Selasa, 02 Desember 2008

Jiwa Kewirausahaan Orang Ambon.

Adakah orang Ambon yang lupa akan syair lagu ini, "Biar susah tapi ta'u s'nang sa"? Atau ada juga syair lagu: "biar tidor di tapalang, tinggal di paparisa, asal hidup saling baku sayang". Saya kira tak seorang pun di Ambon yang tidak tahu akan syair-syair lagu itu.
Mengawali tulisan ini, saya mencoba untuk memperlihatkan bahwa mental Orang Ambon ternyata bukan mental berwirausaha, tapi mental "s'nang saja". Pasti ada yang marah dan bertanya, "eh bung, apa buktinya perkataan bung itu?" Mau bukti? Jelas bahwa yang menguasai sektor perekonomian baik riil maupun investasi, skala kecil, menengah, besar di Ambon, bukanlah orang Ambon. Banyak orang Bugis, Makasar, Buton, Jawa, China, Arab, dll yang menguasai sektor perekonomian dan menyisahkan orang Ambon sebagai pembeli atau customer.
Saya kuliah S1 mulai tahun 1996. Salah satu matakuliah yang diajarkan pada semester I itu adalah "Kewirausahaan". Sampai tahun 2008 ini baru saya dapat dengan tegas menyatakan bahwa matakuliah Kewirausahaan yang disajikan itu tidak mampu memenuhi harapannya sendiri. Artinya, kewirausahaan itu bukanlah sekedar teoretik di kelas, tetapi praktek di lapangan.
Coba kita hitung saja berapa banyak orang Ambon yang memiliki usaha skala menengah ke atas di Ambon yang benar-benar milik sendiri dan bukan warisan. Mungkin cuma 1% yang memiliki usaha sendiri dan diusahakan dengan keringat dan kegagalan demi kegagalan yang akhirnya melahirkan keberhasilan. Berapa banyak mantan mahasiswa yang baru lulus mahasiswanya di Ambon menjadi pengusaha? Hampir tidak ada. Dengan demikian, matakuliah kewirausahaan tidak ada manfaatnya di Ambon. 'gak mempan untuk menempa orang muda Ambon menjadi wirausaha.
Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini saya harus terus terang. Menurut saya, orang Ambon ternyata kurang atau bahkan tidak memiliki impian yang dapat membimbing kita menuju kepada impiannya itu. Umumnya orang Ambon hanya memiliki "keinginan" tetapi tidak punya "impian". Apa perbedaan "Keinginan" dengan "Impian"? Banyak orang yang akan mengatakan bahwa yang namanya Keinginan itu tidak ada bedanya dengan Impian. Keinginan = Impian. Tidak salah pemahaman seperti itu, tetapi menurut saya, pemahaman itu adalah keliru. Keinginan tentu saja sangat berbeda dengan apa yang namanya Impian. Keinginan adalah semacam dorongan untuk memperoleh sesuatu, tetapi itu hanyalah dorongan saja. Impian itu lebih dari sekedar dorongan, tetapi dorongan yang lahir dari hati, yang ketika kita tidak mewujudkannya maka kita seolah-olah menjadi orang yang tidak berarti. Impianlah yang membimbing pikiran dan berujung pada tindakan. Impian yang besar tidak akan kalah hanya oleh kegagalan demi kegagalan karena pada dasarnya hidup manusia ini adalah kegagalan. Banyak hal yang dilakukan dan itu gagal. Bagaimana mengubah kegagalan menjadi keberhasilan? Butuh komitmen. Komitmen terhadap impian-impian itu. Komitmen untuk kerja keras mewujudkan impian itu. Banyak orang Ambon takut punya impian karena ragu-ragu untuk punya impian.
Jadi, intinya adalah "Punya Impian".... Heheheheee... Di Ambon, bagaimana mau punya impian kalau tiap hari hidup di tengah-tengah alam yang sudah memanjakan. Bagaimana mau punya impian kalau hidup pas-pasan dianggap sudah nyaman. Keinginan besar, tapi tidak punya impian... gimana mau berwirausaha?
Saya mencatat beberapa teman saya menulis tentang etika protestantisme, salah satunya adalah kerja keras. Ada yang bilang, kita sudah kerja keras, bangun pagi kerja sampai malam. Itu memang kerja dan tidak ada orang Ambon yang malas. Semua orang Ambon itu rajin kerja, malahan pekerja keras. Tetapi kerja asal kerja dan bukan kerja untuk impian.
Orang Ambon yang berhasil itu adalah mereka yang telah punya impian dan itulah yang membimbing tindakan-tindakan mereka. Kalau cuma mau jadi PNS, Caleg, TNI-Polri, ya itu bukan namanya berwirausaha lah.
Mendingan matakuliah kewirausahaan itu dihapuskan dan diganti dengan hal yang lebih mantap.
SO, buktikanlah diri kita, bahwa kita, Orang Ambon juga punya impian besar, sebesar impian itu sendiri. Ambisius itu perlu, diiringi kerendahan hati sambil terus berbagi.

Berlanjut lagi




1 komentar:

Steve Gaspersz mengatakan...

Tulisan yang menarik dan menantang, dan... masih berlanjut! Memang proses menerawang karakter ekonomi orang Ambon harus ditarik mundur jauh ke masa lalu. Tentu kita maklum bahwa "kesadaran" sangat ditentukan oleh situasi sosial (rada Marxis neh...). Dan situasi sosial itu bukanlah sesuatu yang bebas-nilai, melainkan hasil konstruksi kelompok dominan yang menjadi hegemoni. Dalam situasi sosial yang hegemonik itu kelompok dominan dan kelompok subordinasi saling menegosiasikan "ideologi"-nya masing-masing.
Toh, kelompok subordinasi tetap harus terbelenggu dalam ideologi hegemonik kelompok dominan. Jika merunut sampai pada titik sebelum penjajahan orang Maluku sudah terlibat dalam aktivitas ekonomi "global" (karya Anthony Reid setidaknya mengindikasikan hal itu). Namun dinamika kebudayaan ekonomi itu terdistoris secara akut pada saat sekelompok pedagang Barat hendak memonopoli tindak kebudayaan tersebut.
Monopoli adalah wacana hegemoni. Maka tak bisa dimungkiri bahwa kekuatan hegemoni ini mesti menciptakan ideologi yang berguna untuk mengamankan hegemoninya. Lantas dikonstruksikanlah suatu mitos "orang Ambon dimanjakan oleh alam"; "biar susah tapi tau snang sa" dsb.
Patahnya kekuatan kolonial bukan berarti ideologi hegemoni turut luluh. Justru ideologi hegemoni ini dilanggengkan oleh kelompok dominan selanjutnya (orde baru). Untuk apa? Lagi2 untuk kepentingan ekonomi "negara". Hampir seluruh kajian sosio-ekonomi pada masa orba membaca realitas ekonomi rakyat sebatas penyangga ekonomi negara (bukan sebaliknya). Rakyat dilumpuhkan secara sistematis sehingga tidak terlalu mengusik ekonomi negara (baca: pembangunan nasional) yang tentu saja pada saat itu membutuhkan berlimpah sumber daya alam yang harus dieksploitasi. (Adakah bedanya dengan eksploitasi ala "hongi tochten" pada masa kolonial?).
Tetapi tulisan bung Jus ini makin menyadarkan kita bahwa persoalan "kerja keras" dan "keberhasilan [ekonomi?]" bukanlah sekadar perkara "time is money". Bukankah dalam cultural studies kita juga sadar bahwa "uang" (jika itu hendak dipakai sebagai parameter sukses) juga sudah luntur denotasinya oleh beraneka konotasi; kendati konotasi itu sendiri pada gilirannya menjadi mitos yang dianggap "benar adanya" (atau kembali menjadi denotasi-tahap-kedua)?
Sekadar berbagi bung... "sagu salempeng dipata dua" - apakah itu juga tanda lumpuhnya kewirausahaan yang lebih mementingkan "saving money" daripada "sharing money"? hahaha... danke lai

Sampah Ambon