Kamis, 25 November 2010

Kisah Fanatisme + Kerinduan Mendalam: Quo Vadis Sepakbola di Maluku?

Sepakbola memang telah mendarah daging dalam kehidupan kita (kita, loe aje kalee, gue gak tuh .. ). Sejak kecil telah terbiasa dengan bola, mulai dari bola pingpong, bola kasti, bola plastik, bola karet sampai piaraan di rumah pun dipanggil "bola ... bola ... bola ..." (mohon jangan tertawai aku karena panggilan "bola" itu).


Lapangan berkerikil di depan rumah, di bawah teduhnya daun-daun dari 3 batang pohon mangga jadi tempat bermain bola di waktu kecil. Sayangnya sekarang tinggal sepohon, lebih disayangkan lagi, aku tidak menjadikan sepakbola sebagai sandaran hidup karena itu tak lebih dari sekedar hobby. Lepas dari itu, kalau soal fanatisme terhadap permainan yang satu itu, jangan ditanya. Mungkin kadarnya seperti kebanyakan orang yang fanatik sepakbola.


Fanatisme itu dimulai ketika melihat liukan Maradona menari-nari di lapangan pada tahun 1986 ketika World Cup di Mexico. Waktu itu TV di rumah masih hitam putih dalam box kayu besar. Bersama dengan sepupuku, kami sangat menjagokan Argentina yang akhirnya jadi juara dunia. Tetapi persoalan Tim Nasional, tidak lain dan tak bukan, aku adalah pendukung setia Tim Oranye alias Belanda. Entah karena banyak keluargaku di Belanda atau karena memang permainan Belanda yang mantap, yang pasti kedua hal itu masuk dalam nominasi kalau ditanya penyebab kesukaanku pada Tim Oranye. Dengan kehadiran nama-nama seperti SIMON TAHAMATA, DANI LANZAAT, GIO dan lainnya dalam Timnas BELANDA, kefanatikanku menjadi tak terbendung lagi. Kalah menang, tetap Timnas BELANDA.


Kalau persoalan Tim dari luar negeri, maka BARCELONA pilihanku. Fanatisme terhadap Timnas BELANDA membuat saya pun fanatik dalam mendukung semua tim yang ada pemain Belanda di dalamnya. Dukungan fanatik kepada BARCELONA dimulai ketika Johan Cruyff menjadi pelatih kepala di sana. Sampai saat ini, gaya permainan BARCELONA yang diperkenalkan oleh Cruyff teah menyihirku untuk tetap bertahan, tak bisa pindah ke lain hati. Tiki Taka adalah istilah yang sepertinya asyik di telinga, apalagi ketika menyaksikan BARCELONA ber"tiki-taka" di lapangan hijau. Sama dengan Timnas BELANDA, kalah menang tetap BARCELONA.


Ada lagi Tim di Indonesia yang menjadi pilihanku, yaitu PERSIPURA. Sikap Fanatikku terhadap PERSIPURA baru saja dimulai tahun 2005. Pada pertengahan tahun itu, aku pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura - Papua dan merasakan panasnya atmosfir persaingan sepakbola Indonesia. Kakak perempuanku (alm.) bersama suaminya (alm.) adalah orang-orang yang memperkenalkan diriku dengan PERSIPURA. Para pemain PERSIPURA adalah sahabat baik keponakanku karena ia bersama beberapa di antara mereka termasuk dalam Tim Pon Papua ke Palembang. Sempat duduk makan dan minum bersama dengan Boaz Solossa, Ian Kabes, Ardiless Rumbiak, Kaka Edu, Victor Polanda, Oom Mettu Duaramuri, Elias Korwa dan lainnya adalah kebanggaan tersendiri buat diriku. Sama dengan Timnas BELANDA dan BARCELONA, kalah menang tetap PERSIPURA

Dukunganku kepada Timnas BELANDA, BARCELONA dan PERSIPURA sama besarnya dengan kerinduanku akan bangkitnya persepakbolaan di AMBON - MALUKU. Banyak potensi muda sepakbola di MALUKU. Banyak nama pemain besar Indonesia berasal dari Maluku, namun saat ini tak ada satupun satu tim sepakbola dari MALUKU yang berkompetisi pada level-level tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Dalam kerinduan itu, empat jempol tangan dan kaki teracung kepada PERSEMALRA yang sudah bisa bersaing di level Divisi Utama negeri ini. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri, walaupun harapannya adalah bisa naik ke kasta yang lebih tinggi.

Kabar gembira terakhir yang kudengar adalah berkunjungnya SIMON TAHAMATA, salah seorang legenda hidup sepakbola di BELANDA ke AMBON. Dalam hati hanya berkata, "mudah-mudahan ini pertanda kehidupan." Apalagi ada berhembus kabar, tahun depan GIO akan datang ke AMBON - MALUKU. Tentu kebanggaan luar biasa. Sambil terus berharap akan geliat kebangkitan sepakbola di MALUKU, PERSIPURA, BARCELONA, BELANDA, tetaplah jadi tambatan hati.

Semua yang dikerjakan dengan jujur dan tulus tentu akan diberkati oleh YANG KUASA. Semoga ..!!


Tidak ada komentar:

Sampah Ambon