Rabu, 29 Juni 2011

Sakit Hati di Otak

Ada lirik lagu dangdut lama yang menyatakan: "Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini ...". Nah, "sakit gigi" yang dimaksud tentu saja sakit fisik, sementara "sakit hati" yang dimaksud adalah sakit psikis. Apa bisa ya membandingkan sakit fisik dengan psikis? Ah .. tentu saja itu cuma lagu yang penuh dengan kata-kata khiasan supaya para pendengar lebih tertarik untuk menyimak apa maksud dari ungkapan itu.

Tru's apa ada masalah dengan sakit gigi atau sakit hati? Kalau sakit gigi sieh, saya sudah pernah merasakannya, setengah mati, gak bisa makan, gak bisa tidur, gak bisa dengar keributan, gak bisa kena angin, gak bisa ini, gak bisa itu. Tapi kalau sakit hati, saya sieh belum pernah dan jangan sampai. Fungsi hati saya masih baik-baik saja sampai saat ini. Tetapi kalau yang dimaksud dengan sakit hati psikis, entah bagaimana menggambarkannya kalau tidak pakai khiasan lagi. Kata orang-orang sieh seperti diiris-iris sembilu. Saya bingung juga gimana rasanya teriris sembilu. Yang pasti, pernah suatu ketika, salah seorang mantan pacar saya dulu ketahuan selingkuh gara-gara laki-laki selingkuhannya itu punya kendaraan sementara saya hanya modal jalan kaki doang, dada ini terasa nyeri, sesak nafas. Semakin dipikir, semakin nyeri dan sesak. Kalau gak dipikir (walaupun susah juga ilangin pikiran itu dalam waktu singkat) seperti plong rasanya. Kalau memang sakit hati (psikis) seperti itu, berarti saya sudah pernah merasakannya.

Sakit hati sudah pasti sangat berhubungan dengan pikiran, ingatan, dan lain-lain fungsi otak. Itu berarti "sakit hati" hanyalah khiasan belaka untuk menggambarkan betapa nyeri dada dan sesak nafas di saat memikirkan hal-hal yang menurut kita tidak dapat diterima begitu saja. Sakit hati sangat berhubungan dengan "perasaan". Nah, barang apa lagi nieh .. "perasaan". Bagi saya, apa pun itu, perasaan juga sangat berhubungan dengan pikiran, ingatan dan lain-lain fungsi otak. Begitu juga dengan emosi, cinta dan lain sebagainya yang oleh sebagian besar orang tidak berhubungan dengan rasio dan rasionalitas manusia.

Bagi para ahli yang mempelajari neurosains, yang namanya jiwa, perasaan, emosi, cinta, dan lain sebagainya itu adalah hasil kerja otak manusia. Jadi, semua hal di dalam kehidupan ini, bahkan sampai dengan pengalaman-pengalaman keagamaan pun adalah hasil kerja otak manusia. Pendapat-pendapat para neurosaintis ini tentu saja didukung oleh eksperimen-eksperimen penting yang dilakukan dalam jangka waktu lama terhadap fungsi kerja otak manusia.

Apakah pendapat-pendapat mereka itu menggambarkan realitas sebenarnya atau hanyalah konstruksi teoretis guna mendukung proses-proses eksperimen yang dilakukan? Perlu dikaji lebih lanjut secara filosofis. Untuk masuk pada bagian itu, butuh lebih banyak bacaan dan kajian terhadap apa yang dikerjakan oleh para neurosaintis, mulai dari asumsi-asumsi dasar yang digunakan, metodologi yang digunakan sampai pada penyampaian konklusi-konklusinya. Sampai tahap ini, percaya atau tidak, saya sepertinya lebih condong untuk ikut mendukung pendapat-pendapat mereka dengan catatan bahwa semakin banyak yang diketahui tentang fungsi kerja otak manusia, maka sesungguhnya masih banyak hal yang belum diketahui tentang itu.

Tidak ada komentar: