Sabtu, 06 Desember 2008

Jiwa Kewirausahaan Orang Ambon: Upaya Mengerjakan Teologi Ekonomi

Tulisan saya yang pertama tentang Jiwa Kewirausahaan Orang Ambon, dikomentari oleh Bung Steve Gaspersz seperti ini:

Tulisan yang menarik dan menantang, dan... masih berlanjut! Memang proses menerawang karakter ekonomi orang Ambon harus ditarik mundur jauh ke masa lalu. Tentu kita maklum bahwa "kesadaran" sangat ditentukan oleh situasi sosial (rada Marxis neh...). Dan situasi sosial itu bukanlah sesuatu yang bebas-nilai, melainkan hasil konstruksi kelompok dominan yang menjadi hegemoni. Dalam situasi sosial yang hegemonik itu kelompok dominan dan kelompok subordinasi saling menegosiasikan "ideologi"-nya masing-masing.
Toh, kelompok subordinasi tetap harus terbelenggu dalam ideologi hegemonik kelompok dominan. Jika merunut sampai pada titik sebelum penjajahan orang Maluku sudah terlibat dalam aktivitas ekonomi "global" (karya Anthony Reid setidaknya mengindikasikan hal itu). Namun dinamika kebudayaan ekonomi itu terdistoris secara akut pada saat sekelompok pedagang Barat hendak memonopoli tindak kebudayaan tersebut.
Monopoli adalah wacana hegemoni. Maka tak bisa dimungkiri bahwa kekuatan hegemoni ini mesti menciptakan ideologi yang berguna untuk mengamankan hegemoninya. Lantas dikonstruksikanlah suatu mitos "orang Ambon dimanjakan oleh alam"; "biar susah tapi tau snang sa" dsb.
Patahnya kekuatan kolonial bukan berarti ideologi hegemoni turut luluh. Justru ideologi hegemoni ini dilanggengkan oleh kelompok dominan selanjutnya (orde baru). Untuk apa? Lagi2 untuk kepentingan ekonomi "negara". Hampir seluruh kajian sosio-ekonomi pada masa orba membaca realitas ekonomi rakyat sebatas penyangga ekonomi negara (bukan sebaliknya). Rakyat dilumpuhkan secara sistematis sehingga tidak terlalu mengusik ekonomi negara (baca: pembangunan nasional) yang tentu saja pada saat itu membutuhkan berlimpah sumber daya alam yang harus dieksploitasi. (Adakah bedanya dengan eksploitasi ala "hongi tochten" pada masa kolonial?).
Tetapi tulisan bung Jus ini makin menyadarkan kita bahwa persoalan "kerja keras" dan "keberhasilan [ekonomi?]" bukanlah sekadar perkara "time is money". Bukankah dalam cultural studies kita juga sadar bahwa "uang" (jika itu hendak dipakai sebagai parameter sukses) juga sudah luntur denotasinya oleh beraneka konotasi; kendati konotasi itu sendiri pada gilirannya menjadi mitos yang dianggap "benar adanya" (atau kembali menjadi denotasi-tahap-kedua)?
Sekadar berbagi bung... "sagu salempeng dipata dua" - apakah itu juga tanda lumpuhnya kewirausahaan yang lebih mementingkan "saving money" daripada "sharing money"? hahaha... danke lai


Apakah Ekonomi berbicara melulu tentang kewirausahaan? Tentu saja tidak. Ekonomi sebagai ilmu berbicara lebih luas dan dalam daripada sekedar kewirausahaan. Bagaimana dengan Ekonomi sebagai praksis kehidupan? Salah satu bidang yang akan tersentuh adalah kewirausahaan itu. Bagaimana juga kalau Ekonomi dipandang dengan menggunakan pendekatan Teologi (mungkinkah ekonomi menjadi objek material bagi objek formal teologi - Apakah teologi sudah memiliki metode-metode tersendiri sehingga dapat menjadi objek formal dalam membahas apa saja? - itu tentu saja adalah pertanyaan-pertanyaan yang epistemologis sifatnya)....
Lepas dari itu, menarik komentar Bung Steve Gasperzs untuk tulisan pertama beta, bahwa kita perlu merunut lebih jauh ke belakang dan lebih dalam tentang hegemoni politik ekonomi di Maluku. Artinya, menurut beta, Bung Steve mencoba untuk membawa kita pada hegemoni politik ekonomi kolonial yang dilanjutkan sampai masa orde baru. Apakah boleh kalau dibawa lebih jauh lagi dari masa kolonial, yaitu pra-kolonial? Hubungan-hubungan dagang telah dibangun jauh sebelum proses kolonial oleh Portugis dan Belanda di Maluku. Masalahnya adalah bukan saja menemukan nilai-nilai yang mendukung kewirausahaan di Maluku, tetapi juga sampai pada persoalan struktur sosial ekonomi pada masa pra-kolonial. Bukankah semua "sumber daya" (bahasa kapitalisme juga nih) pada masa itu dikuasai oleh segelintir orang kaya atau raja-raja? Apa bedanya dengan hegemoni politik ekonomi kolonial dan orde baru? Bagi saya, pemainnya saja yang baru, tetapi cara bermainnya itu tetap sama. Kalau itu berlaku umum di Nusantara, koq orang Minang, Makassar, dll, punya kelihaian berusaha yang lebih dibandingkan dengan orang Ambon?
Kalau bisa berspekulasi yang ilmiah, artinya menumbuhkan hipotesis saja, menurut saya Agama juga memainkan peranan penting dalam proses hegemoni itu. Kekristenan yang seharusnya memiliki mental kerja keras sesuai dengan etik protestantismenya, ternyata tidak berdaya dijadikan sebagai alat hegemoni. Sejauhmana Protestantisme di Ambon turut berperan "mendistorsi" (term bung Steve) kebudayaan ekonomi orang Ambon?...
Menurut saya, kalau pencarian terhadap itu dapat dilakukan dengan cermat, maka sangat mungkin kalau suatu "Teologi Ekonomi" dapat dikerjakan di Ambon, bukan saja dengan mengandalkan konsep tahun pelayanan ekonomi umat atau apa namanya.... Konsep-konsep yang tidak merasuki jati diri orang Ambon yang memang telah terhegemoni itu, apalagi prosesnya dibantu oleh Agama.
Teologi Ekonomi bukan saja berbicara tentang ekonomi dalam pandangan teologi, tetapi berbicara tentang suatu teologi yang mampu menggerakkan "ekonomi kerakyatan" (ini juga bahasa orde baru, tetapi saya kira dapat diberikan makna baru). Kalau konteks Ambon adalah konteks kepulauan, maka ekonomi kerakyatan diarahkan ke laut sebagai penghubung pulau-pulau.
Saya tidak menemukan pemanfaatan laut yang terencana dan terarah, yang didorong oleh gereja dengan studi-studi yang dilakukan dengan cermat dan seksama. Persoalan modal dan ketrampilan itu hanyalah teknis.... Persoalan utama kita adalah membongkar jiwa, merubuhkan pilar-pilar yang telah terhegemoni dalam masyarakat Maluku, khususnya di Ambon.
Mungkinkah orang KUPAS dapat melakukan studi terhadap ini? Bung Steve, Bung Eli, Bung-Bung dan Usi-Usi yang lain, katong belum terlambat untuk ini bukan? Heheheeee.... Ada sedikit kemajuan mental orang Kristen Ambon yang sudah berani mendayung becak dan berjualan di pasar, artinya "Urat Malu" sudah mulai putus. Tetapi manajemen "Urat Malu" tidak sampai di situ saja untuk menumbuhkan kembali budaya ekonomi di Ambon. Paling kurang, lahan sudah mulai bagus (urat malu yang muali putus itu)... Tinggal Kendaraan yang tepat. Impian mantap, kendaraan ekonomi tidak mantap, ya sama saja.... Gereja mestinya dapat menemukan kendaraan yang tepat bagi orang-orang Ambon yang sudah mulai putus urat malunya itu, jangan dengan becak dan ojek saja. Lama-lama orang Ambon bisa bronkhitis.... heheheheee.
Yang dapat menemukan kendaraan-kendaraan itu bukanlah para teoretisi ekonomi atau teoretisi bisnis di Maluku, tetapi para pelaku ekonomi dan para pelaku bisnis di Ambon. Sudah terbukti, banyak teoretisi bisnis yang cuma bisa bicara dan mengajarkan tentang bisnis tetapi tidak memiliki kemampuan berbisnis karena dianggap bahwa sebagai seorang teoretisi saja, mereka sudah berada pada posisi aman dan nyaman. Di zaman sekarang, kondisi aman dan nyaman itu tidak ada lagi Pak, Bu... Yang ada hanyalah kemampuan berlari kalau tidak mau tergilas dan itu berarti bertindak dan melakukan.
Kita adalah orang-orang yang sudah pasti gagal (kemanusiaan, ya pasti gagal). Jadi, kalau sudah pasti gagal, kenapa harus takut gagal? (sama dengan mati khan, kenapa harus takut mati kalau sudah pasti mati?). Motivasi ini mulai ditumbuhkan tetapi tidak dibarengi dengan tindakan oleh orang-orang yang mengajarkannya itu. Bagaimana orang Ambon mau menumbuhkan budaya ekonomi, kalau para pengajarnya bukan orang-orang sukses di bidang ekonomi? Saya sendiri tidak terlalu yakin dengan orang-orang yang tidak sukses di bidang ekonomi tetapi mau mengajarkan tentang ekonomi atau bisnis. Do It Yourself.
Parahnya lagi, kalau Pendeta berbisnis, dianggap melanggar aturan gereja. Kena sanksilah, dll. Eh, lebih baik kalau pendeta berbisnis daripada orang-orang ekonomi yang takut berbisnis. Itu contoh bahwa resiko perlu diambil dan Teologi Ekonomi bukan basa-basi. Tugaskan Pendeta-Pendeta seperti itu untuk mengajarkan tentang kewirausahaan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus Kristen di Ambon. Saya yakin, ada yang beda daripada orang yang tidak belajar teologi dan tidak mempraktekkan bisnis mengajarkan kewirausahaan.
BTW, ini suara hati saja, "Sagu Salempeng Patah Dua" memang penting, tetapi bagaimana mau dapat sagu salempeng itu kalau seng pung dusun sagu lagi. Pilihannya adalah beli sagu di pasar. Bagaimana mau beli sagu kalau seng punya uang? Pilihannya adalah punya uang. Bagaimana caranya, Hampir semua orang memilih untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan, biar bisa beli sagu untuk dipatah/dibagi. Bagaimana kalau seng bisa kerja lagi karena kesehatan, kecelakaan, resesi ekonomi? Jelas penghasilan seng ada, seng bisa beli sagu lagi, mau berbagi bagaimana kalau sagu seng ada for dibagi?
Pernahkah kita berpikir "Bekerja" untuk membangun Asset sebelum dapat penghasilan? Nah, di sini sulitnya. Bagaimana caranya kerja, membangun asset, dapat penghasilan, beli sagu, sagu dipatah dua. Dengan kerja saat ini untuk membangun asset, ketika karena suatu hal kita tidak bisa lagi bekerja, kita masih memiliki asset yang memberikan penghasilan kepada kita untuk membeli sagu biar bisa dipatah dua dan dibagikan.
Saya sendiri sekarang sudah mulai bergeser dalam paradigma baru itu, yaitu paradigma asset. Tujuannya bukan sekedar mempertahankan hidup, tetapi bisa mengubah hidup. Kenapa harus mengubah hidup? Karena saya punya impian untuk mengubah hidup banyak orang. Bagaimana bisa mengubah hidup banyak orang kalau hidup saya sendiri tidak berubah tetapi sekedar untuk dipertahankan agar bisa makan minum pakai tiap bulan?....
Intinya, Beta seng punya dusun sagu tapi beta mau beli sagu dengan beta punya uang untuk dibagi ke orang-orang yang juga kehilangan dusun sagu dan seng punya uang untuk beli sagu supaya dorang juga akhirnya bisa beli sagu dan dibagikan ke orang-orang lain yang sama dengan dorang dulunya. Dengan impian semacam itu saja, apakah kita tidak bisa keluar dari himpitan hidup? Sangat bisa.....


Berlanjut . . . .







Tidak ada komentar: