Minggu, 27 Juni 2010

"Green Zone" dan Politik Luar Negeri Amerika

"Green Zone", diartikan sebagai wilayah hijau dalam pengertian lingkungan hidup. Tetapi dalam pengertian perang, "Green Zone" berarti wilayah aman di mana orang dapat melakukan aktifitas mereka tanpa harus merasa terganggu oleh pertempuran-pertempuran di sekeliling mereka. "Green Zone" berarti surga di tengah neraka peperangan. Itulah yang dapat saya petik dari film yang saya tonton karena haus akan hiburan penyeimbang hidup.
Tepatnya dua hari yang lalu, ketika ini otak sudah tidak mampu lagi berinteraksi dengan buku, saya memutuskan keluar sebentar dari rutinitas itu dan mencari hiburan. Bingung mau kemana, saya memutuskan untuk menonton film saja. Siapa tahu ada film bagus dan baru yang dapat dilahap. Tiba di depan pintu masuk salah satu bioskop terkenal di Jogja, melihat daftar film yang ditayangkan, pilihannya jatuh pada "Green Zone". Bukan karena ceritanya, tetapi karena ada Matt Damon, aktor mantap yang filmographynya juga mantap. Sudah terlambat 5 menit, tetapi tidak ada masalah. Melangkah masuk ke ruang teater dan mulailah menikmati filmnya.
Dalam pandangan saya, film ini begitu menarik karena menampilkan "sedikit" kebusukan Amerika untuk memerangi negara lain termasuk Irak yang menjadi settingnya. Matt Damon yang berperan sebagai tentara Amerika (Miller), bertugas menemukan WMD (Weapon of Mass Destruction). Keberadaan WMD adalah alasan bagi Amerika untuk memerangi Irak demi "perdamaian dunia" dan "demokrasi". Berdasarkan informasi intelijen, pasukan Miller pun mendatangi semua tempat yang diyakini sebagai tempat penyimpanan WMD Irak, namun hasilnya nihil. Ada semacam kecurigaan terhadap proses yang dialami oleh mereka. Miller berupaya menanyakannya kepada pimpinannya di militer Amerika dengan asumsi bahwa ada yang salah dengan intelijen, tetapi tidak mendapat kepuasan karena tidak ada jawaban dari mereka. Dalam ketidakpuasannya itu, ia dan pasukannya harus tetap melaksanakan perintah untuk mendapatkan WMD berdasarkan informasi-informasi intelijen yang ada. Ada salah seorang dari intelijen Amerika yang bersimpatik dengan Miller, mencoba membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dalam penelusuran itulah, diketahui bahwa beberapa minggu sebelum dilakukan penyerangan ke Irak, petinggi Amerika dan salah seorang jenderal Saddam melakukan pertemuan rahasia di Amman, Yordania untuk membahas tentang pembagian kekuasaan setelah kejatuhan Saddam. WMD pun dipakai sebagai alasan dengan memanggil seorang wartawan salah satu media terkenal di Amerika untuk mempublikasikan tentang itu. Publikasi dari media terkenal menjadi semacam pembenaran bahwa Irak memang harus diserang. Setelah penyerangan dan kekuatan militer di bawah Saddam bisa dilumpuhkan, Amerika mendatangkan seorang Irak yang lama diasingkan untuk dijadikan sebagai pemimpin Irak. Jenderal Al Rawi yang dijanjikan kekuasaan itu pun diburu karena dialah sumber kebenaran tentang WMD. Miller dalam perburuannya terhadap sumber WMD, bertemu dengan Al Rawi dan mendapat informasi bahwa WMD Irak telah dilucuti sejak tahun 1991. Al Rawi terbunuh, Miller mencoba meluruskan cerita dengan menyampaikan apa yang dipahaminya sebagai kebenaran, bahwa tidak ada WMD sama sekali di Irak dan cerita tentang WMD yang selama ini diakui oleh pemerintah dan rakyat Amerika adalah kebohongan semata. Ia mengirimkan tulisannya tentang itu ke semua media internasional yang melakukan peliputan di Irak.
Apapun tujuan film ini, jelas bahwa perlahan-lahan, orang Amerika sendiri telah menampilkan kebenaran lain. Kebenaran yang cukup menggelisahkan tentang peranan Amerika dalam hampir semua peperangan, pertempuran, kudeta dan lain sebagainya pasca perang dingin. Kecurigaan tentang politik luar negeri Amerika yang berupaya menyiapkan sekam agar kering dan menunggu datangnya api semakin menguat ketika saya mengikuti diskusi publik yang menghadirkan Dr. Bradley Simpson, ahli sejarah dari Princeton University sebagai pembicara.
Dr. Simpson menulis tentang hubungan Amerika dan Indonesia sekitar tahun 1960-1968 dalam bukunya: Economists with Guns: Authoritarian Development and U.S.-Indonesian Relations, 1960-1968. Saya sendiri belum membaca buku dimaksud, namun akan segera diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Dalam diskusi itu, muncul beberapa hal penting yang selama ini jarang didengar tentang peranan Amerika, khususnya dalam peristiwa G30S. Menurut Brad, Amerika tidaklah bertanggung jawab terhadap peristiwa G30S itu sendiri. Kalaupun harus menuntut pertanggungjawaban Amerika, maka itu hanya bisa dilakukan secara moral, tetapi tidak secara hukum. Amerika hanya menyiapkan jeram yang cukup kering sambil menunggu pihak lain yang menyulut api ke dalam jerami itu. Setelah peristiwa G30S - yang juga mengagetkan Amerika - Amerika memanfaatkan situasi itu untuk menekan militer agar segera menumpas PKI. Hal yang mencurigakan bagi saya adalah munculnya istilah G30S PKI bukan pada saat peristiwa itu terjadi, tetapi setelah itu, dalam sidang terhadap mereka yang diyakini melakukan kudeta. Propaganda-propaganda hitam seperti yang dilakukan oleh pihak media dalam film Green Zone di atas terkait WMD, juga telah biasa dilakukan oleh Amerika pada saat itu. Bahwa untuk kepentingan politik ekonominya, kalangan media dipanggil untuk mengarang cerita tentang PKI sebagai yang kejam. PKI harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, dalam arti bahwa seluruh anggota PKI harus dibersihkan atau dibunuh.
Menarik juga ketika mengetahui bahwa Undang-Undang pertama yang dikeluarkan oleh pemerintahan Soeharto adalah Undang-Undang Penanaman Modal Asing, yang menurut Brad, draftnya itu dibuat oleh salah seorang pengusaha di Denver Amerika, dikirimkan kepada kedubes Amerika di Jakarta untuk dimintai pendapat dari para pengusaha Amerika lainnya.
Freeport McMoran menjadi perusahaan kunci bagi terbukanya jalan untuk perusahaan-perusahaan Amerika lainnya. Dalam arti, kalau Freeport bisa berinvestasi di Indonesia, maka yang lainnya juga bisa berinvestasi. Tetapi menurutnya, saat itu Indonesia tidaklah terlalu penting bagi Amerika. Amerika memandang keberadaan Indonesia sangat penting bagi sekutu mereka di Asia, yaitu Jepang. Oleh karena itu, tidak menjadi masalah bagi suatu rezim otoriter berada di Indonesia, yang penting Indonesia harus stabil bagi investasi asing dari Barat, dalam hal ini Amerika dan sekutunya.
Dari "Green Zone" dan kajian Brad Simpson itu, dapat disimpulkan bahwa politik luar negeri Amerika adalah politik yang penuh dengan kepentingan ekonomi. Semua cara digunakan, sampai pada menerbitkan kebohongan-kebohongan kepada publik yang diotorisasi oleh negara. Kebohongan-kebohongan itulah yang menjadi pembenaran bagi semua kegiatan baik militer maupun non-militer Amerika di dunia.
Oleh karena itu, untuk memahami eskalasi dunia, khususnya Indonesia pada periode-periode pasca perang dingin, sebaiknya kita juga mencari tahu tentang peranan Amerika dalam periode-periode itu. Hal itu tidak dapat diabaikan, bahkan menjadi kunci penting karena politik ekonomi Amerika yang liberal itu. Akibatnya adalah semua negara potensial namun tertutup secara ekonomi akan dianggap sebagai ancaman bagi perekonomian dan masa depan dunia dalam perspektif Amerika.
Benar atau salah penyimpulan saya, masih banyak hal yang perlu digali, didiskusikan, diperdebatkan. Yang pasti, ada senjata yang lebih ampuh dari senjata apapun di dunia ini, yaitu kebenaran. Pencarian terhadap kebenaran, apa pun resikonya, adalah tugas manusia yang rasional namun peka dengan rasanya terhadap situasi kehidupan sekelilingnya. Bila itu tidak bisa dilakukan, maka siap-siaplah untuk menjadi manusia yang mati dalam keadaan gemuk dan kaya-raya.

Tidak ada komentar: