Kamis, 28 Februari 2008

BERPIKIR ETIS: Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Moral

Masalah moral diperhadapkan kepada kita setiap hari. Media masa menyuguhkan berbagai macam masalah. Kenyataan di depan mata membuat kita tahu bahwa ada masalah. Situasi di kantor, sekolah, pasar, jalan raya, di mana saja menyajikan seribu satu persoalan. Dalam kenyataan itu, kita dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan, kejujuran, hak dan kewajiban, aturan, dll.

Pertanyaannya adalah apakah dalam menghadapi setiap persoalan dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu hinggap dalam pikiran kita, kita telah berpikir secara etis?

Menjadi menarik membicarakan tentang etika karena berhubungan dengan proses pengambilan keputusan kita setiap hari. Dalam setiap awal kegiatan pembelajaran di semester baru, saya mencoba untuk mencari tahu apa yang mahasiswa pahami tentang etika. Jawabannya bermacam-macam. Etika itu moral, perilaku, sopan-santun, aturan, norma, kebiasaan, adat-istiadat, kesusilaan, tata-krama, dll yang sejenis dengan itu. Artinya semua hal yang menjelaskan bagaimana kita harus bertindak itulah etika.

Ternyata bukan mahasiswa saja yang menjawab seperti itu. Beberapa orang yang telah berpengalaman dalam pengambilan keputusan pun memiliki jawaban yang sama. Apakah memang benar etika itu adalah hal-hal seperti di atas?

Sah-sah saja pemahaman seperti itu karena semua orang bebas mendefinisikan sesuatu sesuai dengan keinginannya…..??? Apakah benar bahwa kebebasan seperti itu….? Ya, itulah kebebasan. Tetapi kebebasan itu juga yang membimbing kepada pengertian bahwa kita sebenarnya bebas untuk tidak mendefinisikan etika seperti itu.

Bahwa etika berhubungan dengan moral, benar. Tetapi etika bukanlah moral. Etika adalah kerangka kerja bagi pengambilan keputusan yang berhubungan dengan moral (pengambilan keputusan moral). Etika berupaya mengkritisi setiap acuan moral yang kita gunakan untuk mengambil keputusan dan bertindak. Etika akan mempertanyakan ajaran-ajaran moral yang kita gunakan untuk pengambilan keputusan dalam kehidupan kita dan ajaran-ajaran moral mana yang dapat kita abaikan. Etika akan menuntut pertanggungjawaban kita mengenai dasar moralitas dalam tindakan kita.

Kerangka kerja etik mengisyaratkan lebih dari sekedar memahami fakta dari suatu masalah, yaitu bagaimana seharusnya manusia bertindak dalam kenyataan itu dan tindakan itu akan didasarkan pada apa?

Para Filsuf telah mencoba mengembangkan lima pendekatan berbeda dalam hubungan dengan penyelesaian isu-isu moral (lima pendekatan ini yang baru saya ketahui. Kalau masih kurang, mohon ditambahkan ya)


"Pendekatan Utilitarian"

Utilitarianisme dipikirkan pertama kali pada abad ke-19 oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill untuk menolong kalangan legislative menentukan aturan-aturan hukum mana yang baik secara moral. Baik Bentham maupun Mill menyarankan bahwa tindakan yang sangat etis dalam masalah ini adalah memberikan kesempatan yang lebih banyak pada hal yang baik daripada yang tidak baik.

Untuk menganalisa masalah-masalah moral menggunakan pendekatan utilitarian, kita pertama mesti mengidentifikasi berbagai macam jalan dan cara yang tersedia bagi kita untuk bertindak. Kedua, kita kemudian harus bertanya: siapa yang akan dipengaruhi oleh tiap tindakan? Siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari tindakan-tindakan yang telah kita identifikasi di atas. Ketiga, kita harus memilih tindakan apa yang menghasilkan lebih banyak keuntungan bagi sebanyak mungkin orang dan sedikit kerugian bagi sesedikit mungkin orang. Jadi tindakan yang etis dalam pendekatan ini adalah tindakan yang memberikan lebih banyak kebaikan bagi sebanyak mungkin orang.


"Pendekatan Hak dan Kehendak Bebas"

Pendekatan kedua yang penting berakar pada filsafat abad ke-18, yang dipengaruhi oleh pemikiran Immanuel Kant dan beberapa pemikir yang sejalan dengan dia, yang memusatkan perhatian pada hak tiap individu untuk memilih apa saja bagi dirinya. Menurut para filsuf ini, yang membuat manusia berbeda dari lainnya adalah martabatnya yang didasarkan atas kemampuan untuk memilih secara bebas apa yang akan dilakukan dengan hidup, dan manusia memiliki hak moral yang fundamental untuk dihargai atas pilihan-pilihannya. Manusia bukanlah obyek yang dapat dimanipulasi dan adalah kejahatan terhadap martabat kemanusiaan bila memanfaatkan manusia dalam cara-cara di mana tidak kebebasan untuk memilih.

Tentu saja ada banyak hal berbeda tetapi saling terhubung. Kebebasan seseorang berhubungan dengan kebebasan orang lain. Ada beberapa aspek dari hak dasar yang dapat kita perhatikan sebagai kerangka pengambilan keputusan.
  1. Hak terhadap kebenaran, artinya kita memiliki hak untuk mengatakan kebenaran dan memperoleh informasi yang benar tentang hal-hal yang secara signifikan mempengaruhi pilihan-pilihan kita.
  2. Hak privasi, artinya kita memiliki hak untuk bertindak, percaya dan menyatakan apa saja yang kita pilih dalam kehidupan pribadi kita selama kita tidak menghambat hak yang sama dari orang lain.
  3. Hak untuk tidak disakiti, artinya kita memiliki kebebasan dan pengetahuan untuk mengerjakan sesuatu yang akan berakibat pada kesakitan dan kita bebas memilih resiko yang harus dihadapi dalam kehidupan.
  4. Hak dalam perjanjian, artinya kita bebas untuk membuat perjanjian dengan siapa saja dan di mana saja.
Untuk menentukan suatu tindakan bermoral atau tidak dalam pendekatan ini, kita harus bertanya apakah tindakan kita dapat diterima oleh orang lain dalam hubungan dengan hak-hak dasar yang mereka miliki juga? Tindakan-tindakan kita akan salah secara moral bila melanggar hak-hak individu-individu lain. Lebih banyak pelanggaran, lebih salah tindakan itu secara moral


"Pendekatan Keadilan"

Pendekatan ini berakar pada pengajaran Filsuf Yunani Aristoteles yang mengatakan “kesederajatan adalah kesederajatan dan ketidaksederajatan adalah tidak sederajat.” Pertanyaan moral yang mendasar terhadap pendekatan ini adalah: Bagaimana suatu tindakan dikatakan adil? Bukankah tindakan kita betapapun baiknya akan menyakiti seseorang atau menunjukkan bahwa ada yang lebih dipentingkan dan ada yang didiskriminasi?

Sikap pilih kasih memberikan keuntungan kepada beberapa orang tanpa dasar yang jelas. Diskriminasi menyusahkan orang yang tidak berbeda dari orang yang tidak disusahkan. Baik pilih kasih maupun diskriminasi sebenarnya tindakan yang tidak adil dan salah secara moral.


"Pendekatan Kepentingan Bersama"

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa masyarakat akan berkompromi dengan individu-individu yang kepentingan pribadinya tidak dapat dilepaskan dari kepentingan bersama komunitas tersebut. Anggota-anggota komunitas diikat oleh pencarian nilai-nilai dan tujuan-tujuan bersama.

Kepentingan bersama adalah gagasan yang muncul lebih dari 2.000 tahun lalu dalam tulisan-tulisan Plato, Aristoteles dan Cicero. Yang lebih terbaru, ahli etika John Rawls mendefinisikan kepentingan bersama sebagai “kondisi umum yang tersedia dan memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan merata”

Dalam pendekatan ini, kita memusatkan perhatian untuk memastikan bahwa kebijakan-kebijakan sosial, system-sistem sosial, institusi-institusi, dan lingkungan yang atas itu semua kita bergantung menguntungkan semua orang. Contoh dari kepentigan bersama adalah kesehatan, keamanan publik yang efektif, perdamaian antar bangsa, sistem hukum yang adil, lingkungan yang tidak tercemar, dll.

Kepentingan bersama mestinya terbagi secara merata di antara anggota-anggota suatu komunitas. Dengan mengidentifikasi diri sebagai anggota komunitas yang sama, kita merefleksikan kepedulian kita tentang masyarakat bagaimana yang akan dihasilkan dan bagaimana kita menerima masyarakat seperti itu dalam hubungan dengan tujuan dan kepentingan pribadi kita.


"Pendekatan Kebaikan/Kebajikan"

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa ada hal yang ideal yang harus kita usahakan, yang berguna untuk perkembangan yang penuh dari kemanusiaan kita. Idealitas ditemukan lewat refleksi mendalam pemikiran atas potensi-potensi kemanusiaan kita.

Kebajikan adalah sikap atau karakter yang tersedia bagi kita untuk bertindak dan menjadi manusia dalam cara-cara yang mengembangkan potensi-potensi tertinggi kita. Sikap dan karakter itu tersedia bagi kita untuk mengejar hal-hal ideal yang dapat kita jadikan sebagai nilai-nilai pribadi, seperti kejujuran, keteguhan hati, belas kasihan, kemurahan hati, kesetiaan, integritas, keadilan, penguasaan diri, kebijaksanaan.

Kebajikan muncul dari kebiasaan. Artinya, bila dibiasakan, maka hal itu akan menjadi karakter dari seseorang. Manusia yang penuh kebajikan adalah manusia yang bermoral.

Dalam hubungan dengan masalah-masalah moral yang diperhadapkan kepada kita, dengan menggunakan pendekatan kebajikan, kita mungkin akan bertanya, mau jadi orang seperti apa aku ini? Apa yang harus dikembangkan dalam diri saya dan komunitas saya?


PENYELESAIAN MASALAH MORAL

Kelima pendekatan di atas menyarankan bahwa pada saat kita diperhadapkan dengan fakta yang diidentifikasi menjadi masalah moral, kita harus menanyakan lima hal dalam diri sebelum mencoba untuk memecahkan masalah itu.

  1. Keuntungan dan kerugian apa yang akan timbul dari tindakan yang akan dilakukan, dan alternative-alternatif apa yang tersedia, yang dapat menjadi pilihan terbaik dengan konsekuensi terbaik?
  2. Hak-hak moral apa yang dimiliki oleh pihak-pihak dalam masalah itu, dan tindakan apa yang terbaik guna menghormati hak-hak dari pihak-pihak itu?
  3. Tindakan-tindakan apa yang memberlakukan tiap orang yang terlibat dalam masalah itu sejajar dan sama, dasar moral apa yang akan dipakai, sehingga tidak ada pilih kasih atau diskriminasi?
  4. Manakah tindakan-tindakan yang dapat diambil guna memajukan kepentingan bersama?
  5. Manakah tindakan-tindakan yang dapat mengembangkan kebajikan-kebajikan moral?
Tentu saja, metode ini tidak menjadi solusi otomatos bagi masalah-masalah moral. Metode ini hanyalah bertujuan untuk membantu seseorang mengidentifikasi beberapa hal yang penting dalam pengambilan keputusan moral. Kemampuan mengidentifikasi hal-hal penting, kemudian mengkritisinya, itulah yang disebut sebagai “Berpikir secara etis”.

Mungkin kita harus tetap membuka mata dan telinga, hati dan pikiran terhadap semua hal yang terjadi di sekeliling kita, agar tetap peka dengan kenyataan sosial masyarakat sambil tetap dapat memberikan kontribusi yang positif baik bagi pribadi maupun masyarakat kita.

(Kerangka Kerja ini diterjemahkan secara bebas dan disusun berdasarkan artikel di Markkula Center for Applied Ethics: “Thinking Ethically – A Framework for Moral Decision Making)

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon