Rabu, 02 Januari 2013

Lima Menit Lepas Dari Rusuh

Tanggal 28 Desember pagi hari kami sekeluarga berencana berlibur ke Amahei untuk menghadiri perayaan natal Amahei - Ihamahu 2012. Rencananya lewat laut menggunakan kapal cepat, tetapi setelah rencana kami diketahui oleh keluarga istri, jadilah semua rame-rame pada ikut ke Amahei. Karena tidak mungkin 8 orang menggunakan kapal cepat, kami memilih menggunakan mobil lewat jalan darat (Waipirit-Kairatu ke Masohi).


Berangkat dari rumah di Lateri-Ambon sekitar jam 10 pagi, tiba di Liang sebelum jam 11, baru bisa menyeberang dengan Ferry ke Waipirit sekitar jam 12 siang. Perjalan sekitar 1 jam, istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan sekitar jam 2 siang. Tiba di Masohi kurang lebih jam 5 sore.


Singkat cerita, bertemu dengan orang tua dan keluarga, dilanjutkan dengan merayakan natal sebagaimana tujuan kepulangan.


Tanggal 29 Desember 2012, kami kembali ke Ambon melalui jalan yang sama. Lepas dari Amahei sekitar jam 12 Siang dengan harapan sekitar jam 4 sore sudah bisa menyeberang ke Ambon.


Tiba di ujung Desa Rumahkay, kami bertemu dengan iring-iringan besar, yang setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata rombongan dari Desa Sepa yang hendak pulang diantar oleh masyarakat Kamarian. Kami menepi sejenak, memberikan kesempatan bagi iring-iringan itu lewat tanpa gangguan.


Setelah iring-iringan terakhir melewati kami, tanpa punya firasat apa-apa, perjalanan kami lanjutkan. Setibanya di Desa Kamariang, sudah nampak keramaian di jalanan. Namun kami juga tidak punya firasat apa-apa karena berpikir baru saja selesai pelantikan raja, wajarlah keramaian itu ada. Setibanya di dermaga ferry Waipirit barulah kehebohan terjadi diawali dengan masuknya ambulance membawa korban bentrokan dari Hualoy. Setelah dicek kesana kemari baru diketahui kalau ada bentrokan antara warga Hualoy dengan warga dalam iring-iringan yang melewati kami tadi.


Tidak bermaksud menganalisis sebab musabab bentrokan, tulisan ini hanya mau sedikit menegaskan bahwa dalam kerumunan masa, tak ada satu pribadipun yang mampu menahan diri. Hampir setiap bentrokan warga berawal dari sekedar kumpul-kumpul atau iring-iringan. Dalam konteks bentrok di atas, psikologi masa rupa-rupanya tidak dikuasai dengan baik oleh aparat keamanan. Dalam amatan kami, saat iring-iringan itu lewat, tak ada patroli polisi atau apa pun namanya yang berfungsi mengamankan situasi. Intelijen pun rupa-rupanya lemah dalam hal mendeteksi gerakan-gerakan masa dari kedua belah pihak. Paradigma aparat keamanan masih seputar TKP (tempat kejadian perkara). Padahal, bagi saya, alangkah baiknya bila TKP tidak ada. Artinya, dengan deteksi dini dan penindakan tegas, bentrok-bentrok yang melibatkan masa dalam jumlah banyak seperti itu tidak perlu terjadi.


Hmmmmm ... kalau saja kami terlambat 5 menit dalam perjalanan, maka kami akan bertemu iring-iringan itu di sekitar lokasi bentrokan.