Minggu, 25 Mei 2008

PANDUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MORAL

Dalam kehidupan kita, kadang sangat sulit untuk melakukan pengambilan keputusan. Hal itu disebabkan karena beberapa faktor antara lain banyaknya pilihan yang tersedia, kepentingan-kepentingan di balik keputusan itu, orang-orang yang terlibat, turut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan kita, dll.


Keputusan-keputusan yang dibuat pun banyak yang berhubungan dengan moral sehingga dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan etika tentang bagaimana seharusnya kita berkata dan bertindak dalam menyelesaikan suatu masalah. Banyak tulisan dari para ahli Etika yang dapat dijadikan pegangan dan saya mencoba untuk merangkumnya dalam tulisan ini. Yang harus kita ingat adalah bahwa panduan-panduan yang ditulis oleh seorang yang sangat ahli sekalipun hanyalah merupakan bantuan dan bukan suatu formula yang paten dan harus dipegang secara ketat oleh setiap orang dalam rangka pengambilan keputusan moral. Latar belakang konteks pengambilan keputusan moral kita sangat mempengaruhi. Yang penting adalah bagaimana kita melakukan improvisasi-improvisasi yang dibutuhkan tanpa melupakan bahwa keputusan yang kita ambil adalah suatu keputusan moral (sama seperti penyanyi yang melakukan improvisasi sana sini tanpa harus menghilangkan keaslian dari lagu yang dinyanyikannya)
Ada beberapa langkah yang dapat membantu guna pengambilan keputusan moral kita, yaitu:
A. Mengenali dengan mendalam dimensi-dimensi moral: Maksud dari hal ini adalah bagaimana kita berupaya untuk memahami bahwa keputusan yang kita buat itu memiliki implikasi moral. Implikasi moral yang dimaksud di sini adalah akan begitu banyak nilai atau hal-hal yang ideal secara moral dipertaruhkan (mungkin saja terjadi konflik nilai dalam situasi yang kita hadapi).
B. Mengenali pihak-pihak yang berkepentingan dan bagaimana hubungan-hubungan yang terjalin dalam situasi yang dihadapi: Maksud dari hal ini adalah bagaimana kita berupaya untuk secara hati-hati mengidentifikasi siapa saja yang berkepentingan dalam situasi dan kondisi yang terjadi dan dalam keputusan yang akan kita buat. Setelah melakukan identifikasi itu, maka kita harus melihat hubungan yang terjalin antara pihak-pihak tersebut, bagaimana hubungan yang terbangun antara pihak-pihak itu dengan kita selaku pengambil keputusan, dan bagaimana hubungan yang terbangun antara pihak-pihak itu dengan institusi-institusi yang relevan dalam kaitan dengan masalah kita? Hal penting yang patut mendapat perhatian adalah apakah hubungan-hubungan itu memunculkan kewajiban-kewajiban atau harapan-harapan khusus?
C. Mengidentifikasi nilai-nilai yang muncul dalam masalah itu: Maksud dari hal ini adalah upaya kita untuk memikirkan dengan baik, jelas dan hati-hati tentang nilai-nilai yang dapat membantu kita mengambil keputusan. Apakah di sana ada pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran? Apakah otonomi personal juga menjadi perhatian? Apakah di sana ada pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan? Apakah ada seseorang yang disakiti atau ditolong dengan keputusan kita? dan nilai-nilai lain yang berhubungan dengan moralitas.
D. Mempertimbangkan keuntungan dan kerugian: Keuntungan sebagaimana yang selalu didefinisikan merupakan sesuatu yang menghasilkan kebaikan-kebaikan (sedara fisik, emosional, keuangan, sosial, dll) bagi beberapa pihak, kepuasan akan pilihan, dan tindakan yang dilakukan dalam hubungan dengan nilai-nilai yang relevan (seperti keadilan, kesejajaran, dll). Kerugian mungkin termasuk sesuatu yang menyakitkan secara fisik maupun emosional bagi beberapa pihak, mengakibatkan beban yang berlebihan dari sisi keuangan dan pengabaian terhadap nilai-nilai yang relevan.
E. Memperhatikan kasus-kasus yang mirip: Dengan memperhatikan dan mempelajari kasus-kasus yang mirip, kita dapat memikirkan keptusan-keputusan dalam penyelesaian kasus itu, tindakan-tindakan apa yang diambil, apa keputusan terbaik untuk penyelesaiannya, bagaimana kemiripan kasus/masalah yang diperhadapkan kepada kita dengan kasus-kasus itu, bagaimana perbedaannya?
F. Berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap relevan dan tepat: Makna dari diskusi dengan orang lain bukanlah suatu upaya meremehkan diri sendiri. Dengan mendiskusikan masalah yang kita hadapi dengan orang-orang yang tepat, kita dapat menimba saran dan pengalaman. Kita dapat memperhadapkan mereka dengan pilihan-pilihan keputusan kita dan mendiskusikan alasan-alasan di balik tiap pilihan itu. Tetapi hal yang patut diingat bahwa kemampuan kita untuk berdiskusi dengan orang lain jangan sampai menghilangkan rasa percaya diri sendiri untuk menghadapi masalah.
G. Apakah keputusan yang dibuat sesuai dengan aturan hukum dan aturan-aturan organisasi atau kelembagaan dimana kita ada di dalamnya?: Beberapa keputusan dibuat berdasarkan aturan-aturan hukum. Jika salah satu pilihan keputusan kita adalah tidak legal secara hukum, maka perlu dipikirkan kembali secara serius pilihan itu sebelum menjadikannya suatu pilihan keputusan.
Keputusan-keputusan kita juga dapat dipengaruhi oleh aturan-aturan dari suatu lembaga atau organisasi di mana kita ada di dalamnya. Misalnya suatu organisasi yang memiliki kode etik tertentu yang mengikat para anggotanya dalam melakukan pengambilan keputusan etis secara pribadi (organisasi kedokteran, jurnalistik, wartawan, dll). Kode etik itu merupakan kebijakan organisasi-organisasi tersebut untuk memberikan batasan kepada pilihan-pilihan keputusan yang dapat kita ambil.
Kadangkalah ada aturan-aturan hukum yang buruk, bahkan dapat dimentahkan. Tetapi dalam pengambilan keputusan moral, kita dituntut untuk selalu memperhatikan pada hukum dan aturan yang berlaku.
H. Apakah saya merasa yakin dan senang dengan keputusan yang diambil?: Kadangkala dalam pengambilan keputusan, ada reaksi-reaksi tertentu yang daripadanya kita dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang dilewatkan. Dalam hubungan dengan itu, bila kita mulai ragu-ragu dengan keputusan yang telah diambil, mungkin pertanyaan-pertanyaan panduan di bawah ini dapat membantuk kita untuk lebih meyakinkan kita bahwa keputusan itu memang demikian adanya, yaitu:
Jika kita melaksanakan keputusan ini, apakah kita akan senang menceritakannya kepada keluarga, teman, guru, pendeta tentang itu?
Apakah saya menghendaki adik atau anak saya meneladani saya dalam hal pengambilan keputusan ini?
Apakah keputusan ini cukup bijak, dapat diketahui oleh siapa saja?
Dapatkah saya hidup dengan keputusan ini?



Tidak ada komentar:

Sampah Ambon