Sabtu, 22 Oktober 2011

Home Sick, Sense Of Lost, Be Faithfull


Hari ini pertama kali saya mengikuti satu kelas Bahasa Inggris yang menyenangkan. Kelas diselenggarakan oleh Pak Allan dan istrinya, Catherine Mitch, para pelayan dari MCC yang diutus untuk melayani di STT GKI I.S. Kijne Jayapura. Para peserta kelas itu adalah siapa saja yang tertarik belajar Bahasa Inggris dalam suasana yang menarik. Bertepatan dengan pertama kali keikutsertaan saya, datang 2 (dua) orang muda, berumur sekitar 20 tahun, yang laki-laki dari Kanada dan Perempuan dari Honduras, bergabung dengan kami. Mereka baru 1 (satu) minggu berada di Papua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dari lembaga-lembaga yang mengutus mereka.

Seperti biasa, orang-orang yang baru bertemu saling berkenalan dan bercerita tentang diri mereka, kami pun saling bercerita beberapa hal yang dapat membuat kami saling mengenal di awal perjumpaan. Hal yang menarik adalah kedua orang muda ini bercerita tentang 1 (satu) tema, Home Sick (rindu rumah). Kalau yang laki-laki bercerita bahwa ini adalah kedua kalinya ia merasakan home sick saat berada jauh dari rumah, maka yang perempuan bercerita tentang bagaimana ia merasakan itu. Menurutnya, hari pertama tiba di Papua, ia merasa seorang diri, tak ada teman dan saudara. Hari kedua, ia masih merasa kesepian tetapi mulai berjumpa dengan orang lain. Hari ketiga, perasaan itu masih tetap ada, tetapi ia mulai membiasakan diri ada dalam lingkungan yang baru dengan teman-teman yang baru, dan sampai saat pertemuan kami tadi, sepertinya ia sudah merasa tidak sendiri dan kesepian lagi. 

Saat sharing, Pak Allan mengatakan bahwa home sick adalah perasaan yang sangat manusiawi dan dapat terjadi kepada siapa saja yang berada jauh dari lingkungan keluarga. Bagi beberapa orang muda, memang lebih berat, tetapi hal semacam itu dapat diatasi seiring waktu. Satu hal yang kadang membuat orang yang datang dari Eropa atau Amerika mengalami home sick adalah perbedaan dalam hal cepat lambatnya aktifitas. Kalau di tempat asal mereka, aktifitas terjadi begitu cepat, sementara di Papua, aktifitas tergolong lambat.

Satu istilah menarik dari percakapan tentang home sick itu adalah sense of lost. Rasa kehilangan terhadap sesuatu yang dimiliki ketika tidak ada lagi dalam batas pandangan atau genggaman kita dan kita ingin kembali ke dalam pengalaman-pengalaman itu. Sense of lost itulah yang dirasakan oleh mereka ketika pertama kali menginjakkan Papua. Namun, hal itu akan disembuhkan seiring waktu. Tentu saja salah satu kapasitas utama manusia dan seluruh makhluk hidup adalah beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi.

Sungguh suatu bahan refleksi yang sangat dalam ketika bicara tentang sense of lost. Sebagian besar manusia pada satu titik pasti berada pada situasi yang dapat didefinisikan sebagai sense of lost. Terhadap seluruh hal yang secara empiris dialaminya seperti keluarga, teman, kerabat, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi sense of lost itu dapat menggambarkan situasi yang non-empiris? Pertanyaan ini diangkat ketika saya membayangkan suatu keadaan keterputusan manusia dengan situasi ideal, lebih lagi keterputusannya dengan Sang Ilahi. Apakah sense of lost dalam kaitan dengan Yang Ilahi dapat dirasakan dengan mendalam, sebagaimana yang dirasakan ketika manusia merasa home sick

Saya mencoba mencari dasar bagi pertanyaan itu dalam bacaan terhadap kitab suci dan menemukan satu kalimat, “Eli, Eli, Lama Sabaktani, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saya membayangkan bahwa saat meneriakkan kalimat itu, Yesus yang sementara tersalib merasakan situasi sense of lost yang luar biasa. Situasi kehilangan yang luar biasa terhadap ideal kehidupan manusia yang harusnya berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Namun, sense of lost itu tentu saja bukan kehilangan tanpa arti. Seperti yang dimengerti dalam kerangka home sick kedua teman baru di atas, sense of lost itu adalah perasaan kehilangan yang pada satu sisi menuntun mereka untuk kembali pada pengalaman-pengalaman kebersamaan sebelumnya, di sisi lain semakin menguatkan mereka untuk berjumpa dengan pengalaman-pengalaman yang baru. Sense of lost Yesus mengarahkan Dia untuk ada dalam pengalaman-pengalaman berikutnya. 

Kalau Yesus yang adalah teladan diceritakan mengalami sense of lost yang luar biasa, bagaimana dengan kita? Saya telah menyatakan bahwa kondisi ini pasti dialami oleh sebagian besar manusia. Kita tidak bisa menghindarinya karena memang demikian adanya. Dapat dikatakan bahwa hakekat kehidupan manusia adalah mengalami perjumpaan-perjumpaan sekaligus perpisahan-perpisahan. Menariknya adalah ketika baik perjumpaan maupun perpisahan itu terjadi dalam kerangka iman. Artinya, semua itu direfleksikan dalam keyakinan yang sungguh tentang apa yang harus dibuat sebagai jawaban atas pengutusan Sang Ilahi bagi kita di dalam dunia. Bagi saya, menjadikan kondisi kehilangan sebagai salah satu cara membesarkan diri adalah jalan yang beriman. Tuhan tetap mengerjakan bagiannya dalam perjumpaan-perjumpaan dan perpisahan-perpisahan yang kita alami, bagaimana kita mengerjakan bagian kita adalah persoalan iman.

Ini hanya sepenggal ekspresi dari refleksi atas perjumpaan dengan beberapa rekan yang juga merasakan beratnya perpisahan. Harapannya adalah kita, manusia, saling berbagi pengalaman tentang hal-hal yang menguatkan. Semoga Tuhan menolong kita.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon