Selasa, 14 Februari 2012

Berawal Dari Mengasah Parang Sampai Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Seperti tulisan-tulisan saya yang lalu, tulisan ini pun dimulai dengan pengalaman pribadi saya dalam mengerjakan sesuatu. Biasanya, pada saat mengerjakan hal itu, atau setelah selesai mengerjakannya, ada saja hal yang terlintas dalam pemikiran (mungkin itu yang namanya intuisi) yang kemudian mengarahkan saya untuk menuliskannya secara sederhana.

Sampai kini, Ujian Akhir Nasional (UAN) masih menjadi alat ukur kecerdasan manusia yang bersekolah di Indonesia. UAN adalah standar yang digunakan di seluruh sekolah negeri ini, tak peduli di kota atau kampung, pesisir atau gunung. Tak peduli swasta atau negeri, kekurangan guru atau kelebihan guru. Selain UAN yang diperuntukkan bagi para siswa di tingkat pendidikan dasar dan menengah, baru-baru ini muncul lagi kebijakan tentang wajib publikasi ilmiah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan S1, S2, dan S3 di negeri ini. Kewajiban itu pun rencananya akan menjadi standar saat Agustus 2012 nanti.

Adakah yang salah dengan aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan itu? Saya sendiri tidak berpretensi untuk menemukan kesalahan dan kebenaran karena dalam posisi sebagai penafsir terhadap tiap fakta, pilihan saya terhadap fakta-fakta yang relevan untuk dijadikan data bagi tulisan ini pun bisa saja berbeda dengan pilihan fakta-fakta orang lain. Perbedaan pilihan itu akan berujung pada perbedaan penafsiran. Perbedaan penafsiran tentu saja adalah hal yang wajar karena dalam bahasa John Dewey, pertimbangan-pertimbangan pemilihan fakta itu didasarkan pada kepentingan pemecahan masalah masa kini. Masalahnya adalah bagi sebagian orang, standarisasi pendidikan dalam rangka mengukur kecerdasan manusia itu tidak dilihat sebagai masalah, sementara bagi orang lain, itu adalah masalah paling mendasar terkait konsep pendidikan secara umum.

Saya kira sepenggal paragraf di atas cukup menjelaskan bahwa ada masalah terkait pendidikan di negeri kita. Masalah yang bagi sebagian orang ingin diselesaikan secara praktis, dalam perspektif logika waktu pendek, tetapi bagi sebagian yang lain perlu dipikirkan secara mendalam, hati-hati, demi memperoleh pencerahan yang kritis terkait masa depan pendidikan yang lebih baik. 


Terkait dengan itu, saya teringat perjalanan pulang kampung saat anak pertama saya lahir beberapa waktu lalu. Salah satu hal penting yang saya kerjakan, selain hal-hal penting lainnya adalah membeli parang yang baru dan mengasahnya menjadi tajam. Saya harus membeli parang baru karena keluarga dari istri adalah pekebun yang memang membutuhkannya.

Pertengahan Januari, saya mengambil waktu 2 hari untuk mengunjungi orang tua di Amahei, Seram Selatan. Kebetulan di sana juga tinggal masyarakat Negeri Iha yang tidak lagi kembali ke Negeri mereka di Saparua tetapi menetap di Pesisir Seram Selatan ke arah Timur, tepatnya di bekas Negeri Nuweletetu, dekat Sepa. Bagi orang-orang Maluku Tengah, sudah dimaklumi bahwa orang Iha adalah pandai besi terkenal yang "jago" membuat parang. Ditemani seorang kakak, kami pun berangkat ke Negeri Iha dan membeli 4 (empat) bilah parang. Sebilah parang panjang dan 3 (tiga) bilah yang pendek dapat kami bawa pulang. Keesokan harinya saya kembali ke Ambon dengan keempat bilah parang itu. Setelah tiba di Ambon, saya mulai melakukan "ritual parang baru", yaitu mengasahnya sampai tajam agar dapat digunakan. Bagi mereka yang tidak terbiasa mengasah parang baru, pekerjaan ini dianggap biasa saja, tetapi bagi saya yang selalu harus mengasah parang yang baru dibeli, ini adalah bagian yang paling penting jika hendak mendapatkan titik di mana ketajaman sebilah parang dapat bertahan. Istilah orang di kampung saya "goso parang pertama kali tuh musti bae-bae supaya akan pung waja bisa batahang." (Mengasah parang pertama kali itu harus yang baik supaya baja nya bisa bertahan). Baja dari sebilah parang biasanya terletak pada bagiannya yang tajam. Semakin bertahan baja parang itu, semakin bertahan ketajamannya. Agar baja parang itu dapat bertahan, dibutuhkan keahlian tertentu saat mengasahnya pertama kali.

Sesuai dengan kebiasaan di kampung, mengasah parang pertama kali tidak boleh menggunakan batu asah yang dibeli di toko, tetapi harus menggunakan batu yang diambil dari kali atau sungai. Kebetulan di rumah istri ada batu asah dari kali/sungai jadi saya tidak perlu mencari lagi. Dalam 1 minggu, saya baru bisa menajamkan 1 bilah parang, dengan perhitungan dalam sehari saya duduk mengasahnya selama 4 jam diselingi istirahat. Dalam waktu 4 jam itu, tiap sisi parang saya asah sebanyak 4000 kali dengan hitungan tiap 100 kali mengasah sisi yang satu, saya balik ke sisi yang lain dan mengasahnya sebanyak 100 kali, begitu seterusnya. Dapat dibayangkan, berapa kali tiap sisi parang itu saya asah selama 7 hari? Mari kita hitung: 4 x 7 = 28 x 4.000 = 112.000 kali pada tiap sisinya. Setelah mengasah sebanyak itu, barulah saya mendapatkan ketajaman sebilah parang yang benar-benar saya inginkan. Tetapi, itu baru sebilah parang. Beralih ke parang yang kedua, ternyata tidak sama waktunya dengan parang yang pertama. Saya hanya memerlukan waktu 4 hari saja untuk mengasahnya dengan rumus yang sama. Parang yang ketiga saya asah di Nabire karena sebilah parang saya bawa ke Nabire dan sebilah lagi ke Jayapura. Parang yang di Nabire saya asah selama 9 hari, itu pun belum tajam benar seperti yang saya inginkan. Parang yang saya bawa ke Jayapura adalah sebilah parang yang panjang, yang saya asah sampai hari ini, belum tajam seperti parang pertama (sudah 8 hari saya mengasahnya, tiap hari 2 jam dengan rumus yang sama [100 kali dibolak balik selama 2 jam]).
Setelah selesai seluruh parang diasah, saya memikirkan pertanyaan "Mengapa?". Mengapa waktu dan banyaknya asahan tidak sama terhadap masing-masing bilah parang agar diperoleh ketajaman yang diinginkan? 
Saya mencoba berspekulasi tentang jawabannya:
  1. Hal itu sangat tergantung dari bentuk atau kontur parang itu sendiri. Ada parang yang pada saat dibuat sudah dibentuk hampir tajam, ada yang masih tebal di bagian yang harusnya tajam.
  2. Hal itu tergantung dari panjang pendeknya parang. Sebilah parang yang panjang akan memakan waktu yang lebih lama dari pada parang pendek.
  3. Hal itu tergantung dari batu yang digunakan untuk mengasah. Ada batu asah yang sudah terbiasa digunakan sehingga "ia berpengalaman" dalam mengasah parang, artinya alur batu asahnya sudah dapat digunakan untuk mengasah parang dengan baik. Sementara yang di Nabire dan Jayapura, saya menggunakan batu asah yang baru diambil dari kali / sungai. Dengan demikian, baik parang maupun batu asah saling membentuk. Parang dibentuk ketajamannya, batu asah dibentuk alur asahannya.
  4. Hal itu tergantung dari perlakuan berbeda orang yang mengasah parang terhadap tiap bilah parang. Ada parang yang pada saat diasah ditekan sedemikian rupa sehingga cepat tajam, ada parang yang kurang ditekan, ada parang yang sudut tekanannya lebih kecil, ada parang yang sudut tekanannya lebih besar.
Kalau ada yang mau memberikan pendapat lain terkait itu, saya sangat hargai.

Memang benar peribahasa yang menyatakan "Semakin diasah, semakin tajam" yang menggambarkan tindakan manusia untuk terus belajar tentang apa saja yang ingin dikuasainya. Belajar dengan membaca, belajar dengan berkata-kata, belajar dengan melakukan, dan lain-lain dapat berujung pada penguasaan sesuatu secara maksimal.

Setelah selesai dengan keempat bilah parang itu baru saya sadari analoginya dengan bidang pendidikan manusia. Seperti halnya parang yang perlakuan terhadapnya berbeda satu sama lain, harusnya manusia yang terlibat di dalam pendidikan pun dipandang berbeda satu dengan yang lain. Dalam kenyataannya, seringkali tiap manusia dipandang sama, harus menerima sama banyak, sama waktu, sama model, sama metode, dengan harapan hasilnya sama. Hasil yang tidak sama akan dinyatakan tidak lulus.

Apakah demikian maksud dari pendidikan? Terhadap pertanyaan itu, tentu pandangan tentang manusia dan kecerdasannya tak dapat diabaikan. Dengan tidak meremehkan pandangan-pandangan lain tentang kecerdasan manusia, saya sangat tertarik membahas analogi ini dari sudut pandang Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) yang dikemukakan pertama kali oleh Howard Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya Frames Of Mind. Pendapat itu ditulisnya setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun tentang kapasitas kognitif manusia. Saat ia menemukan bahwa di antara anak-anak yang autis, di mana kemampuan berbahasa dan bersosialisasi sangat rendah, mereka memiliki kemampuan matematika atau musik yang sangat tinggi, dan kemampuan-kemampuan pada situasi ekstrim lainnya, di luar pemahaman selama ini. Dari sana, ia (Gardner) menolak pendapat yang menyatakan bahwa kognisi manusia adalah satu kesatuan dan manusia hanya memiliki kecerdasan tunggal yang mengarahkan segala tindakannya. Ia menyatakan bahwa tidak ada satu satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan saja, melainkan merupakan gabungan dari bermacam-macam kecerdasan.


Pokok-pokok pikiran  yang dikemukakan Gardner terkait kecerdasan adalah :
  1. Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya.
  2. Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain.
  3. Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia.
  4. Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.
Adapun Definisi Gardner tentang kecerdasan adalah:
  1. Kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
  2. Kecakapan untuk mengembangkan masalah baru untuk dipecahkan.
  3. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat didalam kehidupannya.
Kecerdasan majemuk yang diidentifikasi oleh Gardner dan para tokoh lain adalah:
  1. Kecerdasan Logika - Matematika (Logical-Mathematical Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan logika, abstraksi, penalaran, angka-angka. Para pecatur kelas dunia, programmer komputer, ahli matematika dan ahli-ahli lain yang mengandalkan kemampuan logika dan penguasaan angka-angka adalah mereka yang kecerdasan Logika-Matematikanya lebih dominan daripada kecerdasan yang lain.
  2. Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan pertimbangan-pertimbangan ruang dan kemampuan visualisasi dengan menggunakan indra penglihatan. Para seniman, desainer, arsitek adalah mereka yang memiliki kecerdasan ruang yang dominan.
  3. Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan kata-kata, bicara, menulis. Bagi mereka yang kecerdasan bahasanya dominan dapat dengan mudah membuat tulisan, berpidato, berdebat, menguasai bahasa asing, memahami struktur dan tata bahasa, dan lain-lain.
  4. Kecerdasan Kinestetik Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang memungkinkan kemampuan untuk mengontrol gerak tubuh dan menggerakan objek dengan memanfaatkan tubuh dengan sangat baik. Kecerdasan ini termasuk akurasi dalam tindakan, pandangan yang baik tentang tujuan dari tindakan-tindakan fisik dan lain-lain yang berhubungan dengan pemanfaatan tubuh. Olahragawan, penari, musisi, tentara, polisi adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan ini cukup dominan.  
  5. Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang sangat sensitif dengan bunyi musik, irama, nada, kontrol suara, dan sebagainya. Orang-orang dengan kecerdasan musikal yang dominan akan dengan mudah menciptakan lagu, memainkan alat musik, memanfaatkan teknologi di bidang musik dan sebagainya. 
  6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang memungkinkan seseorang secara cepat berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang kecerdasan interpersonalnya sangat dominan akan sangat sensitif dengan situasi orang lain, terkait perasaan, temperamen, motivasi, "mood"/suasana hati, dan lain-lain. Mereka memiliki kemampuan untuk bekerjasama dalam tim yang sangat baik. Mereka akan sangat berempati dengan situasi orang lain, termasuk ingin selalu belajar dari orang lain dan menikmati diskusi-diskusi atau debat-debat bersama. Para politisi, manejer, guru, pekerja sosial, sales, adalah orang-orang yang mestinya memiliki kecerdasan interpersonal yang dominan.
  7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan kemampuan introspektif dan refleksi diri. Orang-orang yang kecerdasan intrapersonalnya dominan adalah mereka yang sangat memahami dengan mendalam situasi diri sendiri, kekuatan/kelemahan, keunikan, reaksi, emosi, dan lain-lain. Para penulis buku, psikolog, konselor, filsuf, pendeta atau imam adalah mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal cukup dominan.
  8. Kecerdasan Naturalistik (Naturalistic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Mereka mampu memahami alam dengan sangat baik, berempati dengan lingkungan, bekerja untuk lingkungan dan sebagainya. Mereka ini adalah para petani, para ilmuwan lingkungan, orang-orang yang bekerja di taman-taman kota, para nelayan, dan sebagainya.
  9. Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan wilayah spiritual yaitu kemampuan untuk berkontemplasi dan berefleksi tentang fenomena-fenomena dan berupaya mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang melampaui data-data yang dapat diindrai. Para pendeta, saintis, filsuf, fisikawan, matematikawan, kosmolog adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan eksistensial yang dominan.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa kecerdasan logika dan bahasa yang selama ini selalu menjadi ukuran dan standar kecerdasan di Indonesia (termasuk di dalam UAN dan wajib publikasi ilmiah nantinya) patut dipertimbangkan lagi posisinya. Mengapa?

Bila penjelasan Gardner tentang kecerdasan majemuk ini cukup menjelaskan realitas kecerdasan manusia, maka dengan menjadikan kecerdasan logika dan bahasa sebagai ukuran / standar, kecerdasan yang lain akan dianggap tidak ada karena "mesti" terserap ke dalam 1 atau 2 kecerdasan saja. Padahal, dalam faktanya tidaklah demikian.
Contoh: Ada orang yang bergiat di bidang lingkungan hidup dengan menanam bakau di wilayah-wilayah pantai yang mengalami abrasi, berhasil menyelamatkan wilayah itu dari abrasi lebih lanjut, bukanlah lulusan sekolah ternama. Ia tidak pernah mengikuti UAN apalagi mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Untuk membaca saja sudah cukup sulit, tetapi ia memiliki kecerdasan lain yang seorang sarjana ber IP 4 pun belum tentu memilikinya, yaitu kecerdasan lingkungan (Naturalistic Intelligence). Masih banyak contoh yang dapat diberikan untuk menolak standar kecerdasan hanya pada logika dan bahasa saja.
Setelah tulisan cukup panjang ini, apa hubungannya dengan mengasah parang? Analogi kecerdasan ada pada bentuk, ukuran dan kontur parang itu. Analogi perlakuan terhadap kecerdasan juga ada pada batu yang digunakan untuk mengasah, sudut untuk mengasah, waktu yang diperlukan untuk mengasah, dan sebagainya. Intinya, hal yang berbeda harus diberlakukan berbeda. Bila dalam mengasah parang standarnya adalah ketajaman ideal, maka dalam pendidikan, standarnya bukan lagi  lulus UAN atau publikasi ilmiah tetapi kemampuan memanfaatkan kecerdasan untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Kalau ada mahasiswa yang lulus dengan nilai baik tetapi setelah wisuda menjadi sales di dealer motor atau di perusahaan asuransi, itu bukan karena ia tidak cerdas di bidangnya, tetapi karena ia memiliki kecerdasan di wilayah lain yang lebih dominan.
Kalau ada siswa lulusan SMK otomotif atau bangunan memilih masuk sekolah pendeta atau musik, itu bukan karena panggilan Tuhan atau keinginan orang tua, tetapi karena dorongan kecerdasan eksistensial atau musikalnya yang dominan.
Ujung-ujungnya kita akan bicara tentang pendidikan secara khusus dimana sekolah menjadi domain penting. Sayang sekali, manajemen, administrasi, sistem, proses di sekolah tidak mengarah pada nilai-nilai ideal pendidikan yang meyakini bahwa kecerdasan manusia adalah majemuk, bukan tunggal. Sekolah saat ini telah menjadi instrumen kapitalisme sebagai bagian dari perselingkuhan negara dengan para penguasa modal. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak bersekolah dianggap tidak cerdas atau tidak akan memiliki kecerdasan. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga secara luas ada anggapan bahwa hanya lewat sekolah saja ada kemungkinan mobilisasi sosial, kaum bawah naik ke menengah, kaum menengah naik ke atas. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga seorang sopir sangat percaya kalau anaknya dapat menjadi pilot, seorang penjual korang percaya bahwa anaknya dapat menjadi wartawan dengan ide "pendidikan gratis" dari para politisi yang haus kekuasaan. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa agar pada saat pemilihan eksekutif atau legislatif, suara-suara rakyat mengalir, tetapi pada akhirnya citra itu hanyalah bentuk lain dari kemunafikan. 
Saya sangat meyakini bahwa selama kepentingan politik-ekonomi masih dominan dalam sistem pendidikan kita, maka standar kecerdasan akan tetap dipertahankan karena hanya dengan standarisasilah kapital akan diperoleh. 
"Semakin diasah semakin tajam", tetapi tiap bilah parang harus diberlakukan berbeda karena memang berbeda.

Referensi:

Tidak ada komentar: