Kamis, 15 Mei 2008

Merefleksikan Perjuangan Pattimura

Pernah suatu waktu, orang-orang Maluku saling berebut asal-usul sang Pattimura. Klaim terhadap si Kapitan sepertinya tiada habis. Menariknya, klaim-klaim itu berlalu begitu saja tanpa menunjukkan bahwa kita di Maluku benar-benar pernah memiliki seorang Kapitan seperti Pattimura.
Klaim Maluku atas Pattimura menjadikan dia seorang Pahlawan yang diakui oleh Indonesia. Artinya, Maluku tidak bisa lagi mengklaim bahwa Sang Kapitan adalah milik orang Maluku saja karena Sang Kapitan juga telah menjadi milik bangsa ini.
Pattimura itu bukan saja sebuah patung batu yang diganti dengan perunggu, berdiri di tengah-tengah pusat kota dan menjadi ikon Ambon dan Maluku. Lebih dari itu, Pattimura adalah seruan perjuangan yang penuh moralitas, bukan hanya perjuangan tanpa arah namun seolah tanpa dosa.

Beta . . . .

Beta ingat lagu tentang Pattimura Muda, dengan semboyan Lawamena Haulala, yang bila diartikan dengan baik akan berarti "Maju terus biar mandi-mandi darah". Kalau dulu Pattimura berjuang dengan parang dan salawaku, bagaimana s'karang para Pattimura muda berjuang? Ada yang bilang dengan pena, dengan otak, dll. Tapi sepertinya perjuangan Pattimura-Pattimura muda saat ini cenderung dibatasi oleh para Pattimura tua yang hampir masuk kubur.
Heheheeee, tidak bermaksud apa-apa sih, beta cuma ingat pertanyaan tentang mengapa anak-anak muda s'karang kurang tahu adat (bukan maksudnya kurang ajar, tapi memang kurang tahu adat benar-benar adat). Orang tatua bilang kalau ajar anak-anak muda s'karang banyak hal nanti dong kurang ajar talalu karena anggap dong sudah pintar. Jadi menurut beta, orang tatua bagitu tidak boleh mati cepat, bilang dorang ajar anak-anak muda ini adat yang baik dolo baru dorang mau mati ka, mau apa ka, terserah.
Beta kira KKN itu bukan bagian dari moralitas Pattimura. Dulu dia berjuang karena merasakan penderitaan yang dialami oleh para saudaranya dan dia sendiri. Pattimura itu bukan seorang pencuri atau penipu. Kalau memang demikian, apakah layak orang-orang Maluku yang suka mencuri dan menipu yang bukan haknya tetapi menjadi hak para saudaranya itu disebut sebagai Pattimura?
Pattimura itu bukan saja sebuah patung batu yang diganti dengan perunggu, berdiri di tengah-tengah pusat kota dan menjadi ikon Ambon dan Maluku. Lebih dari itu, Pattimura adalah seruan perjuangan yang penuh moralitas, bukan hanya perjuangan tanpa arah namun seolah tanpa dosa.

1 komentar:

Steve Gaspersz mengatakan...

Beta setuju katong konsisten dengan semangat Pattimura dalam membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi di Maluku. Maar beta kira nostalgia kepada Pattimura tidak boleh menutup mata kita terhadap tokoh-tokoh besar asal Maluku kontemporer semisal Johannes Leimena, Dirk de Fretes, Leo Wattimena, dan banyak lagi. Dorang su pasang fondasi bagi realitas berindonesia dan karena itu katong musti berani bilang buat Indonesia: Jangan khianati perjanjian kita atau lebih baik kita bubar berindonesia! Ketika Indonesia hanya didefinisikan demi kepentingan kelompok yang rasa diri mayoritas, tetapi bukan demi kemanusiaan rakyatnya sendiri.
Mena Muria!

Sampah Ambon