Rabu, 23 November 2011

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Hari ini ada sedikit kegundahan karena istri dikabarkan sudah masuk rumah sakit, bersiap untuk melahirkan, sementara tiket Jayapura - Ambon yang didapat hanya untuk hari Jumat. Iseng-iseng, kubuka lagi daftar kiriman e-mailku dan kudapati satu tulisan yang kukirim kepada beberapa teman, hampir 6 tahun silam.

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Surat ini aku tulis dalam keheningan yang mendalam,
di bawah sinar bulan dan cerahnya malam.
Belum pernah kulihat malam secarah ini.
Mungkin di tempat lain, tetapi tidak di tanah kita.

Surat ini aku tulis dalam kesyahduan malam,
dibarengi titik air mata karena kesedihan yang melanda,
mengingat masa-masa di mana kami meradang . . . merana
tak kuasa menahan amarah yang berbuah petaka

Surat ini aku tulis dalam harapan berlapis gundah
penyesalan tak henti atas noda besar yang kami buat dalam sejarah tanah kita,
dan ingin memohon maaf, wariskan negeri yang tak lagi indah.

Surat ini aku tulis agar kalian tak lupa,
bahwa "katong samua basudara", "potong di kuku, rasa di daging", "ale rasa, beta rasa", walaupun ada juga yang seperti pedang bermata dua.

Aku sadar, kalian tak bisa lagi tatapi megahnya Gereja Tua di Negeri Hila yang harus hancur dilanda angkara,  atau nikmati semaraknya festival tahunan Taman Hiburan Remaja di pesisir Waihaong, karena yang ada disana kini hanyalah kuburan para Syuhada.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang teman dan sahabat yang mati satu per satu sia-sia,
tentang saudara dan keluarga yang meregang nyawa tak bersalah,
tentang rumah dan tempat ibadah yang kami hancurkan bersama semua yang ada di dalamnya,
tentang kebun dan ladang yang kami jarah, dan tentang sekolah, rumah sakit dan banyak lagi yang kami bakar dan akhirnya musnah, seakan semua punya salah,
tentang ribuan orang yang terpaksa lari tinggalkan tanah tumpah darah, tak tahu kapan harus kembali.

Sekarang aku baru tersadar bahwa saat itu kami bukan lagi manusia,
ketika orang-orang tak berdaya  yang lari dan hampir  tenggelam di  dinginnya laut ,
atau jatuh terjengkang di kerasnya gunung, masih kami tembaki  dengan peluru dari laras-laras senjata, masih kami hujani dengan bom yang tak juga mereda.

Aku tak mampu lagi menghitung semua.
Bagiku, satu saja terlalu banyak bagai sejuta.
Tetapi kukuatkan hati agar kata tetap terangkai dan surat ini bisa kutulis buat kalian penerus masa.

Entah siapa kami? Kami tak lagi mengenal diri, ketika Minggu pagi memuji DIA di Gereja dan siangnya menghilangkan nyawa, ketika Jumat siang menyembah DIA di Masjid dan sorenya menumpahkan darah.
DIA, TUHAN yang kami puji dan sembah di pagi dan siang itu, ternyata adalah DIA, TUHAN yang kami bunuh di siang dan sore harinya.
Selalu saja kami bertamasya dalam asyiknya dosa.

Banyak di antara kami yang mau jadi pahlawan. Mungkin ingin agar namanya tercatat dalam lembaran sejarah kelam sebagai pengkhianat kehidupan yang berbangga ketika menghitung satu per satu nyawa yang meregang di ujung senjata.
Tetapi tak sedikit juga yang mau mengail di air keruh, keruh karena merahnya darah yang tertumpah.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang masa-masa kelam ketika saudara membunuh saudara.
Tentang kesalahan terbesar tak terkira.

Surat ini aku tulis sebagai tanda buat kalian,
bahwa kita tidak akan menjadi keledai-keledai dungu yang masuk lagi ke lobang hitam yang sama.
Bahwa kita akan berbenah dan kalian bisa tertawa bahagia.
Kalian harus belajar bahwa agama bukan apa-apa bila dipakai sebagai dasar hancurkan kehidupan dan menghilangkan nyawa.
Kalian harus pahami bahwa hidup lebih berharga daripada ideologi-ideologi pembawa bencana.
Kalian harus berjanji bahkan bersumpah, tidak akan lagi mengulang kesalahan kami.
Kalian harus kuat 'tuk kembalikan senyuman di wajah negeri kita.

Surat ini aku tulis sambil berharap,
kalian sudi memaafkan kami yang wariskan negeri penuh duka,
kalian sudi memaafkan kami yang hancurkan indahnya hidup orang basudara,
kalian sudi memaafkan kami yang hampir tak peduli dengan masa depan tanah tumpah darah.

Surat ini aku tulis karena aku tak mampu lagi berkata.
Air mata terlalu deras tertumpah dan hati ini sedih gundah gulana.
Tetapi tetap saja kutulis surat ini, tanda peringatan dan cinta, pada kalian para pewaris  tanah pusaka, ANAK-ANAK MALUKU MANISE.


dalam rindu tak tertahan akan tanah MALUKU
Jusnick Anamofa

Jayapura, 12 Agustus 2006

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon