Rabu, 16 Agustus 2017

Surat Buat Anak-Anak Maluku (Refleksi tentang negeri menjelang HUT kemerdekaan RI)

Biasanya, menjelang hari kemerdekaan RI, akan ada refleksi tentang sejauhmana kemerdekaan itu telah dirasakan. Refleksi, bagi saya, salah satunya dapat dilakukan dengan cara mengingat. Merayakan ingatan adalah bentuk paling hakiki dari refleksi diri. Untuk itu, menjelang 17 Agustus 2017 ini, saya ingin mengingat lagi refleksi yang pernah ditulis 11 tahun silam berupa puisi berjudul Surat Buat Anak-Anak Maluku. Puisi ini pernah sekali ditayangkan di blog ini, ketika saya ada dalam kegundahan karena tidak dapat menyaksikan secara langsung kelahiran anak pertama saya, 23 November 2011 yang lalu. Semoga bermanfaat bagi jiwa-jiwa yang merindukan damai.

---------------------------------------------------------------------  

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Surat ini aku tulis dalam keheningan yang mendalam,
di bawah sinar bulan dan cerahnya malam.
Belum pernah kulihat malam secerah ini.
Mungkin di tempat lain, tetapi tidak di tanah kita.

Surat ini aku tulis dalam kesyahduan malam,
dibarengi titik air mata karena kesedihan yang melanda,
mengingat masa-masa di mana kami meradang . . . merana,
tak kuasa menahan amarah yang berbuah petaka

Surat ini aku tulis dalam harapan berlapis gundah
penyesalan tak henti atas noda besar yang kami buat dalam sejarah tanah kita,
dan ingin memohon maaf, wariskan negeri yang tak lagi indah.

Surat ini aku tulis agar kalian tak lupa,
bahwa "katong samua basudara", "potong di kuku, rasa di daging", "ale rasa, beta rasa", walaupun ada juga yang seperti pedang bermata dua.

Aku sadar, kalian tak bisa lagi tatapi megahnya Gereja Tua di Negeri Hila yang harus hancur dilanda angkara,  atau nikmati semaraknya festival tahunan Taman Hiburan Remaja di pesisir Waihaong, karena yang ada di sana kini hanyalah kuburan para Syuhada.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang teman dan sahabat yang mati satu per satu sia-sia,
tentang saudara dan keluarga yang meregang nyawa tak bersalah,
tentang rumah dan tempat ibadah yang kami hancurkan bersama semua yang ada di dalamnya,
tentang kebun dan ladang yang kami jarah, dan tentang sekolah, rumah sakit dan banyak lagi yang kami bakar dan akhirnya musnah, seakan semua punya salah,
tentang ribuan orang yang terpaksa lari tinggalkan tanah tumpah darah, tak tahu kapan harus kembali.

Sekarang aku baru tersadar bahwa saat itu kami bukan lagi manusia,
ketika orang-orang tak berdaya  yang lari dan hampir  tenggelam di  dinginnya laut ,
atau jatuh terjengkang di kerasnya gunung, masih kami tembaki  dengan peluru dari laras-laras senjata, masih kami hujani dengan bom yang tak juga mereda.

Aku tak mampu lagi menghitung semua.
Bagiku, satu saja terlalu banyak bagai sejuta.
Tetapi kukuatkan hati agar kata tetap terangkai dan surat ini bisa kutulis buat kalian penerus masa.

Entah siapa kami?
Kami tak lagi mengenal diri,
ketika Minggu pagi memuji DIA di Gereja dan siangnya menghilangkan nyawa,
ketika Jumat siang menyembah DIA di Masjid dan sorenya menumpahkan darah.
DIA, TUHAN yang kami puji dan sembah di pagi dan siang itu, ternyata adalah DIA, TUHAN yang kami bunuh di siang dan sore harinya.
Selalu saja kami bertamasya dalam asyiknya dosa.

Banyak di antara kami yang mau jadi pahlawan. Mungkin ingin agar namanya tercatat dalam lembaran sejarah kelam sebagai pengkhianat kehidupan yang berbangga ketika menghitung satu per satu nyawa yang meregang di ujung senjata.
Tetapi tak sedikit juga yang mau mengail di air keruh, keruh karena merahnya darah yang tertumpah.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang masa-masa kelam ketika saudara membunuh saudara.
Tentang kesalahan terbesar tak terkira.

Surat ini aku tulis sebagai tanda buat kalian,
bahwa kita tidak akan menjadi keledai-keledai dungu yang masuk lagi ke lobang hitam yang sama.
Bahwa kita akan berbenah dan kalian bisa tertawa bahagia.
Kalian harus belajar bahwa agama bukan apa-apa bila dipakai sebagai dasar hancurkan kehidupan dan menghilangkan nyawa.
Kalian harus pahami bahwa hidup lebih berharga daripada ideologi-ideologi pembawa bencana.
Kalian harus berjanji bahkan bersumpah, tidak akan lagi mengulang kesalahan kami.
Kalian harus kuat 'tuk kembalikan senyuman di wajah negeri kita.

Surat ini aku tulis sambil berharap,
kalian sudi memaafkan kami yang wariskan negeri penuh duka,
kalian sudi memaafkan kami yang hancurkan indahnya hidup orang basudara,
kalian sudi memaafkan kami yang hampir tak peduli dengan masa depan tanah tumpah darah.

Surat ini aku tulis karena aku tak mampu lagi berkata.
Air mata terlalu deras tertumpah dan hati ini sedih gundah gulana.
Tetapi tetap saja kutulis surat ini, tanda peringatan dan cinta, pada kalian para pewaris  tanah pusaka, ANAK-ANAK MALUKU MANISE.


dalam rindu tak tertahan akan tanah MALUKU
Jusnick Anamofa

Jayapura, 12 Agustus 2006

Selasa, 15 Agustus 2017

"Papa Lebe Jago Dari Dong Samua": Kisah tentang keunggulan kearifan lokal

Ilustrasi (Sumber: igottadowhat.com)
Cerita ini saya dengar dari salah seorang rekan, Bung Jacky Manuputty. Pesannya adalah jangan pernah meremehkan kearifan lokal.

Suatu waktu, seorang anak yang bekerja di kapal pesiar pulang ke kampungnya di Ambon. Sebagai orang yang sudah berkeliling dunia, tentu dia ingin menceritakan hal-hal di luar sana yang dapat membuat orang tuanya kagum dan bangga memiliki anak yang bisa menyaksikan hal-hal itu secara langsung. Dalam satu kesempatan, ia bersama ayahnya bercakap-cakap dalam dialek Melayu Ambon.

Anak: "Papa, dunia di luar sana tuh akang memang paling canggih."
Papa: "Hmmmmm .... (sambil menjahit atap)."
Anak: "Papa tahu, waktu beta di Amerika, dong cuma kasmasu tarigu dalam masin, masin goyang-goyang, kaget bagini roti samemer kaluar Papa ee. Canggih ka seng?"
Papa: "Hmmmmmm .... (sambil isap tabaku sek panjang-panjang)."
Anak: "Lebe canggih lai di Balanda Papa. Papa tahu keju ka seng, keju? Di Balanda sana, dong cuma sirang susu di dalam masin, masin goyang-goyang, seng lama bagini keju yang kaluar. Memang dong paleng canggih Papa."
Papa: "Hmmmmmmm ... (nada su mulai tinggi)."
Anak: "Tapi biar negara apa yang pung canggih lai, seng sama deng Japang, Papa ee. Di Japang, Papa, orang-orang lego besi-besi tua bakarat ka dalam masin, masin goyang-goyang, kaget bagini oto sedan kaluar Papa ee. Su talalu amat paleng sangat canggih, Papa."
Papa: (seng bisa tahang diri lai) "Heeeh, Anak eeee. Beta kira kata ose ni su pi bajalang koliling dunia ni lalu ose su pintar sadiki. Tapi akang tar tambah sakuku lai. Ose bilang di Amerika dong kasmasu tarigu dalam masin, masin bagoyang roti kaluar, di Balanda dong kasmasu susu dalam masin, masin bagoyang keju kaluar, di Japang dong kasmasu besi-besi tua dalam masin, masin bagoyang oto sedan kaluar, ose bilang su canggih. Itu yang namanya canggih? Canggih ose pung kes.
Di sini, beta cuma kasmasu daging sapanggal di ose pung mama, ose pung mama goyang-goyang, ose yang kaluar."

Selamat malam, selamat bergoyang-goyang. :) :)  


----------------------------------------------------------------------------------------------
versi Bahasa Indonesia

Anak: "Papa, ternyata dunia di luar itu sangat canggih."
Papa: "Hmmmmm .... (sambil menjahit atap dari daun enau)."
Anak: "Papa tahu tidak, waktu itu saya di Amerika, mereka hanya memasukkan terigu ke dalam mesin, mesinnya bergoyang-goyang, tiba-tiba roti sangat besar yang keluar. Canggih khan, Pa?"
Papa: "Hmmmmmm .... (sambil merokok tembakau)."
Anak: "Yang lebih canggih itu di Belanda, Pa. Papa tahu keju khan? Di Belanda, mereka cuma masukkan susu ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, tidak lama berselang, keju yang kaluar. Memang, mereka sangat canggih, Pa."
Papa: "Hmmmmmmm ... (dengan nada sudah mulai meninggi)."
Anak: "Tapi, yang paling canggih itu Jepang, Pa. Di Jepang, mereka hanya melempar potongan-potongan besi tua berkarat ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, tiba-tiba mobil sedan yang keluar, Pa. Sungguh terlalu amat paling sangat canggih, Pa."
Papa: (tidak mampu menahan diri lagi) "Heeeeeh, Anakku. Papa pikir kalau kau sudah keliling dunia, kamu bisa bertambah pintar. Ternyata tidak seujung kuku pun kepintaranmu bertambah. Kau bilang kalau di Amerika hanya masukkan terigu ke mesin, lalu mesinnya goyang-goyang, keluar roti? Di Belanda, susu disiram ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, keluar keju? Yang paling kau herankan itu di Jepang, cuma masukkan besi tua ke mesin, mesinnya goyang-goyang, mobil sedan yang keluar? Katamu itu sudah canggih? Canggih dengkulmu.
Di sini, papamu ini cuma masukin daging sepenggal ke dalam mamamu, mamamu itu goyang-goyang, kau yang keluar."

Kamis, 10 Agustus 2017

Provokator Damai dan "Social Traps" (Edisi Refleksi dan Revisi)

Salah satu kemampuan hakiki manusia adalah refleksi. Ia (manusia) mampu untuk melihat kembali jalinan pengalaman-pengalaman yang telah dilewatinya kemudian mempertemukan pengalaman-pengalaman itu dengan paham-paham baru yang telah membentuk perspektifnya tentang hidup dan dunianya. Refleksi ada dalam kepentingan menentukan jalan-jalannya ke masa depan. Kemampuan itulah yang menjadikan kita layak disebut manusia.

20 September 2011, dari Jayapura, saya pernah menulis dengan judul "Provokasi Damai dalam Perspektif Social Traps". Saat ini, setelah hampir enam tahun lamanya, tulisan itu layak direfleksikan kembali, kemudian direvisi (ditambah sana-sini) setelah diperhadapkan dengan fakta-fakta belakangan.

Waktu itu, 11 September 2011, konflik terjadi lagi di Ambon. Itu kabar yang diterima di Jayapura. Sambil terus mengikuti perkembangan situasi, ada seorang adik, teman, kawan berpikir, Weslly Johannes (sekarang mahasiswa pascasarjana Sosiologi Agama UKSW, Salatiga) yang memposting tulisan di FBnya dengan judul, "Pelajaran tentang Saling Percaya. "Dia menuliskan tentang damai dalam perspektif problem of trust.  Ada juga beberapa rekan yang terus menulis tentang situasi terakhir, waktu itu, yang berangsur damai. Tulisan-tulisan manis itu telah menjadi semacam provokasi damai yang menggugah nurani. Saya tersadar bahwa saling percayalah yang menjadi faktor penentu bagi perjumpaan-perjumpaan kemanusiaan. Perjumpaan yang melampaui identitas-identitas komunal dan religi.

Damai, entah negatif (tiadanya perang dan atau kekerasan fisik) atau positif (adil, sejahtera, makmur, sentosa, dll.) adalah impian. Impian bagi manusia yang kemudian membungkusnya dalam permainan kata. Bagi penguasa, damai adalah "stabilitas masyarakat." Bagi masyarakat, damai adalah "bisa cari makan, sekolah, tanpa rasa takut." Ada kawan yang menyatakan bahwa damai akan lebih bermakna bagi masyarakat yang pernah merasakan perang, konflik, rusuh, dll. Kalau soal makna, tentu tak dapat disalahkan.

Saya memiliki keyakinan besar bahwa masyarakat Ambon telah mulai berhasil keluar dari “perangkap sosial" (Social Trap) situasi berelasi. Social trap adalah istilah di bidang psikologi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Platt pada tahun 1973. Istilah itu adalah metafora bagi situasi-situasi di mana para aktor sosial mengambil keputusan yang ditentukan oleh penilaian terhadap tindakan-tindakan aktor-aktor yang lain di masa depan. Hal itu sangat berhubungan dengan keputusan untuk saling percaya dan bekerjasama dalam suatu situasi.

Secara sederhana, logika sosial trap adalah sebagai berikut (Rothstein, 2005:12):
  1. Jika tiap orang memilih bekerja sama, maka situasinya adalah semua orang diuntungkan.
  2. Tetapi, jika seseorang tidak percaya bahwa orang lain dapat bekerjasama, maka tak ada artinya memilih untuk bekerjasama karena suatu kerjasama sangat tergantung dari pilihan bekerjasama semua pihak.
  3. Jadi, tidak bekerjasama adalah pilihan bagi orang-orang yang percaya bahwa pihak lain tidak dapat bekerjasama.
  4. Kerjasama yang efisien untuk tujuan bersama hanya dimungkinkan jika tiap orang percaya bahwa orang lain juga akan memilih untuk bekerjasama untuk hal itu.
  5. Dengan tiadanya kepercayaan itu, maka pintu social trap akan langsung tertutup dan berakhir dengan buruk bagi semua orang, walaupun ada kesadaran bahwa ada keuntungan-keuntungan tertentu ketika memilih bekerjasama.
Ada beberapa dasar teoretis yang digunakan mendukung konsep ini, di antaranya adalah tindakan ekonomi politis yang strategis mengasumsikan bahwa “apa yang orang kerjakan sangat tergantung pada kepercayaan tentang apa yang orang lain akan kerjakan.” Selain itu, yang cukup penting adalah kemungkinan untuk keluar dari social trap itu dibatasi oleh fakta bahwa manusia secara rasional tidak dapat memutuskan untuk melupakan sesuatu. Artinya, dalam perspektif psikologis, social trap mengindikasikan bahwa pilihan untuk melupakan dan mengingat tidak dapat ditentukan secara rasional. Terkait peristiwa konflik Maluku, orang dapat saja menyatakan untuk melupakan apa yang telah terjadi dan hidup dalam damai, tetapi secara rasional, pilihan untuk langsung menghapus ingatan itu dari memorinya tidak dapat dilakukan.

Dari logika dan indikasi-indikasi itu, dapat dimengerti betapa seriusnya masalah social trap dalam kehidupan masyarakat. Orang Maluku pernah ada dalam perangkap sosial itu. Contoh nyata social trap adalah ketika orang-orang yang memegang kontrol terhadap arus informasi menyebarkan informasi yang saling menyudutkan. Informasi-informasi itu kemudian digunakan untuk saling menyerang satu dengan yang lain. Penyebaran informasi yang menyudutkan itu adalah upaya agar tidak ada rasa saling percaya di dalam masyarakat. Ketika masyarakat ikut menyebarkan informasi-informasi tersebut, itu pertanda telah masuk ke dalam perangkap tersebut. Sekali masuk ke dalam strategi yang didasarkan pada ketidakpercayaan, maka pintu perangkap akan tertutup dan cukup sulit untuk keluar. Hal itu disebabkan karena adanya kesulitan tersendiri bagi orang-orang yang tidak saling percaya dalam waktu yang lama untuk membangun rasa saling percaya kembali dengan meyakini bahwa pihak lain pasti akan bekerjasama dalam tujuan bersama.

Walaupun demikian, secara rasional, rasionalitas individual dapat menentukan rasionalitas masyarakat. Kunci untuk membuka pintu perangkap sosial, salah satunya adalah dengan mengandalkan atau mempercayakan rasionalitas individual memainkan peranannya. Individu-individu rasional yang membangun rasa percaya baru setelah sekian lama ada dalam komunitas yang tidak saling percaya dapat menjadi provokator damai. Individu-individu rasional itu pula yang dapat membuka pintu perangkap sehingga perlahan-lahan tercipta masyarakat yang secara rasional saling percaya yang berdampak pada kerjasama dengan tujuan bersama.

Individu-individu rasional itulah yang saya temukan dalam diri banyak pihak yang benar-benar bekerja keras untuk berdamai. Berdamai dengan dirinya sendiri agar timbul rasa percaya kepada orang lain, setelah itu berdamai dengan orang lain agar dapat bekerja bersama-sama menghadirkan damai lebih luas lagi. Individu-individu rasional itu yang saya temukan pada diri Dian, Nurma, Abu, Charlie, Adel, Dewi, dan rekan-rekan lain (Komunitas Penggerak Perdamaian Ambon) yang rela meluangkan waktu selama 4 (empat) hari, berlatih bersama para pekerja perdamaian, merasionalisasi pilihan untuk keluar dari perangkap sosial yang ada.

Keterbukaan dan kejujuran adalah kata-kata kunci yang dapat membuka pintu perangkap sosial itu. Menciptakan ruang-ruang perjumpaan mesti terus dikerjakan, meskipun dalam faktanya, ada ruang-ruang perjumpaan semu yang tecipta secara transaksional. Damai yang transaksional menyimpan konflik di bawah permukaan yang jika tidak dikelola dengan baik akan muncul sewaktu-waktu, di saat "transaksi-transaksi damai" itu sudah tidak terjadi lagi.

Bagi saya, dipandang dari perspektif apapun, damai tetap lebih indah.
Bagi kalian yang telah menjadi provokator damai di Maluku, terima kasih banyak karena telah ikut membentuk rasionalitas saya. 

Referensi:
Rothstein, Bo, 2005, Social Traps and the Problem of Trust, NY: Cambridge University Press.

Ambon Layak Menjadi Laboratorium Perdamaian di Indonesia

Padamu Neg'ri, Kami Berjanji;.... Bagimu Neg'ri Jiwa Raga Kami


Laboratorium, sejatinya adalah ruang bagi riset-riset ilmiah yang terkendali. Ruang riset itu biasanya dimanfaatkan untuk eksperimen komprehensif, pengukuran terbatas, dan tempat pelatihan bagi para periset. Disebut terkendali karena para periset dapat mendesain dan merekayasa variabel-variabel riset sesuai dengan kebutuhan. Tentu definisi laboratorium seperti itu sangatlah positivis di mana aspek observasi empiris menjadi faktor utama pemerolehan pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah sesuatu yang ada di luar sana, teramati, terukur, dan dapat diprediksi. Intinya, pengetahuan adalah obyektifitas. Subyektifitas periset hanya dilihat sebagai halangan bagi penemuan ilmiah karena kadar obyektifitasnya akan diragukan. Laboratorium menemukan tempatnya yang tepat pada riset-riset ilmu-ilmu alam, namun ketika beberapa pemikir mencoba pendekatan riset ilmu alam kepada riset-riset tentang manusia, diawali oleh Auguste Comte, jadilah manusia dianggap sama seperti alam yang dapat diamati, diukur, diprediksi. Apakah bisa demikian?

Bagaimana jika suatu komunitas yang menjadi laboratorium? Tentu saja dibolehkan, dengan catatan ada gerak yang melampaui definisi dan hakekat laboratorium dalam pengertian asalinya itu. Laboratorium damai misalnya, yang menjadikan komunitas di Ambon atau Maluku sebagai ruang riset perdamaian. Pendekatannya haruslah post-positivis sebagai upaya "menentang" perspektif positivisme karena tindakan manusia tidak dapat diprediksi dengan satu penjelasan yang mutlak dan pasti karena manusia selalu saja berubah. Dalam perspektif post-positivisme itulah, Ambon atau Maluku layak dijadikan sebagai laboratorium damai di Indonesia.

Pertanyaan utama yang patut dikemukakan adalah "Mengapa Ambon layak menjadi laboratorium damai, tempat belajar/riset/berlatih tentang perdamaian?" Tentu saja akan muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang lebih praktis soal "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Namun pertanyaan kedua ini akan disimpan untuk ditelusuri nanti.

Ada banyak tempat yang warganya hidup berdampingan dalam damai meski berbeda agama dan suku bangsa, tetapi mereka belum pernah ada dalam situasi berdarah-darah seperti Ambon. Pernah di Ambon, sesama manusia berbeda agama angkat parang, melepas panah, melempar tombak, membidik senjata, dll., untuk saling menghabisi. Belum sampai 2 dekade peristiwa-peristiwa itu terjadi sehingga masih segar ingatan tentang penderitaan itu. Para pemuda dan remaja yang lahir saat peristiwa tersebut, sebagian dari mereka, dibesarkan dengan narasi-narasi kekerasan, kebencian, juga penderitaan.

Tetapi Ambon (Maluku) cepat bangkit. Kami cepat sadar bahwa kami sementara menari dengan musik orang lain. Kerja-kerja keras perdamaian pun mulai mengisi hari-hari di Ambon sejak kesadaran itu muncul. Kini, kami yang dulu berkelahi, memilih jalan untuk berdamai. Meskipun banyak hal yang tidak sama lagi seperti sebelum peristiwa itu, tetapi kami memiliki keyakinan bahwa perlahan-lahan kerja kami akan membuahkan hasil.

Fakta-fakta itu semakin jelas ketika saya diundang mengikuti kegiatan Training Penggerak Perdamaian Berbasis Komunitas di Ambon. Selama 3 (tiga) hari para peserta dilatih dan dibekali dengan beberapa kemampuan, di antaranya kemampuan melakukan analisis sosial berbasis konflik, kemampuan mengorganisasi komunitas, dan kemampuan membedah kasus. Tetapi yang sangat berkesan adalah ketika melakukan kunjungan ke Masjid Batu Merah, Gereja Latta, dan Komunitas Ambon Bergerak. Refleksi terhadap kunjungan itu akan menjadi tulisan tersendiri. Sebanyak 25 orang peserta akhirnya membentuk Komunitas Penggerak Perdamaian Ambon (PPA). PPA hanyalah komunitas kecil yang orang-orangnya baru bertemu dalam semangat yang sama, menggerakkan perdamaian. Kami saling belajar, saling berbagi, saling mengkritisi dalam keterbukaan. Pertanyaan paling penting saat itu adalah, "mengapa beberapa komunitas sudah bekerja keras dalam menghadirkan damai di Ambon, sedangkan kami baru berjumpa untuk dilatih menjadi penggerak damai?" Mungkin kami adalah generasi berikut dari para penggerak damai sebelumnya. Dengan demikian, dari generasi ke generasi akan selalu ada penggerak damai di komunitas masing-masing.

Ambon sangat layak menjadi tempat belajar karena pernah berada dalam situasi teramat tidak manusiawi, tetapi saat ini perlahan dan pasti, jalinan-jalinan kemanusiaan itu mulai dipulihkan. Pemulihan diri lebih banyak terjadi secara internal, meski ada juga rekayasa-rekayasa sosial.

Mari, belajar di Ambon. Beberapa teman Muslim kami sudah pernah tinggal berhari-hari di rumah-rumah orang Kristen dan mereka tidak dijadikan sama seperti kami (kadangkala, ini yang dijadikan pegangan). Live in adalah model yang menarik di mana peserta akan tinggal selama beberapa hari bersama dengan mama dan bapa piara (tuan rumah) yang berbeda agama. Jika sudah tinggal bersama, makan dan minum bersama, bercerita dalam keterbukaan, maka perlahan-lahan sekat-sekat perbedaan akan mulai runtuh dengan sendirinya. 

Untuk pertanyaan, "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Selama training 4 (empat) hari itu, saya menemukan bahwa live in adalah metode yang ampuh bagi itu. Silahkan melakukan rekayasa sosial dengan kegiatan live in selama beberapa waktu dan ikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri para peserta live in.

Salam Damai!!

Sampah Ambon