Minggu, 14 Agustus 2011

2011 - 1945 = 66 ---- Kita Masih Juga Belum Merdeka

Setahun yang lalu, saya sedikit merefleksikan makna kemerdekaan, kemudian mengekspresikannya lewat tulisan yang berjudul "2010 - 1945 = 65 - - - KITA SESUNGGUHNYA BELUM MERDEKA". Waktu itu, bertepatan dengan seorang anak yang ditemukan gantung diri karena tak mampu membayar uang sekolah.

Hari ini, saya juga berefleksi tentang hal yang sama, di tengah hingar bingar masalah Nazarudin. Isinya tetap sama, seputar kemampuan menghitung kita. Kemampuan menghitung jiwa-jiwa yang sesungguhnya belum dan tak pernah merdeka.

17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2011, 66 tahun sudah Republik Indonesia diproklamirkan.
Untuk menghitungnya, rumusnya sangat mudah, 2011 - 1945 = 66.

Bisakah kita menghitung yang lain?
  1. Jumlah warga negara yang mati karena kelaparan sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  2. Jumlah warga negara yang mati karena tidak mendapatkan layanan kesehatan yang baik sejak Agustus 2010-Agustus 2011.
  3. Jumlah warga negara yang mati karena mendapat perlakuan sewenang-wenang dari aparat negara RI sejak Agustus 2010 - 2011.
  4. Jumlah warga negara yang mati karena negara tidak mengambil posisi yang baik saat konflik antar agama/suku/golongan/kelompok sejak Agustus 2010-Agustus 2011.
  5. Jumlah warga negara yang mati karena gizi buruk sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  6. Jumlah warga negara miskin di Indonesia.
  7. Jumlah uang negara yang dikorupsi oleh para pejabat negara sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  8. Jumlah para koruptor yang ditangkap, diadili dan dihukum sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  9. Jumlah warga negara yang tidak bisa menikmati pendidikan yang layak sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  10. Jumlah warga negara yang tidak bisa menikmati perumahan yang layak sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  11. Jumlah warga negara yang ditahan dan diberlakukan tidak manusiawi atas alasan politik dan keamanan sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  12. Jumlah warga negara yang adalah anak terlantar yang telah dipelihara oleh negara sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  13. Jumlah warga negara di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga yang menikmati nyala lampu PLN sejak Agustus 2010 - Agustus 2011.
  14. Jumlah ....
  15. Jumlah .... [silahkan ditambahkan]
Kata "MERDEKA" akan menjadi kebenaran hanya ketika bisa digunakan sebagai landasan bagi kesejahteraan hidup seluruh rakyat Indonesia.

Bila tak merdeka, maka matilah kami ....

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penguasaan Ilmu Pengetahuan adalah Kekuatan Langit - Pelajaran dari Drama Asia "The Great Queen Seon Deok"

Liburan semester kemarin, saya meminta ijin dari pimpinan untuk menjenguk istri di Nabire yang dalam kondisi mengandung anak pertama kami. Tentu saja di sana saya hanya berada di rumah saja dan tidak punya pekerjaan apa-apa selain ke pasar dan memasak masakan yang dapat saya masak. Oleh karena istri yang bekerja tiap hari, saya yang sendirian mencoba menemukan sesuatu yang tidak membuat jenuh. Menonton televisi adalah hobby baru yang dapat saya lakukan selama berjam-jam di Nabire. Sebelumnya, saya hanya tertarik dengan acara-acara TV tentang Ekspedisi Ilmu Pengetahuan dan Olahraga, tetapi waktu itu saya juga tertarik menonton Drama Asia yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Drama itu berjudul "THE GREAT QUEEN SEON DEOK", yang ditayangkan pada jam 2 siang waktu Papua.

Drama yang menarik karena ada salah satu tokoh yang menarik perhatian saya, walaupun dalam drama itu perannya antagonis. Tokoh itu adalah Misil (diperankan oleh: Go Hyeon-jeong), sang pemegang stempel kerajaan, selir dari raja sebelumnya. Saking pentingnya peranan pemegang stempel istana dalam suatu kerajaan sehingga posisi Misil pun istimewa. Dengan didukung oleh para pengikutnya, termasuk beberapa suami dan anak-anaknya yang adalah para prajurit tangguh, Misil semakin menancapkan kekuasaannya di dalam kerajaan itu.

Mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan saya dalam hal mengidolakan Misil, tetapi itu adalah hak masing-masing. Alasan kita mengidolakan satu tokoh dalam satu cerita pasti berbeda. Hal itu disebabkan karena perspektif kita pun berbeda dalam menilai.

Alasan saya sangat mengidolakan tokoh Misil adalah karena ia seorang yang sangat cerdas, walaupun dikatakan sangat licik. Bukti kecerdasannya itulah yang menyebabkan ia dijadikan sebagai selir raja, bahkan pemegang stempel istana.

Pada saat itu, siapa saja yang dapat menyatakan hal-hal yang dianggap mustahil terjadi karena situasinya, tetapi kemudian terbukti kata-katanya itu benar atau terjadi, akan dianggap sebagai manusia setengah dewa. Itu pula yang terjadi dengan Misil, pada saat ia pertama kali muncul dalam drama politik negeri itu. Dalam situasi kemarau yang sangat panjang dan tak seorang ahlipun yang dapat mendatangkan hujan, Misil datang dan berniat mengadakan upacara pemanggilan hujan. Pada waktu yang telah ditetapkan, ia pun mengadakan upacara itu. Seluruh rakyat kerajaan menunggu dengan was-was namun tidak percaya bahwa seorang perempuan muda mampu memanggil hujan. Namun tepat pada saat upacara, hujan pun turun dengan derasnya, seluruh rakyat bergembira. Mereka menyebut Misil sebagai manusia setengah dewa.

Di balik itu, mereka tidak tahu bahwa Misil punya kekuatan lain yang menjadikannya seperti itu, yaitu kekuatan pengetahuan. Istilah "Bunga Plum Sadaham" menjadi menarik karena tak ada seorangpun di pihak lawannya yang mengetahui bahwa sesungguhnya itu bukanlah bunga, tetapi adalah buku yang memuat sistem penanggalan China yang digunakan saat itu untuk mengetahui fenomena alam dan musim.

Dengan ilmu pengetahuannya yang tidak dimiliki oleh seorang pun di kerajaan itu, Misil tampil sebagai sosok setengah dewa yang mampu mendatangkan hujan atau menggelapkan malam saat bulan purnama karena menyatakan datangya gerhana bulan. Berdasarkan pengetahuannya itu dan ketidaktahuan rakyat kerajaan, Misil dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan politik yang menguntungkan baginya. Itu dibuktikan ketika ia meramalkan akan ada gerhadan bulan dalam 2 hari jika salah satu Klan tidak diusir dari kerajaan. Klan itu memang tidak diusir, dan gerhana bulan tetap terjadi. Akhrinya Klan itu diusir karena ramalan Misil terbukti benar. Ia akhirnya menyatakan kepada Deokman (pemeran utama: Lee Yo-won) bahwa: "Tidak ada kekuatan dari langit, akulah kekuatan langit itu". Semua orang sangat ketakutan terhadap kenyataan itu.

Bagi saya, itu adalah ketakutan orang-orang yang masih hidup dalam cerita-cerita dan mitos-mitos masa lalu terhadap kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu membongkar keyakinan-keyakinan itu. Di sisi lain, ilmu pengetahuan pun dapat menjadi mitos baru sehingga dengan mudah dipolitisasi demi kepentingan-kepentingan politik segelintir orang. Ketika tidak bersentuhan dengan politik, ilmu pengetahuan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi ketika bersentuhan dengan politik dan kepentingan berkuasa, ilmu pengetahuan dapat menjadi senjata bagi kematian manusia.

Belajar dari drama itu, maka etika dalam penerapan ilmu pengetahuan demi kehidupan umat manusia sangatlah dibutuhkan. Tanpa etika, ilmu pengetahuan akan menjadi instrumen penghancur peradaban.

"By the way", ini hanya ekspresi dari refleksi saya sebagai penikmat tayangan-tayangan berkualitas, jika dibandingkan tayangan-tayangan tidak berkualitas yang diproduksi di negeri kita, Indonesia ini.

Semoga Ilmu Pengetahuan yang kita miliki dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk hayat hidup orang banyak.

Kamis, 11 Agustus 2011

Kelas Pertama Setelah 3 Tahun

Tahun 2008, saya mendapatkan ijin untuk melanjutkan studi pada jenjang S2 di Program Magister Ilmu Filsafat, Universitas Gadjah Mada - Yogyakarta. Otomatis, terhitung Surat Keputusan Belajar itu dikeluarkan, saya tidak lagi menjalankan profesi utama saya sebagai seorang dosen yaitu mengajar.

Puji Tuhan, pada Desember 2010, saya lulus dari studi itu dengan predikat Cum Laude. Setelah dinyatakan lulus, saya ditawarkan oleh pengelola program untuk langsung melanjutkan studi S3 dengan biaya yang disediakan, tetapi keinginan saya untuk kembali ke Papua dan mengajar lebih kuat daripada tawaran itu dengan catatan, dalam 2 atau 3 tahun ke depan harus kembali untuk melanjutkan studi.

Tiba di Jayapura dengan harapan baru. Saya dipercayakan sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dengan tugas itu, saya sangat berkeinginan membawa sedikit perubahan khususnya terkait dengan bidang Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Sayangnya, sampai detik saya menulis ini, saya adalah kepala pusat yang tidak memiliki ruangan dan fasilitas. Saya masih mengerjakan tugas-tugas saya di perpustakaan kampus dan juga di rumah. Tetapi hal itu tak masalah buat saya, yang penting bekerja.

Dalam perjalanan waktu, saya diserahi tugas mengampu mata kuliah Metode Penelitian Sosial. Mantaplah, sekalian belajar bersama dengan mahasiswa. Dalam waktu 1 (satu) minggu saya siapkan silabus dan rencana kuliah untuk beberapa minggu, tetapi menunggu hari Selasa, 9 Agustus 2011, jam 4 sore ketika harus berdiri pertama kali di depan kelas setelah 3 tahun adalah saat-saat yang cukup menegangkan. Banyak pertanyaan muncul dalam benak, tentang bagaimana pendapat mahasiswa tentang saya, apakah rencana saya ini dapat memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, apakah strategi dan metode pembelajaran yang saya pakai dapat membantu mahasiswa memiliki sekian kompetensi, dan lain sebagainya.

Hari H, jam D pun tiba. Saya harus terlambat 10 menit karena singgah sebentar di toko yang menjual ATK untuk membeli beberapa peralatan belajar mengajar. "Sepertinya mereka antusias" kata hati kecilku melihat dengan segera para mahasiswa masuk kelas penuh senyum setelah melihat kedatangan saya.

Kelas pun dimulai dengan doa, dilanjutkan dengan perkenalan. Setelah itu, presentasi materi berupa perencanaan perkuliahaan selama 1 semester dimulai. Para mahasiswa santai-santai saja, sepertinya mereka menikmati apa yang saya sampaikan. Tetapi belum tentu demikian.

Setelah semua rancangan perkuliahan selesai disampaikan dan tidak ada yang menyampaikan pertanyaan karena memang saya berusaha menyampaikan dengan sejelas mungkin, giliran membahas norma akademik. Ya, bagi saya, norma akademik itu penting bagi mahasiswa dan dosen agar alur perkuliahan tetap terjaga. Mereka terkejut ketika saya meminta untuk mengambil 1 lembar kertas dan menulis surat pernyataan akan mengikuti kuliah dengan mematuhi semua norma yang ada. Tentu ada sanksi bagi yang tidak mematuhi. Setelah saya tanyakan apakah mereka terbeban dengan itu, ternyata mereka aman-aman saja... Mudah-mudahan ya ...

Setelah menulis pernyataan yang saya anggap sebagai kontrak kuliah, sayapun meminta mereka menulis tentang harapan-harapan dan kekuatiran-kekuatiran mereka terkait dengan perkuliahan Metode Penelitian Sosial. Tujuannya adalah agar saya bisa mengetahui apa yang mereka harapkan dan sedapat mungkin berupaya mendekati harapan-harapan itu dan juga mengetahui kekuatiran-kekuatiran mereka dan sedapat mungkin menghindarinya.

Dari sekian banyak harapan yang disampaikan, sebagian besar sangat berharap agar dapat memahami materi kuliah dan menerapkannya sebagai seorang peneliti. Kekuatiran terbesar adalah ketidakmampuan untuk memahami mata kuliah sehingga nilai akhir akan jelek. Setelah membaca dan mengerti harapan dan kekuatiran mereka, saya akan berupaya menjaga agar harapan-harapan itu sedapat mungkin terwujud dan kekuatiran-kekuatiran itu sedapat mungkin tidak terjadi.

Begitulah, akhirnya datang juga kelas pertama saya setelah 3 tahun.

Semoga Tuhan mau tolong kita semua ...


Silabus Matakuliah Metode Penelitian Sosial

STT GKI I.S. KIJNE - JAYAPURA

SILABUS


METODE PENELITIAN SOSIAL
Jusuf Nikolas Anamofa, S.Si, M.Phil
Semester III Kelas A-B



A. DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah Metode Penelitian Sosial adalah salah satu mata kuliah Keilmuan dan Ketrampilan. Disebut sebagai mata kuliah Keilmuan dan Ketrampilan karena dengan mempelajari mata kuliah ini diharapkan agar penguasaan terhadap ilmu dapat dibarengi dengan ketrampilan dalam penggunaan apa yang telah dikuasai itu. Dengan demikian, penilaian akhir dari mata kuliah ini adalah kemampuan penggunaan dari konsep-konsep keilmuan yang dianggap telah dikuasai.

B. KOMPETENSI
Kompetensi UtamaKompetensi Pendukung

Mahasiswa memiliki pemahaman yang baik, benar dan tepat tentang Metode Penelitian Sosial serta mampu menerapkan pemahamannya itu ke dalam kerja lapangan penelitian
(Mahasiswa memiliki kemampuan)
  1. Menjelaskan Paradigma Ilmu dan Penelitian.
  2. Menjelaskan Pengertian Metode Penelitian Sosial.
  3. Menjelaskan Tujuan Penelitian Sosial.
  4. Menjelaskan Ruang Lingkup Penelitian Sosial.
  5. Menjelaskan Etika Penelitian Sosial.
  6. Membedakan Jenis-Jenis Penelitian Sosial.
  7. Menjelaskan dan Menentukan Keputusan Operasional Penelitian.
  8. Menjelaskan dan Menentukan Keputusan Prinsipil Penelitian.
  9. Menjelaskan dan Menentukan Keputusan Organisatoris Penelitian.
  10. Melakukan Kerja Penelitian Lapangan.


C. LINGKUP MATERI

Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Konsep-Konsep Dasar Metode Penelitian Sosial (Apa itu Metode Penelitian Sosial?)
  1. Paradigma Ilmu dan Penelitian.
  2. Pengertian Metode Penelitian Sosial.
  3. Tujuan Penelitian Sosial.
  4. Ruang Lingkup Penelitian Sosial.
  5. Etika Penelitian Sosial.
  6. Jenis-Jenis Penelitian Sosial.
Mengerjakan Penelitian Sosial: (Merancang Penelitian Sosial)
  1. Keputusan Operasional Penelitian
  2. Keputusan Prinsipil Penelitian
  3. Keputusan Organisatoris Penelitian
Mengerjakan Penelitian Sosial: (Praktek Kerja Lapangan)
  1. Praktek Pengumpulan Data.



D. RENCANA PEMBELAJARAN

Minggu I

Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi Materi Kuliah
  2. Pemberian Tugas I
Isi Materi:
  1. Uraian Rencana Pembelajaran Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial;
  2. Lihat Panduan Tugas I

Minggu II

Kompetensi:
  • Menjelaskan Paradigma Ilmu dan Penelitian;
  • Menjelaskan Pengertian Metode Penelitian Sosial;
  • Menjelaskan Tujuan Penelitian Sosial;
Bentuk Pembelajaran:
  1. Pengumpulan Tugas I
  2. Presentasi dan Diskusi Tugas I
  3. Presentasi dan Diskusi Materi
Isi Materi:
  1. Paradigma Ilmu dan Penelitian;
  2. Pengertian Metode Penelitian Sosial;
  3. Tujuan Penelitian Sosial;
Bobot Nilai:
  1. Tugas I = 20 %

Minggu III

Kompetensi:
  • Menjelaskan Ruang Lingkup Penelitian Sosial;
  • Menjelaskan Etika Penelitian Sosial;
  • Membedakan Jenis-Jenis Penelitian Sosial.
Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi dan Diskusi Materi;
  2. Pemberian Tugas II.
Isi Materi:
  1. Ruang Lingkup Penelitian Sosial;
  2. Etika Penelitian Sosial;
  3. Jenis-Jenis Penelitian Sosial.

Minggu IV

Kompetensi:
  • Mengidentifikasi Pokok Minat;
  • Mengidentifikasi Masalah Penelitian;
  • Merumuskan Masalah Penelitian;
  • Menentukan Tujuan Penelitian;
  • Merinci Tujuan Penelitian;
  • Menemukan Kajian Kepustakaan;
  • Menemukan Teori Pendukung yang relevan.
Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi Materi dan Kerja Kelompok.
Isi Materi:
  1. Keputusan Operasional Penelitian.

Minggu V, VI

Kompetensi:
  • Menjelaskan Satuan Analisis;
  • Menentukan Satuan Analisis Penelitian;
  • Menjelaskan Satuan Pengamatan;
  • Menentukan Satuan Pengamatan Penelitian;
  • Menjelaskan Sumber Informasi;
  • Menentukan Sumber Informasi Penelitian;
  • Menjelaskan Instrumen Penelitian;
  • Merumuskan Instrumen Penelitian;
  • Menjelaskan Jenis-Jenis Teknik Pengumpulan Data;
  • Menentukan Teknik Pengumpulan Data Penelitian;
  • Menjelaskan Jenis-Jenis Teknik Analisis Data;
  • Menentukan Teknik Analisis Data Penelitian.
Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi Materi dan Kerja Kelompok.
  2. Pengumpulan Tugas II (Minggu VI)
Isi Materi:
  1. Keputusan Prinsipil Penelitian.
Bobot Nilai Tugas II: 20 %


Minggu VII

Kompetensi:
  • Menjelaskan Pengorganisasian Penelitian;
  • Menentukan Pengorganisasian Penelitian.
Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi Materi dan Kerja Kelompok.
Isi Materi:
  1. Keputusan Organisatoris Penelitian.

Minggu VIII, IX, X, XI, XII, XIII

Kompetensi:
  • Melakukan Kerja Penelitian Lapangan Pengumpulan Data Penelitian
Bentuk Pembelajaran:
  1. Presentasi Materi dan Kerja Kelompok (Minggu VIII);
  2. Pemberian Tugas III (Minggu VIII).
  3. Evaluasi Kerja Kelompok (Minggu IX, X, XI).
  4. Pengumpulan Tugas III (Minggu XII).
  5. Presentasi dan Diskusi Tugas III (Minggu XII, XIII)
Isi Materi:
  1. Teknis Pengumpulan Data Lapangan;
  2. Lihat Panduan Tugas III.

Minggu XIV, XV

Evaluasi Seluruh Capaian Kompetensi

Bentuk Pembelajaran:
  1. Review dan Evaluasi;
  2. Pemberian Tugas Pembuatan Portofolio (Minggu XIV).
  3. Pengumpulan Portofolio (Minggu XV).
Isi Materi:
  1. Seluruh Pokok Bahasan;
  2. Panduan Portofolio.
Bobot Nilai Portofolio: 15 %


Minggu XVI, XVII

Evaluasi Seluruh Capaian Kompetensi Lewat Ujian Akhir Semester

Lihat Panduan Ujian Akhir Semester.

Bobot Nilai Ujian Akhir Semester: 20 %


E. NORMA AKADEMIK
  1. Kegiatan pembelajaran dimulai tepat waktu sesuai dengan jadwal kuliah untuk tiap kelas. Toleransi keterlambatan hanya 10 menit. Lewat dari 10 menit, boleh ikut perkuliahan, tetapi dianggap tidak hadir.
  2. Selama kuliah HP dimatikan atau silence mode.
  3. Pengumpulan Tugas diterapkan sesuatu jadwal dalam rencana pembelajaran. Dilakukan sebelum proses kuliah hari tersebut dimulai. Bagi yang dikumpulkan setelah kuliah tetapi masih di hari yang sama, nilai hanya 75 % dari nilai yang berhak diterima; bagi yang terlambat 1 hari, nilai hanya 50 % dari nilai yang berhak diterima; lebih dari 1 hari, dianggap tidak memasukkan tugas.
  4. Dilarang melakukan plagiat atau peniruan dan pengakuan atas hasil karya orang lain dalam bentuk apapun. Apabila kedapatan, akan diberikan sanksi tegas berupa nilai E.
  5. Presentasi akan dihitung sebagai salah satu elemen penilaian akhir. Bobot nilai presentasi adalah 5 %.
  6. Nilai terbaik akan mendapatkan penghargaan.

F. PANDUAN EVALUASI
Untuk Panduan Tugas, Portofolio dan Ujian Akhir Semester, silahkan lihat pada Silabus yang telah diserahkan kepada mahasiswa.


G. REFERENSI
  1. Black, James A. & Dean J. Champion (terj. E. Koeswara, Dira Salam, Alfin Ruzhendi), 1999, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, Bandung: Refika Aditama.
  2. Given, M., Lisa (ed.), 2008, The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods, Los Angeles-London-New Delhi-Singapore: Sage Publications Inc.
  3. Hollway, Wendy & Tony Jefferson, 2000, Doing Qualitative Data Differently: Free Association, Narrative and The Interview Method, London-Thousand Oaks-New Delhi: Sage Publications Inc.
  4. Jupp, Victor (ed.), 2006, The Sage Dictionary of Social Research Methods, London-Thousand Oaks-New Delhi: Sage Publications Inc.
  5. Kaelan, M.S., 2005, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat: Paradigma bagi pengembangan penelitian interdisipliner bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sastra, Hukum dan Seni, Yogyakarta: Paradigma.
  6. Kuntowijoyo, 2003, Metodologi Sejarah (ed. Kedua), Yogyakarta: Tiara Wacana.
  7. Miles, B. Matthew & A. Michael Huberman (terj. Tjetjep Rohendi Rohidi), 1992, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Jakarta: UI-Press.
  8. Nazir, Moh. 1988, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
  9. Pranoto, W. Suhartono, 2010, Teori dan Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu.
  10. Salim, Agus, 2006, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif (ed. Kedua), Yogyakarta: Tiara Wacana.
  11. Santana K., Setiawan, 2010, Menulis Ilmiah Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  12. Savin-Baden, Maggi & Claire Howell Major, 2010, New Approaches to Qualitative Research: Wisdom and Uncertainty, New York & London: Routledge.
  13. Silverman, David, 2008, Doing Qualitative Research: A Comprehensive Guide, Los Angeles-London-New Delhi-Singapore: Sage Publications Inc.
  14. Spradley, P. James (terj. Misbah Zulfa Elizabeth), Metode Etnografi (ed. Kedua), Yogyakarta: Tiara Wacana.
  15. Sugiyono, 2008, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.
  16. Sumanto, 1990, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Yogyakarta: Andi Offset.
  17. Vanderstoep, W., Scott & Deirdre D. Johnston, 2009, Research Methods For Everyday Life: Blending Qualitative and Quantitative Approaches, San Francisco: Jossey-Bass.
  18. Vardiansyah, Dani, 2008, Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Jakarta: Indeks.
  19. Walliman, Nicholas, 2006, Social Research Methods, London-Thousand Oaks-New Delhi: Sage Publications Inc.
  20. http://.id.wikipedia.org/wiki/ilmu

N.B: Silabus yang lebih terinci telah diserahkan kepada para mahasiswa. Terima kasih.

Jumat, 01 Juli 2011

KECEPATAN, KELAMBATAN DAN PENGALAMAN ESTETIS: Suatu Refleksi Filosofis

Pengantar
Tulisan ini terangkat sebagai bentuk kritik atas pengalaman-pengalaman modern yang berhubungan dengan kecepatan dan percepatan (speed and acceleration). Suatu saat, saya merasakan sangat kesal dengan kenyataan bahwa tidak bisa mengakses internet dengan cepat. Di tempat yang biasanya untuk melakukan download file berukuran 100 mb, hanya dibutuhkan sekitar 30-40 menit, menjadi lebih dari 3 jam. Kekesalan itu berujung pada emosi yang tidak seharusnya. Ada lagi pengalaman ketika waktu di tempat saya sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi dan saya harus tiba tepat waktu di tempat kerja. Saya harus naik angkutan umum dan berharap bahwa angkutan yang saya tumpangi dapat dengan cepat membawa saya ke tempat kerja. Ternyata, angkutan umum itu berjalan sangat lambat dan saya terlambat tiba di tempat kerja, pertemuan sudah dimulai dan harus tertunduk malu akibat keterlambatan itu. Selain kecepatan dalam pengertian sebagaimana dimaksud di atas, ada juga kecepatan dalam pengertian lain yang menjadi pengalaman manusia, yaitu kecepatan dalam pemecahan masalah. Pernah dalam suatu kesempatan, saya diperhadapkan dengan beberapa pilihan yang sulit untuk memecahkan satu masalah dan pemecahan masalah itu ada tenggang waktunya (deadline). Akibatnya adalah tanpa banyak berpikir lagi, karena saya beranggapan bahwa saya sudah berpikir sesuai kemampuan saya, keputusan diambil untuk menyelesaikan masalah itu dengan segala konsekuensi yang mungkin timbul dari pilihan yang dibuat. Dalam pengertian itu, kecepatan mengambil keputusan menjadi bahan perdebatan ketika diperhadapkan dengan ketepatan keputusan itu dan dampak yang lahir di kemudian hari akibat pengambilan keputusan itu.


Ketika berbicara tentang kecepatan dan percepatan, maka secara umum orang akan menghubungkannya dengan bidang ilmu alam, dalam hal ini fisika. Konsep-konsep filosofis tentang ruang dan waktu menghasilkan temuan-temuan fisika tentang gerak dan akhirnya kecepatan serta percepatan. Di dalam fisika, kecepatan atau velositas (v) adalah pengukuran vektor dari dari besar dan arah gerakan. Vektor dalam pengertian fisika sendiri berarti suatu objek yang didefinisikan dengan besaran dan arah. Nilai absolut dari dari kecepatan disebut kelajuan (speed), yang dinyatakan dengan jarak yang ditempuh per satuan waktu. Rumus kecepatan yang paling sederhana di dalam fisika adalah: “Kecepatan = Perpindahan/Waktu”.

Pada tahun 1982, Larry Dossey, seorang fisikawan dari Amerika melahirkan istilah “time-sickness” untuk menggambarkan bermacam keyakinan yang sudah merasuki kehidupan manusia modern, seperti “tidak punya cukup waktu”, “waktu sudah habis”, “kita harus segera melakukan ini dan itu”, “lebih cepat lebih baik” (Honoré, 3). Intinya, saat ini kita semua berada dalam situasi “sakit waktu”, di mana kita semua berada dalam situasi pemujaan terhadap “kecepatan”.

Dalam tahun-tahun terakhir ini, semua hal berada di bawah tekanan untuk bergerak lebih cepat lagi. Ada kenyataan yang dikatakan oleh Klaus Schwab, presiden dari Forum Ekonomi Dunia, sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindarkan, yaitu jika dahulu ada istilah tentang “yang besar memakan yang kecil,” maka sekarang sudah mulai bergeser kepada istilah, “yang cepat memangsa yang lambat.”


Ada semacam keyakinan bersama saat ini bahwa hal yang paling baik adalah yang cepat. Bergerak cepat, berjalan cepat, berkomunikasi dengan cepat, makan dengan cepat, berpikir dengan cepat, kesenangan-kesenangan yang diperoleh dengan cepat, semuanya adalah istilah-istilah masa kini. Sebaliknya, yang bergerak dan melakukan sesuatu dengan lambat, akan dianggap ketinggalan zaman dan tidak akan mampu bersaing atau berkompetisi. Keyakinan itu sampai merasuki ke dalam dunia seni, di mana kecepatan atau semua hal yang cepat adalah keindahan. Oleh karena telah merasuki semua bidang kehidupan manusia, maka seolah-olah kita telah diperangkap oleh apa yang namanya “kecepatan”. “Kecepatan” sendiri adalah tuntutan penyeragaman dari zaman ini, sehingga perbedaan tidak dimungkinkan karena perbedaan hanya berbicara tentang kelambatan.

Kecepatan tidak lagi dipikirkan secara sempit dalam bidang fisika, tetapi telah meluas hampir di semua bidang kehidupan manusia, mulai dari makanan sampai pada pemecahan masalah. Semua hal itu membutuhkan kecepatan, bukan dalam hitungan rumus saja, tetapi juga ketepatan dalam penyelesaiannya. Pragmatisme menjadi dasar sekaligus solusi bagi situasi modern yang menuntut efisiensi dan efektifitas, bahkan sampai pada soal selera dan pengalaman estetis.

Kecepatan Sebagai Pengalaman Estetis
Ada beberapa penggunaan untuk kata “estetika”. Secara luas, estetika dipahami sebagai filsafat seni. Oleh karena itu, orang dapat saja menggunakan kedua kata ini secara bergantian. Dalam pengertian yang lebih khusus, estetika berasal dari kata Yunani aisthesis, yang berarti “persepsi sensual” atau “kognisi sensorif”. Tentu saja pengertian ini sangat berhubungan dengan kemampuan indrawi manusia dalam rangka mencandrai suatu objek. Pada pertengahan abad ke-18, istilah ini diadaptasi oleh Alexander Baumgarten sebagai istilah yang melingkupi studi filosofis atas seni. Ia memilih istilah ini karena ia berpikir bahwa pekerjaan-pekerjaan seni terutama berhubungan dengan persepsi sensorif dan juga kognitif. Ketika berbicara tentang estetika dalam pengertian khusus itu, maka sesungguhnya ada ketertarikan tentang peran dan posisi audiensi dalam berinteraksi dengan pekerjaan-pekerjaan seni. Para audiens dapat menjadi pembaca, pendengar dan pengamat. Dalam pengertian ini, estetika dipahami lebih sebagai kata sifat yang menunjuk pada sifatnya yang dapat dibagikan kepada audiensi. Dengan demikian, salah satu pengertian yang dapat ditarik adalah estetika sebagai sesuatu yang bersifat dapat dibagi (shared) kepada audiensi. Dalam kaitan dengan itu, muncul istilah “pengalaman estetis,” “persepsi estetis,” dan “tingkah laku estetis” (Carroll, 1999: 156-7).

Carroll (1999: 168) menyatakan bahwa telah banyak orang yang membicarakan tentang pengalaman estetis. Namun dari banyaknya pembicaraan itu, ia memilih dua pandangan utama tentang pengalaman estetis. Kedua pandangan utama itu adalah (i) pengalaman berorientasi isi (content-oriented), dan (ii) pengalaman berorientasi pengaruh (affect-oriented).


Pengalaman estetis berorientasi isi sangat jelas melihat pengalaman estetis sebagai suatu pengalaman dari sifat-sifat estetis suatu pekerjaan. Sifat-sifat itulah yang merupakan isi dari pengalaman yang menjadikannya sebagai pengalaman estetis. Apa yang dikatakan sebagai “elegan”, “rapuh”, “monumental”, dan hubungan-hubungan formal yang terbangun atasnya adalah sifat-sifat estetis suatu kerja seni. Hubungan-hubungan itu kemudian dibagi ke dalam tiga hal, yaitu unitas atau kesatuan, keragaman, dan intensitas.


Unitas suatu kerja seni terlihat dalam hubungan-hubungannya yang formal antara satu bagian dengan bagian yang lain. Tanpa satu bagian tertentu, suatu kerja seni akan dimaknai secara lain. Pengalaman estetis kita akan sangat mempertimbangkan unitas suatu karya seni, atau yang lebih tepatnya, unitas atau kesatuan suatu karya seni adalah unsur yang sangat menentukan dalam membentuk pengalaman estetis manusia. Selain itu, keragaman juga menentukan hubungan-hubungan formal dari tiap bagian dalam suatu karya seni. Semua hal yang ada di dalam karya seni adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang sama persis. Dengan demikian, keragaman juga menentukan pengalaman estetis manusia. Intensitas kualitatif yang terbangun di dalam suatu karya seni turut mempengaruhi. Bagaimana perasaan yang terpengaruh ketika ada dalam pengalaman estetis tertentu adalah wujud dari intensitas dan hubungan-hubungan yang terbangun olehnya. Berdasarkan apa yang telah dikatakan di atas, sesuatu dapat dikatakan sebagai karya seni hanya jika telah memenuhi tiga unsur tersebut, yaitu kesatuan, keragaman dan/atau intensitas.


Keindahan dalam pemahaman metafisisnya merupakan hal yang harus ada dalam tata aturan kosmos demi keteraturan kosmos itu sendiri. Dalam pengertian ini, keindahan merupakan sesuatu yang diyakini merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus-ritus kehidupan manusia yang berfungsi tetap menjaga kosmos agar tidak mengalami kekacauan atau chaos (Townsend, 2006: xviii). Keindahan adalah mitos yang dipelihara dalam ritual-ritual tertentu dengan menghadirkan konsep-konsep tentang sikap dan pengalaman, kategori-kategori indah dan ketidakindahan. Intinya, manusia sebagai makhluk seni (artist) adalah pencipta keindahan sekaligus audiens dari keindahan itu sendiri. Walaupun dalam pendekatan naturalis, alam dapat dijadikan sebagai objek, namun “indahnya atau rusaknya alam” tetap merupakan ekspresi, hasil dari penilaian-penilaian atau judgment manusia.


Setiap zaman mempunyai mitosnya tersendiri. Di zaman globalisasi di mana teknologi dan informasi menjadi hal utama di dalamnya, kecepatan merupakan mitos utama yang terus dirituskan dalam kehidupan manusia. “Lakukan semua hal dengan cepat”, “dapatkan semua hal dengan cepat” adalah bentuk pemeliharaan ritus terkait mitos kecepatan. Mitos ini sendiri lebih berfungsi menjaga keteraturan kosmos masa kini. Akibatnya, “kelambatan” tidak mendapatkan tempatnya sama sekali. Dengan kata lain, “kelambatan” akan membuat keteraturan kosmos ini kembali ke dalam situasi chaos, saat semua hal bergerak cepat dan ada satu yang tidak bisa mengimbangi dengan kelambatannya.


Dengan demikian, oleh sebagian besar orang, kecepatan adalah suatu pengalaman yang dapat membuat “hidup lebih hidup”. Dalam pandangan saya, kecepatan dalam pengertian ini dapat dipahami sebagai pengalaman estetis. “Cepat itu indah” adalah hal yang dapat diterima dalam pengalaman estetis manusia modern. Pemujaan terhadap kecepatan dalam perspektif estetik, sama kadarnya dengan pemujaan terhadap karya-karya seni yang lain. Hal itu disebabkan pemujaan-pemujaan seperti itu sesungguhnya telah melahirkan ritus-ritusnya sendiri. Kalau di bidang yang lain seperti musik klasik, konser musik klasik menjadi ritus, atau di bidang seni rupa, pameran merupakan ritus yang memelihara mitos keindahan, maka mitos kecepatan dipelihara lewat aktifitas setiap hari manusia. Pertanyaannya, apakah benar demikian? Ketika kecepatan menjadi mitos dan ritual setiap hari manusia modern adalah demi memuja kecepatan, bahkan menjadikan kecepatan sebagai pengalaman estetis, maka ada perangkap baru dalam kehidupan manusia.


Sesungguhnya dengan memandang semua hal dalam perspektif “cepat” dan “tepat”, manusia telah diperangkap oleh sistem. Perangkap itu tidak memungkinkan ekspresi yang lain karena kehadiran yang lain dari kecepatan hanya akan membuat dunia menjadi kacau. Kecepatan sebagai pengalaman estetis membuat mitos itu semakin terpelihara hari demi hari. Pemberontakkan terhadapnya dianggap sebagai pemberontakkan terhadap semangat zaman yang memuja-mujanya.


Cepat Itu Tidak Indah: kritik estetis terhadap ritus kecepatan
Tidak ada manusia yang dapat mengingkari bahwa semangat zaman ini adalah pemujaan terhadap kecepatan. Namun ada satu hal yang membuat manusia menjadi tertekan dan secara psikologis mengalami depresi, yaitu ketika tidak bisa melakukan sesuatu dengan cepat, mengimbangi semangat zaman ini. Lily Tomlin, seorang artis dan komedian Amerika pernah mengatakan bahwa langkah tercepat untuk menghilangkan tekanan di zaman ini adalah dengan mencoba untuk melambat (for fast-acting relief from stress, try slowing down). Artinya, kelambatan dapat menjadi obat dari situasi sakit akan kecepatan. Dengan sedikit memperlambat hidup, sesungguhnya upaya pencarian dan refleksi kehidupan dapat dilakukan.

Estetika bukan saja berbicara tentang keindahan suatu karya atau keindahan dalam hal konsep dan perasaan, tetapi sebaliknya juga, berbicara tentang ketidakindahan. Ketidakindahan adalah lawan dari keindahan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ada hal yang indah, maka sekaligus ada pengakuan akan kehadiran yang tidak indah. Bahwa selama ini yang menjadi fokus perhatian ketika membicarakan tentang seni hanyalah tentang keindahan, maka ada hal yang terlupa, yaitu sisi lain dari keindahan itu sendiri. Berbicara tentang ketidakindahan berarti semua hal yang berlawanan dari yang indah. Konsep ketidakindahan tentu saja dapat sangat mudah dipahami manusia ketika ia dapat merumuskan dan mendefinisikan tentang apa yang indah menurut dirinya. Dalam bahasan tulisan ini, ketika kecepatan dikatakan sebagai sesuatu yang indah, maka lawan dari itu, yaitu kelambatan adalah hal yang tidak indah. Atau sebaliknya, kelambatan adalah pengalaman yang indah, maka kecepatan adalah ketidakindahan. Tentu saja, baik kecepatan maupun kelambatan sebagai pengalaman estetis tidak dibicarakan sebagai karya seni yang dapat dinikmati secara sensual, tetapi lebih merupakan semacam konsep abstrak yang lebih mendasarkan keberadaannya pada perasaan.


Dengan melambatkan hidup, manusia dapat menemukan kembali seni hidupnya dengan selalu melakukan refleksi dan kontemplasi, memahami dirinya dan alam semesta ini. Hal-hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kecepatan yang dituntut dari kehidupan saat ini. Bahkan berhenti dan diam sejenak adalah cara terbaik untuk menghilangkan segala tekanan hidup.


Dari pendekatan itu, kelambatan juga dapat menjadi pengalaman estetis yang bukan saja dipahami dalam pendekatan keindahan, tetapi merupakan pengalaman yang menyembuhkan. Menyembuhkan dari kesakitan akan waktu dan gerak cepat zaman. Pengalaman masing-masing orang akan sangat berbeda satu dengan yang lain terkait kecepatan dan kelambatan. Namun, terkait dengan kecepatan, semangatnya tetap sama dan ritusnya tetap sama dalam aktivitas keseharian manusia.


Kesimpulan
Manusia dalam kelebihan dan kekurangannya adalah makhluk seni, walaupun tidak semua orang dapat disebut sebagai artis karena definisi. Namun manusia sebagai art being adalah sebutan yang layak. Hal itu disebabkan karena hanya manusia yang mampu menciptakan dan sekaligus menikmati seni. Sejak kecil, semua orang telah memiliki apa yang disebut sebagai perasaan seni. Walaupun apa yang disebut sebagai yang indah dan tidak indah juga ditentukan oleh masyarakatnya, sesungguhnya manusia telah memiliki perasaan itu sejak ia terlahir. Terhadap beberapa objek, tanpa diberitahu oleh masyarakat bahwa itu indah, seseorang dapat langsung mengatakan berdasarkan penilaiannya sendiri.

Di Indonesia, seni pun dipelajari di bangku-bangku pendidikan. Namun, ada hal yang cukup menyedihkan ketika seni menjadi bagian yang formal dalam kurikulum pendidikan, yaitu ketidaksinambungan pembelajaran dalam seni. Contoh dari ketidaksinambungan pembelajaran itu adalah: ketika masih dalam tingkat pendidikan dasar, seni yang diajarkan adalah dengan langsung berpraktek, membiarkan setiap anak mengekspresikan pemahamannya sendiri secara bebas. Ketika dalam pendidikan lanjutan, seni yang diajarkan lebih banyak berupa teori-teori dan sejarahnya. Akibatnya adalah seni menjadi bahan pelajaran yang sedikit membosankan, tidak lagi seperti di tingkat pendidikan dasar. Banyak anak yang berbakat seni tinggi kemudian memilih jalan dan sekolah khusus terkait pengembangan bakatnya di bidang seni. Lebih banyak anak lagi yang dikatakan tidak berbakat di bidang seni kemudian mengekpresikan pengalaman estetisnya itu sebagai audiens atau penikmat seni. Apapun itu, baik selaku pelaku seni, yang menciptakan karya-karya seni, maupun hanya sebagai penikmat karya seni tertentu, manusia adalah makhluk yang berseni.


Secara metafisis, seni berhubungan dengan keindahan. Keindahan hadir sebagai bagian dari mitos pemelihara keteraturan kosmos. Sebagai mitos, maka keindahan harus dipelihara lewat ritus-ritus tertentu. Ritus-ritus itu bisa berupa pameran, konser, bahkan dalam dunia modern, sudah berupa perbanyakan dan komodifikasi. Hanya dengan ritus-ritus itu, maka konsep tentang keindahan telah menjadi ideologi tersendiri. Orang akan beramai-ramai terikat pada gagasan-gagasan besar tentang mana yang indah dan mana yang tidak indah. Seolah-olah dengan tidak merayakan ritus-ritus itu, maka dunia, khususnya dunia seni sendiri akan mengalami chaos.


Kecepatan sebagai semangat zaman ini yang menuntut efisiensi dan efektifitas pun merupakan mitos yang terus dipelihara dalam ritus-ritus aktifitas keseharian manusia. Istilah “cepat itu indah” tidak bisa lagi dipersalahkan karena ada pengalaman bersama, sampai pada tingkat pengalaman estetis terkait dengan kecepatan. Walaupun demikian, pemujaan terhadap kecepatan, yang dalam beberapa aspek sama seperti pemujaan terhadap suatu karya seni, dirasakan tidak lagi memadai karena membuat cukup banyak orang yang tertekan. Hal itu disebabkan karena ketidakmampuan mengimbangi tuntutan untuk terus bergerak dan menghasilkan sesuatu secara cepat dan tepat. Dalam ketertekanan itu, maka istilah “cepat itu tidak indah” kemudian lahir sebagai bentuk pengalaman estetis lain.


“Lambat itu indah” adalah sisi lain dari pengalaman estetis manusia yang merasa gerah dengan segala ritus-ritus pemujaan kecepatan sebagai semangat zaman ini. Ketika orang mulai merasa tertekan oleh tuntutan akan kecepatan, maka “langkah cepat pertama yang harusnya diambil adalah memperlambat hidup bahkan berhenti dan diam”. Dengan berhenti dan diam, sesungguhnya hidup dapat lebih dipahami sebagai suatu seni lewat refleksi dan kontemplasi.


Namun demikian, kelambatan tidak dapat menjadi roh zaman ini. Ketika ada kelambatan, maka akan dengan segera dimangsa oleh kecepatan. Istilah “yang besar memangsa yang kecil” atau “yang kaya memangsa yang miskin” tidak lagi mendapat tempat saat ini. Ada pergeseran penting ketika “yang cepat memangsa yang lambat” terjadi. Kelambatan dirasakan sebagai keindahan hanya ketika ia hadir sebagai penyembuh bagi perasaan-perasaan tertekan manusia akibat tuntutan kecepatan. Pengalaman estetis akan kelambatan hanyalah menjadi pengalaman personal dan tidak dapat menjadi pengalaman estetis bersama. Sementara kecepatan bagi hampir semua orang adalah pengalaman estetsi bersama. “Cepat itu indah” dapat diterima oleh semua orang, sementara “lambat itu indah” hanyalah semboyan orang-orang yang ketinggalan zaman.



------------------------------------------------
Referensi

  1. Braembussche, Antoon Van den, 2009, Thinking Art: An Introduction to Philosophy of Art, Springer: NY.
  2. Carol, Noël, 1999, Philosophy of Art: A Contemporary Introduction – Routledge Contemporary Introductions to Philosophy, Routledge: London.
  3. Graham, Gordon, 1997, Philosophy of the Arts: An Introduction to Aesthetics (3rd ed.), Routledge: London.
  4. Honoré, Carl, In Praise of Slowness: Challenging The Cult of Speed, HarperCollins e-books.
  5. Rosa, Hartmut & William E. Scheuerman, 2009, High-Speed Society: Social Acceleration, Power, and Modernity, The Pennsylvania State University Press: Pennsylvania.
  6. Townsend, Dabney, 2006, Historical Dictionary of Aesthetics: Historical Dictionaries of Religions, Philosophies, and Movements, No. 72, Scarecrow Press, Inc.: NY.
  7. http://id.wikipedia.org/wiki/Kecepatan, diambil tanggal 20 November 2009.
  8. http://id.wikipedia.org/wiki/Vektor, diambil tanggal 20 November 2009.

Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"