Selasa

Tentang Evaluasi Kinerja Dosen Oleh Mahasiswa

Semester yang lalu saya dipercayakan mengasuh mata kuliah Metode Penelitian Sosial pada Program Studi Teologi di kampus tempat saya bekerja. Tentu saja setiap hendak mengajar satu mata kuliah, saya selalu merasa tertantang. Tantangannya sederhana saja: Apakah mahasiswa saya dapat memiliki kemampuan sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki lewat diberikannya matakuliah Metode Penelitian Sosial? Tantangan yang lain adalah: Apakah saya juga dapat belajar bersama dengan mahasiswa terkait matakuliah yang saya berikan?

Melewati waktu, tantangan itu terbukti sudah. Dalam hitung-hitungan kualitatif saya, ternyata kedua tantangan itu hanya dapat dicapai sekitar 60 persen saja. Hal itu terbukti dengan hasil akhir ujian semester yang cukup pas-pasan untuk sebagian besar mahasiswa, walaupun ada juga mahasiswa yang cukup baik mengerjakannya. 

Tulisan ini tidak bermaksud mengemukakan tentang hasil ujian mahasiswa pada matakuliah Metode Penelitian Sosial, tetapi lebih merupakan evaluasi terhadap kinerja saya dalam mengampu matakuliah tersebut.

Seperti biasa, saat hendak memulai semester dengan tanggung jawab mengampu matakuliah tertentu, saya selalu menyarankan kepada mahasiswa untuk melakukan evaluasi kepada saya setiap akhir semester. Evaluasi itu paling kurang berisi cara mengajar, isi mengajar, waktu, dan lain-lain. Tetapi, biasanya pula mahasiswa tidak pernah memasukkan itu. Hal itu terjadi sampai awal tahun 2008, ketika saya akhirnya harus melanjutkan studi.

Terhadap situasi itu, saya mencoba mensiasatinya dengan memasukkan evaluasi kinerja saya saat mengampu matakuliah sebagai salah satu persyaratan nilai akhir. Artinya, ada satu bagian penilaian yang mengharuskan mahasiswa melakukan evaluasi terhadap seluruh aspek pembelajaran di kelas, mulai dari isi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dll. Evaluasi kinerja itu harus dimasukkan bersamaan dengan kertas kerja Ujian Akhir Semester. Tentu saja, kalau tidak memasukkannya berarti satu bagian itu tidak ada nilainya, dengan catatan ia tetap menjadi pembagi.

Setelah disiasati seperti itu barulah ada perubahan. Sekitar 90 % mahasiswa memasukkan evaluasi kinerja yang mereka lakukan terhadap saya, sementara 10 % lainnya untuk sementara saya tahan nilainya sampai mereka memasukkan evaluasi mereka.

Bagi sementara orang, evaluasi kinerja bukanlah hal yang penting, apalagi bagi sebagian besar dosen di lingkungan kerja kami. Bahkan ada yang "cenderung menentang" keinginan saya untuk secara resmi kampus melakukan evaluasi kinerja mahasiswa terhadap dosen setiap semester dengan alasan bahwa mahasiswa akan "membantai" para dosen terkait dengan kinerja mereka.

Oleh karena cuma saya sendiri yang mengusulkan itu dan harus berhadapan dengan banyak orang yang cenderung tidak menyetujuinya, maka untuk sementara hal itu dihentikan dan saya berjalan sendiri.

Bagi sedikit orang, khususnya para dosen yang hendak berkembang, evaluasi kinerja oleh mahasiswa merupakan hal yang sangat penting. Mengapa? Kinerja, memang persoalan kerja. Kerja yang bagaimana? Kerja yang direncanakan, rencana yang dilaksanakan, pelaksanaan yang ada hasilnya. Jadi, kinerja berarti ada perencanaan, ada pelaksanaan, ada hasil, ada evaluasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil, untuk kinerja berikutnya. Semakin suatu kinerja dievaluasi, semakin baik kinerja seseorang di masa yang akan datang. Tentu saja evaluasi kinerja itu akan berhubungan dengan banyak hal, terutama kompetensi dan kapasitas. Analisis terhadap evaluasi kinerja akan menghasilkan tindak lanjut berupa upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas seseorang di bidang tertentu, yang kalau diberlakukan bagi dosen, maka itu adalah upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (tri dharma perguruan tinggi).

Setelah memeriksa seluruh kertas kerja mahasiswa, tiba saatnya saya membaca hasil evaluasi kinerja yang dilakukan mahasiswa terhadap saya selama 1 semester kemarin.

Umumnya, seluruh mahasiswa yang memberikan evaluasi itu sangat berterima kasih kepada saya yang telah mengajar matakuliah tersebut. Hal ini sangat wajar karena pencantuman nama dalam evaluasi kinerja itu saya haruskan demi penilaian dan kejujuran. Kadangkala orang-orang hanya menyampaikan apa yang baik dan cenderung menyimpan apa yang buruk. Dalam hal ini, saya sebenarnya tidak ingin mahasiswa saya menjadi penjilat dengan menutup-nutupi kebobrokan dan keburukan saya dalam mengasuh matakuliah tersebut.

Terhadap mereka yang memuji-muji saya dalam catatannya, saya bandingkan lagi dengan kertas kerja masing-masing. Bila pujian itu berbanding lurus dengan hasil yang mereka dapatkan di kertas kerja, tentu pujian itu memang benar adanya. Bila kenyataannya berbanding terbalik, maka saya menganggap bahwa pujian itu hanyalah jilatan semata. Terhadap mereka yang punya kecenderungan memuji tetapi hasil kerjanya buruk, saya memberikan catatan pengingat agar tidak lagi seperti itu. 

Yang menarik adalah sekitar 30 % dari yang memasukkan catatan mereka tentang kinerja saya itu tidaklah memuji, tetapi berani berpendapat tentang saya. Umumnya, pendapat mereka adalah tentang waktu perkuliahan yang tidak mencukupi, penyampaian yang terlalu cepat sehingga mereka tidak dapat menangkap inti dari penjelasan saya, penggunaan bahasa yang terlalu ilmiah sehingga mereka sangat kesulitan untuk menemukan arti dari tiap penjelasan saya.

Apresiasi sangat besar saya berikan terhadap mereka yang dengan berani mengeluarkan pendapat tentang kinerja saya di dalam kelas. Tentu saja, terhadap mereka ini saya berikan angka sempurna bagi evaluasi kinerja yang mereka lakukan terhadap saya.

Setelah saya membaca seluruh catatan itu, tentu saja ada penjelasan-penjelasan yang mesti saya berikan, walaupun memang di sini bukan tempat yang tepat, tetapi saya coba mengemukakannya sebagai bahan pelajaran bersama. 

Persoalan waktu perkuliahan yang tidak mencukupi memang saya maklumi. Biasanya, saya selalu menyiapkan silabus dengan rencana pertemuan sekitar 15-16 kali dalam satu semester. Tetapi pada semester yang lalu, situasi Papua, khususnya Jayapura, lebih khusus Abepura tidak memungkinkan saya mencapai target waktu perkuliahan itu. Akibatnya adalah saya hanya dapat mengadakan pertemuan sebanyak 11 kali saja dengan konsekuensi, 1 Pokok Bahasan yang berupa Praktek Lapangan tidak dapat dilaksanakan. Tentu saja ada siasat yang perlu saya ambil terkait itu, yaitu dengan melaksanakan praktek di dalam kelas, antar mahasiswa. Bagi saya, dalam situasi seperti waktu itu, metode tersebut cukup bagi mahasiswa untuk pengenalan awal. Ada yang bilang, "Kalau kesan pertama menggoda, maka selanjutnya terserah anda". Saya ikut mendukung pernyataan itu, sehingga kesan pertama tentang praktek di antara mahasiswa saya buat sedemikian rupa menggoda sehingga ada yang menyatakan bahwa dari praktek itu barulah mereka menyadari tentang sesuatu.

Persoalan berikutnya adalah tentang kebiasaan saya yang berbicara cepat. Terhadap ini tentu saja saya sangat berterima kasih akan kritiknya karena mengingatkan saya akan kebiasaan itu. Kebiasaan itu tentu tidak datang begitu saja. Sejak kecil kami telah dibiasakan untuk bicara dan bekerja dengan cepat. Jangan terlalu lambat, apalagi bertele-tele. Ternyata kebiasaan itu cukup berpengaruh ketika saya harus mengajar di dalam kelas. Terkait hal itu, saya juga sepertinya harus belajar tentang pengaturan kata-kata dalam memberikan penjelasan, jangan terlalu cepat, jangan terlalu lambat. Bagi orang yang sudah terbiasa berbicara cepat, atau lambat, tentu menurunkan atau menaikan tempo adalah hal yang cukup sulit. Butuh latihan berulang-ulang. Mudah-mudahan saya bisa memberikan yang terbaik bagi mereka yang berani mengkritik saya terkait hal itu.

Hal yang lain adalah tentang penggunaan bahasa yang dianggap terlalu ilmiah sehingga mereka kesulitan menangkap arti dari beberapa hal penting yang saya jelaskan. Tentang hal ini, lagi-lagi saya sampaikan terima kasih karena kritikannya. Saya sangat menyadari situasi itu, di mana saya tidak berani mengelaborasi istilah-istilah pasar atau bahasa sehari-hari, khususnya yang digunakan oleh anak-anak muda di Jayapura. Lain halnya jika saya diharuskan untuk bertugas di tempat asal saya, di mana tiap istilah sehari-hari telah kami ketahui maknanya secara bersama dan itu memudahkan saya untuk menemukan padanan-padanan istilah-istilah tertentu dalam bahasa sehari-hari. Tentu saja kritik ini sangat membangun karena apa yang namanya ilmiah itu bukan berarti penggunaan kata-kata yang sulit dimengerti, tetapi kemampuan menggunakan kata-kata setempat untuk menjelaskan sesuatu secara sistematis dan metodis. Bukan tanpa beban, saya akhirnya harus melecut diri untuk lebih banyak bergaul dengan lebih banyak orang, khususnya anak-anak muda Jayapura untuk memahami istilah-istilah sehari-hari yang mereka gunakan, yang mungkin saja bermanfaat dalam proses pembelajaran di kelas.

Lepas dari evaluasi dan penjelasan saya di atas, saya akhirnya menyadari bahwa evaluasi kinerja itu sangat penting demi perubahan ke arah yang lebih baik. Pada titik ini, saya berani menyarankan kepada semua rekan dosen yang masih muda agar mewajibkan setiap mahasiswa  yang terlibat dalam proses pembelajaran bersama kita untuk mengevaluasi kinerja kita dalam belajar mengajar. Saya sangat yakin kalau semua yang kita dapatkan dari hasil evaluasi mahasiswa itu akan bermanfaat bila ditindaklanjuti dengan kesadaran diri.


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Tempat kami telah disediakan lembar evaluasi dosen yang diisi oleh mahasiswa. Fak. juga memberi apresiasi kepada Dosen berkinerja terbaik dengan mempertimbangkan evaluasi mahasiswa. Namun demikian tidak mudah menciptakan atmosfer akademik yang baik. Tantangan terbesarnya pada bagaimana membangun budaya akademik yang baik antara dosen dan mahasiswa agar sarana atau fasilitasi yang dimaksudkan bisa lebih memberi makna kehidupan.

Jusuf Nikolas Anamofa mengatakan...

Syukurlah di tempat anda sudah berjalan demikian rupa. Memang membudayakan sesuatu itu butuh waktu yang lama, bukan sekedar pekerjaan yang dikerjakan dengan menggunakan logika waktu-pendek. Hal-hal yang instan itu seringkali tidak memberikan kebaikan di akhir. Selamat.