalah "ketika ia ragu-ragu". Artinya, pada saat ia ragu-ragu tentang keberadaan segala sesuatu, hal itu tidak dapat diragukan. Pada saat ia ragu-ragu itulah ia ada dalam keadaan berpikir. Oleh karena itu, inti dari pernyataanya bahwa "Aku berpikir, maka aku ada" sebenarnya adalah "Aku ragu-ragu, maka aku ada". Keragu-raguan itu merupakan bentuk berpikir yang membimbing pada penemuan pengetahuan manusia.
Apakah hewan selain manusia ragu-ragu dan mencoba menemukan jawab atas keragu-raguan itu? Kalau saja ada bukti teknologi yang dihasilkan oleh hewan selain manusia, maka saya akan menarik kata-kata saya bahwa hewan selain manusia itu tidaklah berpikir.
Apa hubungan antara kemampuan berpikir manusia dengan suara hati? Saya mencoba menghubungkannya dengan apa yang disebut "Pengertian".
Karena kemampuan berpikir manusia itulah, manusia berpengertian. Pengertian sangat dihubungkan dengan kebebasan. Bila ditanyakan mana yang memiliki kebebasan, kita atau burung di udara? Saya cukup yakin bahwa akan ada yang menjawab bahwa burung di udara itu yang lebih bebas. Bagi saya, ini adalah pendapat yang keliru. Kemampuan untuk terbang ke mana saja bukanlah suatu kebebasan, tetapi lebih pada suatu kebutuhan. Burung tidak sembarang terbang, tetapi dalam terbangnya itu, burung akan tetap berupaya memenuhi instingnya yaitu mendapatkan makanan dan regenerasi. Begitu juga dengan hewan-hewan yang lain. Manusia sebagai hewan pun dalam kehidupan tetap harus memenuhi insting mengatasi rasa lapar guna perkembangan fisik dan penyaluran nafsu guna regenerasi. Dalam kedua hal itu, manusia adalah benar-benar hewan.
Manusia benar-benar bebas untuk melakukan apa saja. Bebas untuk membunuh, bebas untuk memaki sesamanya, bebas untuk melakukan hubungan seks di mana saja, dll. Saya bebas memukul anda dan anda bebas memukul saya, kapan saja. Saya bebas memilih dan melakukan apa saja, orang lain pun begitu. Apa jadinya kalau kebebasan seperti itu ada di antara manusia? Yang akan muncul hanyalah kekacauan dan yang lebih ekstrim, spesies manusia tidak akan dapat berkembang seperti saat ini. Yang menghubungkan kebebasan saya dengan kebebasan orang lain adalah pengertian. Pengertian bahwa kebebasan saya akan diperhadapkan dengan kebebasan orang lain dan pada saat itu ada pembatasan kebebasan dari masing-masing pihak. Bila kebebasan saya dapat dibatasi karena pengertian dan kebebasan yang lain juga dapat dibatasi karena pengertian, maka yang dapat muncul adalah suatu perjumpaan yang seimbang (equal) sebagai manusia.)
Bila begitu penting "pengertian" itu dalam relasi kemanusiaan, maka dapatlah dikatakan bahwa pengertian itulah yang menjadikan manusia memiliki suara hati.
Apa yang terjadi bila tindakan manusia jauh dari pengertian yang membatasi kebebasannya dengan kebebasan orang lain? Yang akan terjadi adalah penjajahan kehendak atas kebebasan orang lain untuk hidup dan bertindak dalam kemanusiaannya.
Inti refleksi saya adalah pengertian yang mengarahkan suara hati.
Bagaimana bila tindakan kita tidak menghargai hak dasar manusia yang ada pada orang lain? Menurut saya, hal itu dapat terjadi karena suara hati yang salah. Suara hati yang salah karena tidak ada pengertian tentang kebebasan manusia. Itulah yang terjadi dengan pembatasan-pembatasan kebebasan beragama dan beribadah menurut agama masing-masing di negeri Indonesia ini.
Manusia Indonesia masih jauh dari memiliki pengertian tentang kebebasan dan bila pengertian seperti itu tidak dimiliki, apa bedanya manusia Indonesia dengan hewan-hewan lain di Indonesia? Tidak ada bedanya, karena hewan selain manusia tidak memiliki pengertian, sementara ada manusia yang tidak memiliki pengertian karena membatasi kebebasan orang lain bukannya membatasi kebebasan diri sendiri dalam hubungan dengan kebebasan orang lain, maka manusia yang tidak memiliki pengertian adalah juga hewan sebenar-benarnya hewan.
63 tahun proklamasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, bangsa ini masih menghadapi kenyataan bahwa masih ada kaum terjajah karena kebebasannya direnggut paksa oleh orang-orang bangsa sendiri. Kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh semua orang, tidak pandang siapa pun dia. Kalau ada yang menyatakan bahwa diri atau kelompok merekalah yang paling berjasa dalam republik ini, maka dia/mereka sebenarnya adalah orang-orang yang buta hati dan lupa akan sejarah. Dengan kesadaran itulah, maka saya berpendapat bahwa masih banyak orang Indonesia yang bukan manusia tetapi hewan karena tidak berpengertian.
Alangkah lucunya bila suatu negara sebesar Indonesia sebagian besar penduduknya adalah hewan-hewan yang tidak berpengertian, bahkan di era modern (postmodern) ini.
Apa yang mesti kita lakukan sebagai bangsa menyikapi situasi dan keadaan bangsa kita? Intinya, berpengertianlah. Dengan berpengertian, menunjukkan bahwa kita sementara berpikir. Dengan berpikir menunjukkan bahwa kita benar-benar ada sebagai manusia dan bukan hewan.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon