Sabtu, 13 Agustus 2011

Penguasaan Ilmu Pengetahuan adalah Kekuatan Langit - Pelajaran dari Drama Asia "The Great Queen Seon Deok"

Liburan semester kemarin, saya meminta ijin dari pimpinan untuk menjenguk istri di Nabire yang dalam kondisi mengandung anak pertama kami. Tentu saja di sana saya hanya berada di rumah saja dan tidak punya pekerjaan apa-apa selain ke pasar dan memasak masakan yang dapat saya masak. Oleh karena istri yang bekerja tiap hari, saya yang sendirian mencoba menemukan sesuatu yang tidak membuat jenuh. Menonton televisi adalah hobby baru yang dapat saya lakukan selama berjam-jam di Nabire. Sebelumnya, saya hanya tertarik dengan acara-acara TV tentang Ekspedisi Ilmu Pengetahuan dan Olahraga, tetapi waktu itu saya juga tertarik menonton Drama Asia yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Drama itu berjudul "THE GREAT QUEEN SEON DEOK", yang ditayangkan pada jam 2 siang waktu Papua.

Drama yang menarik karena ada salah satu tokoh yang menarik perhatian saya, walaupun dalam drama itu perannya antagonis. Tokoh itu adalah Misil (diperankan oleh: Go Hyeon-jeong), sang pemegang stempel kerajaan, selir dari raja sebelumnya. Saking pentingnya peranan pemegang stempel istana dalam suatu kerajaan sehingga posisi Misil pun istimewa. Dengan didukung oleh para pengikutnya, termasuk beberapa suami dan anak-anaknya yang adalah para prajurit tangguh, Misil semakin menancapkan kekuasaannya di dalam kerajaan itu.

Mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan saya dalam hal mengidolakan Misil, tetapi itu adalah hak masing-masing. Alasan kita mengidolakan satu tokoh dalam satu cerita pasti berbeda. Hal itu disebabkan karena perspektif kita pun berbeda dalam menilai.

Alasan saya sangat mengidolakan tokoh Misil adalah karena ia seorang yang sangat cerdas, walaupun dikatakan sangat licik. Bukti kecerdasannya itulah yang menyebabkan ia dijadikan sebagai selir raja, bahkan pemegang stempel istana.

Pada saat itu, siapa saja yang dapat menyatakan hal-hal yang dianggap mustahil terjadi karena situasinya, tetapi kemudian terbukti kata-katanya itu benar atau terjadi, akan dianggap sebagai manusia setengah dewa. Itu pula yang terjadi dengan Misil, pada saat ia pertama kali muncul dalam drama politik negeri itu. Dalam situasi kemarau yang sangat panjang dan tak seorang ahlipun yang dapat mendatangkan hujan, Misil datang dan berniat mengadakan upacara pemanggilan hujan. Pada waktu yang telah ditetapkan, ia pun mengadakan upacara itu. Seluruh rakyat kerajaan menunggu dengan was-was namun tidak percaya bahwa seorang perempuan muda mampu memanggil hujan. Namun tepat pada saat upacara, hujan pun turun dengan derasnya, seluruh rakyat bergembira. Mereka menyebut Misil sebagai manusia setengah dewa.

Di balik itu, mereka tidak tahu bahwa Misil punya kekuatan lain yang menjadikannya seperti itu, yaitu kekuatan pengetahuan. Istilah "Bunga Plum Sadaham" menjadi menarik karena tak ada seorangpun di pihak lawannya yang mengetahui bahwa sesungguhnya itu bukanlah bunga, tetapi adalah buku yang memuat sistem penanggalan China yang digunakan saat itu untuk mengetahui fenomena alam dan musim.

Dengan ilmu pengetahuannya yang tidak dimiliki oleh seorang pun di kerajaan itu, Misil tampil sebagai sosok setengah dewa yang mampu mendatangkan hujan atau menggelapkan malam saat bulan purnama karena menyatakan datangya gerhana bulan. Berdasarkan pengetahuannya itu dan ketidaktahuan rakyat kerajaan, Misil dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan politik yang menguntungkan baginya. Itu dibuktikan ketika ia meramalkan akan ada gerhadan bulan dalam 2 hari jika salah satu Klan tidak diusir dari kerajaan. Klan itu memang tidak diusir, dan gerhana bulan tetap terjadi. Akhrinya Klan itu diusir karena ramalan Misil terbukti benar. Ia akhirnya menyatakan kepada Deokman (pemeran utama: Lee Yo-won) bahwa: "Tidak ada kekuatan dari langit, akulah kekuatan langit itu". Semua orang sangat ketakutan terhadap kenyataan itu.

Bagi saya, itu adalah ketakutan orang-orang yang masih hidup dalam cerita-cerita dan mitos-mitos masa lalu terhadap kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu membongkar keyakinan-keyakinan itu. Di sisi lain, ilmu pengetahuan pun dapat menjadi mitos baru sehingga dengan mudah dipolitisasi demi kepentingan-kepentingan politik segelintir orang. Ketika tidak bersentuhan dengan politik, ilmu pengetahuan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi ketika bersentuhan dengan politik dan kepentingan berkuasa, ilmu pengetahuan dapat menjadi senjata bagi kematian manusia.

Belajar dari drama itu, maka etika dalam penerapan ilmu pengetahuan demi kehidupan umat manusia sangatlah dibutuhkan. Tanpa etika, ilmu pengetahuan akan menjadi instrumen penghancur peradaban.

"By the way", ini hanya ekspresi dari refleksi saya sebagai penikmat tayangan-tayangan berkualitas, jika dibandingkan tayangan-tayangan tidak berkualitas yang diproduksi di negeri kita, Indonesia ini.

Semoga Ilmu Pengetahuan yang kita miliki dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk hayat hidup orang banyak.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon