Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Klarifikasi dari Rakyat Merdeka

Ada pemberitaan Rakyat Merdeka Online tentang pernyataan Kapolri [karena berita itu telah diturunkan/dihapus, saya memuat copyan sebelum diturunkan di sini]

Kapolri: Berantas RMS!
Jum'at, 08 Oktober 2010 , 09:43:00 WIB
Laporan: Firardy Rozy

RMOL. Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan Kapolda Maluku yang baru Brigjen Syarif Gunawan mewaspadai gerakan separatis yang masih ada di Maluku.

Karena, gerakan separatis yang tergabung dalam Republik Maluku Selatan masih terus merongrong kedaulatan Indonesia. Dia menyontohkan, dalam waktu terakhir ini, kelompok RMS melakukan penyerangan terhadap beberapa Mapolsek di Maluku.

"(Beruntung), tapi karena Polda bertindak cepat, sehingga hal itu tidak berkepanjangan. Harus ada beberapa pendekatan. Karena masih ada beberapa bentrokan," ujar Kapolri Jenderal BHD.

Hal itu dikatakan Kapolri saat melantik Brigjen Syarif Gunawan sebagai Kapolda Maluku menggantikan Brigjen Toto Hermawan di Mabes Polri Jalan Trunjoyo Jakarta Selata…

Refleksi Dari Ingatan Masa Lalu: Mengadu Layangan (Bakuputus Layang-Layang)

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri pergi ke Pantai Parangtritis, salah satu pantai berpasir panjang dan berombak besar di Selatan Yogyakarta. Luasnya hamparan pasir dan kencangnya angin membuat butiran-butiran pasir ikut terangkat, terbang menyapu tubuh. Dari sekian banyak hal, satu yang cukup menarik perhatian saya adalah permainan layang-layang. Layang-layang dan Parangtritis memang sudah tidak dapat dipisahkan. Hal itu disebabkan landscape pantai yang luas dan datar serta berangin kencang, memudahkan layang-layang terbang ke udara dari sudut mana saja. Layang-layang di Parangtritis adalah layang-layang hias dengan gambar-gambar yang memanjakan mata.

Tapi di sini saya tidak hendak membicarakan tentang layang-layang Parangtritis itu. Saya ingin sedikit mengenang masa-masa indah dulu sewaktu masih ramainya anak-anak muda di kampung menjadikan layang-layang sebagai sarana hiburan dan “unjuk jago”.

Sampai awal tahun 90-an (sejak menginjak SMA sekitar tahun 1993, mengadu layangan …

Refleksi Hari Ini: Masihkah Pancasila Sakti?

Pancasila tidak lahir dengan sistematis dan terencana, walaupun telah ada akarnya dalam tradisi kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila sesungguhnya lahir dalam kondisi yang tergesa-gesa karena tuntutan waktu itu. Dalam pidato Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945 di hadapan BPUPKI yang disebut sebagai Philosofische grondslag, ia mengatakan bahwa dasar filosofi itu tidak bisa dibicarakan dan dirancang dengan sistematis, komprehensif dan rumit. Menurutnya, bila dasar filosofis berdirinya suatu negara merdeka harus dipikirkan dengan matang dan sistematis, jelimet, lebih dulu, maka bangsa itu sesungguhnya tidak akan pernah mencapai kemerdekaannya. Indonesia merdeka dulu, sebagai jembatan emas. Di seberang jembatan emas kemerdekaan itulah baru masyarakat ini disempurnakan (Alam, Wawan Tunggul, 2001: 3-4).

Dalam pandangan Stanley Benn (1967: 442-5), ada lima kriteria yang bisa digunakan untuk menentukan kenyataan suatu bangsa, yaitu: (1) Adanya kesatuan organisasi politik yang disebut ‘neg…