Minggu, 27 Juni 2010

What The World Needs Now Is Love

Ada lagu yang tak pernah bosan kudengar.

Judulnya "What The World Needs Now Is Love"
Liriknya seperti di bahwa ini:

What the world needs now is love, sweet love
It's the only thing that there's just too little of
What the world needs now is love, sweet love
No not just for some but for everyone.

Lord, we don't need another mountain
There are mountains and hillsides enough to climb

There are oceans and rivers enough to cross
Enough to last till the end of time.
What the world needs now is love, sweet love
It's the only thing that there's just too little of.

What the world needs now is love, sweet love
No, not just for some but for everyone.

Lord, we don't need another meadow
There are cornfields and wheat fields enough to grow
There are sunbeams and moonbeams enough to shine
Oh listen, lord, if you want to know.

What the world needs now is love, sweet love
It's the only thing that there's just too little of.

What the world needs now is love, sweet love
No, not just for some, oh, but just for everyone.


Semua orang beranggapan sudah memiliki cinta, tetapi dunia seolah kehilangan cinta.
Pernah suatu waktu saya ditanya tentang Tuhan (pengertian saya). Jawaban terhadapnya adalah refleksi panjang kehidupan sejak kecil (sejak bisa dengar kata "Tuhan", melek huruf dan membaca T - U - H - A - N). Dalam keluarga yang cukup ketat dengan tradisi Kristen di Maluku (sondag skul adalah kewajiban) pengenalan saya tentang Tuhan dimulai. Bertambah umur, bertambah pula didikan dengan ajaran2 Kristen. Doa Bapa Kami, Sepuluh Firman, Tujuh Perkataan, Pengakuan Iman Rasuli, 12 Murid Yesus, Hari-hari penciptaan, Nama-nama kitab dan banyak lagi hapalan menjadi wajib. Alkitab menjadi satu-satunya sumber keyakinan saya.

Ada perubahan besar terjadi ketika pada bulan Juli 1996 (setelah lulus SMA, saya memilih masuk ke Fakultas Teologi UKIM - Ambon), seorang provokator berdiri di depan mimbar berbicara kepada para mahasiswa baru (baru saja mendengar kelulusan tes masuk). Provokator itu sangat dikenal baik, Elifas Tomix Maspaitella (mudah-mudahan tidak kena pasal pencemaran nama baik). Dia bertanya, apakah semua sudah membaca Alkitab dengan tuntas? Ada beberapa teman yang benar2 sudah membaca dari Kejadian sampai dengan Wahyu. Jadi malu karena tidak ada saya di antara mereka yang menunjuk jari. Si provokator pun mulai beraksi. Ia menyatakan bahwa ketika memilih masuk ke fakultas Teologi, maka ada hal baru yang akan ditemui, salah satunya terkait dengan Alkitab. Wah .. wah ... apaan nieh? Perintah pun datang: "segera angkat dan buka Alkitab masing-masing pada Kitab Kejadian". Siap, laksanakan. Pertanyaan pun datang: "Dalam bacaan selama ini, manusia diciptakan pada hari ke berapa?" Wakakakakakakkk... ini sieh pertanyaan mudah, waktu saya kecil saja sudah menghapalnya. Serentak kami seratus orang lebih menjawab: "Hari ke-6". Kata sang provokator: "Ya, tidak salah. Apa yang saudara-saudara kemukakan itu betul. Tapi mari kita lihat dengan seksama" (koq gk ditambah kata "dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya?). Lanjutnya lagi: "Silahkan baca Kejadian 1:1- 2:4a." Dengan teliti dan hati-hati, kami mulai membaca bagian dimaksud. Setelah selesai, diberikan perintah lagi: "sekarang baca Kejadian 2:4b-25". Sekali lagi, dengan teliti dan hati-hati kami mulai membacanya. Tanya sang provokator: "Apa yang ditemukan dari bacaan terhadap bagian-bagian itu?". Dalam kebingungan, tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Wah-wah, ini benar-benar bagian yang berbeda tetapi tentang 1 hal, "Riwayat Penciptaan". Ia melanjutkan: "Ada yang berbeda dalam bacaan terhadap 2 bagian itu khan? Bagian pertama tertulis bahwa manusia diciptakan pada hari keenam, setelah semua isi bumi diciptakan. Bagian kedua tertulis bahwa manusia diciptakan setelah Allah menciptakan bumi dan langit (bumi dan langit masih kosong dan tidak ada apa2)." Hal itulah yang menimbulkan kebingungan saya. Koq ada perbedaan sieh? Khan manusia (saya) diciptakan pada hari keenam, setelah semua diciptakan (itu yang saya terima sejak kecil sampai SMA). Provokator tidak menjelaskan apa2 tentang perbedaan itu, ia hanya berkata bahwa di fakultas Teologi, hal-hal semacam ini akan banyak ditemui (kita akan melihat Alkitab dengan kacamata lain). Benar-benar terjadi pergeseran penting tentang Tuhan dalam kehidupanku. Artinya, sebelum pengalaman ini terjadi, saya sangat meyakini tentang Alkitab sebagai sumber kebenaran yang tidak terbantahkan dan merupakan "F"irman "A"llah. Alkitab pasti tidak salah dalam kesaksian tentang Tuhan. Tetapi koq kisah penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan yang sama terdiri dari dua kisah yang berbeda? Jangan-jangan itu bukan Tuhan yang sama? Jangan-jangan Alkitab tidak seperti yang saya yakini sebelumnya? Curiga .. curiga.

Waktu berlalu dan saya temukan banyak hal yang kembali membangun kyakinan saya tentang Tuhan. 19 Januari 1999, pecah tragedi yang melibatkan hampir semua orang di Maluku. Kelompok agama yang berbeda saling serang dan saling bunuh. Gereja dan Masjid dibakar, kitab-kitab suci dihancurkan, manusia-manusia yang punya keyakinan berbeda tak lebih harganya dari seekor ayam potong di pasar Mardika. Tragis ... tragis .... Pada saat itu pula, perubahan besar terjadi dalam kehidupan saya terkait dengan keyakinan akan Tuhan. Saya berpikir, "Kalau Tuhan Mahakuasa, Ia pasti tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Atau jangan-jangan Tuhan kami (kristen) dengan Tuhan mereka (islam) itu berbeda?" Perkembangan pemikiran tentang pluralitas menjadi santapan saya sesudah situasi benar-benar memungkinkan untuk belajar dan memuaskan keingintahuan saya lagi. Ternyata pencarian tentang Tuhan belum selesai ketika saya memutuskan masuk ke fakultas Teologi. Banyak kenyataan yang membuat saya terus menerus berefleksi tentang keberimanan saya.

Perubahan lain terjadi ketika mulai bertugas di Jayapura, Papua. Kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi di sana pada intinya sama dengan yang saya alami di Maluku (walaupun konteksnya berbeda, tetapi aktor2nya masih juga negara dan para aparaturnya). Ada hal berbeda yaitu kejahatan terhadap lingkungan yang dilakukan, yang berakibat pula pada kehidupan manusia. Saya pertama kali bersentuhan dengan isu-isu Ekoteologi dan Etika Lingkungan (selama ini pernah didengar tetapi belum serius dipikirkan) pada tahun 2005 setelah beberapa bulan di Papua. Ternyata Tuhan tidak saja berurusan dengan manusia dan hubungannya dengan sesama manusia, Ia juga punya urusan dengan hubungan manusia dan lingkungannya. Dalam interaksi antara Tuhan, Manusia dan Lingkungan itulah saya mulai berefleksi lagi tentang keimanan saya.

Pertanyaan saya mulai saat itu adalah: "Apa yang dibutuhkan oleh dunia ini agar ada keharmonisan hidup antar sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya?" Jawaban sementara saya saat ini atas pertanyaan itu adalah CINTA. Semua orang boleh memaknai CINTA dengan pandangannya sendiri, tetapi ada hal ideal dari CINTA yang menjadikan relasi kehidupan menjadi indah. Ungkapan kata tak cukup mendeskripsikan CINTA, tindakan manusialah yang dapat menjelaskan artinya. Jadi, masih tetap suka mendengar lagu: WHAT THE WORLD NEEDS NOW IS LOVE.

"Cinta pasti ada sumbernya dan saya masih meyakini bahwa sumber cinta itu adalah TUHAN" (setelah belajar sedikit tentang Filsafat Proses Whitehead, saya meyakini bahwa CINTA adalah sebentuk kreatifitas yang diarahkan keberadaannya oleh Tuhan demi kebaikan manusia dan dunia).

Tidak ada komentar: