Jumat, 01 Juli 2011

KECEPATAN, KELAMBATAN DAN PENGALAMAN ESTETIS: Suatu Refleksi Filosofis

Pengantar
Tulisan ini terangkat sebagai bentuk kritik atas pengalaman-pengalaman modern yang berhubungan dengan kecepatan dan percepatan (speed and acceleration). Suatu saat, saya merasakan sangat kesal dengan kenyataan bahwa tidak bisa mengakses internet dengan cepat. Di tempat yang biasanya untuk melakukan download file berukuran 100 mb, hanya dibutuhkan sekitar 30-40 menit, menjadi lebih dari 3 jam. Kekesalan itu berujung pada emosi yang tidak seharusnya. Ada lagi pengalaman ketika waktu di tempat saya sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi dan saya harus tiba tepat waktu di tempat kerja. Saya harus naik angkutan umum dan berharap bahwa angkutan yang saya tumpangi dapat dengan cepat membawa saya ke tempat kerja. Ternyata, angkutan umum itu berjalan sangat lambat dan saya terlambat tiba di tempat kerja, pertemuan sudah dimulai dan harus tertunduk malu akibat keterlambatan itu. Selain kecepatan dalam pengertian sebagaimana dimaksud di atas, ada juga kecepatan dalam pengertian lain yang menjadi pengalaman manusia, yaitu kecepatan dalam pemecahan masalah. Pernah dalam suatu kesempatan, saya diperhadapkan dengan beberapa pilihan yang sulit untuk memecahkan satu masalah dan pemecahan masalah itu ada tenggang waktunya (deadline). Akibatnya adalah tanpa banyak berpikir lagi, karena saya beranggapan bahwa saya sudah berpikir sesuai kemampuan saya, keputusan diambil untuk menyelesaikan masalah itu dengan segala konsekuensi yang mungkin timbul dari pilihan yang dibuat. Dalam pengertian itu, kecepatan mengambil keputusan menjadi bahan perdebatan ketika diperhadapkan dengan ketepatan keputusan itu dan dampak yang lahir di kemudian hari akibat pengambilan keputusan itu.


Ketika berbicara tentang kecepatan dan percepatan, maka secara umum orang akan menghubungkannya dengan bidang ilmu alam, dalam hal ini fisika. Konsep-konsep filosofis tentang ruang dan waktu menghasilkan temuan-temuan fisika tentang gerak dan akhirnya kecepatan serta percepatan. Di dalam fisika, kecepatan atau velositas (v) adalah pengukuran vektor dari dari besar dan arah gerakan. Vektor dalam pengertian fisika sendiri berarti suatu objek yang didefinisikan dengan besaran dan arah. Nilai absolut dari dari kecepatan disebut kelajuan (speed), yang dinyatakan dengan jarak yang ditempuh per satuan waktu. Rumus kecepatan yang paling sederhana di dalam fisika adalah: “Kecepatan = Perpindahan/Waktu”.

Pada tahun 1982, Larry Dossey, seorang fisikawan dari Amerika melahirkan istilah “time-sickness” untuk menggambarkan bermacam keyakinan yang sudah merasuki kehidupan manusia modern, seperti “tidak punya cukup waktu”, “waktu sudah habis”, “kita harus segera melakukan ini dan itu”, “lebih cepat lebih baik” (Honoré, 3). Intinya, saat ini kita semua berada dalam situasi “sakit waktu”, di mana kita semua berada dalam situasi pemujaan terhadap “kecepatan”.

Dalam tahun-tahun terakhir ini, semua hal berada di bawah tekanan untuk bergerak lebih cepat lagi. Ada kenyataan yang dikatakan oleh Klaus Schwab, presiden dari Forum Ekonomi Dunia, sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindarkan, yaitu jika dahulu ada istilah tentang “yang besar memakan yang kecil,” maka sekarang sudah mulai bergeser kepada istilah, “yang cepat memangsa yang lambat.”


Ada semacam keyakinan bersama saat ini bahwa hal yang paling baik adalah yang cepat. Bergerak cepat, berjalan cepat, berkomunikasi dengan cepat, makan dengan cepat, berpikir dengan cepat, kesenangan-kesenangan yang diperoleh dengan cepat, semuanya adalah istilah-istilah masa kini. Sebaliknya, yang bergerak dan melakukan sesuatu dengan lambat, akan dianggap ketinggalan zaman dan tidak akan mampu bersaing atau berkompetisi. Keyakinan itu sampai merasuki ke dalam dunia seni, di mana kecepatan atau semua hal yang cepat adalah keindahan. Oleh karena telah merasuki semua bidang kehidupan manusia, maka seolah-olah kita telah diperangkap oleh apa yang namanya “kecepatan”. “Kecepatan” sendiri adalah tuntutan penyeragaman dari zaman ini, sehingga perbedaan tidak dimungkinkan karena perbedaan hanya berbicara tentang kelambatan.

Kecepatan tidak lagi dipikirkan secara sempit dalam bidang fisika, tetapi telah meluas hampir di semua bidang kehidupan manusia, mulai dari makanan sampai pada pemecahan masalah. Semua hal itu membutuhkan kecepatan, bukan dalam hitungan rumus saja, tetapi juga ketepatan dalam penyelesaiannya. Pragmatisme menjadi dasar sekaligus solusi bagi situasi modern yang menuntut efisiensi dan efektifitas, bahkan sampai pada soal selera dan pengalaman estetis.

Kecepatan Sebagai Pengalaman Estetis
Ada beberapa penggunaan untuk kata “estetika”. Secara luas, estetika dipahami sebagai filsafat seni. Oleh karena itu, orang dapat saja menggunakan kedua kata ini secara bergantian. Dalam pengertian yang lebih khusus, estetika berasal dari kata Yunani aisthesis, yang berarti “persepsi sensual” atau “kognisi sensorif”. Tentu saja pengertian ini sangat berhubungan dengan kemampuan indrawi manusia dalam rangka mencandrai suatu objek. Pada pertengahan abad ke-18, istilah ini diadaptasi oleh Alexander Baumgarten sebagai istilah yang melingkupi studi filosofis atas seni. Ia memilih istilah ini karena ia berpikir bahwa pekerjaan-pekerjaan seni terutama berhubungan dengan persepsi sensorif dan juga kognitif. Ketika berbicara tentang estetika dalam pengertian khusus itu, maka sesungguhnya ada ketertarikan tentang peran dan posisi audiensi dalam berinteraksi dengan pekerjaan-pekerjaan seni. Para audiens dapat menjadi pembaca, pendengar dan pengamat. Dalam pengertian ini, estetika dipahami lebih sebagai kata sifat yang menunjuk pada sifatnya yang dapat dibagikan kepada audiensi. Dengan demikian, salah satu pengertian yang dapat ditarik adalah estetika sebagai sesuatu yang bersifat dapat dibagi (shared) kepada audiensi. Dalam kaitan dengan itu, muncul istilah “pengalaman estetis,” “persepsi estetis,” dan “tingkah laku estetis” (Carroll, 1999: 156-7).

Carroll (1999: 168) menyatakan bahwa telah banyak orang yang membicarakan tentang pengalaman estetis. Namun dari banyaknya pembicaraan itu, ia memilih dua pandangan utama tentang pengalaman estetis. Kedua pandangan utama itu adalah (i) pengalaman berorientasi isi (content-oriented), dan (ii) pengalaman berorientasi pengaruh (affect-oriented).


Pengalaman estetis berorientasi isi sangat jelas melihat pengalaman estetis sebagai suatu pengalaman dari sifat-sifat estetis suatu pekerjaan. Sifat-sifat itulah yang merupakan isi dari pengalaman yang menjadikannya sebagai pengalaman estetis. Apa yang dikatakan sebagai “elegan”, “rapuh”, “monumental”, dan hubungan-hubungan formal yang terbangun atasnya adalah sifat-sifat estetis suatu kerja seni. Hubungan-hubungan itu kemudian dibagi ke dalam tiga hal, yaitu unitas atau kesatuan, keragaman, dan intensitas.


Unitas suatu kerja seni terlihat dalam hubungan-hubungannya yang formal antara satu bagian dengan bagian yang lain. Tanpa satu bagian tertentu, suatu kerja seni akan dimaknai secara lain. Pengalaman estetis kita akan sangat mempertimbangkan unitas suatu karya seni, atau yang lebih tepatnya, unitas atau kesatuan suatu karya seni adalah unsur yang sangat menentukan dalam membentuk pengalaman estetis manusia. Selain itu, keragaman juga menentukan hubungan-hubungan formal dari tiap bagian dalam suatu karya seni. Semua hal yang ada di dalam karya seni adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang sama persis. Dengan demikian, keragaman juga menentukan pengalaman estetis manusia. Intensitas kualitatif yang terbangun di dalam suatu karya seni turut mempengaruhi. Bagaimana perasaan yang terpengaruh ketika ada dalam pengalaman estetis tertentu adalah wujud dari intensitas dan hubungan-hubungan yang terbangun olehnya. Berdasarkan apa yang telah dikatakan di atas, sesuatu dapat dikatakan sebagai karya seni hanya jika telah memenuhi tiga unsur tersebut, yaitu kesatuan, keragaman dan/atau intensitas.


Keindahan dalam pemahaman metafisisnya merupakan hal yang harus ada dalam tata aturan kosmos demi keteraturan kosmos itu sendiri. Dalam pengertian ini, keindahan merupakan sesuatu yang diyakini merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus-ritus kehidupan manusia yang berfungsi tetap menjaga kosmos agar tidak mengalami kekacauan atau chaos (Townsend, 2006: xviii). Keindahan adalah mitos yang dipelihara dalam ritual-ritual tertentu dengan menghadirkan konsep-konsep tentang sikap dan pengalaman, kategori-kategori indah dan ketidakindahan. Intinya, manusia sebagai makhluk seni (artist) adalah pencipta keindahan sekaligus audiens dari keindahan itu sendiri. Walaupun dalam pendekatan naturalis, alam dapat dijadikan sebagai objek, namun “indahnya atau rusaknya alam” tetap merupakan ekspresi, hasil dari penilaian-penilaian atau judgment manusia.


Setiap zaman mempunyai mitosnya tersendiri. Di zaman globalisasi di mana teknologi dan informasi menjadi hal utama di dalamnya, kecepatan merupakan mitos utama yang terus dirituskan dalam kehidupan manusia. “Lakukan semua hal dengan cepat”, “dapatkan semua hal dengan cepat” adalah bentuk pemeliharaan ritus terkait mitos kecepatan. Mitos ini sendiri lebih berfungsi menjaga keteraturan kosmos masa kini. Akibatnya, “kelambatan” tidak mendapatkan tempatnya sama sekali. Dengan kata lain, “kelambatan” akan membuat keteraturan kosmos ini kembali ke dalam situasi chaos, saat semua hal bergerak cepat dan ada satu yang tidak bisa mengimbangi dengan kelambatannya.


Dengan demikian, oleh sebagian besar orang, kecepatan adalah suatu pengalaman yang dapat membuat “hidup lebih hidup”. Dalam pandangan saya, kecepatan dalam pengertian ini dapat dipahami sebagai pengalaman estetis. “Cepat itu indah” adalah hal yang dapat diterima dalam pengalaman estetis manusia modern. Pemujaan terhadap kecepatan dalam perspektif estetik, sama kadarnya dengan pemujaan terhadap karya-karya seni yang lain. Hal itu disebabkan pemujaan-pemujaan seperti itu sesungguhnya telah melahirkan ritus-ritusnya sendiri. Kalau di bidang yang lain seperti musik klasik, konser musik klasik menjadi ritus, atau di bidang seni rupa, pameran merupakan ritus yang memelihara mitos keindahan, maka mitos kecepatan dipelihara lewat aktifitas setiap hari manusia. Pertanyaannya, apakah benar demikian? Ketika kecepatan menjadi mitos dan ritual setiap hari manusia modern adalah demi memuja kecepatan, bahkan menjadikan kecepatan sebagai pengalaman estetis, maka ada perangkap baru dalam kehidupan manusia.


Sesungguhnya dengan memandang semua hal dalam perspektif “cepat” dan “tepat”, manusia telah diperangkap oleh sistem. Perangkap itu tidak memungkinkan ekspresi yang lain karena kehadiran yang lain dari kecepatan hanya akan membuat dunia menjadi kacau. Kecepatan sebagai pengalaman estetis membuat mitos itu semakin terpelihara hari demi hari. Pemberontakkan terhadapnya dianggap sebagai pemberontakkan terhadap semangat zaman yang memuja-mujanya.


Cepat Itu Tidak Indah: kritik estetis terhadap ritus kecepatan
Tidak ada manusia yang dapat mengingkari bahwa semangat zaman ini adalah pemujaan terhadap kecepatan. Namun ada satu hal yang membuat manusia menjadi tertekan dan secara psikologis mengalami depresi, yaitu ketika tidak bisa melakukan sesuatu dengan cepat, mengimbangi semangat zaman ini. Lily Tomlin, seorang artis dan komedian Amerika pernah mengatakan bahwa langkah tercepat untuk menghilangkan tekanan di zaman ini adalah dengan mencoba untuk melambat (for fast-acting relief from stress, try slowing down). Artinya, kelambatan dapat menjadi obat dari situasi sakit akan kecepatan. Dengan sedikit memperlambat hidup, sesungguhnya upaya pencarian dan refleksi kehidupan dapat dilakukan.

Estetika bukan saja berbicara tentang keindahan suatu karya atau keindahan dalam hal konsep dan perasaan, tetapi sebaliknya juga, berbicara tentang ketidakindahan. Ketidakindahan adalah lawan dari keindahan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ada hal yang indah, maka sekaligus ada pengakuan akan kehadiran yang tidak indah. Bahwa selama ini yang menjadi fokus perhatian ketika membicarakan tentang seni hanyalah tentang keindahan, maka ada hal yang terlupa, yaitu sisi lain dari keindahan itu sendiri. Berbicara tentang ketidakindahan berarti semua hal yang berlawanan dari yang indah. Konsep ketidakindahan tentu saja dapat sangat mudah dipahami manusia ketika ia dapat merumuskan dan mendefinisikan tentang apa yang indah menurut dirinya. Dalam bahasan tulisan ini, ketika kecepatan dikatakan sebagai sesuatu yang indah, maka lawan dari itu, yaitu kelambatan adalah hal yang tidak indah. Atau sebaliknya, kelambatan adalah pengalaman yang indah, maka kecepatan adalah ketidakindahan. Tentu saja, baik kecepatan maupun kelambatan sebagai pengalaman estetis tidak dibicarakan sebagai karya seni yang dapat dinikmati secara sensual, tetapi lebih merupakan semacam konsep abstrak yang lebih mendasarkan keberadaannya pada perasaan.


Dengan melambatkan hidup, manusia dapat menemukan kembali seni hidupnya dengan selalu melakukan refleksi dan kontemplasi, memahami dirinya dan alam semesta ini. Hal-hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kecepatan yang dituntut dari kehidupan saat ini. Bahkan berhenti dan diam sejenak adalah cara terbaik untuk menghilangkan segala tekanan hidup.


Dari pendekatan itu, kelambatan juga dapat menjadi pengalaman estetis yang bukan saja dipahami dalam pendekatan keindahan, tetapi merupakan pengalaman yang menyembuhkan. Menyembuhkan dari kesakitan akan waktu dan gerak cepat zaman. Pengalaman masing-masing orang akan sangat berbeda satu dengan yang lain terkait kecepatan dan kelambatan. Namun, terkait dengan kecepatan, semangatnya tetap sama dan ritusnya tetap sama dalam aktivitas keseharian manusia.


Kesimpulan
Manusia dalam kelebihan dan kekurangannya adalah makhluk seni, walaupun tidak semua orang dapat disebut sebagai artis karena definisi. Namun manusia sebagai art being adalah sebutan yang layak. Hal itu disebabkan karena hanya manusia yang mampu menciptakan dan sekaligus menikmati seni. Sejak kecil, semua orang telah memiliki apa yang disebut sebagai perasaan seni. Walaupun apa yang disebut sebagai yang indah dan tidak indah juga ditentukan oleh masyarakatnya, sesungguhnya manusia telah memiliki perasaan itu sejak ia terlahir. Terhadap beberapa objek, tanpa diberitahu oleh masyarakat bahwa itu indah, seseorang dapat langsung mengatakan berdasarkan penilaiannya sendiri.

Di Indonesia, seni pun dipelajari di bangku-bangku pendidikan. Namun, ada hal yang cukup menyedihkan ketika seni menjadi bagian yang formal dalam kurikulum pendidikan, yaitu ketidaksinambungan pembelajaran dalam seni. Contoh dari ketidaksinambungan pembelajaran itu adalah: ketika masih dalam tingkat pendidikan dasar, seni yang diajarkan adalah dengan langsung berpraktek, membiarkan setiap anak mengekspresikan pemahamannya sendiri secara bebas. Ketika dalam pendidikan lanjutan, seni yang diajarkan lebih banyak berupa teori-teori dan sejarahnya. Akibatnya adalah seni menjadi bahan pelajaran yang sedikit membosankan, tidak lagi seperti di tingkat pendidikan dasar. Banyak anak yang berbakat seni tinggi kemudian memilih jalan dan sekolah khusus terkait pengembangan bakatnya di bidang seni. Lebih banyak anak lagi yang dikatakan tidak berbakat di bidang seni kemudian mengekpresikan pengalaman estetisnya itu sebagai audiens atau penikmat seni. Apapun itu, baik selaku pelaku seni, yang menciptakan karya-karya seni, maupun hanya sebagai penikmat karya seni tertentu, manusia adalah makhluk yang berseni.


Secara metafisis, seni berhubungan dengan keindahan. Keindahan hadir sebagai bagian dari mitos pemelihara keteraturan kosmos. Sebagai mitos, maka keindahan harus dipelihara lewat ritus-ritus tertentu. Ritus-ritus itu bisa berupa pameran, konser, bahkan dalam dunia modern, sudah berupa perbanyakan dan komodifikasi. Hanya dengan ritus-ritus itu, maka konsep tentang keindahan telah menjadi ideologi tersendiri. Orang akan beramai-ramai terikat pada gagasan-gagasan besar tentang mana yang indah dan mana yang tidak indah. Seolah-olah dengan tidak merayakan ritus-ritus itu, maka dunia, khususnya dunia seni sendiri akan mengalami chaos.


Kecepatan sebagai semangat zaman ini yang menuntut efisiensi dan efektifitas pun merupakan mitos yang terus dipelihara dalam ritus-ritus aktifitas keseharian manusia. Istilah “cepat itu indah” tidak bisa lagi dipersalahkan karena ada pengalaman bersama, sampai pada tingkat pengalaman estetis terkait dengan kecepatan. Walaupun demikian, pemujaan terhadap kecepatan, yang dalam beberapa aspek sama seperti pemujaan terhadap suatu karya seni, dirasakan tidak lagi memadai karena membuat cukup banyak orang yang tertekan. Hal itu disebabkan karena ketidakmampuan mengimbangi tuntutan untuk terus bergerak dan menghasilkan sesuatu secara cepat dan tepat. Dalam ketertekanan itu, maka istilah “cepat itu tidak indah” kemudian lahir sebagai bentuk pengalaman estetis lain.


“Lambat itu indah” adalah sisi lain dari pengalaman estetis manusia yang merasa gerah dengan segala ritus-ritus pemujaan kecepatan sebagai semangat zaman ini. Ketika orang mulai merasa tertekan oleh tuntutan akan kecepatan, maka “langkah cepat pertama yang harusnya diambil adalah memperlambat hidup bahkan berhenti dan diam”. Dengan berhenti dan diam, sesungguhnya hidup dapat lebih dipahami sebagai suatu seni lewat refleksi dan kontemplasi.


Namun demikian, kelambatan tidak dapat menjadi roh zaman ini. Ketika ada kelambatan, maka akan dengan segera dimangsa oleh kecepatan. Istilah “yang besar memangsa yang kecil” atau “yang kaya memangsa yang miskin” tidak lagi mendapat tempat saat ini. Ada pergeseran penting ketika “yang cepat memangsa yang lambat” terjadi. Kelambatan dirasakan sebagai keindahan hanya ketika ia hadir sebagai penyembuh bagi perasaan-perasaan tertekan manusia akibat tuntutan kecepatan. Pengalaman estetis akan kelambatan hanyalah menjadi pengalaman personal dan tidak dapat menjadi pengalaman estetis bersama. Sementara kecepatan bagi hampir semua orang adalah pengalaman estetsi bersama. “Cepat itu indah” dapat diterima oleh semua orang, sementara “lambat itu indah” hanyalah semboyan orang-orang yang ketinggalan zaman.



------------------------------------------------
Referensi

  1. Braembussche, Antoon Van den, 2009, Thinking Art: An Introduction to Philosophy of Art, Springer: NY.
  2. Carol, Noël, 1999, Philosophy of Art: A Contemporary Introduction – Routledge Contemporary Introductions to Philosophy, Routledge: London.
  3. Graham, Gordon, 1997, Philosophy of the Arts: An Introduction to Aesthetics (3rd ed.), Routledge: London.
  4. Honoré, Carl, In Praise of Slowness: Challenging The Cult of Speed, HarperCollins e-books.
  5. Rosa, Hartmut & William E. Scheuerman, 2009, High-Speed Society: Social Acceleration, Power, and Modernity, The Pennsylvania State University Press: Pennsylvania.
  6. Townsend, Dabney, 2006, Historical Dictionary of Aesthetics: Historical Dictionaries of Religions, Philosophies, and Movements, No. 72, Scarecrow Press, Inc.: NY.
  7. http://id.wikipedia.org/wiki/Kecepatan, diambil tanggal 20 November 2009.
  8. http://id.wikipedia.org/wiki/Vektor, diambil tanggal 20 November 2009.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon