Minggu, 19 April 2009

Tugas Epistemologi

Dalam artikelnya "Epistemological Duties", Richard Feldman (dalam The Oxford Handbook of Epistemology, dieditori Paul K. Moser) menyampaikan 3 tugas epistemologi dengan beberapa penjelasannya. Namun sebelum sampai pada penjelasan tentang tugas-tugas epistemologi, terlebih dahulu dijelaskan tentang apa itu "tugas (duty)" sebenarnya. Menurut The Cambridge Dictionary of Philosophy, yang dimaksudkan dengan duty adalah What a person is obligated or required to do. Duties can be moral, legal, parental, occupational, etc. Tentu saja tugas masing-masing orang akan berbeda tergantung pada posisi dan situasinya. Namun demikian, kita mendapatkan tugas kita dengan berpatokkan pada tujuan-tujuan. Feldman kemudian mengutip Hall dan Johnson yang menulis bahwa "Jika anda menerima tujuan T, dan Tindakan t adalah cara terbaik untuk mencapai T, maka adalah keharusan untuk melaksanakan t atau adalah cukup rasional untuk bertindak t. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa t adalah tugas untuk mencapai T.
Berdasarkan penjelasan tentang tugas di atas, maka Feldman mendudukkan "Tugas Epistemologis" sebagai berikut:

A. Tugas-Tugas untuk Percaya

TE = Tugas Epistemologis

TE1 = Kita memiliki tugas epistemologi untuk mempercayai semua proposisi yang didukung oleh evidensi yang kita miliki.

TE2 = Untuk tiap proposisi p, waktu w, dan orang S, jika S mempertimbangkan p saat w, maka S memiliki tugas untuk memandang ke arah p yang cocok dengan evidensi yang dimiliki oleh S saat w mengenai p.

B. Tugas untuk Mencoba agar Percaya

TE3 = untuk tiap proposisi p, waktu w, dan orang S, jika S mempertimbangkan p saat w, maka S memiliki tugas untuk mencoba mengajukan bahwa S percaya p jika dan hanya p adalah benar.


C. Tugas-Tugas untuk Mengumpulkan Evidensi

TE4 = Untuk tiap proposisi p, waktu w, dan orang S, jika p kurang pasti bagi S saat w, maka S memiliki suatu tugas prima facie saat w untuk mengumpulkan evidensi tambahan mengenai p


D. Tugas Epistemologi lain

TE5 = Tiap orang memiliki suatu tugas epistemologi untuk bertindak dalam cara-cara yang memungkinkan semakin bertambah orang yang percaya pada hal yang benar dan mengurangi jumlah orang yang percaya pada hal yang salah.







Minggu, 05 April 2009

Abstrak Paper awal (sebelum diperbaiki): Papua Tanah Damai Sebagai Way of Life

“PAPUA TANAH DAMAI” SEBAGAI WAY OF LIFE
Pencarian Terhadap Core Pembangunan Yang Berpihak Pada Orang Papua


Abstrak:

Dasar tulisan ini bahwa gagasan-gagasan tentang ke-Indonesiaan adalah merupakan bentuk penghargaan yang tulus terhadap seluruh pengetahuan, aktifitas berpikir dan pandangan hidup masyarakat lokal sebagai sistem pengetahuan yang memberikan sumbangan kepada konsep berbangsa. Bila demokrasi merupakan way of life bangsa Indonesia, maka demokratisasi menjadi syarat mutlak pilihan itu.[1]
Dalam perspektif di atas, Saya hendak melakukan bacaan kritis terhadap Papua sebagai wilayah yang diakui menjadi bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[2] Pergulatan kehidupan orang Papua dalam perspektif geopolitik NKRI[3] adalah pengalaman-pengalaman buruk seperti kekerasan, keterpurukan, diskriminasi hak dan lain-lain khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan. Pergulatan itu telah menjadi kacamata baru guna memikirkan kembali keberadaan Papua[4] dalam bingkai NKRI yang menghasilkan gagasan-gagasan baru, salah satunya adalah “Papua Tanah Damai”. “Papua Tanah Damai” dapat dipahami sebagai proses berpikir orang Papua yang sadar akan diri dan sejarahnya setelah sekian lama ada di bawah kebijakan ekonomi politik para pengambil kebijakan Negara baik lokal maupun pusat.
“Papua Tanah Damai” sejak dicetuskan,[5] telah menjadi wacana bersama di Papua. Intinya adalah menjadikan “Damai” – yang positif – sebagai core pembangunan tanah Papua di segala bidang, terlebih ketika Otonomi Khusus diberlakukan. Bagi saya, “Papua Tanah Damai” juga mesti mendapatkan tempat dalam perspektif pembangunan demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, bacaan terhadap gagasan itu perlu dilakukan sebagai proses pencarian terus-menerus akan way of life orang Papua yang dapat memberikan sumbangan berarti bagi demokratisasi dan pembangunan di Indonesia. Intinya adalah bagaimana menjadikan perjuangan mewujudkan “Papua Tanah Damai” sebagai perjuangan bersama seluruh bangsa Indonesia dan bukan perjuangan orang Papua saja?


________________________________________
[1] Demokrasi sebagai way of life mengisyaratkan partisipasi dari setiap manusia dalam rangka penentuan nilai-nilai kehidupan bersama. Dua hal penting dari gagasan itu adalah kesejahteraan sosial dan pengembangan yang utuh dari manusia sebagai individu. (lihat: Dewey, John, Democracy, dalam Stephen M. Cahn, Exploring Philosophy: An Introduction Anthology 2nd edition, New York: Oxford University Press, hlm. 327-28)
[2] Integrasi Papua ke dalam NKRI masih menjadi perdebatan politik sampai saat ini. Perdebatan itu tidak saja dalam mimbar-mimbar akademik, tetapi sampai pada tindakan-tindakan represif yang dilakukan baik oleh Negara maupun oleh masyarakat yang tidak setuju dengan proses dan kenyataan integrasi itu.
[3] Geopolitik NKRI dalam wacana orang Papua dipahami sebagai upaya memanfaatkan sumber daya alam Papua guna kepentingan Negara dengan mengedepankan pendekatan politik, lebih-lebih politik kekerasan yang memanfaatkan alat-alat represif Negara seperti TNI dan Polri.
[4] “Papua” bukan saja berarti wilayah secara geografis dan astronomi, tetapi juga menunjuk pada wilayah kebudayaan dan kehidupan. Lebih dari itu, kata “Papua” menunjuk pada manusianya, yaitu manusia Papua yang terdiri dari ratusan suku dan mendiami wilayah itu.
[5] Gereja Kristen Injili di Tanah Papua sejak pertemuan tingkat Sinodenya tahun 2002 telah membicarakan tentang upaya menjadikan “Papua Zona Damai” yang kemudian diubah menjadi “Papua Tanah Damai”. Gereja Katolik di Papua juga beberapa kali mengadakan seminar dan lokakarya tentang “Papua Tanah Damai”.


Di atas adalah abstrak awal yang saya kirimkan. Penerimaan abstrak itu tentu saja dengan sekian catatan yang harus diperbaiki. Catatan-catatan perbaikan itu adalah sebagai berikut:

Topik menarik tapi penulisan abstrak tidak perlu catatan kaki; yang harus dituliskan dalam abstrak:
1. Jelaskan mengapa topic ini menarik untuk ditulis
2. Permasalahan pokok yang akan dibahas apa
3. Permasalahan itu akan dikaji dengan metode dan kerangka berpikir apa
4. Kesimpulan yang bisa ditarik sementara apa

Lihat aja nanti deh, jadi seperti apa perbaikan abstrakku itu. Tentu saja pilihan sudut pandangnya adalah filsafat pengetahuan (epistemologi). Kalau saja ada pendapat dari rekan-rekan semua.





Penerimaan Abstract untuk First International Graduate Student Conference at Gadjah Mada University

Minggu pagi, saat membuka email, aku mendapat kabar menggembirakan dari Academy Professorship Indonesia tentang penerimaan abstract paperku untuk disampaikan pada First International Graduate Student Conference di Universitas Gadjah Mada pada tanggal 1-4 Desember 2009 nanti. Di bawah ini adalah surat pemberitahuan kepada saya waktu itu. Senang sekaligus deg-degan karena baru pertama kali mau jadi pemakalah tingkat internasional. Abstract Paper awalnya nanti aq posting lagi deh.


Ref.: Abstract evaluation

Yogyakarta, April 1, 2009.

Jusuf Nicolas Anamofa/UGM


Dear Sir/Madam,

We are very pleased to inform you that the Academic Committee accept your abstract to be presented in the First International Graduate Student Conference (Re-)Considering Contemporary Indonesia: Striving towards Democracy, Sustainability, and Prosperity
(1st—4th December 2009) at Gadjah Mada University.

Base on the Academic Committee’s evaluation, however, your abstract has to be improved. Please find the enclosed suggestion and recommendation for your consideration in revising your abstract. Please send your revised abstract (which should not exceed 350 words count) to the Organizing Committee email: figcindonesia@gmail.com by 20th of April 2009. We are going to publish your abstract in the web-site and conference-book, so we would appreciate it very much if you comply with the reviewer’s suggestion/recommendation in revising your abstract.

We are also pleased to invite you to participate in the Academic Writing Skills Workshop to be held at Gadjah Mada University on the 25-29 May 2009. The Organizing Committee will cover your travel expenses by train/bus for those living outside (Yogyakarta, Depok, Medan, Makassar) (or by economic air-flight for those living in another island, e.g. Kalimantan and Bali) as long as you could provide the voucher/ticket stub of your carrier upon registration. Please find enclosed the workshop’s registration form. For the purpose of improving your paper, we request you to prepare a draft of maximum 500 words of your paper’s main arguments/controlling ideas and a tentative outline of your paper to be discussed in the workshop. Please submit the proposed ideas and the workshop’s registration form as soon as possible. We do not accept registration form later than one week prior to the workshop’s schedule. Please bring along your personal computer/note-book if possible. We will inform you later the definite venue and workshop’s detailed schedule.

Following the workshop, please prepare your complete paper of 6000 words and submit it to the Organizing Committee at figcindonesia@gmail.com by 31st of October 2009. We will announce the panel’s organization at our website (http://www.api.pasca.ugm.ac.id) in May 2009. If you write your paper in Indonesian, please prepare your presentation and power-point file in English.

We are looking forward to receiving your conference’s registration form at the soonest. You can also find the list of the on- and off-campus accommodation for your reference if you need to reserve a room. Please fill-in the registration and accommodation/hotel reservation forms and re-send them following the instruction. You can down-load the registration and accommodation reservation forms at API-UGM website (http://www.api.pasca.ugm.ac.id).

We are looking forward to seeing you in Yogyakarta.

Truly yours,




Prof.Dr. Irwan Abdullah M.A. Yunita T. Winarto, Ph.D
Director of Graduate School Academy Professorship Indonesia
Gadjah Mada University in Social Sciences and Humanities






Sampah Ambon