Jumat, 20 April 2018

Yang Utama Adalah Membentuk Perilaku Penulis

Pelatihan Admin dan Redaksi PIKOM AMGPM di Jemaat GPM Porto, 19 April 2018 diawali dengan materi Prinsip-Prinsip Kristiani Tentang Komunikasi dilanjutkan dengan Kode Etik Jurnalistik. Kedua materi tersebut difasilitasi oleh Rudi Fofid, seorang wartawan yang puluhan tahun menggeluti profesi itu. Kemampuan menulis dalam suatu pelatihan menulis itu nomor dua. Hal yang mesti dipahami pertama kali adalah tentang bagaimana seharusnya perilaku seorang penulis, apalagi pewarta. Banyak hoax dan hate speech lahir dari penulis bagus, kata Fofid.

Ada tujuh prinsip Kristen tentang komunikasi yang disampaikan oleh fasilitator. Prinsip-prinsip itu bersumber dari WorldAssociation for Christian Communication (WACC). Ketujuh prinsip itu adalah:
  1. Komunikasi adalah suatu latihan spiritual 
  2. Komunikasi membangun dan membentuk masyarakat 
  3. Komunikasi meningkatkan partisipasi 
  4. Komunikasi mempromosikan kebebasan dan menuntut akuntabilitas 
  5. Komunikasi merayakan perbedaan budaya 
  6. Komunikasi membangun keterhubungan 
  7. Komunikasi memperkokoh keadilan dan menentang ketidakadilan
Berikutnya, fasilitator yang biasa disapa Opa Rudi memaparkan materi Kode Etik Jurnalistik. Pasal-pasal penting disampaikan beserta penjelasan secukupnya. Menurut Rudi, kode etik itu berlaku dan mengikat para wartawan Indonesia. Para peserta memang tidak berprofesi sebagai wartawan namun dilatih untuk menulis dalam perspektif Jurnalistik. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dasar yang membimbing perilaku para pewarta mesti juga menjadi pegangan bersama. “Selain ini, dapat saja hal-hal khusus diangkat untuk dijadikan kode etik oleh media gereja”, kata Rudi sambil mencontohkan beberapa hal khusus itu. 

Tentu saja prinsip-prinsip komunikasi Kristen dan Kode Etik Jurnalistik itu pemberlakuannya sangat tergantung pada kehendak baik para pewarta, utamanya pewarta media Kristen.

Bersambung: ....

Belajar Lagi di Porto, Saparua

Tiba lagi di Pelabuhan Haria, 19 April 2018, sebagai peserta Pelatihan Admin dan Redaksi Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM). Kegiatan diselenggarakan oleh Pengurus Besar (PB) AMGPM di Jemaat GPM Porto. Waktu terasa berputar sangat cepat. Terakhir kali menginjakkan kaki di Saparua adalah 16 tahun lalu, pada pertengahan 2002. Saya waktu itu mengkoordinir kegiatan Turun Jemaat Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku ke Pulau Nusalaut.

Menggunakan kapal cepat dari Pelabuhan Hurnala Tulehu, rombongan peserta disambut Pengurus AMGPM Daerah Lease di atas dermaga dilanjutkan paduan terompet Jemaat GPM Porto di perbatasan negeri. Berjalan beberapa meter, kami disambut lagi oleh Ketua Klasis GPM P.p. Lease, Ketua AMGPM Daerah Lease, dan Ketua Majelis Jemaat GPM Porto, ditandai pengalungan lenso "berang" kepada PB AMGPM dan Fasilitator oleh dua orang pemuda. Sambutan tuan rumah yang hangat dengan tari lenso mengalahkan terik matahari yang mulai menguras keringat.

Pdt. Olive Sekewael, peserta dari AMGPM Daerah Seram Utara, memimpin ibadah pembukaan. Sekretaris Umum PB AMGPM, Pdt. Jondry Paays membuka kegiatan. Ketua Klasis, Pdt. Cak Sapulete turut menyampaikan sambutan. Baik Pdt. Paays maupun Pdt. Sapulete berharap agar kader AMGPM tetap gelisah dengan situasi di sekeliling. Pelatihan adalah salah satu cara meningkatkan kapasitas pemuda untuk tetap peduli.

Saya sebagai dosen terbiasa mengajar di kelas. Namun dalam pelatihan sebagai peserta belajar. Belajar di mana dan kapan saja harusnya tidak masalah karena dapat dilakukan sepanjang hayat (long life learning). Duo Rudi, Fofid dan Tupan, menjadi fasilitator handal dalam proses belajar saya kali ini.

Bersambung: .......