Jumat, 08 September 2017

Sampah Ambon

Dalam pendekatan analisis sosial, salah satu model analisis yang sering digunakan adalah analisis pohon masalah. Ada banyak ahli yang memberi pendapat dan penamaan terkait analisis pohon masalah. Misalnya, Scarvada, dkk. (2004) menggunakan istilah issues tree, Silverman dan Silverman (1994) menggunakan istilah systematic diagram atau tree diagram, sementara Duffy, dkk. (2012) menggunakan istilah tree diagrams. (sumber)

Dari berbagai pendapat itu dapat ditarik 3 (tiga) poin penting, yaitu:
  1. Analisis pohon masalah adalah suatu alat atau teknik atau pendekatan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah.
  2. Analisis pohon masalah menggambarkan rangkaian hubungan sebab akibat dari beberapa faktor yang saling terkait.
  3. Analisis pohon masalah ummnya digunakan pada tahap perencanaan. (sumber)
Lalu, apa hubungan analisis sosial khususnya model pohon masalah dengan sampah di Ambon?

Sumber: Facebook
Foto ini adalah salah satu foto yang diupload ke media sosial facebook. Diambil setelah selesai acara "Makan Patita" atau makan bersama a la orang Maluku Tengah untuk memperingati HUT Kota Ambon Ke-442, 7 September 2017, di atas Jembatan Merah Putih (JMP).

Sumber: Facebook

Tentu sampah-sampah itu tidak dibiarkan begitu saja. Tidak lama setelah foto tersebut diupload, muncul foto lain yang menunjukkan bahwa wilayah itu sementara dibersihkan. Kemudian muncul juga foto-foto berikutnya yang menunjukkan bahwa JMP, icon infrastruktur Maluku, telah bersih dan sedap dipandang mata.
Sumber: Facebook

Postingan-postingan di facebook terkait kondisi JMP setelah perayaan HUT Kota Ambon itu menimbulkan perdebatan a la medsos. Banyak yang menyayangkan kondisi itu dengan menyatakan,
"hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat,"
"yang baik bagi masyarakat adalah membuang sampah saja sembarangan, pasti ada yang membersihkannya."
"jangan melempar tanggung jawab kepada pemerintah, karena soal sampah itu tanggung jawab semua pihak."
"itu bukan soal kesadaran, tetapi sikap tak acuh masyarakat. Masyarakat pasti sadar tapi tak peduli."
"Di manakah tempat sampah agar sampah bisa dibuang pada tempatnya?"

Namun, tak sedikit yang tidak menganggap itu sebagai masalah dengan menyatakan,
"Itu kan baru selesai makan, jadi begitu. Nanti juga dibersihkan. Yang penting kebersamaan."
"Foto itu ibarat saya membuat acara ulang tahun di halaman rumah saya, selesai itu sampah-sampah akan dibersihkan." 

Banyak komentar-komentar lainnya, baik yang menyayangkan maupun yang tidak mempermasalahkan.

Membaca komentar-komentar yang marak di Facebook, dapat langsung diketahui bahwa ada upaya mengidentifikasi sebab-akibat dari kondisi terkini yang terpotret di atas. Jika sampah itu masalah bagi sebagian besar orang, maka hal yang nampak dalam foto-foto itu hanyalah di permukaan saja. Ibarat pohon, kita hanya bisa melihat batang, cabang, ranting, dan daun-daunnya saja, sementara akarnya tidak kelihatan karena menancap jauh ke dalam tanah. Jika mau membaca persoalan sampah di Kota Ambon, salah satu model analisisnya adalah menggunakan pohon masalah sebagai upaya menemukenali akar-akar persoalan persampahan kota.

Dalam analisis pohon masalah, hal yang "nampak" dan dianggap sebagai masalah yang menurut kita harus dipecahkan itu biasa disebut sebagai focal problem. Apakah dengan menyelesaikan focal problem, masalah itu tidak terjadi lagi di masa depan? Dapat dipastikan, masalah yang sama akan terus terjadi di masa depan karena kita hanya memangkas ranting, atau cabang, atau menebang batang. Jika akarnya masih kuat dan mendapatkan asupan nutrisi yang baik, maka pohon itu akan tetap hidup dengan mengeluarkan tunas-tunas batang, cabang, ranting, dan daun yang baru. Karena itu, akarnya mesti diketahui, dikenali, dan diberikan penanganan semestinya.

Terkait sampah di Kota Ambon, ada peneliti yang menganggap bahwa pengelolaannya masih menggunakan paradigma lama, yaitu sampah hanya dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa adanya pengelolaan sampah yang baik (sumber). Itu ibarat hanya menyelesaikan focal problem, apa yang nampak dan kelihatan saja. Pengelolaan sampah dalam paradigma lama itu menyangkut produksi sampah Kota Ambon kurang lebih 140 ton sampah setiap hari (sumber). Dengan beban sampah seperti itu, pemerintah pasti kewalahan. Celakanya lagi, bukannya membuat perencanaan yang "terstruktur, sistematis, dan massif", solusi yang diberikan yaitu menggali lubang di sekitar rumah untuk mengubur sampah-sampah baik basah maupun kering (sumber) dapat menimbulkan masalah baru seperti polusi tanah dan sebagainya.

Pemerintah Kota Ambon telah menargetkan bahwa Kota Ambon harus bebas sampah pada tahun 2020 (sumber). Dengan target seperti itu maka penanganan pada focal problem tidak akan membantu pencapaiannya. Akar masalah harus diketahui dan ditangani dengan tepat. 

Tahun 2004, saya mendampingi "mantan pacar", seorang mahasiswa Teknik Sipil di UKIM Ambon membuat penelitian untuk skripsinya terkait pengelolaan sampah Kota Ambon. Ada beberapa orang yang menulis tentang topik itu, tetapi terbagi-bagi atas beberapa bagian, mulai dari pengelolaan sampah yang keluar dari rumah, perkantoran, atau sentra-sentra perekonomian masyarakat, pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sementara, pengelolaan dan pengangkutan ke TPA, rancang bangun TPA, dll. Dia mendapat bagian meneliti tentang pengelolaan awal sejak sampah itu keluar dari rumah penduduk, perkantoran, toko, rumah makan, dll. Ada 3 (tiga) aspek yang menjadi kesimpulan pengelolaan sampah yang baik, yaitu: (1) Aspek kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah; (2) Aspek teknis terkait pengelolaan sampah; (3) Aspek manajemen pengelolaan. Terkait aspek pertama, rekomendasinya adalah edukasi terhadap masyarakat terkait pengelolaan sampah. Untuk aspek kedua, rekomendasinya adalah pembuatan infrastruktur pengelolaan sampah level pertama (sementara). Terhadap aspek ketiga, rekomendasinya adalah pelatihan manajemen persampahan kota kepada setiap pengambil kebijakan mulai dari tingkat RT/RW. Tetapi sepertinya itu tinggal menjadi dokumen skripsi di perpustakaan saja, entahlah.

Jelas bahwa tumpukan sampah di atas JMP itu hanyalah apa yang dapat ditangkap dengan indra saja. Itu hanya focal problem saja. Untuk mencari tahu akar-akarnya, dapat ditanyakan, "mengapa itu terjadi?" Tentu saja pendekatan ini bukanlah saran bagi mereka yang masih menggunakan paradigma lama, "buang sampah saja karena nanti akan dibersihkan, dikumpulkan, diangkut, dibuang di TPA." Pendekatan ini lebih cocok bagi orang-orang yang merasa bahwa paradigma lama itu tidak akan membantu penanganan sampah di Kota Ambon beberapa tahun mendatang. Jika sekarang sudah kurang lebih 140 ton/hari, bayangkan saja beban sampah beberapa tahun mendatang.

Beberapa aspek yang dapat menjadi kategori penelusuran akar masalah persampahan dengan menggunakan model analisis pohon masalah adalah aspek Manusia, Metode, Sarana, Dana, dan Lingkungan. Untuk mengeksplorasi persoalan secara rinci, metode yang biasa digunakan adalah five ways, yaitu menggali penyebab persoalan dengan menjawab pertanyaan "mengapa" sampai kedalaman 5 (lima) level atau tingkat. Seluruh masalah yang teridentifikasi sebagai penyebab mesti digali dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumen. Triangulasi sumber data, triangulasi metode pemerolehan data, triangulasi teori pendukung, dan sebagainya sangat dibutuhkan untuk menjamin keabsahan dan kevalidan data-data yang dijadikan dasar rumusan akar masalah.

Jika semua itu telah dilakukan, tentu masalah sampah di Kota Ambon tidak bisa serta merta terselesaikan. Ada para pengambil kebijakan yang perlu disodori hasil dan rekomendasi-rekomendasinya.

Inti dari tulisan ini, mari bergerak melampaui penanganan masalah hanya pada apa yang nampak (paradigma lama pengelolaan sampah perkotaan). Ada tawaran metodologis untuk memahami kemudian melakukan perencanaan yang terstruktur, sistematis, dan massif terkait sampah perkotaan.

Saya sendiri pernah menulis tentang sampah di blog ini dengan judul, "Natal, Sampah, Sampah Natal".

Semoga bermanfaat,
Salam Damai!