Minggu, 27 Juni 2010

Perdebatan Kreasionisme dan Evolusionisme yang tak kunjung selesai

Dalam salah satu milis yang saya ikuti, ada undangan seminar tentang Iman dan Ilmu yang akan diselenggarakan oleh Perkantas pada 24 Juli 2010 dengan topik "Menyingkap Kebenaran di Balik Teori Evolusi".

Berbicara tentang Iman dan Ilmu memang tidak akan pernah ada habisnya. Kedua hal itu adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan kritis, jawaban tentang perbedaan di antara keduanya akan dengan segera dimunculkan, tetapi persamaannya cukup sulit dikemukakan. Sampai saat ini para pemikir masih mencari-cari, sintesis yang tepat untuk keduanya.

Darimana masalah ini berawal? Mungkin ada banyak jawaban untuk itu, tetapi saya mencoba melihatnya dari kacamata kosmologis. Ada hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa sejak para filsuf berhasil melakukan "demitologisasi" tentang keberadaan kosmos, maka persoalan yang panjang dan berbelit-belit pun muncul. Persoalan itu adalah tentang masa-masa awal dan masa-masa akhir kosmos. Pertanyaan yang dapat dibangun dari persoalan itu adalah "Apakah alam semesta ini memiliki permulaan? Apakah alam semesta ini memiliki titik akhir?". Ada banyak pemikir yang mengajukan hipotesis untuk membuktikan bahwa alam semesta memiliki titik awal dan titik akhir, tetapi tidak sedikit pemikir yang mengajukan hipotesis bahwa alam semesta tidak memiliki titik awal dan titik akhir.

Sebut saja Parmenides yang meletakkan ajaran bahwa alam semesta tidak memiliki awal dan akhir dengan asumsi bahwa yang-tetap adalah yang-ada, tanpa perubahan.
Aristoteles menyatakan bahwa kosmos adalah kekal adanya. Dengan asumsi bahwa waktu adalah perubahan dan hakikat perubahan adalah selalu harus ada perubahan dan waktu yang lebih dahulu lagi.
Spinoza mengidentikkan alam dengan Tuhan. Tuhan bukan pencipta alam, tetapi Tuhan adalah alam itu sendiri. Ada aspek "natura naturans" (alam yang menciptakan) dan ada aspek "natura naturata" (alam yang diciptakan). Oleh karena identik dengan Tuhan, maka alam adalah kekal, tidak berawal dan tidak berakhir.
Kant berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan kalau alam itu memiliki awal dan memiliki akhir. Semua jawaban yang diberikan terhadap persoalan itu hanya akan tiba pada "antinomi". Hal itu disebabkan karena ruang dan waktu bukanlah realitas tetapi hanya sebagai jendela pengamatan, apakah impresi yang diperoleh tentang suatu objek itu adalah fenomena (gejala-gejala) atau nomena (ada yang sebenarnya).
Whitehead muncul dengan pemikiran bahwa alam semesta memiliki saat awal dan saat akhir. Hanya Tuhan saja sebagai entitas abadi yang tidak memiliki awal dan akhir. Semua di luar entitas abadi itu selalu dalam proses menjadi. Proses itu membutuhkan sumber kreatifitas sebagai elemen formatif, yaitu Tuhan. Pandangan ini menjadi Panenteisme (semua serba di dalam Tuhan), dibedakan dari Panteisme (semua serba Tuhan).

Hipotesis tentang awal dan akhir kosmos [Saya memilih menggunakan istilah hipotesis karena istilah teori di sini pun menjadi persoalan terkait dengan sifatnya yang harus dapat diverifikasi => positivis logis dan/atau difalsifikasi => Popper. Bukankah kemungkinan jawaban terhadap persoalan itu belum dapat diverifikasi dan/atau difalsifikasi? Oleh karena itu, alangkah baiknya menggunakan istilah "hipotesis" saja?]
1. Hipotesis dari para penganut tradisi keagamaan [khususnya monoteisme] yang meyakini bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan kurang lebih 4000 tahun SM. Perhitungan itu dilakukan oleh seorang pendeta bernama Ussher (abad XVII) yang menghitung dan menjumlahkan umur para tokoh di dalam "Perjanjian Lama". Alam semesta akan berakhir pada masa yang disebut dengan kiamat.
2. Hipotesis yang diberikan oleh para pemikir revolusioner yang didasarkan pada ilmu-ilmu modern seperti astronomi, matematika, fisika kuantum (fisika partikel) dan astrofisika.

Ketika ada penerimaan bahwa kosmos memiliki saat awal dan saat akhir, maka persoalan-persoalan baru akan muncul, yaitu:
1. Kalau kosmos memiliki saat awal dan saat akhir, bagaimana kosmos mengalami dinamika (dengan keyakinan bahwa kosmos memang mengalami perubahan)?
2. Kalau kosmos mengalami dinamika, apa yang menjadi penggerak dinamika itu?
3. Kalau penggerak dinamika itu ada, apakah berasal dari dalam atau luar kosmos?
4. Apakah dinamika kosmos itu bertujuan atau tidak bertujuan?

Hipoptesis yang tersedia sampai saat ini dalam menjawa keempat persoalan di atas adalah Evolusi (evolusionisme) dan Penciptaan (Kreasionisme). Sampai saat ini, masih belum ada upaya yang berhasil mensintesiskan kedua hipotesis ini.

Menariknya adalah bahwa sebelum hitotesis evolusi dikemukakan, persoalan-persoalan dinamika kosmos di atas telah coba dijawab oleh para leluhur kita lewat mitos-mitos penciptaan yang menjadi cerita dalam tradisi budaya masing-masing. Tentu saja dalam kacamata kosmologi, itu adalah bentuk dari kosmologi spekulatif.

Dalam pendekatan Collingwood, ini adalah sejarah pemikiran yang tidak akan pernah berakhir. Perdebatan itu bukanlah tentang mana yang benar ("true") dan mana yang tidak benar ("untrue"), tetapi lebih merupakan bentuk dari pencarian kebenaran ("Right"). Menurutnya, ketika menggunakan istilah "true" untuk kebenaran, maka pencarian terhadapnya akan dihentikan karena dianggap sudah final. Sebaiknya menggunakan kata "right" karena masih ada keterbukaan untuk diskursus lebih lanjut dalam pendekatan sains. Walaupun pendapatnya itu dalam hubungan antara sains dan sejarah, tetapi bagi saya, cukup relevan untuk membicarakan hubungan antara sains dan agama juga. Oleh karena itu, mari kita terlibat dalam perdebatan2 ini tanpa tendensi untuk mencari finalitas kebenaran. Kalaupun ada jalan tengah yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia (untuk menjembatani hipotesis Evolusi dan Kreasi), maka itu adalah bentuk dari keterbukaan dalam upaya pencarian kebenaran. Jalan tengah itu pun belum tentu menjadi kebenaran final dari perdebatan selama ini terkait persoalan-persoalan di atas.

So, let's do it.


(Catatan ini sebagian besar bersumber pada buku "Orientasi Kosmologi" karangan Dr. Joko Siswanto).

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Seluruh yang fisik-material yang terbukti secara empirik pada berbagai tingkatan (mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks ) membutuhkan yang abstrak untuk menerangkannya,dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu tanpa penafsiran atau deskripsi yang bersifat abstrak.kita ambil beberapa contoh sebagai berikut :
- bila kita melihat sebuah jam tangan dengan mekanisme yang tertata didalamnya sehingga jam itu memiliki fungsi maka jam itu tidak dengan sendirinya menerangkan dirinya sendiri,sehingga fikiran kita (yang abstrak) yang menerangkan jam itu sebagai benda yang berasal dari desainer (dan pengertian ‘desainer’ itu adalah bersifat abstrak).jadi untuk memahami jam sebagai sebuah ilmu maka kita harus menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat abstrak.
- bila kita melihat makanan dan lalu memakannya maka bukan makanan itu yang secara sengaja masuk ke perut kita tapi yang abstrak (rasa lapar) yang membuat makanan itu bisa kita masuk ke perut kita.
- Pada tahap yang lebih kompleks bila kita melihat tatanan alam semesta (yang terlihat mata) maka fikiran kita memastikan bahwa itu pasti berasal dari adanya desainer.dan penafsiran kearah adanya desainer itu adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab deskripsi tentang desainer alam semesta tidak mengarah ke suatu yang bersifat fisik.begitu pula bila seorang mengatakan bahwa ketertataan itu berasal dari kebetulan maka itu pun adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab kata ‘kebetulan’ itu tidak menunjukkan kepada suatu yang bersifat fisik.
Jadi seluruh yang fisik-material membutuhkan yang abstrak untuk difahami sebagai suatu kesatuan ilmu atau suatu kesatuan pengertian atau suatu kesatuan pernyataan (terlepas dari apakah kemudian pernyataan itu terbukti benar atau salah.
Sekarang coba fikirkan atheis-materialist ilmiah selalu menganggap tafsir adanya desainer sebagai bukan suatu yang ilmiah (sehingga seluruh yang fisik seolah tidak memiliki makna apa pun selain kumpulan materi belaka ?).tapi anehnya mereka pun menafsirkan yang material itu dengan suatu kata yang bersifat abstrak yaitu kata ‘kebetulan’.(kata ‘desainer’ dan kata ‘kebetulan sama sama bersifat abstrak).
Tapi mengapa bila deskripsi tentang ‘adanya desainer’ dianggap tidak ilmiah atau dianggap keluar dari wilayah ilmu karena dianggap memasuki wilayah abstrak tapi deskripsi tentang ‘kebetulan’ dianggap sebagai sesuatu yang ilmiah (?)
Jadi atheis-materialist terlalu fobia dengan kata ‘abstrak’ sebab mereka hanya ingin realitas difahami sebagai kumpulan materi dan materi semata,tapi tanpa sadar mereka pun memerlukan yang abstrak untuk mengemukakan atau mendeskripsikan kacamata sudut pandang atau ideology mereka.mereka tidak sadar bahwa seluruh yang nampak mata,yang fisik,yang material hanya bisa difahami bila diterangkan oleh yang abstrak kearah pengertian yang juga bersifat abstrak,dan yang material itu tak akan pernah bisa difahami tanpa ada yang abstrak.persis sama dengan seluruh gerak fisik manusia itu tidak akan pernah dapat difahami oleh ahli jiwa manapun kecuali kita memahami jiwanya atau fikirannya atau perasaannya atau maksud tujuannya.
Kata ‘Ilmu’ atau ‘ilmiah’ hanya bisa difahami makna nya hanya kalau kita menyertakan atau melekatkan pengertian yang bersifat abstrak,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit.

Anonim mengatakan...

Seluruh yang fisik-material yang terbukti secara empirik pada berbagai tingkatan (mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks ) membutuhkan yang abstrak untuk menerangkannya,dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu tanpa penafsiran atau deskripsi yang bersifat abstrak.kita ambil beberapa contoh sebagai berikut :
- bila kita melihat sebuah jam tangan dengan mekanisme yang tertata didalamnya sehingga jam itu memiliki fungsi maka jam itu tidak dengan sendirinya menerangkan dirinya sendiri,sehingga fikiran kita (yang abstrak) yang menerangkan jam itu sebagai benda yang berasal dari desainer (dan pengertian ‘desainer’ itu adalah bersifat abstrak).jadi untuk memahami jam sebagai sebuah ilmu maka kita harus menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat abstrak.
- bila kita melihat makanan dan lalu memakannya maka bukan makanan itu yang secara sengaja masuk ke perut kita tapi yang abstrak (rasa lapar) yang membuat makanan itu bisa kita masuk ke perut kita.
- Pada tahap yang lebih kompleks bila kita melihat tatanan alam semesta (yang terlihat mata) maka fikiran kita memastikan bahwa itu pasti berasal dari adanya desainer.dan penafsiran kearah adanya desainer itu adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab deskripsi tentang desainer alam semesta tidak mengarah ke suatu yang bersifat fisik.begitu pula bila seorang mengatakan bahwa ketertataan itu berasal dari kebetulan maka itu pun adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab kata ‘kebetulan’ itu tidak menunjukkan kepada suatu yang bersifat fisik.
Jadi seluruh yang fisik-material membutuhkan yang abstrak untuk difahami sebagai suatu kesatuan ilmu atau suatu kesatuan pengertian atau suatu kesatuan pernyataan (terlepas dari apakah kemudian pernyataan itu terbukti benar atau salah.
Sekarang coba fikirkan atheis-materialist ilmiah selalu menganggap tafsir adanya desainer sebagai bukan suatu yang ilmiah (sehingga seluruh yang fisik seolah tidak memiliki makna apa pun selain kumpulan materi belaka ?).tapi anehnya mereka pun menafsirkan yang material itu dengan suatu kata yang bersifat abstrak yaitu kata ‘kebetulan’.(kata ‘desainer’ dan kata ‘kebetulan sama sama bersifat abstrak).
Tapi mengapa bila deskripsi tentang ‘adanya desainer’ dianggap tidak ilmiah atau dianggap keluar dari wilayah ilmu karena dianggap memasuki wilayah abstrak tapi deskripsi tentang ‘kebetulan’ dianggap sebagai sesuatu yang ilmiah (?)
Jadi atheis-materialist terlalu fobia dengan kata ‘abstrak’ sebab mereka hanya ingin realitas difahami sebagai kumpulan materi dan materi semata,tapi tanpa sadar mereka pun memerlukan yang abstrak untuk mengemukakan atau mendeskripsikan kacamata sudut pandang atau ideology mereka.mereka tidak sadar bahwa seluruh yang nampak mata,yang fisik,yang material hanya bisa difahami bila diterangkan oleh yang abstrak kearah pengertian yang juga bersifat abstrak,dan yang material itu tak akan pernah bisa difahami tanpa ada yang abstrak.persis sama dengan seluruh gerak fisik manusia itu tidak akan pernah dapat difahami oleh ahli jiwa manapun kecuali kita memahami jiwanya atau fikirannya atau perasaannya atau maksud tujuannya.
Kata ‘Ilmu’ atau ‘ilmiah’ hanya bisa difahami makna nya hanya kalau kita menyertakan atau melekatkan pengertian yang bersifat abstrak,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit.

Anonim mengatakan...

Seluruh yang fisik-material yang terbukti secara empirik pada berbagai tingkatan (mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks ) membutuhkan yang abstrak untuk menerangkannya,dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu tanpa penafsiran atau deskripsi yang bersifat abstrak.kita ambil beberapa contoh sebagai berikut :
- bila kita melihat sebuah jam tangan dengan mekanisme yang tertata didalamnya sehingga jam itu memiliki fungsi maka jam itu tidak dengan sendirinya menerangkan dirinya sendiri,sehingga fikiran kita (yang abstrak) yang menerangkan jam itu sebagai benda yang berasal dari desainer (dan pengertian ‘desainer’ itu adalah bersifat abstrak).jadi untuk memahami jam sebagai sebuah ilmu maka kita harus menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat abstrak.
- bila kita melihat makanan dan lalu memakannya maka bukan makanan itu yang secara sengaja masuk ke perut kita tapi yang abstrak (rasa lapar) yang membuat makanan itu bisa kita masuk ke perut kita.
- Pada tahap yang lebih kompleks bila kita melihat tatanan alam semesta (yang terlihat mata) maka fikiran kita memastikan bahwa itu pasti berasal dari adanya desainer.dan penafsiran kearah adanya desainer itu adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab deskripsi tentang desainer alam semesta tidak mengarah ke suatu yang bersifat fisik.begitu pula bila seorang mengatakan bahwa ketertataan itu berasal dari kebetulan maka itu pun adalah tafsir yang bersifat abstrak,sebab kata ‘kebetulan’ itu tidak menunjukkan kepada suatu yang bersifat fisik.
Jadi seluruh yang fisik-material membutuhkan yang abstrak untuk difahami sebagai suatu kesatuan ilmu atau suatu kesatuan pengertian atau suatu kesatuan pernyataan (terlepas dari apakah kemudian pernyataan itu terbukti benar atau salah.
Sekarang coba fikirkan atheis-materialist ilmiah selalu menganggap tafsir adanya desainer sebagai bukan suatu yang ilmiah (sehingga seluruh yang fisik seolah tidak memiliki makna apa pun selain kumpulan materi belaka ?).tapi anehnya mereka pun menafsirkan yang material itu dengan suatu kata yang bersifat abstrak yaitu kata ‘kebetulan’.(kata ‘desainer’ dan kata ‘kebetulan sama sama bersifat abstrak).
Tapi mengapa bila deskripsi tentang ‘adanya desainer’ dianggap tidak ilmiah atau dianggap keluar dari wilayah ilmu karena dianggap memasuki wilayah abstrak tapi deskripsi tentang ‘kebetulan’ dianggap sebagai sesuatu yang ilmiah (?)
Jadi atheis-materialist terlalu fobia dengan kata ‘abstrak’ sebab mereka hanya ingin realitas difahami sebagai kumpulan materi dan materi semata,tapi tanpa sadar mereka pun memerlukan yang abstrak untuk mengemukakan atau mendeskripsikan kacamata sudut pandang atau ideology mereka.mereka tidak sadar bahwa seluruh yang nampak mata,yang fisik,yang material hanya bisa difahami bila diterangkan oleh yang abstrak kearah pengertian yang juga bersifat abstrak,dan yang material itu tak akan pernah bisa difahami tanpa ada yang abstrak.persis sama dengan seluruh gerak fisik manusia itu tidak akan pernah dapat difahami oleh ahli jiwa manapun kecuali kita memahami jiwanya atau fikirannya atau perasaannya atau maksud tujuannya.
Kata ‘Ilmu’ atau ‘ilmiah’ hanya bisa difahami makna nya hanya kalau kita menyertakan atau melekatkan pengertian yang bersifat abstrak,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit.