Selasa, 21 Februari 2012

Tentang Kata "Putus", dan Logika Waktu-Pendek: Refleksi Tentang Media Digital

ilustrasi (Sumber: kompasiana.com)
Anda tentu pernah melihat iklan yang menayangkan tentang hubungan dua sejoli yang hanya ditentukan oleh SMS bukan? Tulisan ini hanya sebentuk kegelisahan terhadap situasi kehidupan saat itu yang sungguh-sungguh telah bergantung pada penggunaan teknologi. Saya tidak ingin panjang lebar membahas pendapat Jacques Ellul tentang Technology Determination (Teknologi yang menentukan) karena penjelasan itu telah saya sampaikan dalam tulisan yang lain, saya hanya ingin mengemukakan tentang permainan logika di belakang determinasi teknologi saat ini.

Pernahkah anda berpikir tentang hal yang harus ditulis untuk dikirimkan kepada seseorang lewat SMS pada saat anda sedang marah? Walaupun perlu verifikasi lanjutan jawaban saya berdasarkan pengalaman sendiri dan beberapa orang dekat adalah: "umumnya, kita tidak pernah berpikir panjang tentang isi SMS yang dikirimkan pada saat sedang marah." Yang dipikirkan adalah melampiaskan kemarahan lewat ekspresi simbol-simbol, baik berupa huruf, angka, maupun tanda-tanda lainnya. Isi SMS dianggap mewakili kemarahan kita dan kita bebas menuliskan apa saja tanpa memikirkan konsekuensi lebih lanjut darinya.

Salah satu studi di Amerika Serikat yang dilakukan oleh beberapa orang praktisi hukum menyatakan bahwa dalam waktu tiga tahun terakhir, SMS sebagai bukti gugatan cerai ke pengadilan semakin meningkat. Hal itu diungkapkan oleh lebih dari 90 % pengacara perceraian yang membuka prakteknya di Amerika Serikat. Dalam dua tahun terakhir, menurut studi yang dilakukan oleh Akademi Pengacara Perkawinan Amerika (AAML), muncul trend baru selain SMS sebagai bukti perceraian, yaitu bukti dari Facebook. Hal itu diungkap oleh sekitar 1.600 pengacara perkawinan.

Argumentasi sederhana yang dapat diberikan adalah bahwa dengan menulis di e-mail, ada waktu yang diberikan kepada seseorang untuk memikirkan kembali tiap kata, tiap kalimat, tiap paragraf yang dituliskannya sehingga dapat melakukan editing sebelum pesan itu dikirim. Tetapi kalau lewat SMS, sifat pesan yang ditulis itu "sangat segera". Hanya satu atau dua kata yang buruk, yang dikirimkan dalam situasi yang buruk akan berakibat buruk bagi hubungan yang buruk dengan orang lain. Intinya, dalam keadaan marah, SMS akan dikirimkan tanpa berpikir. Pada saat anda menekan tombol "kirim" atau "send", maka kata-kata dalam SMS itu akan berubah dari sekedar kata-kata menjadi panah yang menusuk perasaan, bahkan pemikiran.

Berdasarkan fakta dan argumentasi di atas, juga pengalaman-pengalaman pribadi kita, dapat dikatakan bahwa SMS dalam situasi marah adalah pesan yang dikirim tanpa berpikir. Banyak dari kita yang cukup meremehkan tiap pesan yang terkirim lewat SMS, entah itu pesan marah, pesan fitnah, pesan yang memprovokatif, pesan yang menyebarkan kebohongan, dll. 

Setelah SMS dan Facebook, bukti terbanyak selanjutnya adalah e-mail, riwayat telepon, GPS dan riwayat pencarian di internet.

Dapat dibayangkan konteks kehidupan dalam dunia yang terhubung secara global, di mana dalam sepersekian detik saja kita dapat saling berkomunikasi dengan orang-orang yang jauhnya ribuan kilometer. Dunia yang dalam 30 tahun sebelumnya hanya dapat dihubungkan dalam waktu tidak kurang dari 1 bulan, kini dapat dicapai tidak lebih dari 1 detik saja. 

Terlepas dari studi para pengacara perkawinan dan perceraian di Amerika Serikat, pengalaman kita dan sesungguhnya dapat menjadi data bagi penelusuran kebenaran hipotesis di atas. Berapa banyak dari kita yang marah-marah dalam status Facebooknya saat marah-marah dengan pacarnya? Berapa banyak kita yang marah-marah di SMS terhadap pacar dan akhirnya menulis 1 kata, "Putus", dan dikirimkan hanya lewat SMS

Pada titik itu, sungguh tidak dapat disangkali bahwa teknologi telah ikut menentukan relasi-relasi kita dengan sesama. Tetapi dengan hanya berargumentasi tentang determinasi teknologi pun tidak cukup. Bagi saya, pasti ada logika di balik determinasi teknologi itu. 

Salah satu penjelasan paling masuk akal tentang logika apa yang bekerja di balik determinasi teknologi dalam relasi-relasi sosial kita adalah tentang "Logika Waktu-Pendek". Apa artinya? Logika waktu pendek adalah sistem pemikiran yang selalu menjadikan efisiensi dan efektifitas sebagai premis utama/premis mayor. Seluruh kesimpulan yang ditarik akan dianggap tidak benar jika tidak merujuk pada premis mayor tadi. Contoh sederhana, "Efisiensi adalah cara hidup manusia saat ini. Kalau anda memang manusia. Maka anda haruslah efisien". Begitu juga dengan efektifitas. Efisiensi dan efektifitas telah menjadi pola baku dalam kehidupan manusia. Padanan istilahnya adalah "murah tetapi bagus mutunya, kalau harus singkat mengapa diperlama?". Siapa sih yang tidak tertarik dengan kedua kata itu? Arena penyebaran logika waktu pendek adalah media elektronik yang menayangkan iklan-iklan dan menerangkan bahwa relasi-relasi kita dengan sesama sesungguhnya tergantung dari teknologi yang kita gunakan. Teknologi itu akan menjamin efisiensi dan efektifitas kehidupan. Revolusi teknologi informasi melahirkan logika waktu pendek. Media elektronik dan komputer memungkinkan informasi dan pertukarannya dalam waktu riil yang singkat. Tersedianya informasi secara instan membuat orang tidak lagi menghargai penantian dan kelambanan.

Bagaimana menjelaskan determinasi teknologi terhadap relasi-relasi sosial kita dengan menggunakan logika waktu-pendek? Instan, Singkat, Pendek, Murah, adalah istilah-istilah logika waktu pendek yang tanpa  disadari telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kemarahan yang terjadi secara cepat menggerakan jari-jari kita untuk menari-nari di atas tombol-tombol handphone dan dalam sekejap, kemarahan itu terlampiaskan hanya lewat satu atau dua kata. Orang yang anda marahi berjarak 1000 km dari posisi anda pun, dalam waktu beberapa detik saja, akan membaca dan tahu kalau anda marah. Dengan cepat pula dia akan marah dan membalas pesan anda itu dengan pesan-pesan bernada serupa. Bahkan, kemarahan pun sangat cepat kerjanya. Kalau boleh bernostalgia, pada saat pacaran dulu, untuk marah dan ingin mengucapkan kata putus, harus dipikir beribu kali karena kita akan langsung bertatap muka dengan pacar kita, memandang wajahnya yang pada saat itu mungkin sangat sedih, dengan mata yang berkaca-kaca. Kita akan langsung melihat reaksinya pada saat kita mengucapkan kata "Putus", mungkin akan menangis meledak-ledak, atau akan berlari ke jalan raya menantang mobil truk yang lewat, atau malah kita yang akan dilempar menggunakan dandang nasi yang masih belum dicuci. Sekarang, lewat SMS, kita tidak perlu menyaksikan semua itu dan akan beranggapan "Ah, putus itu biasa saja". 

Dapat dibayangkan, "memutuskan pacar secara instan" seperti merebus mi soto cap dada ayam. Pertanyaannya, apakah anda mendapatkan pacar itu instan juga, dengan hanya mengirim SMS, "pacaran yuk?" dan dia membalas SMS anda "Ayuk". 

Ketika kehidupan pribadi kita dijalani dengan menggunakan logika waktu-pendek, maka dapat saya pastikan kalau kehidupan sosial, publik kita pun akan dilangsungkan dalam kerangka logika waktu-pendek. Atau dapat saja yang terjadi bukan kebiasaan di satu sisi kehidupan merembet ke sisi kehidupan lainnya, tetapi memang keduanya saling mempengaruhi. Kita akan belajar secara instan saja, mengerjakan tugas-tugas secara instan tanpa mengikuti langkah-langkah atau metode-metode kerja yang dapat membuat kita kapabel untuk melakukan sesuatu. Akibatnya adalah kita memang tidak akan bisa menguasai satu bidang pung sebagai keahlian karena semuanya tidak dijalankan step by step. Maunya dari masalah, langsung ke kesimpulan dan saran untuk pemecahan masalah, tanpa melalui identifikasi lebih lanjut terhadap masalah, pencarian tentang kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah, menimbang-nimbang jalan terbaik untuk memecahkan masalah, siapa saja yang perlu dilibatkan di sana. Terlalu panjang dan berbelit-belit untuk hidup dalam era saat ini dengan logika step by step itu. Tetapi, tentu saja dengan step by step, maka tiap langkah yang kita ambil adalah arena belajar tersendiri. Langkah berikutnya adalah kesempatan belajar juga. Dengan demikian, pada langkah terakhir terkait masalah kita, sesungguhnya kita telah belajar cukup banyak langkah.

Nah, saya telah cukup memberikan masukan kepada anda terkait fakta-fakta dan argumentasi penjelasnya. Pilihan tetap ada di tangan anda, apakah mau menjalani hidup ini secara instan seperti sekedar belajar dengan menekan tombol "Kirim" untuk satu kata "Putus" itu, atau hidup step by step dengan kesempatan yang luar biasa untuk berkenalan dan memahami masalah kita lebih dalam dan belajar dari langkah demi langkah itu?     

Referensi:
Vivanews
Haryatmoko, 2007, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi, Kanisius: Yogyakarta 

Tidak ada komentar: