| NIM | Kehadiran | UTS | UAS | Tugas | Total | Huruf | Kualitas | ||||
| Hasil | 10% | Nilai | 20% | Nilai | 30% | Nilai | 40% | ||||
| 33100157 | 0.7 | 1.5 | 2.4 | 3.32 | 7.9 | B | 3 | ||||
| 33130272 | 1.4 | 1.64 | 2.6 | 3.48 | 9.1 | A | 4 | ||||
| 33130273 | 1.4 | 1.7 | 2.9 | 3.6 | 9.6 | A | 4 | ||||
| 33130276 | 1.4 | 1.74 | 2.9 | 3.6 | 9.6 | A | 4 | ||||
| 33130279 | 1.4 | 1.8 | 2.6 | 3.48 | 9.2 | A | 4 | ||||
| 33130284 | 1.4 | 1.56 | 2.3 | 3.2 | 8.4 | AB | 3.5 | ||||
| 33130292 | 1.4 | 1.6 | 2.4 | 3.32 | 8.7 | A | 4 | ||||
| 33130293 | 1.4 | 1.6 | 2.9 | 3.6 | 9.5 | A | 4 | ||||
| 33130298 | 1.4 | 1.7 | 2.7 | 3.6 | 9.4 | A | 4 | ||||
| 33130299 | 1.4 | 1.7 | 2.7 | 3.6 | 9.4 | A | 4 | ||||
| 33130300 | 1.4 | 1.6 | 2.9 | 3.4 | 9.3 | A | 4 | ||||
| 33130302 | 1.4 | 1.7 | 2.9 | 3.6 | 9.6 | A | 4 | ||||
| 33130305 | 1.4 | 1.8 | 2.9 | 3.6 | 9.7 | A | 4 | ||||
| 33130310 | 1.4 | 1.7 | 2.7 | 3.4 | 9.2 | A | 4 | ||||
| 33130312 | 1.4 | 1.7 | 2.7 | 3.48 | 9.3 | A | 4 | ||||
| 33130314 | 1.4 | 1.54 | 2.3 | 3.08 | 8.3 | AB | 3.5 | ||||
| 33130315 | 1.4 | 1.6 | 2.6 | 3.2 | 8.8 | A | 4 | ||||
| 33130316 | 0 | 0 | 0.0 | 0 | 0.0 | E | 0 | ||||
| 33130323 | 1.4 | 1.7 | 2.7 | 3.48 | 9.3 | A | 4 | ||||
| 33130324 | 0 | 0 | 0.0 | 0 | 0.0 | E | 0 | ||||
| 33130325 | 0 | 0 | 0.0 | 0 | 0.0 | E | 0 | ||||
"Talamburang" adalah istilah Ambon untuk menggambarkan keadaan yang tidak teratur, kacau balau, berantakan, amburadul. Namun, hanya dengan "talamburang" (chaos) maka keteraturan (cosmos) dapat dipahami dengan baik dan jernih.
Selasa, 17 Desember 2013
Daftar Nilai Akhir Kelas Dasar-Dasar Logika PS Ilmu Administrasi Negara (Group B) - Sem. Gasal 2013/2014
Catatan: Nama mahasiswa tidak ditampilkan, hanya NIM saja. Silahkan lihat nilai sesuai NIM Anda.
Rabu, 02 Januari 2013
Lima Menit Lepas Dari Rusuh
Tanggal 28 Desember pagi hari kami sekeluarga berencana berlibur ke Amahei untuk menghadiri perayaan natal Amahei - Ihamahu 2012. Rencananya lewat laut menggunakan kapal cepat, tetapi setelah rencana kami diketahui oleh keluarga istri, jadilah semua rame-rame pada ikut ke Amahei. Karena tidak mungkin 8 orang menggunakan kapal cepat, kami memilih menggunakan mobil lewat jalan darat (Waipirit-Kairatu ke Masohi).
Berangkat dari rumah di Lateri-Ambon sekitar jam 10 pagi, tiba di Liang sebelum jam 11, baru bisa menyeberang dengan Ferry ke Waipirit sekitar jam 12 siang. Perjalan sekitar 1 jam, istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan sekitar jam 2 siang. Tiba di Masohi kurang lebih jam 5 sore.
Singkat cerita, bertemu dengan orang tua dan keluarga, dilanjutkan dengan merayakan natal sebagaimana tujuan kepulangan.
Tanggal 29 Desember 2012, kami kembali ke Ambon melalui jalan yang sama. Lepas dari Amahei sekitar jam 12 Siang dengan harapan sekitar jam 4 sore sudah bisa menyeberang ke Ambon.
Tiba di ujung Desa Rumahkay, kami bertemu dengan iring-iringan besar, yang setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata rombongan dari Desa Sepa yang hendak pulang diantar oleh masyarakat Kamarian. Kami menepi sejenak, memberikan kesempatan bagi iring-iringan itu lewat tanpa gangguan.
Setelah iring-iringan terakhir melewati kami, tanpa punya firasat apa-apa, perjalanan kami lanjutkan. Setibanya di Desa Kamariang, sudah nampak keramaian di jalanan. Namun kami juga tidak punya firasat apa-apa karena berpikir baru saja selesai pelantikan raja, wajarlah keramaian itu ada. Setibanya di dermaga ferry Waipirit barulah kehebohan terjadi diawali dengan masuknya ambulance membawa korban bentrokan dari Hualoy. Setelah dicek kesana kemari baru diketahui kalau ada bentrokan antara warga Hualoy dengan warga dalam iring-iringan yang melewati kami tadi.
Tidak bermaksud menganalisis sebab musabab bentrokan, tulisan ini hanya mau sedikit menegaskan bahwa dalam kerumunan masa, tak ada satu pribadipun yang mampu menahan diri. Hampir setiap bentrokan warga berawal dari sekedar kumpul-kumpul atau iring-iringan. Dalam konteks bentrok di atas, psikologi masa rupa-rupanya tidak dikuasai dengan baik oleh aparat keamanan. Dalam amatan kami, saat iring-iringan itu lewat, tak ada patroli polisi atau apa pun namanya yang berfungsi mengamankan situasi. Intelijen pun rupa-rupanya lemah dalam hal mendeteksi gerakan-gerakan masa dari kedua belah pihak. Paradigma aparat keamanan masih seputar TKP (tempat kejadian perkara). Padahal, bagi saya, alangkah baiknya bila TKP tidak ada. Artinya, dengan deteksi dini dan penindakan tegas, bentrok-bentrok yang melibatkan masa dalam jumlah banyak seperti itu tidak perlu terjadi.
Hmmmmm ... kalau saja kami terlambat 5 menit dalam perjalanan, maka kami akan bertemu iring-iringan itu di sekitar lokasi bentrokan.
Berangkat dari rumah di Lateri-Ambon sekitar jam 10 pagi, tiba di Liang sebelum jam 11, baru bisa menyeberang dengan Ferry ke Waipirit sekitar jam 12 siang. Perjalan sekitar 1 jam, istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan sekitar jam 2 siang. Tiba di Masohi kurang lebih jam 5 sore.
Singkat cerita, bertemu dengan orang tua dan keluarga, dilanjutkan dengan merayakan natal sebagaimana tujuan kepulangan.
Tanggal 29 Desember 2012, kami kembali ke Ambon melalui jalan yang sama. Lepas dari Amahei sekitar jam 12 Siang dengan harapan sekitar jam 4 sore sudah bisa menyeberang ke Ambon.
Tiba di ujung Desa Rumahkay, kami bertemu dengan iring-iringan besar, yang setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata rombongan dari Desa Sepa yang hendak pulang diantar oleh masyarakat Kamarian. Kami menepi sejenak, memberikan kesempatan bagi iring-iringan itu lewat tanpa gangguan.
Setelah iring-iringan terakhir melewati kami, tanpa punya firasat apa-apa, perjalanan kami lanjutkan. Setibanya di Desa Kamariang, sudah nampak keramaian di jalanan. Namun kami juga tidak punya firasat apa-apa karena berpikir baru saja selesai pelantikan raja, wajarlah keramaian itu ada. Setibanya di dermaga ferry Waipirit barulah kehebohan terjadi diawali dengan masuknya ambulance membawa korban bentrokan dari Hualoy. Setelah dicek kesana kemari baru diketahui kalau ada bentrokan antara warga Hualoy dengan warga dalam iring-iringan yang melewati kami tadi.
Tidak bermaksud menganalisis sebab musabab bentrokan, tulisan ini hanya mau sedikit menegaskan bahwa dalam kerumunan masa, tak ada satu pribadipun yang mampu menahan diri. Hampir setiap bentrokan warga berawal dari sekedar kumpul-kumpul atau iring-iringan. Dalam konteks bentrok di atas, psikologi masa rupa-rupanya tidak dikuasai dengan baik oleh aparat keamanan. Dalam amatan kami, saat iring-iringan itu lewat, tak ada patroli polisi atau apa pun namanya yang berfungsi mengamankan situasi. Intelijen pun rupa-rupanya lemah dalam hal mendeteksi gerakan-gerakan masa dari kedua belah pihak. Paradigma aparat keamanan masih seputar TKP (tempat kejadian perkara). Padahal, bagi saya, alangkah baiknya bila TKP tidak ada. Artinya, dengan deteksi dini dan penindakan tegas, bentrok-bentrok yang melibatkan masa dalam jumlah banyak seperti itu tidak perlu terjadi.
Hmmmmm ... kalau saja kami terlambat 5 menit dalam perjalanan, maka kami akan bertemu iring-iringan itu di sekitar lokasi bentrokan.
Kamis, 20 Desember 2012
BERKENALAN DENGAN TOBELO: Refleksi 2 Minggu Pertama
Dua (2) minggu sudah saya berkenalan dengan Kota Tobelo. Waktu yang singkat tetapi cukup memberikan gambaran awal tentang situasi sosial dan budayanya. Maunya ku ( ... dirimu ==> Jodohku Anang jadinya) setiap hari dalam 2 minggu ini menulis semacam jurnal terkait perkenalan dengan Kota Tobelo, tetapi kemauan saja tanpa dikerjakan hanyalah mimpi. Bagi saya, daripada tidak menulis sama sekali, lebih baik fakta-fakta perjumpaan itu diendapkan lebih dulu sambil berefleksi tentang perubahan-perubahan yang telah terjadi dan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat saja terjadi. Tentu saja kisah perjalanan ini diawali dengan proses mutasi sebagai dosen kopertis wil. XII dari Jayapura ke Tobelo. Ada tuntutan untuk harus beradaptasi dengan situasi yang baru, tetapi cara untuk itu tidak ditentukan, tetapi dijalani saja seperti air mengalir.
Duduk di depan komputer dan mulai mengisahkan perjalanan 2 minggu ini menyadarkan saya bahwa seleksi atas fakta-fakta yang patut diingat dan fakta-fakta yang tidak terlalu penting secara subjektif telah terjadi dengan sendirinya di dalam memory saya tiap hari. Bahwa ada impresi-impresi tertentu yang ditangkap secara sensual dan menyentuh sampai bilik-bilik logika dan perasaan adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Tetapi tidak semua fakta perjumpaan berujung impresi dan masuk dalam ingatan yang dapat direfleksikan kemudian diekspresikan dalam tulisan ini. Seleksi atas fakta-fakta mana yang patut diingat dan mana yang tidak adalah hal yang tidak dapat dihindari. Dengan demikian, apa yang nanti saya tuliskan di sini adalah apa yang dapat saya ingat dalam 2 minggu terakhir berada di Tobelo.
Berawal dari tibanya saya di Kota Ternate menggunakan KM Lambelu dari Ambon. Beristirahat di rumah pendeta yang melayani di Gereja Ayam (istilah orang Ternate untuk gereja itu) yang saya kenal baik dan dekat. Setelah itu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Speedboat dari Ternate menuju Pulau Halmahera, pulau terbesar dalam gugusan kepulauan Maluku Utara. Selama kurang lebih 40 menit, speedboat menyeberangi lautan dan singgah di daratan Halmahera, tepatnya di Sofifi, wilayah yang direncanakan menjadi Ibukota Provinsi Maluku Utara. Ongkos Speedboat dari Ternate ke Sofifi adalah Rp. 50 rb/orang per Desember 2012 (itu kalau memilih naik Speedboat yang antri). Kalau tidak mau antri, dapat menyewa Speedboat sendiri seharga Rp. 350rb. Dari Sofifi, perjalanan dilanjutkan ke Tobelo dengan menggunakan angkutan darat. Moda transportasi yang digunakan kebanyakan adalah Avanza, Inova, Rush, atau Xenia. Selama 4 jam perjalanan dilakukan, berkelok-kelok, naik turun gunung, dengan kondisi jalan yang sangat mulus (kecuali di beberapa tempat yang jembatannya sementara dibangun). Karena tiba di Sofifi sekitar jam 5 sore, perjalanan ke Tobelo dilakukan menjelang gelap sehingga pemandangan sepanjang jalan tidak dapat dinikmati. Dari perjalanan itu saja, saya dapat berempati dengan masyarakat Tobelo yang harus berurusan ke Ternate (walaupun ada daerah-daerah yang lebih jauh lagi seperti Obi, Bacan, Kep. Sula, dimana teman-teman dari Fak. Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku [UKIM] - Ambon dulu sekarang banyak yang menjadi Pendeta di sana).
Tiba di Tobelo, saya langsung membaca ucapan "SELAMAT DATANG DI BUMI HIBUALAMO". Untuk sementara "numpang tinggal" bersama salah seorang rekan dosen muda Universitas Halmahera. Kesan pertama ketika bertemu rekan-rekan itu adalah keramahan yang tulus. Hmmmm .... tiba di, dan berjumpa juga dengan orang Tobelo. Seperti kata advertizing, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Kesan itulah yang membuat saya sudah merasa "jatuh cinta" dengan Tobelo. Tetapi tidak mau terlanjur jauh jatuh cinta sebelum mengenal dengan baik (seberapa baik mau dikenal ...??), saya ikut dalam situasi baru tersebut. Bercerita tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya, bertanya-tanya tentang situasi di Tobelo dalam pandangan mereka. Rata-rata mereka berpendapat bahwa lebih baik saya mengenal sendiri Tobelo daripada mendengar tentang Tobelo dari mereka. Bagi saya, cukup adil pendapat itu. Sebelum beristirahat, saya sempat menangkap judul salah satu buku di atas meja rekan baru itu yang bertuliskan HIBUA LAMO. Dengan segera saya meminjamnya dan membaca cepat untuk sekilas mengerti apa itu HIBUA LAMO. Dalam bacaan itu, saya mendapati bahwa pengertiannya adalah "Rumah (Hibua) Besar (Lamo)". Hmmmmmm ..... Oke, selamat datang Jusuf Nikolas di Rumah Besar Tobelo. Tepar juga akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan tubuh.
Hari ke-2 adalah pagi pertama di Tobelo. Kicauan burung menyambut pagi, sepi dan hangat, tidak seperti di Ambon, apalagi Jayapura. Sepertinya ini suasana idaman (hmmmmm ....). Hari ini saya pertama kali mengikuti kebaktian Minggu di Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH), Jemaat Kasih Wari Ino, Tobelo. Kebetulan yang berkhotbah di sana adalah rekan saya, Ricardo Nanuru. Karena berada dekat dengan kampus Uniera, kebanyakan anggota jemaat adalah para dosen dan mahasiswa Uniera. Selain liturgi tetap, ibadah disuguhi vocal group dari mahasiswa asal Galela. Menarik karena satu vocal group menggunakan 4 nama pada saat menyanyikan lagu yang berbeda. Tak apalah, yang penting memuji Tuhan, daripada di tempat lain, tak ada yang berani maju melantunkan pujian. Selesai ibadah dan makan siang, motor teman dipinjam untuk putar-putar Kota Tobelo. Rencananya sieh putar-putar saja di Kota yang kecil itu, tetapi rencana berubah ketika perjalanan mulai dinikmati menuju ke arah utara, ke arah Galela. Pada tonggak penunjuk jarak, tercantum Galela 26 KM, akhirnya motor diarahkan ke Galela. Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, perjalanan itu sungguh saya nikmati. Di kanan kiri perkebunan kelapa, langsa, dan lainnya adalah pemandangan yang menarik. Tanahnya hitam pekat, begitu juga dengan warna batuannya. Ternyata di sana ada gunung berapi bernama Dokuno yang hampir tiap saat memuntahkan kesuburan kepada Tobelo dan sekelilingnya. Tanpa sadar, beberapa tempat saya lewati, belum bisa dihafal satu per satu. Yang sempat diingat hanyalah Gorua, Mamuya (ada sumber air panasnya), Galela. Tiba di Galela, saya memutar balik dan kembali ke Tobelo. Saya sampaikan perjalanan itu kepada teman, dia bilang: "wah abang, saya saja belum pernah pakai motor ini sampai lewat jembatan pertama setelah Uniera, abang tiba langsung jalan ke Galela". Heheheheee .... "kaki panjang" (suka jalan-jalan) juga nieh. Salah seorang teman ketika diceritakan perjalanan itu bilang kalau hanya beberapa km saja dari tempat memutar, saya bisa sampai di Telaga Duma yang terkenal itu. Ketika teman dan paman yang pernah berkunjung ke Tobelo bilang kalau kelapa yang dijadikan kopra adalah hasil utama di Tobelo, saya harus mengaminkan itu setelah melihat sendiri kenyataannya.
Hari Senin adalah hari ke-3 di Tobelo. Pagi hari, setelah mandi, menuju kampus Uniera untuk memberitahukan kedatangan sebagai tenaga dosen baru. Perkenalan dengan beberapa dosen dan karyawan membuat saya bertambah betah saja. Lahan yang luas dengan fasilitas yang masih minimal tetap sudah cukup untuk saat ini adalah kesan pertama saya terhadap Uniera (4 fakultas dengan sejumlah prodi yang rata-rata sudah terakreditasi C - bagi kampus yang baru berdiri tahun 2008 adalah tanda kemajuan berarti). Lebih jauh, internet dapat diakses di mana saja dalam areal kampus atau sekeliling kampus melalui sistem wireless atau LAN yang tersambung ke semua ruangan kerja dosen. Tersedia laboratorium dan koperasi yang cukup memadai. Sepertinya, inilah kampus masa depan di Halmahera Utara dan Maluku Utara.
Hari-hari selanjutnya diisi perkenalan dengan orang-orang di sekitar dan di dalam Kampus Uniera. Selain itu, mencari rumah tinggal adalah prioritas utama sebelum berlibur ke Ambon untuk Natal. Untuk ukuran Kota Tobelo, harga sewa kamar kost rata-rata adalah Rp. 300rb (biasa) - Rp. 750rb sebulan (elite). Dapat dikira-kira, mana yang harga mahasiswa, mana yang harga pegawai dan karyawan. Dibandingkan dengan harga di Jayapura, maka harga seperti itu termasuk murah. Saya sendiri dengan bantuan rekan dosen mendapat tempat tinggal, kamar kost yang cukup nyaman dan terjangkau harganya. Ke depannya, tentu saja kost dan kontrakan di Tobelo akan menjadi primadona karena keberadaan Uniera, Politeknik Padamara, dan salah satu Stikes sebagai kampus-kampus yang mulai berkembang di Halmahera Utara. Para mahasiswanya berasal dari seluruh wilayah Maluku Utara. Hal itu menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi di Tobelo lewat kampus-kampus tersebut mulai tinggi.
Impresi berikutnya adalah terkait beberapa isu penting yang dibicarakan dan didiskusikan bersama beberapa rekan dosen. Untuk mencari tahu situasi di Tobelo, saya mencoba mengajak tiap rekan dosen yang ditemui untuk menceritakan sekilas Tobelo dalam sudut pandang mereka. Kemajuan adalah hal yang tidak dapat dipungkiri. Namun ada kesadaran juga bahwa kemajuan akan dibarengi dengan kemunduran, khususnya di bidang moralitas dan tradisi lokal. Makin mudahnya masyarakat mengakses informasi dan berkomunikasi lewat media-media baru menunjukkan bahwa masyarakat semakin berkembang ke arah yang lebih baik, dari sisi penguasaan pengetahuan dan informasi mutakhir. Tetapi kemudahan itu pun dibarengi dengan makin mudahnya masyarakat mengkonsumsi nilai-nilai yang menurut beberapa rekan bukanlah nilai lokal. Sebut saja, maraknya tempat-tempat hiburan, bahkan ada anak-anak SMA yang berprofesi sebagai wanita panggilan. Semakin banyaknya rumah kost dan kontrakan yang berdiri juga berujung pada semakin longgarnya pengawasan terhadap aktifitas-aktifitas anak-anak muda. Perubahan adalah keniscayaan, bagaimana menyikapinya adalah tanggung jawab tersendiri bagi orang-orang yang peduli.
Selain hal di atas, kegelisahan berikut yang ditangkap adalah terkait masalah ekonomi. Harga Kopra yang turun drastis belakangan ini membuat kondisi ekonomi masyarakat menjadi lemah. Ada permintaan agar pemerintah daerah turun tangan dalam memperbaiki situasi itu. Dalam pembicaraan yang berkembang, kami sama-sama menyadari bahwa ketergantungan masyarakat pada kopra membuat mereka akan terpukul ketika harga kopra merosot. Diversifikasi hasil olahan dari kelapa yang banyak di Tobelo dan sekitarnya dapat juga menjadi jalan keluar. Tanggung jawab pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan termasuk Uniera adalah menyediakan ruang-ruang bagi pemberdayaan masyarakat terkait ide itu. Mudah-mudahan ide tentang pemberdayaan masyarakat dalam kerangka diversifikasi hasil olahan itu dapat berjalan (memang butuh proses).
Isu lainnya adalah soal kegalauan beberapa rekan tentang makin memudarnya identitas lokal masyarakat Tobelo. Indikator untuk itu adalah soal penggunaan Bahasa Tobelo dalam percakapan sehari-hari. Ada teman yang bercerita: Suatu ketika, bersama seorang rekan yang sama-sama orang Tobelo, mereka berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat. Di depan mereka duduk 2 orang yang asyik bercakap-cakap dengan bahasa Jawa. Di samping mereka, duduk 2 orang yang asyik bercakap-cakap dengan bahasa Batak. Sementara mereka berdua yang adalah orang Tobelo, asyik bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia." Ada kesadaran identitas yang muncul saat itu, tetapi bagi rekan itu, untuk berbahasa Tobelo dalam aktifitas sehari-hari butuh keberanian tersendiri. Rektor Universitas Khairun Ternate yang expert di bidang bahasa dan sastra turut menegaskan bahwa punahnya beberapa bahasa lokal di Maluku Utara tinggal menunggu waktu saja. Apabila para penuturnya yang telah berumur lanjut saat ini meninggal, maka punah juga bahasa itu dalam penuturan setiap hari masyarakat. Bahasa Ibu menjadi kasus tersendiri. Saat ini bahasa Kao juga terancam, selain bahasa Tobelo seperti yang dikuatirkan beberapa rekan.
Isu berikutnya adalah soal eksplorasi Sumber Daya Alam di Halmahera. Dalam diskusi dengan salah seorang pejabat di pemda diperoleh informasi bahwa ada ijin eksplorasi yang menurut pemda sudah layak diterbitkan. Entah di wilayah mana, yang pasti ketika pemda membuka ruang dengan menerbitkan ijin eksplorasi, maka masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi itu mesti bersiap diri menghadapi perubahan yang disebabkan aktifitas eksplorasi itu. Perubahan itu dapat bersifat alamiah (perubahan lingkungan tempat hidup) dan sosial (perubahan situasi sosial). Harapannya adalah lembaga-lembaga pendidikan di Halmahera Utara dapat pro-aktif membaca kondisi tersebut demi memperjuangkan kemaslahatan masyarakat lokal.
Selain isu-isu tersebut di atas, ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan di Halmahera Utara sebagai wilayah berkembang baru. Misalnya di sisi pariwisata, konservasi lingkungan, dll. Tentu saja peluang-peluang itu dibarengi tantangan-tantangan tersendiri. Kemampuan membaca peluang dan tantangan eksternal adalah kekuatan tersendiri bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Tobelo untuk menegaskan peran dan fungsinya di tengah masyarakat. Mungkin ada kelemahan terkait Sumber Daya Manusia yang belum banyak pengalaman tetapi hal itu bisa disiasati dengan keterlibatan dalam setiap agenda pemerintah daerah, khususnya dalam penelitian terkait Rencana Induk Pembangunan Daerah. Buat saya, Pemda Halmahera Utara sudah saatnya memberikan kesempatan lebih banyak bagi partisipasi lembaga-lembaga pendidikan di Halmahera Utara seperti Uniera dan Poltek Padamara dalam mengkaji dan menyusun draft-draft RIPDA pada SKPD-SKPD yang ada. Hanya dengan keberanian membuka ruang itu, SDM di Halmahera Utara dapat mendapatkan tempatnya dalam partisipasi pembangunan di wilayahnya sendiri.
Akhirnya, setelah 2 minggu mengendap, refleksi atas perjumpaan pertama dengan Kota dan orang-orang Tobelo dapat saya ekspresikan di Ternate, di salah satu warnet yang ada di Kampung Pisang ini.
Semoga dapat menjadi bahan refleksi bagi semua rekan yang bergulat dengan pembangunan manusia dan kemanusiaan di Tobelo, bumi Hibua Lamo itu.
Jumat, 09 Maret 2012
MASALAH KEJAHATAN DAN KEMAHAKUASAAN TUHAN DALAM PANDANGAN TEISME PROSES
A.
Pengantar
Setiap
saat manusia diperhadapkan dengan masalah yang dikategorikan sebagai bentuk
“kejahatan”, baik berupa peristiwa yang dialami sendiri oleh tiap orang, maupun
lewat narasi yang disampaikan orang lain atau media masa. Masalah kejahatan dan
penderitaan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bagi para filsuf agama,
kategori umum yang sering digunakan terhadap hal itu adalah kejahatan alam (natural evil) dan kejahatan moral (moral evil). Menurut John Hick
sebagaimana disitir oleh Meister (2009: 129), penderitaan karena kejahatan
moral adalah apa yang berasal dari manusia seperti pikiran kejam dan
ketidakadilan yang meresap ke dalam perbuatan. Kejahatan moral dapat termasuk
“tindakan” seperti berbohong, memperkosa, membunuh, dan lain sebagainya juga
“karakter” seperti kedengkian, keserakahan, iri hati dan sebagainya.
Penderitaan karena alam adalah sesuatu yang terlepas sama sekali dari pikiran
dan tindakan manusia. Hal itu dapat berupa wabah penyakit, bencana alam, dan
lain sebagainya. Walaupun demikian, ada juga penderitaan karena alam yang
disebabkan oleh karena ulah manusia yang tidak diperhitungkan sebelumnya dan
dapat dikategorikan sebagai kejahatan moral.
Dari
semua serangan terhadap klaim-klaim tentang keberadaan Tuhan, masalah kejahatan
menjadi fokus argumentasi yang kuat. Artinya, masalah kejahatan tidak bisa
diabaikan, bahkan oleh para penganut kepercayaan kepada Tuhan karena realitas
kejahatan telah menjadi masalah sejak munculnya teisme itu sendiri. Realitas
itu pula yang menjadi senjata andalan para penganut ateisme untuk
berargumentasi dan menyerang klaim-klaim keberadaan Tuhan. Yang menjadi fokus
perhatian penting kaum teistis atau yang mengakui keberadaan Tuhan adalah
bagaimana mendamaikan fakta-fakta kejahatan di dalam dunia dengan eksistensi
Tuhan yang diakui sebagai Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu. Jawaban-jawaban
filosofis terhadap masalah kaum teistis itu telah diberikan oleh para filsuf
agama baik lewat argumentasi kehendak bebas manusia maupun di bidang teodise.
Dalam
paper ini, penulis hendak menyajikan pemikiran tentang teodise proses yang
dikembangkan berdasarkan filsafat proses dari Alfred North Whitehead
(1861-1947). Pemikiran Whitehead dalam bidang filsafat agama dan teologi
dikembangkan oleh Charles Hartshorne (1897–2000), kemudian John Cobb, Jr. (1925-
), juga David Ray Griffin.
B. Pembahasan
1.
Pendekatan teoretis tentang masalah kejahatan
a. Secara logis
Masalah kejahatan bukanlah sesuatu yang
sederhana, tetapi beragam dan kompleks. Namun demikian, masalah-masalah itu
muncul dari dua keyakinan: (1) Tuhan – yang Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu –
eksis; (2) Kejahatan – dengan segala manifestasinya dalam kehidupan – eksis.
Ketika kedua premis itu diperhadapkan satu sama lain, maka muncul permasalahan
logika.
David Hume (dalam Peterson dkk, 1996:
235-42) mengemukakan argumentasinya lewat dialog antara Demea, Philo dan
Cleanthes. Dalam bacaan yang hati-hati terhadap dialog mereka, dapat ditemukan
bahwa menurutnya klaim-klaim tentang “Tuhan itu eksis” dan “kejahatan itu
eksis” secara logis tidak kompatibel atau bertentangan. Oleh karena itu, ketika
diperhadapkan dengan realitas bahwa “kejahatan itu eksis”, maka secara logis
“Tuhan tidak eksis”. Kalaupun
klaim-klaim bahwa “Tuhan itu eksis” dan “kejahatan itu eksis” secara logis
kompatibel atau tidak bertentangan, maka kebenaran klaim “kejahatan itu eksis”
lebih kuat dan dapat dibuktikan secara empiris, namun belum dapat menjadi dasar
evidensial untuk menolak klaim bahwa “Tuhan itu eksis”.
b. Secara evidensial
Dikenal
dengan istilah masalah kejahatan yang probabilistis. Jenis argumentasi ini
bersifat induktif, a posteriori dan berdasarkan evidensi. Struktur umum dari argumentasi
masalah kejahatan probabilistis adalah sebagai berikut(Meister, 2009: 135):
1. Jika
Tuhan eksis, maka Tuhan adalah Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu.
2. Sesuatu
yang Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu dapat menciptakan dunia yang secara logis
tepat.
3. Jika
Sesuatu yang Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu itu menciptakan suatu dunia, maka
dunia yang diciptakan adalah dunia yang terbaik di antara kemungkinan yang ada.
4. Sesuatu
yang Mahakuasa, Mahabaik dan Mahatahu itu memiliki kekuatan, pengetahuan dan
kehendak untuk mencegah kejahatan dan penderitaan di dalam dunia paling baik
dari semua kemungkinan dunia yang dapat diciptakannya.
5. Oleh
karena itu, adalah mustahil bagi dunia yang eksis (dalam hal ini dunia kita)
yang dipenuhi dengan kejahatan yang besar dan luar biasa, adalah dunia yang
terbaik di antara dunia ciptaannya.
6. Oleh
karena itu, adalah mustahil bagi Tuhan, yang disebut Mahakuasa, Mahabaik dan
Mahatahu itu, untuk eksis.
c. Secara eksistensial
Masalah kejahatan secara eksistensial
cukup sulit untuk didefinisikan. Hal itu disebabkan karena sangat berhubungan
dengan perasaan. Secara eksistensial, masalah kejahatan berhubungan dengan
masalah keagamaan, moral, pendampingan, psikologi dan emosional. Hal sederhana
yang dapat dikatakan dari itu adalah bahwa kejahatan secara eksistensial dapat
membawa pada ketidakpercayaan kepada Tuhan atau kepada suatu agama secara umum
(Meister, 138).
2.
Teisme dalam pandangan Filsafat Proses (Teisme Proses)
Dari penjelasan teoretis tentang masalah
kejahatan di atas, maka ada banyak pendekatan dan argumentasi yang dikemukakan
untuk membela teisme oleh para filsuf. Pendekatan kehendak bebas dan teodise
adalah yang biasa dikemukakan oleh para pemikir filsafat agama.
Pendekatan yang digunakan oleh penulis
di sini adalah teodise proses yang berakar pada filsafat proses, dikembangkan
menjadi teologi proses. Oleh karena itu, sebelum masalah kejahatan dan
kemahakuasaan Tuhan dideskripsikan dalam perspektif teodise proses, hal utama
yang penting dikemukakan adalah tentang teisme dalam pandangan filsafat proses.
Dari sekian literatur, hal itu dikenal dengan sebutan teisme proses (process theism) (Meister, 2009: 142; Stanford Encyclopedia of Philosophy).
Teisme dalam pandangan tradisional
secara metafisik terbagi dalam dua level. Level ciptaan atau natural adalah
level di mana semua ciptaan saling berinteraksi menurut kemampuan interaksi dan
aturan alam yang berlaku. Level lainnya adalah Tuhan dan/atau entitas
supernatural lainnya. Intervensi dari level Tuhan ke dalam level ciptaan
disebut sebagai mujizat. Disebut mujizat karena intervensi itu datang dari
level lain dan merupakan peristiwa supernatural, bukan natural (Keller, 2007: 136).
Teisme proses secara metafisik berbeda
dengan teisme tradisional. Dalam teisme proses, yang disebut sebagai Tuhan dan
ciptaan berada pada satu level yang sama. Untuk memahami mengapa sampai secara
metafisik dalam teisme proses Tuhan dan ciptaan berada pada level yang sama, maka
perlu dilihat pemikiran tentang filsafat proses atau filsafat organisme dari
Whitehead.
Dalam perspektif Whitehead, dunia dibentuk
bukan berdasarkan oleh sesuatu (a thing),
tetapi oleh peristiwa (happenings)
yang disebutnya sebagai entitas aktual (actual
entity) (Berthold, 2004: 80). Entitas aktual atau juga disebut sebagai actual occasions adalah unsur
terakhir/terkecil yang terbayangkan yang membentuk dunia. Tuhan adalah entitas
aktual, demikian juga unsur yang paling remeh di dalam ruang hampa jauh di
sana. Walaupun berbeda dalam gradasi kepentingan dan fungsi, namun secara
prinsipil, semua itu berada dalam level yang sama (Whitehead, 1929: 23).
Walaupun berada pada level yang sama,
Whitehead membedakan actual occasions dalam
empat taraf, yaitu: pertama, adalah actual occasions yang terdapat dalam
ruang hampa; kedua, adalah actual occasions yang merupakan momen di
dalam sejarah-hidup benda-benda tidak hidup, seperti yang disebutnya sebagai
elektron atau proton dan benda-benda primitif lainnya; ketiga, adalah actual
occasions yang merupakan momen di dalam sejarah-hidup benda-benda hidup; keempat, adalah actual occasions yang merupakan momen di dalam sejarah-hidup
benda-benda hidup dengan pengetahuan sadar (Hadi, 1996: 188).
Setiap kenyataan dalam perspektif
Whitehead adalah proses perpaduan yang melibatkan dua kutub, yaitu fisik dan
mental. Kutub fisik merupakan kemampuan kenyataan yang sedang dalam proses
pembentukkan diri untuk menangkap warisan atau pengaruh yang dihasilkan oleh
pelbagai pengada di seluruh dunia yang telah selesai di dalam pembentukkan
dirinya. Kutub mental merupakan kemampuan kenyataan baru yang sedang dalam
proses pembentukkan diri untuk menginterpretasikan menilai dan menyusun
tawaran-tawaran yang ditangkap oleh kutub fisik kemudian disusun sesuai dengan
citra diri atau subjective aimnya.
Hubungan antara semua itu tentu bersifat dinamis dan selalu berubah demi
kepentingannya. Peranan dari kutub fisik dan mental biasanya tidak seimbang
karena tergantung dari taraf kenyataan. Semakin tinggi taraf kenyataan, maka
semakin kecil peran kutub fisik dan semakin besar peran kutub mental. Namun
demikian, taraf lebih tinggi selalu mengandaikan taraf yang lebih rendah. Taraf
yang lebih rendah tidak harus mengandaikan taraf yang lebih tinggi. Pembagian
taraf-taraf kenyataan itu adalah taraf anorganik,
taraf vegetative, taraf sensitive dan taraf rasional. Ketika tiba pada taraf rasional, maka yang penting
diperhatikan adalah pengambilan keputusan. Semua taraf itu menuju pada
pembentukkan diri pengada aktual. Proses pembentukkan diri pengada aktual itu
sendiri dibagi menjadi empat, yaitu tahap
datum atau pengumpulan data, tahap pengolahan data, tahap kepenuhan diri dan tahap
keputusan. Pada tahapan akhir itu, pengada aktual dibahasakan Whitehead
sebagai superjek (yang dilemparkan
melampaui), yang menunjuk pada kenyataan bahwa suatu peristiwa atau benda
merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai yang ditawarkan oleh seluruh entitas
aktual yang telah menyelesaikan pembentukkan dirinya (Hadi, 74-5).
Dalam kerangka penjelasan di atas, perlu
juga dimengerti tentang ojek abadi sebagai “hal-hal yang melulu merupakan
kemungkinan bagi determinasi khusus kenyataan, atau bentuk-bentuk
ketertentuan”. Ketertentuan yang dimaksudkan adalah ketertentuan entitas
aktual. Artinya, suatu entitas aktual memuat sejumlah objek abadi yang terbatas
(Hadi, 189-90).
Bila bagi entitas aktual selain Tuhan
proses pembentukkannya melibatkan kutub fisik dan mental, maka bagi Tuhan
sebagai entitas aktual, Whitehead membahasakannya dengan consequent nature dan primordial
nature. Tuhan kemudian dimengerti sebagai entitas aktual yang memiliki
kodrat khusus. Tuhan dalam hakikat primordialNya merupakan realisasi tak
terbatas dari kekayaan kemungkinan yang absolut. Tuhan dalam pengertian itu
dilihat dalam abstraksi lepas dari interaksi-Nya dengan entitas-entitas aktual
di dalam dunia nyata. Tuhan dalam hakikat consequentNya
dapat dimengerti sebagai prehensi dari proses aktual dalam dunia. Prehensi dalam
bahasa Whitehead adalah kegiatan mengambil atau mencerap unsur-unsur dari
lingkungan dalam proses pembentukkan diri setiap entitas aktual. Disebut
sebagai consequent karena hakikat itu
tergantung pada keputusan-keputusan entitas aktual bukan Tuhan lainnya. Kegiatan
konseptual Tuhan adalah tindakan kreatif bebas yang hanya memerlukan
objek-objek abadi sebagai datanya. Kegiatan konseptual itu adalah untuk
menentukan relevansi objek-objek abadi bagi setiap entitas aktual di dalam
konkresinya (perasaan tumbuh bersama untuk menjadi ada yang objektif) (Hadi: 191-2).
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa
setiap entitas aktual selalu dimulai dengan upaya pengumpulan data dari masa
lalu. Data masa lalu itu bersumber dari entitas aktual masa lalu dan dari Tuhan
yang juga adalah entitas aktual. Namun entitas aktual di masa lalu dan Tuhan
memberikan kontribusi yang berbeda bagi pembentukkan entitas aktual baru. Tiap
entitas aktual menjadi data yang nantinya akan ditangkap, diolah dan dipilih
dalam pembentukkan entitas aktual baru. Tuhan menentukan kemungkinan atau
relevansi bagi objek-objek abadi untuk setiap entitas aktual baru. Ketika
setiap entitas telah menjadi ada yang
objektif, maka itu adalah keputusan untuk menjadi terlepas dari semua
kemungkinan kemenjadiannya. Kontribusi Tuhan tidak membatasi keputusan meng-ada-nya suatu entitas aktual, tetapi
menyokong keseluruhan keteraturan alam, juga menyediakan sumber-sumber baru
bagi sokongan keteraturan itu (Keller, 2007: 136-8).
3.Kejahatan
dan Kemahakuasaan Tuhan dalam perspektif Teodise Proses
Dalam bacaan singkat tentang teisme
proses di atas, jelas bahwa Tuhan bukanlah penentu absolut bagi keberadaan
suatu entitas aktual. Dengan demikian, Tuhan bukanlah penentu bagi keberadaan
kejahatan, apalagi harus mengatasi atau menguranginya. Keller (2007: 141)
mengemukakan pemikiran teisme proses terkait dengan masalah kejahatan sebagai
berikut: (1) Proses di dalam dunia sangat dipengaruhi oleh masa lalu dan tidak
dipengaruhi oleh akibat apa yang akan terjadi atas manusia atau makhluk-makhluk
lainnya. Kadang-kadang proses itu menjadi
penderitaan bagi manusia dan makhluk lainnya; (2) Penderitaan terjadi karena
makhluk berbeda dalam tujuan, berkompetisi mendapatkan sesuatu; (3) Ada
kejahatan, dalam hal ini kejahatan moral, karena manusia tidak menyesuaikan
keputusannya dengan daya pikat Tuhan yang tersedia demi keteraturan; (4)
Sebagian orang pada waktu-waktu tertentu merasakan dorongan yang kuat untuk
mencegah atau mengurangi kejahatan tertentu. Kadang-kadang dorongan itu menjadi
semacam penggerak bagi gerakan yang lebih luas dan efektif untuk mengurangi
kejahatan tertentu. Jadi, menurut Keller, teisme proses membimbing manusia
untuk menduga-duga jenis-jenis penderitaan yang akan ditemu, sekaligus
jenis-jenis tindakan yang perlu diputuskan untuk mencegah atau menguranginya.
Dalam kerangka itu, teisme proses sangat percaya bahwa suatu dunia yang baik
adalah mungkin dan yang perlu dilakukan adalah menemukan apa yang diberikan
Tuhan, mengambil keputusan dan menjadi entitas aktual yang baik.
C. Penutup
Dari paparan di atas, maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu:
- Masalah kejahatan adalah realitas yang diperhadapkan kepada kita setiap hari. Dalam literatur-literatur filosofis, pada umumnya dikenal dua jenis masalah kejahatan, yaitu kejahatan alam (natural evil) dan kejahatan moral (moral evil).
- Masalah kejahatan menjadi penting karena digunakan sebagai argumentasi yang kuat untuk menentang pendapat tentang keberadaan Tuhan. Hal itu dapat dilihat dalam pandangan-pandangan teoretis tentang masalah kejahatan dalam hubungannya dengan keberadaan Tuhan, baik secara logis, evidensial maupun eksistensial.
- Banyak pemikir filsafat agama telah mengemukakan pendapatnya tentang masalah kejahatan dan eksistensi Tuhan. Salah satunya adalah pendapat dari kaum teisme proses yang mendapatkan sandaran filosofisnya pada filsafat proses A.N. Whitehead.
- Teisme proses adalah pemikiran yang menerima eksistensi Tuhan tetapi secara metafisik berbeda dengan teisme tradisional. Perbedaannya adalah bahwa Tuhan tidak ditempatkan pada level yang berbeda dengan makhluk lain dan dunia, tetapi pada level yang sama, yaitu sama-sama sebagai entitas aktual.
- Entitas aktual adalah unsur terkecil yang terbayangkan yang membentuk dunia. Entitas aktual adalah pengada yang terdiri dari taraf-taraf tertentu dan pembentukkannya melalui proses tertentu hingga menjadi ada yang objektif.
Daftar Pustaka
Berthold,
Fred, Jr., (2004), God, Evil and Human
Learning: A Critique and Revision of The Free Will Defense In Theodicy, New
York: State University of New York Press.
Griffin,
David Ray, “Creation out of Nothing, Creation out of Chaos, and the Problem of
Evil,” dalam Stephen T. David, ed., Encountering Evil: Live Options in
Theodicy, new ed. (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 2001),
108–25.
Hadi,
Hardono (1996), Jatidiri Manusia:
Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, Yogyakarta: Kanisius.
Keller,
James A. (2007), Problems of Evil and The
Power of God, Hampshire: Ashgate.
Meister, C. V. (2009), Introducing Philosophy of Religion,
London ; New York, Routledge.
Peterson, M. L., et.al. (1996), Philosophy of Religion:
Selected Readings, New York, Oxford University Press.
Whitehead, A. N. (1929), Process and Reality: An essay in cosmology,
New York: The Free Press.
Sabtu, 03 Maret 2012
Campuran "dua enam": Refleksi dari Proses Pendampingan Masyarakat Lokal di Nabire, Papua
| Sungai Siriwo, Nabire - Papua. (Sumber: plus.google.com) |
Seperti biasa, ada saja kisah perjalanannya mengunjungi wilayah-wilayah terpencil di Kabupaten Nabire yang dapat menjadi bahan refleksi bagi saya. Seperti kali ini, ia mengisahkan tentang perjalanannya akhir Februari lalu ke salah satu kampung di tepi Sungai Siriwo, Nabire. Kampung yang harus ditempuh selama kurang lebih 6 jam perjalanan melalui laut dan menelusuri sungai Siriwo. (akhirnya saya harus menerima kulit wajah Melsje yang beda warna. Tengah hidung ke atas berwarna cerah karena tertutup pet topi sementara tengah hidung ke bawah berwarna gelap karena tidak terlindungi dari terik matahari di tengah laut).
Awalnya ia bersama rekan kerja berniat melakukan monitoring pekerjaan fisik yang telah direncanakan di kampung tersebut, tetapi ternyata belum ada yang dikerjakan karena para penduduk kampung tidak memiliki kemampuan dasar melakukan pekerjaan teknik seperti tukang batu atau tukang kayu. Pengetahuan mereka hanyalah pengetahuan lokal berdasarkan pengalaman setiap hari. Oleh karena itu, mereka kebingungan ketika diperhadapkan dengan gambar kerja dan rincian bahan serta cara kerja seperti yang tersedia dalam RAB. Melsje pun berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh masyarakat kampung dan mulai menjelaskan hal-hal teknis itu dengan bahasa sehari-hari, dengan harapan mudah dimengerti oleh mereka.
Misalnya, ketika mereka tidak mengerti bagaimana cara mengukur pasir 1 kubik, Melsje langsung meminta mereka membuat penampang kotak menggunakan papan dengan ukuran 1 m x 1 m x 1 m. Ia kemudian meminta mereka mengisi penuh kotak itu dengan pasir dan bilang kepada mereka bahwa pasir yang terisi penuh di kotak itu adalah 1 kubik. Jadi, untuk mengukur kubikasi material apa saja, masyarakat dapat menggunakan kotak kayu itu.
Mereka berniat membuat jalan rabat beton di dalam kampung, tetapi karena belum pernah mengerjakan pekerjaan seperti itu, mereka belum memulainya. Material pun belum terkumpul sesuai yang tertera di dalam RAB. Melsje pun meminta mereka mengumpulkan bahan dan peralatan sesuai RAB selama 1 minggu. Minggu berikutnya ia akan kembali ke sana untuk mulai mengerjakan pekerjaan itu bersama mereka.
Setelah semua selesai diarahkan, hari berikutnya ia kembali ke kota dengan harapan 1 minggu kemudian ia dapat kembali ke sana dan bekerja bersama-sama masyarakat. Namun karena masalah bahan bakar (beberapa minggu terakhir, bahan bakar sulit didapatkan di Nabire karena kondisi laut yang tidak memungkinkan menyebabkan kapal pengangkut BBM terlambat tiba) akhirnya ia terlambat 3 hari dari janjinya. Setelah lewat 1 minggu 4 hari sejak kunjungan di atas, ia kembali lagi ke kampung dengan rekan kerjanya.
Seperti pada umumnya kampung-kampung di pedalaman, setiap kunjungan orang dari luar selalu disambut dengan meriah di pinggir sungai. Begitu juga pada saat kedatangan Melsje. Longboat yang ditumpanginya belum juga merapat di tepi sungai, masyarakat kampung sudah memenuhi tempat berlabuhnya perahu itu untuk memastikan siapa gerangan yang berkunjung ke kampung.
Ketika mereka melihat bahwa Melsje yang tiba, serta merta mereka berteriak, "Ibu sudah datang, ibu sudah datang." Mereka pun menolong Melsje turun dari perahu dan membawakan barang-barangnya menuju tempat pertemuan. Dalam perjalanan menuju ke tempat itu, seorang yang dipercaya sebagai pemuka di situ bilang kepada Melsje, "Ibu, kami sudah bekerja sesuai dengan apa yang ibu bilang waktu itu karena kami tunggu Ibu telalu lama." Mendengar antusias masyarakat itu, Melsje cukup senang dan mengucapkan terima kasih karena mereka sudah mulai bekerja sambil meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatannya itu.
Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan, ia melewati jalan rabat beton yang baru dibuat itu. Keningnya berkerut dengan tampilan jalan itu hanya karena warna campuran semen yang kelihatannya tidak merata serta sambungan campuran yang tidak merata juga (saya pikir orang teknik lebih tahu maksudnya). Tetapi ia mendiamkan hal itu sambil terus melanjutkan langkah ke tempat pertemuan.
Setelah tiba di tempat pertemuan, mereka pun diminta menjelaskan tentang pekerjaan yang telah dilakukan. Bapak yang tadi memberitahukan tentang pekerjaan yang telah dimulai itu kemudian angkat suara, "Ibu, kami sudah bekerja selama tiga hari ini. Jalan yang sudah kami kerjakan sepanjang lima belas meter. Kami pakai campuran dua enam." Setengah terperangah dan kaget, Melsje kembali serius mendengarkan penjelasan mereka tentang pekerjaan itu. Tiba saatnya ia ingin melihat secara langsung pekerjaan itu. Setelah dilihat dan dipelajari, ia menemukan beberapa hal yang patut dievaluasi. Tetapi karena sudah terlalu lelah dengan perjalanan yang 6 jam itu, ia memutuskan beristirahat dulu sebelum memulai pekerjaan besok paginya.
Keesokan paginya, setelah cukup beristirahat, Melsje kembali melakukan pertemuan dengan masyarakat dan mulai menuturkan temuan-temuannya. Ia menanyakan darimana rumus "dua enam" itu diperoleh dan bagaimana maksudnya. Seseorang kemudian menyatakan kalau rumus itu datang dari bendahara kampung dengan perhitungan campuran 2 sak semen, 3 sak pasir, dan 1 sak krikil. Jadi, dua itu adalah semen, sementara enam itu adalah dua semen tambah tiga pasir tambah satu krikil. Menurut mereka, kalau 1:2:3, terlalu lama karena hanya satu semen, dua pasir, tiga krikil. Mereka ingin bekerja dua kali lipat, jadi "dua enam".
Entah harus marah atau merasa lucu, Melsje pun menjelaskan tentang perhitungan-perhitungan dan faktor-faktor teknis yang mendasarinya. Semua pun mengangguk tanda mereka baru mengerti bahwa ada akibat-akibat tertentu dari pekerjaan yang telah mereka lakukan tidak sesuai perhitungan itu. Tetapi apa mau dikata, sudah 15 meter jalan yang dikerjakan. Bagi Melsje, biarlah 15 meter itu menjadi pengalaman, sementara beberapa puluh meter berikutnya harus dikerjakan dengan benar.
Hari itu dan hari-hari berikutnya, selama 3 hari penuh, ia terlibat bersama dengan masyarakat kampung untuk membuat jalan rabat beton yang baik. Ia tidak lagi menggunakan rumus masyarakat "dua enam" yang ternyata cuma dicampur asal jadi, tetapi menggunakan rumus teknis "satu dua tiga" dengan proses mencampur yang tepat. Dari situ baru masyarakat mengerti bahwa mencampur campuran semen, pasir dan krikil dengan rumusan "satu dua tiga" secara benar lebih melelahkan (karena memang tidak terbiasa) daripada campuran "dua enam" yang dikerjakan seadanya.
Hari keempat, Melsje harus kembali ke Kota Nabire untuk mempersiapkan diri melakukan perjalanan ke Jayapura dalam rangka pekerjaan juga.
Refleksi
Mendengar cerita Melsje dan menuangkannya dalam tulisan ini menjadi refleksi tersendiri bagi saya. Paling kurang, ada dua hal yang patut ditarik:
- Masyarakat lokal, yang hampir tidak tersentuh "pembangunan" yang didengung-dengungkan pemerintah, ternyata begitu antusias pada saat mulai bersentuhan dengannya. Mereka tidak mau berlama-lama lagi dan ingin segera menikmati hasilnya. Bila perlu mereka akan mengerjakan apa yang diinginkan walaupun tidak sesuai dengan perhitungan. Patut dimengerti tentang antusiasme ini sebagai akibat dari tidak tersentuhnya mereka dengan program-program pembangunan selama ini.
- Masyarakat lokal memiliki perhitungan-perhitungan sendiri. Tentang ini, yang hendak saya katakan bahwa mereka cenderung pragmatis. Artinya, "jangan terlalu banyak bicara, buktikan dengan kerja". Kalau rumus anda seperti itu (campuran 1:2:3), maka agar cepat menikmati hasil, rumus itu harus digandakan (campuran menjadi 2:6). Pada titik ini, pragmatisme mereka tidak bisa disalahkan, tetapi harus diarahkan pada jalur yang benar. Berpikir dengan alur berpikir masyarakat lokal tetapi mengarahkan hal-hal teknis ke jalur yang benar adalah salah satu cara yang bijak dalam proses community development. Untuk itu, saya ternyata harus belajar banyak dari Melsje.
Selasa, 21 Februari 2012
Tentang Kata "Putus", dan Logika Waktu-Pendek: Refleksi Tentang Media Digital
![]() |
| ilustrasi (Sumber: kompasiana.com) |
Pernahkah anda berpikir tentang hal yang harus ditulis untuk dikirimkan kepada seseorang lewat SMS pada saat anda sedang marah? Walaupun perlu verifikasi lanjutan jawaban saya berdasarkan pengalaman sendiri dan beberapa orang dekat adalah: "umumnya, kita tidak pernah berpikir panjang tentang isi SMS yang dikirimkan pada saat sedang marah." Yang dipikirkan adalah melampiaskan kemarahan lewat ekspresi simbol-simbol, baik berupa huruf, angka, maupun tanda-tanda lainnya. Isi SMS dianggap mewakili kemarahan kita dan kita bebas menuliskan apa saja tanpa memikirkan konsekuensi lebih lanjut darinya.
Salah satu studi di Amerika Serikat yang dilakukan oleh beberapa orang praktisi hukum menyatakan bahwa dalam waktu tiga tahun terakhir, SMS sebagai bukti gugatan cerai ke pengadilan semakin meningkat. Hal itu diungkapkan oleh lebih dari 90 % pengacara perceraian yang membuka prakteknya di Amerika Serikat. Dalam dua tahun terakhir, menurut studi yang dilakukan oleh Akademi Pengacara Perkawinan Amerika (AAML), muncul trend baru selain SMS sebagai bukti perceraian, yaitu bukti dari Facebook. Hal itu diungkap oleh sekitar 1.600 pengacara perkawinan.
Argumentasi sederhana yang dapat diberikan adalah bahwa dengan menulis di e-mail, ada waktu yang diberikan kepada seseorang untuk memikirkan kembali tiap kata, tiap kalimat, tiap paragraf yang dituliskannya sehingga dapat melakukan editing sebelum pesan itu dikirim. Tetapi kalau lewat SMS, sifat pesan yang ditulis itu "sangat segera". Hanya satu atau dua kata yang buruk, yang dikirimkan dalam situasi yang buruk akan berakibat buruk bagi hubungan yang buruk dengan orang lain. Intinya, dalam keadaan marah, SMS akan dikirimkan tanpa berpikir. Pada saat anda menekan tombol "kirim" atau "send", maka kata-kata dalam SMS itu akan berubah dari sekedar kata-kata menjadi panah yang menusuk perasaan, bahkan pemikiran.
Berdasarkan fakta dan argumentasi di atas, juga pengalaman-pengalaman pribadi kita, dapat dikatakan bahwa SMS dalam situasi marah adalah pesan yang dikirim tanpa berpikir. Banyak dari kita yang cukup meremehkan tiap pesan yang terkirim lewat SMS, entah itu pesan marah, pesan fitnah, pesan yang memprovokatif, pesan yang menyebarkan kebohongan, dll.
Setelah SMS dan Facebook, bukti terbanyak selanjutnya adalah e-mail, riwayat telepon, GPS dan riwayat pencarian di internet.
Dapat dibayangkan konteks kehidupan dalam dunia yang terhubung secara global, di mana dalam sepersekian detik saja kita dapat saling berkomunikasi dengan orang-orang yang jauhnya ribuan kilometer. Dunia yang dalam 30 tahun sebelumnya hanya dapat dihubungkan dalam waktu tidak kurang dari 1 bulan, kini dapat dicapai tidak lebih dari 1 detik saja.
Terlepas dari studi para pengacara perkawinan dan perceraian di Amerika Serikat, pengalaman kita dan sesungguhnya dapat menjadi data bagi penelusuran kebenaran hipotesis di atas. Berapa banyak dari kita yang marah-marah dalam status Facebooknya saat marah-marah dengan pacarnya? Berapa banyak kita yang marah-marah di SMS terhadap pacar dan akhirnya menulis 1 kata, "Putus", dan dikirimkan hanya lewat SMS
Pada titik itu, sungguh tidak dapat disangkali bahwa teknologi telah ikut menentukan relasi-relasi kita dengan sesama. Tetapi dengan hanya berargumentasi tentang determinasi teknologi pun tidak cukup. Bagi saya, pasti ada logika di balik determinasi teknologi itu.
Pada titik itu, sungguh tidak dapat disangkali bahwa teknologi telah ikut menentukan relasi-relasi kita dengan sesama. Tetapi dengan hanya berargumentasi tentang determinasi teknologi pun tidak cukup. Bagi saya, pasti ada logika di balik determinasi teknologi itu.
Salah satu penjelasan paling masuk akal tentang logika apa yang bekerja di balik determinasi teknologi dalam relasi-relasi sosial kita adalah tentang "Logika Waktu-Pendek". Apa artinya? Logika waktu pendek adalah sistem pemikiran yang selalu menjadikan efisiensi dan efektifitas sebagai premis utama/premis mayor. Seluruh kesimpulan yang ditarik akan dianggap tidak benar jika tidak merujuk pada premis mayor tadi. Contoh sederhana, "Efisiensi adalah cara hidup manusia saat ini. Kalau anda memang manusia. Maka anda haruslah efisien". Begitu juga dengan efektifitas. Efisiensi dan efektifitas telah menjadi pola baku dalam kehidupan manusia. Padanan istilahnya adalah "murah tetapi bagus mutunya, kalau harus singkat mengapa diperlama?". Siapa sih yang tidak tertarik dengan kedua kata itu? Arena penyebaran logika waktu pendek adalah media elektronik yang menayangkan iklan-iklan dan menerangkan bahwa relasi-relasi kita dengan sesama sesungguhnya tergantung dari teknologi yang kita gunakan. Teknologi itu akan menjamin efisiensi dan efektifitas kehidupan. Revolusi teknologi informasi melahirkan logika waktu pendek. Media
elektronik dan komputer memungkinkan informasi dan pertukarannya dalam
waktu riil yang singkat. Tersedianya informasi secara instan membuat orang tidak lagi menghargai penantian dan kelambanan.
Bagaimana menjelaskan determinasi teknologi terhadap relasi-relasi sosial kita dengan menggunakan logika waktu-pendek? Instan, Singkat, Pendek, Murah, adalah istilah-istilah logika waktu pendek yang tanpa disadari telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kemarahan yang terjadi secara cepat menggerakan jari-jari kita untuk menari-nari di atas tombol-tombol handphone dan dalam sekejap, kemarahan itu terlampiaskan hanya lewat satu atau dua kata. Orang yang anda marahi berjarak 1000 km dari posisi anda pun, dalam waktu beberapa detik saja, akan membaca dan tahu kalau anda marah. Dengan cepat pula dia akan marah dan membalas pesan anda itu dengan pesan-pesan bernada serupa. Bahkan, kemarahan pun sangat cepat kerjanya. Kalau boleh bernostalgia, pada saat pacaran dulu, untuk marah dan ingin mengucapkan kata putus, harus dipikir beribu kali karena kita akan langsung bertatap muka dengan pacar kita, memandang wajahnya yang pada saat itu mungkin sangat sedih, dengan mata yang berkaca-kaca. Kita akan langsung melihat reaksinya pada saat kita mengucapkan kata "Putus", mungkin akan menangis meledak-ledak, atau akan berlari ke jalan raya menantang mobil truk yang lewat, atau malah kita yang akan dilempar menggunakan dandang nasi yang masih belum dicuci. Sekarang, lewat SMS, kita tidak perlu menyaksikan semua itu dan akan beranggapan "Ah, putus itu biasa saja".
Dapat dibayangkan, "memutuskan pacar secara instan" seperti merebus mi soto cap dada ayam. Pertanyaannya, apakah anda mendapatkan pacar itu instan juga, dengan hanya mengirim SMS, "pacaran yuk?" dan dia membalas SMS anda "Ayuk".
Ketika kehidupan pribadi kita dijalani dengan menggunakan logika waktu-pendek, maka dapat saya pastikan kalau kehidupan sosial, publik kita pun akan dilangsungkan dalam kerangka logika waktu-pendek. Atau dapat saja yang terjadi bukan kebiasaan di satu sisi kehidupan merembet ke sisi kehidupan lainnya, tetapi memang keduanya saling mempengaruhi. Kita akan belajar secara instan saja, mengerjakan tugas-tugas secara instan tanpa mengikuti langkah-langkah atau metode-metode kerja yang dapat membuat kita kapabel untuk melakukan sesuatu. Akibatnya adalah kita memang tidak akan bisa menguasai satu bidang pung sebagai keahlian karena semuanya tidak dijalankan step by step. Maunya dari masalah, langsung ke kesimpulan dan saran untuk pemecahan masalah, tanpa melalui identifikasi lebih lanjut terhadap masalah, pencarian tentang kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah, menimbang-nimbang jalan terbaik untuk memecahkan masalah, siapa saja yang perlu dilibatkan di sana. Terlalu panjang dan berbelit-belit untuk hidup dalam era saat ini dengan logika step by step itu. Tetapi, tentu saja dengan step by step, maka tiap langkah yang kita ambil adalah arena belajar tersendiri. Langkah berikutnya adalah kesempatan belajar juga. Dengan demikian, pada langkah terakhir terkait masalah kita, sesungguhnya kita telah belajar cukup banyak langkah.
Nah, saya telah cukup memberikan masukan kepada anda terkait fakta-fakta dan argumentasi penjelasnya. Pilihan tetap ada di tangan anda, apakah mau menjalani hidup ini secara instan seperti sekedar belajar dengan menekan tombol "Kirim" untuk satu kata "Putus" itu, atau hidup step by step dengan kesempatan yang luar biasa untuk berkenalan dan memahami masalah kita lebih dalam dan belajar dari langkah demi langkah itu?
Referensi:
Vivanews
Haryatmoko, 2007, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi, Kanisius: Yogyakarta
Referensi:
Vivanews
Haryatmoko, 2007, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi, Kanisius: Yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
