Jumat, 01 Juli 2011

Tentang Argumentasi

Bagi sebagian besar orang, “argumentasi” adalah konflik atau kontes antara dua orang atau lebih yang tidak menyetujui tentang sesuatu hal. “Argumentasi” dalam pengertian ini bahkan bisa dilakukan secara tidak etis. Mengapa tidak etis? Pernah dalam suatu pertemuan, ketika membahas suatu hal yang belum disetujui bersama, beberapa orang saling berteriak, menganggap bahwa apa yang diungkapkannya adalah yang paling benar, bahkan saling meneriakkan nama, mengata-ngatai dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas. Pada akhirnya, siapa yang dianggap sebagai senior atau pimpinanlah yang pendapatnya lebih didengarkan karena dengan keras diperjuangkan. Proses itu dianggap sebagai bagian dari upaya “berargumentasi”. Apa yang disampaikan kadangkala tanpa rasionalisasi.

Orang-orang yang memahami betul arti kata “argumentasi” akan menggunakannya dalam pengertian yang sangat tepat dan sempit saja. Bagi mereka, “suatu argumeni” adalah unit paling mendasar dan lengkap dari proses berpikir, suatu atom dari pikiran. Artinya, “suatu argument” muncul dari satu atau lebih starting point(s), yang dalam pengertian klaim kebenaran disebut premis atau premis-premis, kepada suatu titik akhir, yang dalam pengertian klaim kebenaran disebut konklusi.

Berdasarkan perbedaan penggunaan istilah “argumentasi” di atas, dapat ditemukan bahwa masih banyak orang yang menyamakan antara “argument” dengan “penjelasan”, padahal keduanya sangat berbeda. Hal penting yang harus dipegang adalah bahwa “argumen” berusaha untuk mengemukakan bahwa sesuatu hal itu benar, sementara “penjelasan” berusaha untuk menunjukkan bagaimana sesuatu hal itu benar.

Contoh yang dapat dikemukakan tentang perbedaan antara “argumentasi” dan “penjelasan” dapat dilihat pada kasus di bawah ini: Suatu waktu, seorang anak kecil menemukan sesosok tubuh manusia di tepian sungai. Oleh karena sosok tubuh itu tidak bergerak, maka dengan segera sang anak melaporkan kepada orang dewasa yang ditemuinya, yang dilanjutkan kepada pihak yang berwenang. “Argumentasi” harus menunjukkan bahwa tubuh yang tidak bergerak itu sudah mati atau masih hidup. Ketika diperiksa berdasarkan premis-premis kedokteran dan lain-lain (tidak adanya tanda-tanda vital kehidupan dan lain-lain), tim ahli menyimpulkan bahwa sosok tubuh itu sudah tidak bernyawa atau mati. Jadi, tim ahli telah berargumentasi bahwa sosok tubuh itu telah mati. “Argumentasi” itu tentu saja butuh “penjelasan” mengapa sampai tanda-tanda vital kehidupan hilang dari sosok tubuh itu yang berujung pada kematian? Setelah dicari, ditemukan penjelasannya bahwa air telah telah memasuki paru-paru karena ditemukan ada air di sana. Hal itulah yang menurut tim ahli menjelaskan mengapa sosok tubuh itu sudah tidak bernyawa.


Referensi:

Baggini Julian & Peter S. Fosl, (2010), The Philosopher’s Toolkit: A Compendium of Philosophical Concepts and Methods (2nd ed.), Oxford: Wiley-Blackwell.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon