Jumat, 08 September 2017

Sampah Ambon

Dalam pendekatan analisis sosial, salah satu model analisis yang sering digunakan adalah analisis pohon masalah. Ada banyak ahli yang memberi pendapat dan penamaan terkait analisis pohon masalah. Misalnya, Scarvada, dkk. (2004) menggunakan istilah issues tree, Silverman dan Silverman (1994) menggunakan istilah systematic diagram atau tree diagram, sementara Duffy, dkk. (2012) menggunakan istilah tree diagrams. (sumber)

Dari berbagai pendapat itu dapat ditarik 3 (tiga) poin penting, yaitu:
  1. Analisis pohon masalah adalah suatu alat atau teknik atau pendekatan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah.
  2. Analisis pohon masalah menggambarkan rangkaian hubungan sebab akibat dari beberapa faktor yang saling terkait.
  3. Analisis pohon masalah ummnya digunakan pada tahap perencanaan. (sumber)
Lalu, apa hubungan analisis sosial khususnya model pohon masalah dengan sampah di Ambon?

Sumber: Facebook
Foto ini adalah salah satu foto yang diupload ke media sosial facebook. Diambil setelah selesai acara "Makan Patita" atau makan bersama a la orang Maluku Tengah untuk memperingati HUT Kota Ambon Ke-442, 7 September 2017, di atas Jembatan Merah Putih (JMP).

Sumber: Facebook

Tentu sampah-sampah itu tidak dibiarkan begitu saja. Tidak lama setelah foto tersebut diupload, muncul foto lain yang menunjukkan bahwa wilayah itu sementara dibersihkan. Kemudian muncul juga foto-foto berikutnya yang menunjukkan bahwa JMP, icon infrastruktur Maluku, telah bersih dan sedap dipandang mata.
Sumber: Facebook

Postingan-postingan di facebook terkait kondisi JMP setelah perayaan HUT Kota Ambon itu menimbulkan perdebatan a la medsos. Banyak yang menyayangkan kondisi itu dengan menyatakan,
"hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat,"
"yang baik bagi masyarakat adalah membuang sampah saja sembarangan, pasti ada yang membersihkannya."
"jangan melempar tanggung jawab kepada pemerintah, karena soal sampah itu tanggung jawab semua pihak."
"itu bukan soal kesadaran, tetapi sikap tak acuh masyarakat. Masyarakat pasti sadar tapi tak peduli."
"Di manakah tempat sampah agar sampah bisa dibuang pada tempatnya?"

Namun, tak sedikit yang tidak menganggap itu sebagai masalah dengan menyatakan,
"Itu kan baru selesai makan, jadi begitu. Nanti juga dibersihkan. Yang penting kebersamaan."
"Foto itu ibarat saya membuat acara ulang tahun di halaman rumah saya, selesai itu sampah-sampah akan dibersihkan." 

Banyak komentar-komentar lainnya, baik yang menyayangkan maupun yang tidak mempermasalahkan.

Membaca komentar-komentar yang marak di Facebook, dapat langsung diketahui bahwa ada upaya mengidentifikasi sebab-akibat dari kondisi terkini yang terpotret di atas. Jika sampah itu masalah bagi sebagian besar orang, maka hal yang nampak dalam foto-foto itu hanyalah di permukaan saja. Ibarat pohon, kita hanya bisa melihat batang, cabang, ranting, dan daun-daunnya saja, sementara akarnya tidak kelihatan karena menancap jauh ke dalam tanah. Jika mau membaca persoalan sampah di Kota Ambon, salah satu model analisisnya adalah menggunakan pohon masalah sebagai upaya menemukenali akar-akar persoalan persampahan kota.

Dalam analisis pohon masalah, hal yang "nampak" dan dianggap sebagai masalah yang menurut kita harus dipecahkan itu biasa disebut sebagai focal problem. Apakah dengan menyelesaikan focal problem, masalah itu tidak terjadi lagi di masa depan? Dapat dipastikan, masalah yang sama akan terus terjadi di masa depan karena kita hanya memangkas ranting, atau cabang, atau menebang batang. Jika akarnya masih kuat dan mendapatkan asupan nutrisi yang baik, maka pohon itu akan tetap hidup dengan mengeluarkan tunas-tunas batang, cabang, ranting, dan daun yang baru. Karena itu, akarnya mesti diketahui, dikenali, dan diberikan penanganan semestinya.

Terkait sampah di Kota Ambon, ada peneliti yang menganggap bahwa pengelolaannya masih menggunakan paradigma lama, yaitu sampah hanya dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa adanya pengelolaan sampah yang baik (sumber). Itu ibarat hanya menyelesaikan focal problem, apa yang nampak dan kelihatan saja. Pengelolaan sampah dalam paradigma lama itu menyangkut produksi sampah Kota Ambon kurang lebih 140 ton sampah setiap hari (sumber). Dengan beban sampah seperti itu, pemerintah pasti kewalahan. Celakanya lagi, bukannya membuat perencanaan yang "terstruktur, sistematis, dan massif", solusi yang diberikan yaitu menggali lubang di sekitar rumah untuk mengubur sampah-sampah baik basah maupun kering (sumber) dapat menimbulkan masalah baru seperti polusi tanah dan sebagainya.

Pemerintah Kota Ambon telah menargetkan bahwa Kota Ambon harus bebas sampah pada tahun 2020 (sumber). Dengan target seperti itu maka penanganan pada focal problem tidak akan membantu pencapaiannya. Akar masalah harus diketahui dan ditangani dengan tepat. 

Tahun 2004, saya mendampingi "mantan pacar", seorang mahasiswa Teknik Sipil di UKIM Ambon membuat penelitian untuk skripsinya terkait pengelolaan sampah Kota Ambon. Ada beberapa orang yang menulis tentang topik itu, tetapi terbagi-bagi atas beberapa bagian, mulai dari pengelolaan sampah yang keluar dari rumah, perkantoran, atau sentra-sentra perekonomian masyarakat, pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sementara, pengelolaan dan pengangkutan ke TPA, rancang bangun TPA, dll. Dia mendapat bagian meneliti tentang pengelolaan awal sejak sampah itu keluar dari rumah penduduk, perkantoran, toko, rumah makan, dll. Ada 3 (tiga) aspek yang menjadi kesimpulan pengelolaan sampah yang baik, yaitu: (1) Aspek kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah; (2) Aspek teknis terkait pengelolaan sampah; (3) Aspek manajemen pengelolaan. Terkait aspek pertama, rekomendasinya adalah edukasi terhadap masyarakat terkait pengelolaan sampah. Untuk aspek kedua, rekomendasinya adalah pembuatan infrastruktur pengelolaan sampah level pertama (sementara). Terhadap aspek ketiga, rekomendasinya adalah pelatihan manajemen persampahan kota kepada setiap pengambil kebijakan mulai dari tingkat RT/RW. Tetapi sepertinya itu tinggal menjadi dokumen skripsi di perpustakaan saja, entahlah.

Jelas bahwa tumpukan sampah di atas JMP itu hanyalah apa yang dapat ditangkap dengan indra saja. Itu hanya focal problem saja. Untuk mencari tahu akar-akarnya, dapat ditanyakan, "mengapa itu terjadi?" Tentu saja pendekatan ini bukanlah saran bagi mereka yang masih menggunakan paradigma lama, "buang sampah saja karena nanti akan dibersihkan, dikumpulkan, diangkut, dibuang di TPA." Pendekatan ini lebih cocok bagi orang-orang yang merasa bahwa paradigma lama itu tidak akan membantu penanganan sampah di Kota Ambon beberapa tahun mendatang. Jika sekarang sudah kurang lebih 140 ton/hari, bayangkan saja beban sampah beberapa tahun mendatang.

Beberapa aspek yang dapat menjadi kategori penelusuran akar masalah persampahan dengan menggunakan model analisis pohon masalah adalah aspek Manusia, Metode, Sarana, Dana, dan Lingkungan. Untuk mengeksplorasi persoalan secara rinci, metode yang biasa digunakan adalah five ways, yaitu menggali penyebab persoalan dengan menjawab pertanyaan "mengapa" sampai kedalaman 5 (lima) level atau tingkat. Seluruh masalah yang teridentifikasi sebagai penyebab mesti digali dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumen. Triangulasi sumber data, triangulasi metode pemerolehan data, triangulasi teori pendukung, dan sebagainya sangat dibutuhkan untuk menjamin keabsahan dan kevalidan data-data yang dijadikan dasar rumusan akar masalah.

Jika semua itu telah dilakukan, tentu masalah sampah di Kota Ambon tidak bisa serta merta terselesaikan. Ada para pengambil kebijakan yang perlu disodori hasil dan rekomendasi-rekomendasinya.

Inti dari tulisan ini, mari bergerak melampaui penanganan masalah hanya pada apa yang nampak (paradigma lama pengelolaan sampah perkotaan). Ada tawaran metodologis untuk memahami kemudian melakukan perencanaan yang terstruktur, sistematis, dan massif terkait sampah perkotaan.

Saya sendiri pernah menulis tentang sampah di blog ini dengan judul, "Natal, Sampah, Sampah Natal".

Semoga bermanfaat,
Salam Damai!

Rabu, 16 Agustus 2017

Surat Buat Anak-Anak Maluku (Refleksi tentang negeri menjelang HUT kemerdekaan RI)

Biasanya, menjelang hari kemerdekaan RI, akan ada refleksi tentang sejauhmana kemerdekaan itu telah dirasakan. Refleksi, bagi saya, salah satunya dapat dilakukan dengan cara mengingat. Merayakan ingatan adalah bentuk paling hakiki dari refleksi diri. Untuk itu, menjelang 17 Agustus 2017 ini, saya ingin mengingat lagi refleksi yang pernah ditulis 11 tahun silam berupa puisi berjudul Surat Buat Anak-Anak Maluku. Puisi ini pernah sekali ditayangkan di blog ini, ketika saya ada dalam kegundahan karena tidak dapat menyaksikan secara langsung kelahiran anak pertama saya, 23 November 2011 yang lalu. Semoga bermanfaat bagi jiwa-jiwa yang merindukan damai.

---------------------------------------------------------------------  

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Surat ini aku tulis dalam keheningan yang mendalam,
di bawah sinar bulan dan cerahnya malam.
Belum pernah kulihat malam secerah ini.
Mungkin di tempat lain, tetapi tidak di tanah kita.

Surat ini aku tulis dalam kesyahduan malam,
dibarengi titik air mata karena kesedihan yang melanda,
mengingat masa-masa di mana kami meradang . . . merana,
tak kuasa menahan amarah yang berbuah petaka

Surat ini aku tulis dalam harapan berlapis gundah
penyesalan tak henti atas noda besar yang kami buat dalam sejarah tanah kita,
dan ingin memohon maaf, wariskan negeri yang tak lagi indah.

Surat ini aku tulis agar kalian tak lupa,
bahwa "katong samua basudara", "potong di kuku, rasa di daging", "ale rasa, beta rasa", walaupun ada juga yang seperti pedang bermata dua.

Aku sadar, kalian tak bisa lagi tatapi megahnya Gereja Tua di Negeri Hila yang harus hancur dilanda angkara,  atau nikmati semaraknya festival tahunan Taman Hiburan Remaja di pesisir Waihaong, karena yang ada di sana kini hanyalah kuburan para Syuhada.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang teman dan sahabat yang mati satu per satu sia-sia,
tentang saudara dan keluarga yang meregang nyawa tak bersalah,
tentang rumah dan tempat ibadah yang kami hancurkan bersama semua yang ada di dalamnya,
tentang kebun dan ladang yang kami jarah, dan tentang sekolah, rumah sakit dan banyak lagi yang kami bakar dan akhirnya musnah, seakan semua punya salah,
tentang ribuan orang yang terpaksa lari tinggalkan tanah tumpah darah, tak tahu kapan harus kembali.

Sekarang aku baru tersadar bahwa saat itu kami bukan lagi manusia,
ketika orang-orang tak berdaya  yang lari dan hampir  tenggelam di  dinginnya laut ,
atau jatuh terjengkang di kerasnya gunung, masih kami tembaki  dengan peluru dari laras-laras senjata, masih kami hujani dengan bom yang tak juga mereda.

Aku tak mampu lagi menghitung semua.
Bagiku, satu saja terlalu banyak bagai sejuta.
Tetapi kukuatkan hati agar kata tetap terangkai dan surat ini bisa kutulis buat kalian penerus masa.

Entah siapa kami?
Kami tak lagi mengenal diri,
ketika Minggu pagi memuji DIA di Gereja dan siangnya menghilangkan nyawa,
ketika Jumat siang menyembah DIA di Masjid dan sorenya menumpahkan darah.
DIA, TUHAN yang kami puji dan sembah di pagi dan siang itu, ternyata adalah DIA, TUHAN yang kami bunuh di siang dan sore harinya.
Selalu saja kami bertamasya dalam asyiknya dosa.

Banyak di antara kami yang mau jadi pahlawan. Mungkin ingin agar namanya tercatat dalam lembaran sejarah kelam sebagai pengkhianat kehidupan yang berbangga ketika menghitung satu per satu nyawa yang meregang di ujung senjata.
Tetapi tak sedikit juga yang mau mengail di air keruh, keruh karena merahnya darah yang tertumpah.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang masa-masa kelam ketika saudara membunuh saudara.
Tentang kesalahan terbesar tak terkira.

Surat ini aku tulis sebagai tanda buat kalian,
bahwa kita tidak akan menjadi keledai-keledai dungu yang masuk lagi ke lobang hitam yang sama.
Bahwa kita akan berbenah dan kalian bisa tertawa bahagia.
Kalian harus belajar bahwa agama bukan apa-apa bila dipakai sebagai dasar hancurkan kehidupan dan menghilangkan nyawa.
Kalian harus pahami bahwa hidup lebih berharga daripada ideologi-ideologi pembawa bencana.
Kalian harus berjanji bahkan bersumpah, tidak akan lagi mengulang kesalahan kami.
Kalian harus kuat 'tuk kembalikan senyuman di wajah negeri kita.

Surat ini aku tulis sambil berharap,
kalian sudi memaafkan kami yang wariskan negeri penuh duka,
kalian sudi memaafkan kami yang hancurkan indahnya hidup orang basudara,
kalian sudi memaafkan kami yang hampir tak peduli dengan masa depan tanah tumpah darah.

Surat ini aku tulis karena aku tak mampu lagi berkata.
Air mata terlalu deras tertumpah dan hati ini sedih gundah gulana.
Tetapi tetap saja kutulis surat ini, tanda peringatan dan cinta, pada kalian para pewaris  tanah pusaka, ANAK-ANAK MALUKU MANISE.


dalam rindu tak tertahan akan tanah MALUKU
Jusnick Anamofa

Jayapura, 12 Agustus 2006

Selasa, 15 Agustus 2017

"Papa Lebe Jago Dari Dong Samua": Kisah tentang keunggulan kearifan lokal

Ilustrasi (Sumber: igottadowhat.com)
Cerita ini saya dengar dari salah seorang rekan, Bung Jacky Manuputty. Pesannya adalah jangan pernah meremehkan kearifan lokal.

Suatu waktu, seorang anak yang bekerja di kapal pesiar pulang ke kampungnya di Ambon. Sebagai orang yang sudah berkeliling dunia, tentu dia ingin menceritakan hal-hal di luar sana yang dapat membuat orang tuanya kagum dan bangga memiliki anak yang bisa menyaksikan hal-hal itu secara langsung. Dalam satu kesempatan, ia bersama ayahnya bercakap-cakap dalam dialek Melayu Ambon.

Anak: "Papa, dunia di luar sana tuh akang memang paling canggih."
Papa: "Hmmmmm .... (sambil menjahit atap)."
Anak: "Papa tahu, waktu beta di Amerika, dong cuma kasmasu tarigu dalam masin, masin goyang-goyang, kaget bagini roti samemer kaluar Papa ee. Canggih ka seng?"
Papa: "Hmmmmmm .... (sambil isap tabaku sek panjang-panjang)."
Anak: "Lebe canggih lai di Balanda Papa. Papa tahu keju ka seng, keju? Di Balanda sana, dong cuma sirang susu di dalam masin, masin goyang-goyang, seng lama bagini keju yang kaluar. Memang dong paleng canggih Papa."
Papa: "Hmmmmmmm ... (nada su mulai tinggi)."
Anak: "Tapi biar negara apa yang pung canggih lai, seng sama deng Japang, Papa ee. Di Japang, Papa, orang-orang lego besi-besi tua bakarat ka dalam masin, masin goyang-goyang, kaget bagini oto sedan kaluar Papa ee. Su talalu amat paleng sangat canggih, Papa."
Papa: (seng bisa tahang diri lai) "Heeeh, Anak eeee. Beta kira kata ose ni su pi bajalang koliling dunia ni lalu ose su pintar sadiki. Tapi akang tar tambah sakuku lai. Ose bilang di Amerika dong kasmasu tarigu dalam masin, masin bagoyang roti kaluar, di Balanda dong kasmasu susu dalam masin, masin bagoyang keju kaluar, di Japang dong kasmasu besi-besi tua dalam masin, masin bagoyang oto sedan kaluar, ose bilang su canggih. Itu yang namanya canggih? Canggih ose pung kes.
Di sini, beta cuma kasmasu daging sapanggal di ose pung mama, ose pung mama goyang-goyang, ose yang kaluar."

Selamat malam, selamat bergoyang-goyang. :) :)  


----------------------------------------------------------------------------------------------
versi Bahasa Indonesia

Anak: "Papa, ternyata dunia di luar itu sangat canggih."
Papa: "Hmmmmm .... (sambil menjahit atap dari daun enau)."
Anak: "Papa tahu tidak, waktu itu saya di Amerika, mereka hanya memasukkan terigu ke dalam mesin, mesinnya bergoyang-goyang, tiba-tiba roti sangat besar yang keluar. Canggih khan, Pa?"
Papa: "Hmmmmmm .... (sambil merokok tembakau)."
Anak: "Yang lebih canggih itu di Belanda, Pa. Papa tahu keju khan? Di Belanda, mereka cuma masukkan susu ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, tidak lama berselang, keju yang kaluar. Memang, mereka sangat canggih, Pa."
Papa: "Hmmmmmmm ... (dengan nada sudah mulai meninggi)."
Anak: "Tapi, yang paling canggih itu Jepang, Pa. Di Jepang, mereka hanya melempar potongan-potongan besi tua berkarat ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, tiba-tiba mobil sedan yang keluar, Pa. Sungguh terlalu amat paling sangat canggih, Pa."
Papa: (tidak mampu menahan diri lagi) "Heeeeeh, Anakku. Papa pikir kalau kau sudah keliling dunia, kamu bisa bertambah pintar. Ternyata tidak seujung kuku pun kepintaranmu bertambah. Kau bilang kalau di Amerika hanya masukkan terigu ke mesin, lalu mesinnya goyang-goyang, keluar roti? Di Belanda, susu disiram ke dalam mesin, mesinnya goyang-goyang, keluar keju? Yang paling kau herankan itu di Jepang, cuma masukkan besi tua ke mesin, mesinnya goyang-goyang, mobil sedan yang keluar? Katamu itu sudah canggih? Canggih dengkulmu.
Di sini, papamu ini cuma masukin daging sepenggal ke dalam mamamu, mamamu itu goyang-goyang, kau yang keluar."

Kamis, 10 Agustus 2017

Provokator Damai dan "Social Traps" (Edisi Refleksi dan Revisi)

Salah satu kemampuan hakiki manusia adalah refleksi. Ia (manusia) mampu untuk melihat kembali jalinan pengalaman-pengalaman yang telah dilewatinya kemudian mempertemukan pengalaman-pengalaman itu dengan paham-paham baru yang telah membentuk perspektifnya tentang hidup dan dunianya. Refleksi ada dalam kepentingan menentukan jalan-jalannya ke masa depan. Kemampuan itulah yang menjadikan kita layak disebut manusia.

20 September 2011, dari Jayapura, saya pernah menulis dengan judul "Provokasi Damai dalam Perspektif Social Traps". Saat ini, setelah hampir enam tahun lamanya, tulisan itu layak direfleksikan kembali, kemudian direvisi (ditambah sana-sini) setelah diperhadapkan dengan fakta-fakta belakangan.

Waktu itu, 11 September 2011, konflik terjadi lagi di Ambon. Itu kabar yang diterima di Jayapura. Sambil terus mengikuti perkembangan situasi, ada seorang adik, teman, kawan berpikir, Weslly Johannes (sekarang mahasiswa pascasarjana Sosiologi Agama UKSW, Salatiga) yang memposting tulisan di FBnya dengan judul, "Pelajaran tentang Saling Percaya. "Dia menuliskan tentang damai dalam perspektif problem of trust.  Ada juga beberapa rekan yang terus menulis tentang situasi terakhir, waktu itu, yang berangsur damai. Tulisan-tulisan manis itu telah menjadi semacam provokasi damai yang menggugah nurani. Saya tersadar bahwa saling percayalah yang menjadi faktor penentu bagi perjumpaan-perjumpaan kemanusiaan. Perjumpaan yang melampaui identitas-identitas komunal dan religi.

Damai, entah negatif (tiadanya perang dan atau kekerasan fisik) atau positif (adil, sejahtera, makmur, sentosa, dll.) adalah impian. Impian bagi manusia yang kemudian membungkusnya dalam permainan kata. Bagi penguasa, damai adalah "stabilitas masyarakat." Bagi masyarakat, damai adalah "bisa cari makan, sekolah, tanpa rasa takut." Ada kawan yang menyatakan bahwa damai akan lebih bermakna bagi masyarakat yang pernah merasakan perang, konflik, rusuh, dll. Kalau soal makna, tentu tak dapat disalahkan.

Saya memiliki keyakinan besar bahwa masyarakat Ambon telah mulai berhasil keluar dari “perangkap sosial" (Social Trap) situasi berelasi. Social trap adalah istilah di bidang psikologi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Platt pada tahun 1973. Istilah itu adalah metafora bagi situasi-situasi di mana para aktor sosial mengambil keputusan yang ditentukan oleh penilaian terhadap tindakan-tindakan aktor-aktor yang lain di masa depan. Hal itu sangat berhubungan dengan keputusan untuk saling percaya dan bekerjasama dalam suatu situasi.

Secara sederhana, logika sosial trap adalah sebagai berikut (Rothstein, 2005:12):
  1. Jika tiap orang memilih bekerja sama, maka situasinya adalah semua orang diuntungkan.
  2. Tetapi, jika seseorang tidak percaya bahwa orang lain dapat bekerjasama, maka tak ada artinya memilih untuk bekerjasama karena suatu kerjasama sangat tergantung dari pilihan bekerjasama semua pihak.
  3. Jadi, tidak bekerjasama adalah pilihan bagi orang-orang yang percaya bahwa pihak lain tidak dapat bekerjasama.
  4. Kerjasama yang efisien untuk tujuan bersama hanya dimungkinkan jika tiap orang percaya bahwa orang lain juga akan memilih untuk bekerjasama untuk hal itu.
  5. Dengan tiadanya kepercayaan itu, maka pintu social trap akan langsung tertutup dan berakhir dengan buruk bagi semua orang, walaupun ada kesadaran bahwa ada keuntungan-keuntungan tertentu ketika memilih bekerjasama.
Ada beberapa dasar teoretis yang digunakan mendukung konsep ini, di antaranya adalah tindakan ekonomi politis yang strategis mengasumsikan bahwa “apa yang orang kerjakan sangat tergantung pada kepercayaan tentang apa yang orang lain akan kerjakan.” Selain itu, yang cukup penting adalah kemungkinan untuk keluar dari social trap itu dibatasi oleh fakta bahwa manusia secara rasional tidak dapat memutuskan untuk melupakan sesuatu. Artinya, dalam perspektif psikologis, social trap mengindikasikan bahwa pilihan untuk melupakan dan mengingat tidak dapat ditentukan secara rasional. Terkait peristiwa konflik Maluku, orang dapat saja menyatakan untuk melupakan apa yang telah terjadi dan hidup dalam damai, tetapi secara rasional, pilihan untuk langsung menghapus ingatan itu dari memorinya tidak dapat dilakukan.

Dari logika dan indikasi-indikasi itu, dapat dimengerti betapa seriusnya masalah social trap dalam kehidupan masyarakat. Orang Maluku pernah ada dalam perangkap sosial itu. Contoh nyata social trap adalah ketika orang-orang yang memegang kontrol terhadap arus informasi menyebarkan informasi yang saling menyudutkan. Informasi-informasi itu kemudian digunakan untuk saling menyerang satu dengan yang lain. Penyebaran informasi yang menyudutkan itu adalah upaya agar tidak ada rasa saling percaya di dalam masyarakat. Ketika masyarakat ikut menyebarkan informasi-informasi tersebut, itu pertanda telah masuk ke dalam perangkap tersebut. Sekali masuk ke dalam strategi yang didasarkan pada ketidakpercayaan, maka pintu perangkap akan tertutup dan cukup sulit untuk keluar. Hal itu disebabkan karena adanya kesulitan tersendiri bagi orang-orang yang tidak saling percaya dalam waktu yang lama untuk membangun rasa saling percaya kembali dengan meyakini bahwa pihak lain pasti akan bekerjasama dalam tujuan bersama.

Walaupun demikian, secara rasional, rasionalitas individual dapat menentukan rasionalitas masyarakat. Kunci untuk membuka pintu perangkap sosial, salah satunya adalah dengan mengandalkan atau mempercayakan rasionalitas individual memainkan peranannya. Individu-individu rasional yang membangun rasa percaya baru setelah sekian lama ada dalam komunitas yang tidak saling percaya dapat menjadi provokator damai. Individu-individu rasional itu pula yang dapat membuka pintu perangkap sehingga perlahan-lahan tercipta masyarakat yang secara rasional saling percaya yang berdampak pada kerjasama dengan tujuan bersama.

Individu-individu rasional itulah yang saya temukan dalam diri banyak pihak yang benar-benar bekerja keras untuk berdamai. Berdamai dengan dirinya sendiri agar timbul rasa percaya kepada orang lain, setelah itu berdamai dengan orang lain agar dapat bekerja bersama-sama menghadirkan damai lebih luas lagi. Individu-individu rasional itu yang saya temukan pada diri Dian, Nurma, Abu, Charlie, Adel, Dewi, dan rekan-rekan lain (Komunitas Penggerak Perdamaian Ambon) yang rela meluangkan waktu selama 4 (empat) hari, berlatih bersama para pekerja perdamaian, merasionalisasi pilihan untuk keluar dari perangkap sosial yang ada.

Keterbukaan dan kejujuran adalah kata-kata kunci yang dapat membuka pintu perangkap sosial itu. Menciptakan ruang-ruang perjumpaan mesti terus dikerjakan, meskipun dalam faktanya, ada ruang-ruang perjumpaan semu yang tecipta secara transaksional. Damai yang transaksional menyimpan konflik di bawah permukaan yang jika tidak dikelola dengan baik akan muncul sewaktu-waktu, di saat "transaksi-transaksi damai" itu sudah tidak terjadi lagi.

Bagi saya, dipandang dari perspektif apapun, damai tetap lebih indah.
Bagi kalian yang telah menjadi provokator damai di Maluku, terima kasih banyak karena telah ikut membentuk rasionalitas saya. 

Referensi:
Rothstein, Bo, 2005, Social Traps and the Problem of Trust, NY: Cambridge University Press.

Ambon Layak Menjadi Laboratorium Perdamaian di Indonesia

Padamu Neg'ri, Kami Berjanji;.... Bagimu Neg'ri Jiwa Raga Kami


Laboratorium, sejatinya adalah ruang bagi riset-riset ilmiah yang terkendali. Ruang riset itu biasanya dimanfaatkan untuk eksperimen komprehensif, pengukuran terbatas, dan tempat pelatihan bagi para periset. Disebut terkendali karena para periset dapat mendesain dan merekayasa variabel-variabel riset sesuai dengan kebutuhan. Tentu definisi laboratorium seperti itu sangatlah positivis di mana aspek observasi empiris menjadi faktor utama pemerolehan pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah sesuatu yang ada di luar sana, teramati, terukur, dan dapat diprediksi. Intinya, pengetahuan adalah obyektifitas. Subyektifitas periset hanya dilihat sebagai halangan bagi penemuan ilmiah karena kadar obyektifitasnya akan diragukan. Laboratorium menemukan tempatnya yang tepat pada riset-riset ilmu-ilmu alam, namun ketika beberapa pemikir mencoba pendekatan riset ilmu alam kepada riset-riset tentang manusia, diawali oleh Auguste Comte, jadilah manusia dianggap sama seperti alam yang dapat diamati, diukur, diprediksi. Apakah bisa demikian?

Bagaimana jika suatu komunitas yang menjadi laboratorium? Tentu saja dibolehkan, dengan catatan ada gerak yang melampaui definisi dan hakekat laboratorium dalam pengertian asalinya itu. Laboratorium damai misalnya, yang menjadikan komunitas di Ambon atau Maluku sebagai ruang riset perdamaian. Pendekatannya haruslah post-positivis sebagai upaya "menentang" perspektif positivisme karena tindakan manusia tidak dapat diprediksi dengan satu penjelasan yang mutlak dan pasti karena manusia selalu saja berubah. Dalam perspektif post-positivisme itulah, Ambon atau Maluku layak dijadikan sebagai laboratorium damai di Indonesia.

Pertanyaan utama yang patut dikemukakan adalah "Mengapa Ambon layak menjadi laboratorium damai, tempat belajar/riset/berlatih tentang perdamaian?" Tentu saja akan muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang lebih praktis soal "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Namun pertanyaan kedua ini akan disimpan untuk ditelusuri nanti.

Ada banyak tempat yang warganya hidup berdampingan dalam damai meski berbeda agama dan suku bangsa, tetapi mereka belum pernah ada dalam situasi berdarah-darah seperti Ambon. Pernah di Ambon, sesama manusia berbeda agama angkat parang, melepas panah, melempar tombak, membidik senjata, dll., untuk saling menghabisi. Belum sampai 2 dekade peristiwa-peristiwa itu terjadi sehingga masih segar ingatan tentang penderitaan itu. Para pemuda dan remaja yang lahir saat peristiwa tersebut, sebagian dari mereka, dibesarkan dengan narasi-narasi kekerasan, kebencian, juga penderitaan.

Tetapi Ambon (Maluku) cepat bangkit. Kami cepat sadar bahwa kami sementara menari dengan musik orang lain. Kerja-kerja keras perdamaian pun mulai mengisi hari-hari di Ambon sejak kesadaran itu muncul. Kini, kami yang dulu berkelahi, memilih jalan untuk berdamai. Meskipun banyak hal yang tidak sama lagi seperti sebelum peristiwa itu, tetapi kami memiliki keyakinan bahwa perlahan-lahan kerja kami akan membuahkan hasil.

Fakta-fakta itu semakin jelas ketika saya diundang mengikuti kegiatan Training Penggerak Perdamaian Berbasis Komunitas di Ambon. Selama 3 (tiga) hari para peserta dilatih dan dibekali dengan beberapa kemampuan, di antaranya kemampuan melakukan analisis sosial berbasis konflik, kemampuan mengorganisasi komunitas, dan kemampuan membedah kasus. Tetapi yang sangat berkesan adalah ketika melakukan kunjungan ke Masjid Batu Merah, Gereja Latta, dan Komunitas Ambon Bergerak. Refleksi terhadap kunjungan itu akan menjadi tulisan tersendiri. Sebanyak 25 orang peserta akhirnya membentuk Komunitas Penggerak Perdamaian Ambon (PPA). PPA hanyalah komunitas kecil yang orang-orangnya baru bertemu dalam semangat yang sama, menggerakkan perdamaian. Kami saling belajar, saling berbagi, saling mengkritisi dalam keterbukaan. Pertanyaan paling penting saat itu adalah, "mengapa beberapa komunitas sudah bekerja keras dalam menghadirkan damai di Ambon, sedangkan kami baru berjumpa untuk dilatih menjadi penggerak damai?" Mungkin kami adalah generasi berikut dari para penggerak damai sebelumnya. Dengan demikian, dari generasi ke generasi akan selalu ada penggerak damai di komunitas masing-masing.

Ambon sangat layak menjadi tempat belajar karena pernah berada dalam situasi teramat tidak manusiawi, tetapi saat ini perlahan dan pasti, jalinan-jalinan kemanusiaan itu mulai dipulihkan. Pemulihan diri lebih banyak terjadi secara internal, meski ada juga rekayasa-rekayasa sosial.

Mari, belajar di Ambon. Beberapa teman Muslim kami sudah pernah tinggal berhari-hari di rumah-rumah orang Kristen dan mereka tidak dijadikan sama seperti kami (kadangkala, ini yang dijadikan pegangan). Live in adalah model yang menarik di mana peserta akan tinggal selama beberapa hari bersama dengan mama dan bapa piara (tuan rumah) yang berbeda agama. Jika sudah tinggal bersama, makan dan minum bersama, bercerita dalam keterbukaan, maka perlahan-lahan sekat-sekat perbedaan akan mulai runtuh dengan sendirinya. 

Untuk pertanyaan, "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Selama training 4 (empat) hari itu, saya menemukan bahwa live in adalah metode yang ampuh bagi itu. Silahkan melakukan rekayasa sosial dengan kegiatan live in selama beberapa waktu dan ikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri para peserta live in.

Salam Damai!!

Minggu, 09 April 2017

Apa Dampak Ekonomi dari Perhelatan Olah Raga Seperti Asian Games 2018?

Saya pribadi bukan orang yang "expert" di bidang ekonomi juga bukan individu yang punya prestasi di bidang olahraga. Saya hanya hendak mengajukan pertanyaan seperti yang tertera pada judul, "Apa dampak ekonomi dari perhelatan olah raga seperti Asian Games 2018?"Pertanyaan itu tidak datang tiba-tiba tetapi telah mengendap sekian lama dan baru diutarakan sekarang. 

Tanggal 29 Juli 2016 yang lalu, Kantor Staf Presiden (KSP) mempublikasikan satu tulisan dengan judul "Asian Games Momentum Penggerak Ekonomi." Dalam paragraf terakhir tulisan itu disebutkan, "Asian Games 2018 bukan hanya unjuk pamor Indonesia sebagai negara papan atas di Asia yang mampu menggelar ajang serupa lebih dari satu kali, tapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi agar rakyat pun merasakan dampak kesejahteraan dari Asian Games pertama yang dilaksanakan di dua kota ini."

Satu kata kunci di situ adalah "katalisator" yang lebih kurang berarti "seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa." Dalam konteks kalimat di atas, diharapkan bahwa Asian Games 2018 akan menjadi penyebab perubahan terkait pertumbuhan ekonomi, tentu saja perubahan yang dimaksudkan adalah peningkatan ekonomi.

Setiap argumentasi tentu ada beberapa pertimbangan atau penilaian (judgment) yang mendasarinya. Bagi Dewey, historical judgment menjadi hal pertama yang patut dikerjakan. Kenapa? Karena hakekat manusia adalah makluk sejarah yang selalu mendasarkan pengetahuan dan pengambilan keputusan-keputusan dalam hidup berdasarkan pengalaman, baik dirinya maupun orang lain. Pengalaman itu historis, menyejarah, empirik, karena itu secara pragmatis penting bagi pemecahan masalah. 

Belajar dari sejarah penyelenggaraan perhelatan-perhelatan olah raga besar mesti dilakukan dengan berimbang. KSP telah melakukan itu dalam tulisan mereka. Rujukan historisnya adalah penyelenggaraan Piala Dunia 2014 di Brasil dan Asian Games 2014 di Incheon Korea Selatan. Fakta-fakta itu dapat dibaca dalam tulisan tersebut. 

Bagi saya, penulis di KSP itu belum menampilkan fakta secara berimbang tetapi hanya menampilkan apa yang mendukung ide besarnya saja bahwa Asian Games akan menggerakkan ekonomi. Pasti Staf Presiden tahu tentang fakta penyelenggaraan Olimpiade 2004 di Athena, juga perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang bagi sebagian orang hanya meninggalkan kebusukan, bahkan Yunani kemudian mengalami krisis berkepanjangan sampai saat ini.

Terkait dengan ekonomi, apa yang sama dari seluruh perhelatan itu? Jika dilihat, hal yang sama adalah:
  1. Pada saat persiapan, penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak. Para pekerja akan terserap ke dalam proyek-proyek infrastruktur penunjang utama event-event tersebut.
  2. Pada saat berlangsungnya perhelatan, ribuan orang dari berbagai tempat akan memenuhi kota-kota, khususnya tempat-tempat penyelenggaraan. Ekonomi masyarakat akan tergerak dengan sendirinya karena kehadiran banyak orang itu.
Yang berbeda adalah kebijakan pasca perhelatan. Apa yang akan terjadi di hari berikutnya setelah perhelatan itu ditutup? Apakah negara bisa menjadi pengurus yang baik bagi apa yang telah diadakannya itu? Ataukah membiarkan pihak swasta yang profesional mengusahakannya demi dampak ekonomi yang baik?

Biasanya istilah yang sering digunakan adalah "Pesta Olahraga". Seperti pesta umumnya, akan banyak hal yang harus diurus setelah pesta itu usai. 

Itulah latar belakang mengapa saya harus sampai pada pertanyaan, "Apa dampak ekonomi dari perhelatan olah raga seperti Asian Games 2018?"

Adakah yang punya jawabannya?


Referensi:
  1. http://properti.kompas.com/read/2014/08/14/135858621/Lihatlah.Olimpiade.Yunani.2004.Hanya.Menyisakan.Kebusukan. 
  2. http://ksp.go.id/asian-games-momentum-penggerak-ekonomi/ 
  3. http://kbbi.web.id/katalisator
  4. http://www.globalresearch.ca/selling-south-africa-poverty-politics-and-the-2010-fifa-world-cup/18303
 

Selasa, 17 Desember 2013

Daftar Nilai Akhir Kelas Dasar-Dasar Logika PS Ilmu Administrasi Negara (Group B) - Sem. Gasal 2013/2014

Catatan: Nama mahasiswa tidak ditampilkan, hanya NIM saja. Silahkan lihat nilai sesuai NIM Anda.


NIM Kehadiran UTS UAS Tugas Total Huruf Kualitas
Hasil 10% Nilai 20% Nilai 30% Nilai 40%
33100157
0.7
1.5
2.4
3.32 7.9 B 3
33130272
1.4
1.64
2.6
3.48 9.1 A 4
33130273
1.4
1.7
2.9
3.6 9.6 A 4
33130276
1.4
1.74
2.9
3.6 9.6 A 4
33130279
1.4
1.8
2.6
3.48 9.2 A 4
33130284
1.4
1.56
2.3
3.2 8.4 AB 3.5
33130292
1.4
1.6
2.4
3.32 8.7 A 4
33130293
1.4
1.6
2.9
3.6 9.5 A 4
33130298
1.4
1.7
2.7
3.6 9.4 A 4
33130299
1.4
1.7
2.7
3.6 9.4 A 4
33130300
1.4
1.6
2.9
3.4 9.3 A 4
33130302
1.4
1.7
2.9
3.6 9.6 A 4
33130305
1.4
1.8
2.9
3.6 9.7 A 4
33130310
1.4
1.7
2.7
3.4 9.2 A 4
33130312
1.4
1.7
2.7
3.48 9.3 A 4
33130314
1.4
1.54
2.3
3.08 8.3 AB 3.5
33130315
1.4
1.6
2.6
3.2 8.8 A 4
33130316
0
0
0.0
0 0.0 E
33130323
1.4
1.7
2.7
3.48 9.3 A 4
33130324
0
0
0.0
0 0.0 E 
33130325
0
0
0.0
0 0.0 E 

Sampah Ambon