Rabu, 12 Maret 2008

Refleksi Jumat Agung

Membicarakan kematian adalah hal yang tidak mungkin bagi kita. Kenapa? Karena kita belum pernah mengalami hal itu atau kalau sudah ada yang pernah mengalami kematian, mereka tidak dapat dijadikan informan kunci dalam upaya-upaya penyelidikan yang sifatnya ilmiah tentang pengalaman kematian. Jadi, pengalaman kematian tidak dapat didekati secara empiris karena memiliki kesulitan epistemologis tersendiri.

oleh karena . . . .


Oleh karena itu, agama kemudian dibiarkan berbicara tentang kematian karena pada intinya agama itu menyangkut iman dan iman itu tidak perlu dibuktikan secara empirik. Iman adalah sebentuk keyakinan yang lahir karena pengharapan tentang sesuatu yang lebih baik. Iman dapat menjadi faktor penyebab bagi tindakan-tindakan kemanusiaan yang dapat dikaji secara empirik, tetapi lebih dari itu, iman kemudian menjadikan manusia berpengharapan pada tentang keadaan sesudah mati.
Kematian Yesus menjadi contoh bahwa siapapun dia, manusia, tetap akan mati. Untuk memunculkan keilahian Yesus, maka kemanusiaan dia harus mati. Masalahnya adalah Injil kemudian menceritakan tentang tubuh fisik Yesus yang dibangkitkan. Itulah awal iman kekristenan tentang kematian. Bahwa kematian itu bukan apa-apa. Kematian fisik hanyalah bagian dari siklus alam. Kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemberitaan tentang hidup yang kekal. Untuk hidup kekal, maka kematian fana harus terjadi.
Apa maksudnya ini…? Saya ingin mengajak basudara untuk melihat kembali kisah tentang jatuhnya manusia ke dalam dosa. Aktor yang ditampilkan dalam kisah itu adalah Allah, manusia pertama Adam dan Hawa, Ular yang mewakili si Iblis. Kisah itu diceritakan terjadi dalam Taman Eden. Aktifitas yang terjadi dalam cerita itu adalah bahwa Allah menempatkan Adam dan Hawa serta memberikan perintah dan larangan (ini sangat bermoral karena sebenarnya Allah memiliki kuasa untuk membatasi manusia dari sisi fisik dan psikis – tetapi yang dilakukan adalah, Allah memberikan batasan secara normatif lewat perintah dan larangan). Jadi, karakter siapakah yang diwakili oleh tokoh Allah….? Ok, kita tidak akan membahasnya di sini. Saya kembali lagi kepada perintah dan larangan itu, bahwa semua pohon di dalam taman ini boleh dimakan buahnya, tetapi pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan tidak boleh dimakan karena pada saat mereka memakannya, mereka akan mati. Saya membayangkan bahwa kalau mereka tidak memakan buah dari pohon itu maka tidak akan ada kematian sama sekali. Muncul ular yang mewakili tokoh iblis. Ular menyatakan bahwa mereka telah mendengar perintah dan larangan dari Allah itu, tetapi sesungguhnya, hal itu tidak benar. Yang akan terjadi ketika mereka memakan buah itu adalah mereka akan menjadi seperti Allah, tidak akan pernah mati. Buah pun dimakan baik oleh Hawa maupun Adam. Allah murka dan mengutuk serta mengusir mereka karena tidak taat pada batasan-batasan normatif yang dikeluarkan oleh Allah.
Diceritakan bahwa setelah memakan buah itu, mereka kemudian menjadi tahu (Ibrani = yada) bahwa mereka telanjang dan setelah itu mereka bersetubuh (Ibrani = yada) dan melahirkan anak-anak. Seluruh kata “bersetubuh” secara fisik dalam Perjanjian Lama menggunakan kata Ibrani yada. Begitu juga kata “tahu”, menggunakan kata Ibrani yada. Mereka saling mengetahui setelah memakan buah itu dan hasil dari pengetahuan itu kemudian menjadikan manusia hidup kekal. Apa maksudnya? Ya, apa yang dikatakan oleh ular itu sebenarnya hal yang tidak dapat dipungkiri. Bahwa manusia pertama, Adam dan Hawa akan mati, tetapi spesies manusia akan hidup kekal dan kekekalan itu dapat diperoleh bila manusia saling mengetahui dan pengetahuan itu dapat terjadi bila manusia memakan buah dari pohon yang dilarang itu. Dapatkah anda membayangkan perintah Allah tentang beranakcucu dan penuhi muka bumi ini berada di awal (sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa = sebelum manusia saling mengetahui/dapat bersetubuh dengan yang lawan jenis) harus dilaksanakan oleh Adam dan Hawa dalam keadaan mereka tidak saling mengetahui tentang diri masing-masing dan tidak dapat saling menyetubuhi (yada itu)? Mengapa ular dipilih mewakili tokoh Iblis? Salah satu hal yang dapat dijadikan alasan adalah karena ular pada waktu itu diyakini sebagai binatang yang hidup kekal (tidak pernah mati). Ular selalu berganti kulit, karena pergantian kulit itulah yang menandakan bahwa ular selalu memiliki hidup yang baru (itu pandangan dunia pada saat kitab Kejadian ditulis).
Apa hubungannya dengan kematian Yesus dan kehidupan kita?.
Dalam Injil, silsilah Yesus selalu ditarik sampai kepada Adam. Itu berarti Yesus adalah bagian dari kekekalan manusia. Yang membedakan antara kematian Adam dengan kematian Yesus adalah kalau kematian Adam merupakan awal dari kekekalan spesies manusia, maka kematian Yesus adalah awal dari bentuk baru kehidupan manusia. Kehidupan yang menjungkirbalikkan segala keyakinan lama dan mentransformasikannya menjadi kehidupan yang benar-benar berbeda. Jadi, kematian Yesus adalah kehidupan kita. Tanpa kematian tidak akan ada kebangkitan. Tanpa kelahiran tidak akan pernah ada kematian. Tanpa persetubuhan (yada), tidak akan pernah ada kelahiran.
Bagi saya, kalau harus mati demi kehidupan banyak orang, saya pun mau mati seperti Yesus. Tetapi kalau cuma mati konyol, saya lebih baik memilih tetap hidup dan berupaya untuk merubah apa yang dapat saya ubah, sambil menunggu waktu biologis saya berhenti dan fisik saya kemudian mati (tidak tahu dengan jiwa saya – tetapi saya tetap yakin dalam iman saya bahwa ketika kematian fisik itu terjadi, maka ada sesuatu yang akan terjadi dengan jiwa saya, entah itu diselamatkan dan masuk ke “sorga” ataukah tidak diselamatkan dan masuk ke “neraka”).




Tidak ada komentar:

Sampah Ambon