Jumat, 01 Juli 2011

Tentang Berpikir Rasional

Saya, sampai saat ini, masih saja meragukan kegiatan berpikir yang dilakukan. Keragu-raguan itu terkait dengan pertanyaan seberapa rasionalkah kegiatan berpikir saya? Tentu saja, menurut saya, berpikir secara rasional atau tidak rasional tidak bisa dibedakan seperti hitam atau putih, tetapi ada gradasinya. Dalam penerimaan akan rasionalitas, maka gradasi yang dimaksudkan adalah kegiatan berpikir dapat dilakukan dari sangat tidak rasional sampai pada sangat rasional. Pada satu titik, saya merasa bahwa apa yang dipikirkan kurang rasional, tetapi pada titik yang lain, saya merasa bahwa apa yang dipikirkan itu cukup atau sangat rasional sehingga layak dinyatakan kepada orang lain.

Bagaimana saya sendiri bisa mengetahui bahwa apa yang dipikirkan itu sangat tidak rasional atau kurang rasional atau cukup rasional atau sangat rasional? Berpikir rasional bagi saya adalah suatu keharusan bagi semua manusia. Dengan kemampuan kerja otak sedemikian rupa, maka hal itu adalah suatu keharusan tak terbantahkan.

Bagi sementara orang, ketika suatu pemikiran dikatakan sangat rasional, maka sesungguhnya pemikiran itu juga sangat filosofis. Tentu saja saya sangat mendukung pendapat ini, walaupun masih banyak orang yang menganggap bahwa esensi filsafat adalah tentang ide-ide atau teori-teori tentang hakekat alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. Hal itu tidaklah salah, seratus persen benar, namun ide-ide dan teori-teori seperti itu selalu dimulai dari argumen-argumen yang rasional, yang starting pointnya adalah premis-premis yang dapat diterima dan tak terbantahkan.

Pada titik itu, pemikiran filosofis kemudian mesti memayungi seluruh upaya berpikir manusia, termasuk pemikiran religius yang starting pointnya adalah spekulasi-spekulasi tentang hal-hal yang sakral dan transenden. Selain itu, tradisi pemikiran Barat pun sarat dengan ide tentang berpikir rasional, tidak rasional atau anti-rasional sementara tradisi pemikiran Timur, Afrika, Pribumi Amerika dan masyarakat-masyarakat tradisional lainnya kurang memperhatikan hal itu, walaupun tetap ada penjelasan-penjelasan tentang klaim-klaim yang mereka bangun.

Tentu saja, saya tidak hendak mengatakan bahwa filsafat adalah satu-satunya disiplin yang mengharuskan seluruh manusia yang punya kemampuan berpikir untuk berpikir secara rasional. Namun untuk menjadi bagian dari barisan para pemikir secara filosofis, maka syaratnya adalah terus menerus melatih diri untuk berpikir secara rasional. Filsafat memiliki seperangkat alat untuk digunakan dalam latihan itu. Seperti sepak bola, semakin melatih kemampuan dribbling, semakin baik melakukannya dalam pertandingan yang sebenarnya. Salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh seseorang yang rasional adalah berargumentasi. Melatih kemampuan berargumentasi dengan berangkat dari premis-premis yang telah diterima dan berujung pada konklusi adalah hal yang tak bisa ditawar lagi.

Jadi, mari kita mulai melatih diri untuk berpikir rasional.


Referensi:

Baggini Julian & Peter S. Fosl, (2010), The Philosopher’s Toolkit: A Compendium of Philosophical Concepts and Methods (2nd ed.), Oxford: Wiley-Blackwell.

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon