Sabtu, 03 Maret 2012

Campuran "dua enam": Refleksi dari Proses Pendampingan Masyarakat Lokal di Nabire, Papua

Sungai Siriwo, Nabire - Papua. (Sumber: plus.google.com)
Diskusi dan bercerita dengan istri saya, Melsje, adalah hal yang menyenangkan, apalagi kami berbeda bidang (Dia lulusan teknik sipil, Saya lulusan filsafat), juga berbeda tempat tugas (Dia di Nabire, Saya di Jayapura). Saya banyak belajar dari cara dan metode kerjanya yang penuh perhitungan, sebaliknya dia banyak belajar dari cara dan metode kerja Saya yang cukup hati-hati mengambil keputusan tapi tegas dan tidak bisa diatur di luar aturan. (walahhh .. PeDe banget .. )

Seperti biasa, ada saja kisah perjalanannya mengunjungi wilayah-wilayah terpencil di Kabupaten Nabire yang dapat menjadi bahan refleksi bagi saya. Seperti kali ini, ia mengisahkan tentang perjalanannya akhir Februari lalu ke salah satu kampung di tepi Sungai Siriwo, Nabire. Kampung yang harus ditempuh selama kurang lebih 6 jam perjalanan melalui laut dan menelusuri sungai Siriwo. (akhirnya saya harus menerima kulit wajah Melsje yang beda warna. Tengah hidung ke atas berwarna cerah karena tertutup pet topi sementara tengah hidung ke bawah berwarna gelap karena tidak terlindungi dari terik matahari di tengah laut).

Awalnya ia bersama rekan kerja berniat melakukan monitoring pekerjaan fisik yang telah direncanakan di kampung tersebut, tetapi ternyata belum ada yang dikerjakan karena para penduduk kampung tidak memiliki kemampuan dasar melakukan pekerjaan teknik seperti tukang batu atau tukang kayu. Pengetahuan mereka hanyalah pengetahuan lokal berdasarkan pengalaman setiap hari. Oleh karena itu, mereka kebingungan ketika diperhadapkan dengan gambar kerja dan rincian bahan serta cara kerja seperti yang tersedia dalam RAB. Melsje pun berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh masyarakat kampung dan mulai menjelaskan hal-hal teknis itu dengan bahasa sehari-hari, dengan harapan mudah dimengerti oleh mereka.

Misalnya, ketika mereka tidak mengerti bagaimana cara mengukur pasir 1 kubik, Melsje langsung meminta mereka membuat penampang kotak menggunakan papan dengan ukuran 1 m x 1 m x 1 m. Ia kemudian meminta mereka mengisi penuh kotak itu dengan pasir dan bilang kepada mereka bahwa pasir yang terisi penuh di kotak itu adalah 1 kubik. Jadi, untuk mengukur kubikasi material apa saja, masyarakat dapat menggunakan kotak kayu itu.

Mereka berniat membuat jalan rabat beton di dalam kampung, tetapi karena belum pernah mengerjakan pekerjaan seperti itu, mereka belum memulainya. Material pun belum terkumpul sesuai yang tertera di dalam RAB. Melsje pun meminta mereka mengumpulkan bahan dan peralatan sesuai RAB selama 1 minggu. Minggu berikutnya ia akan kembali ke sana untuk mulai mengerjakan pekerjaan itu bersama mereka. 

Setelah semua selesai diarahkan, hari berikutnya ia kembali ke kota dengan harapan 1 minggu kemudian ia dapat kembali ke sana dan bekerja bersama-sama masyarakat. Namun karena masalah bahan bakar (beberapa minggu terakhir, bahan bakar sulit didapatkan di Nabire karena kondisi laut yang tidak memungkinkan menyebabkan kapal pengangkut BBM terlambat tiba) akhirnya ia terlambat 3 hari dari janjinya. Setelah lewat 1 minggu 4 hari sejak kunjungan di atas, ia kembali lagi ke kampung dengan rekan kerjanya. 

Seperti pada umumnya kampung-kampung di pedalaman, setiap kunjungan orang dari luar selalu disambut dengan meriah di pinggir sungai. Begitu juga pada saat kedatangan Melsje. Longboat yang ditumpanginya belum juga merapat di tepi sungai, masyarakat kampung sudah memenuhi tempat berlabuhnya perahu itu untuk memastikan siapa gerangan yang berkunjung ke kampung.

Ketika mereka melihat bahwa Melsje yang tiba, serta merta mereka berteriak, "Ibu sudah datang, ibu sudah datang." Mereka pun menolong Melsje turun dari perahu dan membawakan barang-barangnya menuju tempat pertemuan. Dalam perjalanan menuju ke tempat itu, seorang yang dipercaya sebagai pemuka di situ bilang kepada Melsje, "Ibu, kami sudah bekerja sesuai dengan apa yang ibu bilang waktu itu karena kami tunggu Ibu telalu lama." Mendengar antusias masyarakat itu, Melsje cukup senang dan mengucapkan terima kasih karena mereka sudah mulai bekerja sambil meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatannya itu.

Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan, ia melewati jalan rabat beton yang baru dibuat itu. Keningnya berkerut dengan tampilan jalan itu hanya karena warna campuran semen yang kelihatannya tidak merata serta sambungan campuran yang tidak merata juga (saya pikir orang teknik lebih tahu maksudnya). Tetapi ia mendiamkan hal itu sambil terus melanjutkan langkah ke tempat pertemuan.

Setelah tiba di tempat pertemuan, mereka pun diminta menjelaskan tentang pekerjaan yang telah dilakukan. Bapak yang tadi memberitahukan tentang pekerjaan yang telah dimulai itu kemudian angkat suara, "Ibu, kami sudah bekerja selama tiga hari ini. Jalan yang sudah kami kerjakan sepanjang lima belas meter. Kami pakai campuran dua enam." Setengah terperangah dan kaget, Melsje kembali serius mendengarkan penjelasan mereka tentang pekerjaan itu. Tiba saatnya ia ingin melihat secara langsung pekerjaan itu. Setelah dilihat dan dipelajari, ia menemukan beberapa hal yang patut dievaluasi. Tetapi karena sudah terlalu lelah dengan perjalanan yang 6 jam itu, ia memutuskan beristirahat dulu sebelum memulai pekerjaan besok paginya.

Keesokan paginya, setelah cukup beristirahat, Melsje kembali melakukan pertemuan dengan masyarakat dan mulai menuturkan temuan-temuannya. Ia menanyakan darimana rumus "dua enam" itu diperoleh dan bagaimana maksudnya. Seseorang kemudian menyatakan kalau rumus itu datang dari bendahara kampung dengan perhitungan campuran 2 sak semen, 3 sak pasir, dan 1 sak krikil. Jadi, dua itu adalah semen, sementara enam itu adalah dua semen tambah tiga pasir tambah satu krikil. Menurut mereka, kalau 1:2:3, terlalu lama karena hanya satu semen, dua pasir, tiga krikil. Mereka ingin bekerja dua kali lipat, jadi "dua enam".

Entah harus marah atau merasa lucu, Melsje pun menjelaskan tentang perhitungan-perhitungan dan faktor-faktor teknis yang mendasarinya. Semua pun mengangguk tanda mereka baru mengerti bahwa ada akibat-akibat tertentu dari pekerjaan yang telah mereka lakukan tidak sesuai perhitungan itu. Tetapi apa mau dikata, sudah 15 meter jalan yang dikerjakan. Bagi Melsje, biarlah 15 meter itu menjadi pengalaman, sementara beberapa puluh meter berikutnya harus dikerjakan dengan benar.

Hari itu dan hari-hari berikutnya, selama 3 hari penuh, ia terlibat bersama dengan masyarakat kampung untuk membuat jalan rabat beton yang baik. Ia tidak lagi menggunakan rumus masyarakat "dua enam" yang ternyata cuma dicampur asal jadi, tetapi menggunakan rumus teknis "satu dua tiga" dengan proses mencampur yang tepat. Dari situ baru masyarakat mengerti bahwa mencampur campuran semen, pasir dan krikil dengan rumusan "satu dua tiga" secara benar lebih melelahkan (karena memang tidak terbiasa) daripada campuran "dua enam" yang dikerjakan seadanya. 

Hari keempat,  Melsje harus kembali ke Kota Nabire untuk mempersiapkan diri melakukan perjalanan ke Jayapura dalam rangka pekerjaan juga.

Refleksi

Mendengar cerita Melsje dan menuangkannya dalam tulisan ini menjadi refleksi tersendiri bagi saya. Paling kurang, ada dua hal yang patut ditarik:
  1. Masyarakat lokal, yang hampir tidak tersentuh "pembangunan" yang didengung-dengungkan pemerintah, ternyata begitu antusias pada saat mulai bersentuhan dengannya. Mereka tidak mau berlama-lama lagi dan ingin segera menikmati hasilnya. Bila perlu mereka akan mengerjakan apa yang diinginkan walaupun tidak sesuai dengan perhitungan. Patut dimengerti tentang antusiasme ini sebagai akibat dari tidak tersentuhnya mereka dengan program-program pembangunan selama ini.
  2. Masyarakat lokal memiliki perhitungan-perhitungan sendiri. Tentang ini, yang hendak saya katakan bahwa mereka cenderung pragmatis. Artinya, "jangan terlalu banyak bicara, buktikan dengan kerja". Kalau rumus anda seperti itu (campuran 1:2:3), maka agar cepat menikmati hasil, rumus itu harus digandakan (campuran menjadi 2:6). Pada titik ini, pragmatisme mereka tidak bisa disalahkan, tetapi harus diarahkan pada jalur yang benar. Berpikir dengan alur berpikir masyarakat lokal tetapi mengarahkan hal-hal teknis ke jalur yang benar adalah salah satu cara yang bijak dalam proses community development. Untuk itu, saya ternyata harus belajar banyak dari Melsje.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hehehehee.... asyik...
dong pung rumus ini memang mantab...
ahaahaheeee...t tedelc
kado

Sampah Ambon