Kamis, 09 Juni 2011

Mempertanyakan Kebenaran Yang Dianggap Sudah Mapan?

Dalam salah satu diskusi tentang proses pembelajaran di kampus, salah seorang rekan melempar pernyataan bahwa materi kuliah sangat teoretis, mengawang-awang, tidak menyentuh aspek kehidupan sehari-hari. Hal itu berakibat pada kompetensi mahasiswa yang dihasilkan hanya sebatas kemampuan menghafal seperti robot saja.

Pernyataan itu langsung mengundang reaksi dari beberapa orang rekan dosen lainnya. Salah satu pernyataan seorang rekan yang melatarbelakangi tulisan ini adalah bahwa kalau proses pembelajaran dibuat terbuka dan materi terlalu bebas, maka mahasiswa akan dibuat bingung, apalagi kalau sampai mempertanyakan hal-hal yang dipandang sudah oke. Menurut beliau, mahasiswa sering mengeluh karena ada dosen yang sering bertanya di wilayah-wilayah yang menurut mereka kebenarannya sudah mapan.

Oleh karena kegiatan di kampus kami berhubungan dengan Pendidikan di Bidang Agama, maka tidak diragukan lagi, apa yang dianggap kebenaran yang sudah mapan itu adalah doktrin-doktrin gereja. Mulai dari doktrin tentang Allah, tentang Yesus, tentang Roh Kudus, tentang Gereja, tentang keselamatan, dan lain sebagainya. Tentu saja bagi sebagian besar kita, hal-hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi karena kebenarannya sudah final. Sementara bagi sebagian kecil memandang bahwa hal-hal seperti itu masih bisa diganggu gugat dengan mempertanyakannya terus menerus.

Saya pribadi tidak berusaha masuk ke dalam kedua kelompok itu. Kalaupun harus dipaksa masuk, maka saya memilih berada di kelompok yang kedua dan akan terus mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang sudah dianggap mapan itu. Terus, di mana posisi saya sebenarnya?

Saya cuma hendak melakukan sedikit penelusuran tentang apakah "kebenaran yang sudah (dianggap) mapan" boleh dipertanyakan atau tidak?

Pertanyaan pertama yang patut dijawab adalah apakah kebenaran itu?
Untuk menjawab itu, saya mencoba memberikan contoh-contoh sebagai berikut:

A itu benar jika:
  • A = kenyataan di luar kendali pemikiran manusia. Contoh: Salju berwarna putih dianggap sebagai kebenaran karena dalam kenyataan di luar sana tidak ada satu pun salju berwarna selain putih. Kalau sampai didapati ada salju berwarna selain putih, maka perlu ditemukan penyebab-penyebabnya. Kalau sampai setelah diuji dan didapati ada salju berwarna selain putih, maka kebenaran itu dapat berubah. Teori ini didukung oleh para pemikir realisme yang menyatakan bahwa realitas itu ada di luar sana, bukan di dalam pemikiran manusia. Para empirisist menyatakan bahwa apa yang dinyatakan benar itu haruslah berkorespondensi dengan apa yang ada di luar sana. Kalau kita mengatakan setan itu ada, buktikanlah secara empirik bahwa setan itu ada. Atau sebaliknya, kalau mengatakan bahwa Tuhan itu ada, buktikanlah secara empirik bahwa Tuhan memang ada. Pembuktian secara empiris menjadi faktor penting memperoleh kebenaran. Pendekatan induktif menjadi pilihan pembuktian dengan mengumpulkan data-data empirik dan melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan data-data itu.
  • A = apa yang ada di dalam pemikiran manusia. Contoh: Saya berani mengatakan bahwa 2 + 2 itu 4 sebagai kebenaran dan tak ada jawaban lain selain itu. Teori ini didukung oleh para pemikir idealisme. Mereka menyatakan bahwa hanya ide-ide di dalam pemikiran manusialah yang bisa benar. Sekalipun ada realitas di luar sana, itu hanyalah cerminan dari ide-ide manusia. Para rasionalis menyatakan bahwa apa yang dinyatakan benar itu harus koheren dengan hal-hal sebelumnya yang telah diyakini sebagai kebenaran. Jadi, kalau kita mengatakan bahwa setan atau Tuhan itu ada, maka pembuktian terhadap pernyataan itu haruslah dilakukan dengan menemukan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap sebagai kebenaran. Pendekatan deduktif adalah pilihan pembuktian, dimulai dengan membuat pernyataan rasional dan berupaya mengumpulkan data-data yang mendukung pernyataan itu.
  • A = apa yang bisa memecahkan masalah. Contoh: Pernyataan bahwa Tuhan itu ada adalah benar jika pernyataan itu dapat dibuktikan secara operasional dalam memecahkan masalah kehidupan setiap hari. Para pragmatist adalah pendukung teori ini. Jadi, pembuktian bahwa sesuatu itu benar hanya dapat dilakukan dengan cara mengoperasikannya dalam situasi pemecahan masalah atau problem solving. Dapat diawali dengan induktif atau deduktif, tetapi hasilnya belumlah sebuah kebenaran karena harus melalui tahap pengujian lagi, apakah dapat diterapkan sebagai model atau teori guna memecahkan masalah dalam kehidupan setiap hari.
Pertanyaan saya, adalah apakah ada teori yang menyatakan bahwa jika sesuatu itu sudah dianggap benar, tidak perlu dipertanyakan lagi? Masalahnya adalah pada pembuktian. Dalam pendekatan filsafat sains, ada dikenal istilah verifikasi dan falsifikasi.
verifikasi adalah upaya-upaya pengumpulan data yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu pernyataan atau teori yang telah dirumuskan sebelumnya itu benar. Jadi, verifikasi sangat berhubungan dengan pendekatan deduktif.
falsifikasi adalah upaya-upaya pengumpulan data yang dilakukan untuk membuat pernyataan atau teori baru dengan cara membuktikan bahwa pernyataan atau teori yang sementara berlaku itu tidak benar. Jadi falsifikasi sangat berhubungan dengan pendekatan induktif.
Pada tahap ini, kebenaran itu dianggap sebagai Objective Truth

Bagaimana dengan kebenaran religius atau agama? Ketika berbicara tentang kebenaran yang berhubungan dengan agama, maka sebagian besar orang akan menunjuk pada iman atau faith. Mengapa? Karena sumber dari kebenaran agama adalah iman manusia. Pertanyaannya adalah apa itu iman?

Secara sederhana, saya dapat menyatakan bahwa iman adalah kepercayaan yang diperoleh berdasarkan dialektika antara refleksi dan ekspresi. Tiap refleksi akan menghasilkan ekspresi dan tiap ekspresi akan mengarah pada refleksi. Refleksi biasanya dilakukan terhadap warisan-warisan yang telah ada, juga terhadap ekspresi yang dinyatakan berdasarkan refleksi sebelumnya. Tiap upaya refleksi mensyaratkan suatu penafsiran. Tiap penafsiran dilakukan berdasarkan suatu sudut pandang. Suatu sudut pandang adalah sistem episteme yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, yang melegitimasi seluruh hasil penafsiran itu. Sistem episteme itu muncul sebagai kebutuhan dalam situasi tertentu. Contoh: Doktrin Gereja bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Hal itu dianggap sebagai kebenaran. Pertanyaannya adalah darimana pernyataan atau doktrin itu datang? Tentu itu adalah ekspresi gereja pada masa tertentu yang didasarkan atas penafsiran terhadap Alkitab dengan menggunakan sistem episteme zaman itu, untuk menjawab persoalan-persoalan zaman itu. Ketika diperhadapkan dengan masalah, maka refleksi dilakukan dengan cara menafsir warisan keyakinan berupa Alkitab dan mengekspresikannya lewat doktrin tersebut. Apakah hal itu dapat dikatakan benar? Ya, itu adalah kebenaran bagi gereja pada suatu masa, untuk menjawab masalah-masalah di masa itu. Apakah doktrin itu dapat dipertanyakan?

Hal yang membedakan tiap zaman atau tiap masa adalah persoalan atau permasalahan yang dihadapi. Kebutuhan manusia menjawab persoalan-persoalan itu kemudian melahirkan sistem-sistem episteme baru atau perspektif-perspektif baru. Tentu saja refleksi yang baru terhadap warisan-warisan lama perlu dilakukan guna menghasilkan ekspresi baru menjawab tantangan baru di zaman yang baru. Apakah kita dapat begitu saja melakukan copy paste terhadap jawaban-jawaban yang sesungguhnya ditujukan untuk menjawab pertanyaan lain di lain tempat dan lain waktu? Kalaupun ada yang mau melakukan itu, saya sangat mempertanyakan hakekat kemanusiaannya. Bagi saya, itu perbuatan harap gampang yang sangat tidak bisa ditolerir sebagai manusia yang memiliki kelengkapan sedemikian rupa untuk berpikir.

Dengan persoalan baru, sistem episteme baru, maka dapat dipastikan ada refleksi baru dan ekspresi baru. Pada tahap itu, maka menurut saya, kebenaran-kebenaran yang telah dianggap mapan itu dapat dipertanyakan lagi, apakah masih sesuai dengan kebutuhan kita saat ini? Kalau masih sesuai, buktikan itu melalui penafsiran-penafsiran baru dalam sistem episteme baru. Dapat saja bagi sebagian orang akan melihat bahwa Yesus hanyalah satu dari sekian banyak jalan keselamatan dan mereka memilih jalan Yesus karena alasan-alasan tertentu.
Pada tahap ini, kebenaran adalah Konstruksi Pemikiran Manusia.

Jadi, terhadap pertanyaan awal tentang apakah suatu kebenaran yang sudah dianggap mapan dapat dipertanyakan lagi? Maka jawaban saya adalah jika kebenaran yang terkait Objective Truth saja selalu ada upaya falsifikasi, apalagi terhadap kebenaran yang terkait dengan Konstruksi Pemikiran Manusia. Bagi orang-orang yang sudah tidak mau lagi bertanya dan terus bertanya karena kemapanan, saya pikir sudah saatnya untuk meninggalkan perspektif tersebut kalau ingin tidak tergerus oleh zaman. Apa yang saya pikir itu pun bukan kebenaran absolut, boleh dibantah dengan argumentasi-argumentasi lain.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon