Senin, 09 Juni 2008

MENGAPA ORANG SELALU BERBICARA BERTELE-TELE? KATA-KATA TIDAK PERNAH CUKUP

Saya pernah menulis bahwa cukup dengan kata-kata kita dapat membuat orang lain mengerti dan memahami apa yang kita maksudkan. Tetapi ternyata tulisan saya itu adalah sesuatu yang keliru karena saya baru menyadari bahwa kata-kata tidak pernah cukup untuk menerangkan apa yang kita maksudkan. Itulah sebabnya mengapa kalau orang berbicara untuk menjelaskan sesuatu, sering bertele-tele, mencoba menemukan banyak anonym, perumpamaan dan lainnya agar orang lain turut terlibat dalam pemahaman itu.




Kata-kata yang kita ucapkan ternyata bukanlah apa-apa, hanya tanda-tanda yang datang ke pikiran kita, tanda-tanda yang tak pernah mencakup dan melingkupi segala sesuatu yang ingin atau harus kita katakana jika kita ingin dipahami dengan benar (Jean Grondin, 2007: 40). Inilah yang dikatakan Gadamer sebagai dimensi spekulatif bahasa. Spekulatif berasal dari bahasa latin speculum yang berarti “cermin”, artinya pernyataan-pernyataan kita selalu merupakan pencerminan suatu makna yang tak pernah diucapkan seutuhnya. Pemahaman yang benar terhadap penyataan-pernyataan itu harus melangkah ke balik kata-kata yang terucap ini untuk mencapai motif-motif pendorong yang tak terkatakan (Grondin: 36).
Saya kemudian mencoba untuk menemukan hubungan dengan bagaimana seorang peneliti kualitatif bertindak sebagai instrumen utama untuk mendapatkan data berupa wawancara. Wawancara yang dilakukan terutama bukan untuk mendapatkan data yang muncul di permukaan tetapi lebih dari itu, seharusnya untuk menemukan motif-motif tersembunyi dari pernyataan-pernyataan sumber data. Mesin, komputer yang canggih sekalipun tidak mampu melakukan tugas-tugas hermeneutis seperti itu.
Studi-studi yang dilakukan atas karya-karya Gadamer menunjukkan bahwa Gadamer mengungkpakan elemen spekulatif bahasa ini dengan fakta bahwa kata-kata kita mengacu pada dimensi hermeneutis dari yang tak terkatakan yang menuntut untuk kita pahami, dengan apa yang dia sebut dengan logika “tanya jawab”. Suatu ucapan atau suatu kalimat hanya bisa dipahami dengan tepat jika seseorang mencoba memahami pertanyaan yang ingin dijawab oleh kalimat tersebut. Artinya, seseorang harus masuk ke dalam dan melewati proposisi tersebut untuk memahaminya, melibatkan diri ke dalam dialog tempat “munculnya” pernyataan itu dan juga dalam pengertian harfiah dari kata yang muncul tersebut (Grondin: 38).
Masalah kemudian muncul ketika kata-kata itu muncul dalam bentuk tulisan, di mana penulis kata-kata itu tidak ada untuk dimintai penjelasan tentang motif-motif pendorong ia menuliskan kata-kata itu. Bila demikian adanya, kata-kata tertulis dapat saja diberikan pemaknaan-pemaknaan yang berbeda-beda. Ketakutan terbesar Plato misalnya adalah kemungkinan penyalahgunaan bahasa. Kata-kata baik lisan atau tulisan semestinya hanya digunakan sebagai sarana untuk mengingat kembali (rememoration) kebenaran-kebenaran yang ingin diekspresikan. Yang harus dipahami bukanlah kata-kata yang terucapkan atau tertuliskan tetapi seluruh pemaknaan yang bisa tersampaikan kepada telinga yang mampu mendengar, pikiran yang mampu mengolah dan hati yang mampu memahami. Dalam hal ini, kita dituntun untuk masuk dalam inti dialektika Plato, bahwa bahasa tidak pernah cukup-diri dalam dirinya sendiri. Untuk memahami sebuah ucapan, kita harus selalu bertanya kepada diri kita sendiri: ucapan itu ingin menjawab pertanyaan atau pancingan apa dan bagaimana? Apakah pernyataan itu ironis? Untuk siapa ucapan itu dialamatkan? Tanpa menjelaskan konteks-konteks motivasional semacam ini, yang membuat pemahaman tulisan lebih sulit dan beresiko daripada kata yang terucap (Grondin: 66).
Persoalan kemudian muncul lagi terkait dengan hal “Pemahaman”. Apa itu pemahaman, bagaimana memahami sesuatu? Hampir semua orang beranggapan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “memahami” itu adalah ketika sudah menguasai dan mendominasi suatu atau beberapa hal sampai pada taraf-taraf tertentu. Tetapi bagi hermenutika, kita baru dikatakan sudah memahami sejauh kita berniat terlibat di dalam dialog yang dibukakan oleh apa yang dikatakan dan berusaha menyusuri apa yang tidak dikatakan yang amat esensial bagi pemahaman. Pemahaman bukan berarti penguasaan atas suatu atau beberapa hal, aka tetapi sebuah partisipasi dan keterlibatan dalam makna yang diakui bersama.

Jean Grondin (terj.Inyiak Ridwan Muzir), Sejarah Hermeneutik Dari Plato Sampai Gadamer, Yogyakarta AR-RUZZ MEDIA, 2007



Tidak ada komentar: