Minggu, 15 Februari 2009

Sejarah Amahai: Inama Halulapesia #1

Akibat Meninggalnya Putri Rapia Hainuwele di Nunusaku, maka kelompok-kelompok yang ada di Nunusaku mulai terpencar keluar dari sana. Salah satu kelompok yang keluar, dari golongan Patasiwa - Wemale adalah "INAMA HALULAPESIA". Perjalanan Inama ini menuju ke arah Timur Nusa Ina. Mereka lama tertahan di Gunung Lumute, di hulu Wai Pia antara aliran Sune dan Marakuti, yang merupakan garis perbatasan antara Patasiwa dan Patalima. Untuk menuju ke arah Timur Nusa Ina, berarti memasuki wilayah Patalima yang sebagian besar belum bepenghuni. Daerah itu dikuasai oleh seorang penguasa, yaitu MARIHUNI. Inama Halulapesia harus dapat mengalahkan Marihuni untuk melewati daerahnya.

Marihuni sendiri, sejak meninggalkan Nunusaku, membawa lambang Patasiwa, yaitu MANUMAKE. Ia adalah seorang yang kasar, dalam bahasa sekarang "otoriter". Karena keperkasaannya, ia menjadi Upu Latu di Patau Latu Wete. Makanannya adalah pucuk isi buah kenari, telur penyu hutan, jantung dan hati kasuari. Minumannya air pinang putih muda yang diperas. Ia mandi dengan air dari batang galoba yang diperas. Karena kebutuhannya itulah, maka tenaga rakyat diperas untuk melayaninya tanpa kecuali. Karena sifatnya itulah maka hampir semua soa dan hena membelakangi bahkan memusuhinya. Inama Halulapesia dengan dibantu oleh LATUPAPUA dari HORALE, dapat mengalahkan Marihuni.

Setelah Marihuni dikalahkan, lambang Patasiwa "MANUMAKE" dipikul oleh HALALATU. Orang-orang pun mulai bergerak meninggalkan Patau Latu Wete, menuju ke Timur dan pesisir Selatan Nusa Ina. Sejak dari Teluk Elpaputih, Teluk Amahai, sampai ke Teluk Tahati. Penyebaran ini mulai dari Uwe sampai Hatumete, suatu daerah yang cukup luas. Perbatasan yang dapat dicatat turun temurun adalah sebelah Utara berbatasan dengan Petuanan Hurale, sebelah Selatan dengan Laut Banda, sebelah Barat dengan Inama Eti, sebelah Timur dengan Daerah Patalima yang belum berpenghuni.

Pada saat semua Upu memimpin Soa dan Hena menuju tempat yang mereka kehendaki, maka disepakatilah membuat suatu AMARALE / SANIRI kecil antara Kelompok-Kelompok dari Patasiwa dalam Inama Halulapesia. Amarale ini dilangsungkan di tempat yang sangat dirahasiakan karena alasan keamanan. Yang hadir pada waktu itu adalah LEKA BUA MARIMA, HALALATU PUTINE, EHA WATTIMURI, WAKANO TITAKAU. Mereka adalah para pemimpin dalam Soa masing-masing. Upu dari Soa inilah yang kemudian disebut dengan istilah Kapitan karena pengaruh Portugis.

Dalam Amarale Kecil inilah, lahir nama AMA MAHAI, sebagai suatu ucapan syukur bahwa Upu Ama - Upu Latu yang memimpin mereka dari Nunusaku tetap dalam keadaan selamat dan sentosa sampai ke tujuan. Upu Ama yang memimpin semua soa ini berniat mengadakan Amarale untuk menyerahkan kepemimpinan. Setelah diadakan musyawarah dan permufakatan, kepemimpinan diserahkan kepada UPU HALALATU, yang masih memikul lambang Patasiwa yang direbut di Gunung LUMUTE saat berperang dengan Marihuni. Halalatu = yang memikul kekuasaan Upu Latu.

Walaupun batas-batas geografis Inama Halulapesia tidak disebutkan secara jelas dalam historiografi, namun semua penguasa tahu dengan jelas dan pasti sampai di mana batas kekuasaan itu. Yang tercatat dengan jelas hanyalah penamaan Onderafdeling Amahai yang ditetapkan oleh Belanda sesuai dengan batas-batas dari Inama Halulapesia (sesuai petunjuk sejarahwan Belanda saat itu, Valntijn), yaitu mulai dari batas Inama Tala, yaitu Wai Tala sampai di Wai Boboh (Ulahahan).

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon