Kamis, 10 Juli 2008

GOLPUT = MAKAR: betulkah itu atau hanya sesat pikir?

Hari ini saya coba mencari tahu hasil pilkada Maluku yang diselenggarakan kemarin. Yang baru muncul memang hasil Quick Count dari LSI. Ya udahlah, kalau hasil seperti itu mau bilang apa lagi. Masyarakat Maluku patut bersyukur karena peristiwa politik di Maluku itu telah selesai dengan segala kelebihan dan kekurangannya saja.
Pada saat mencari-cari berita tentang itu di beberapa sumber terkait, saya kaget dengan salah satu berita dari MM dengan judul GOLPUT ADALAH TINDAKAN MAKAR. Saya mencoba memikirkan pernyataan salah seorang (RR = bukan Rudy Rahabeat ya..) petinggi salah satu parpol di Maluku itu. GOLPUT dapat dikategorikan sebagai tindakan MAKAR.
Menurut saya, ini adalah sesat pikir politisi yang dapat berpengaruh pada bagaimana pendidikan politik di Maluku. Mengapa dikatakan sesat pikir? Mari kita uji pernyataan itu (harusnya tiap pernyataan dapat diuji, apalagi yang seperti ini).
GOLPUT: adalah singkatan dari Golongan Putih, artinya mereka yang memiliki hak pilih (Hak pilih = hak politik yang dimiliki oleh WNI, sudah berumur 17 tahun atau sudah menikah untuk memilih dan/atau dipilih dalam jabatan politik) tetapi tidak menggunakan haknya itu.
MAKAR: Istilah ini sendiri dulunya jarang digunakan. Pada masa SOeharto, istilah yang digunakan adalah subversif (= tindakan-tindakan dari bawah yang bertentangan dengan kebijakan-kebijakan bahkan bertujuan meruntuhkan yang di atas). Soal makar sendiri memang diatur dalam KUHP. Sedikitnya ada delapan pasal yang berkaitan langsung maupun tidak langsung tentang itu. Pasal 107 KUHP misalnya, mengatur tentang aksi makar yang bermaksud menggulingkan pemerintahan. Ayat (2) Butir 1 pada Pasal 110 menguraikan soal permufakatan jahat. Ancaman hukuman bagi pelaku makar sendiri terbilang berat. Mulai dari sanksi penjara 15 tahun hingga pidana mati. Menurut Loebby Loqman, Guru Besar Fakultas Hukum UI, "Masalahnya adalah, semua pasal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi pengalihan kekuasaan secara inkonstitusional". (lihat)
Pertanyaannya adalah apakah masyarakat yang GOLPUT (tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum) itu dapat dikategorikan sebagai tindakan MAKAR?
Bila disusun skema pemikiran dari pernyataan RR itu:

tidak menggunakan
hak pilihnya
GOLPUT--------------------> MAKAR

Kesimpulan yang ditarik dari GOLPUT adalah salah satu kategori MAKAR. Apakah kesimpulan itu tepat?
Penjelasan tentang makar telah disampaikan di atas. Pasal 87 KUHP menyebutkan, sebuah perbuatan dapat dikatakan sebagai makar apabila niat untuk itu telah terlihat dari adanya permulaan pelaksanaan. Bagi saya, masalahnya adalah sulit mengukur niat karena hal itu bersifat abstrak dan luas.
Apakah tidak pergi ke TPS itu merupakan permulaan pelaksanaan dari tindakan makar atau upaya pengalihan kekuasaan secara inkonstitusional tadi? Tidaklah demikian. Dulu pada masa Soeharto, di mana GOLKAR memegang peranan penting dalam perpolitikan nasional, mana ada yang berani GOLPUT. Pemerintah dapat memaksa masyarakat lewat alat-alat negara untuk menggunakan hak pilihnya. Masyarakat tidak bebas untuk menetukan pilihannya. Toh "Memilih untuk tidak memilih itu juga pilihan" (coba diuji, apakah pernyataan ini juga sesat pikir?). Alasan bahwa GOLPUT tidak menggunakan hak pilihnya sebagaimana diwajibkan oleh institusi tidak terlalu kuat untuk mengkategorikan GOLPUT sebagai MAKAR.
Jadi menurut saya, para politisi di Maluku seharusnya berpikir sebelum berbicara dan menyimpulkan hal-hal tidak berdasar seperti ini.
Anehnya lagi, Megawati Soekarno Putri juga menegaskan bahwa "Golput semestinya tidak boleh menjadi warga negara indonesia". (lihat) Terus para GOLPUT mau jadi warga negara mana bu? Identitas sebagai warga negara tidak dapat diukur dan ditentukan oleh keikutsertaan memilih salah satu calon atau salah satu partai politik.
Menurut saya, pernyataan-pernyataan ini adalah sesat pikir para politisi kita yang menghendaki suara terbanyak dan hanya suara yang dipedulikan, bukan yang lain. Bisa berbahaya para politisi yang asal menuduh seperti ini.
Pak RR, kalau GOLPUT itu makar, gimana cara memberikan sanksi pidananya....?????
Bicara Macam Story saja...eee









Hasil Quick Count Pilkada Maluku 2008

Masyarakat Maluku telah selesai memilih kepala daerahnya secara langsung. Biar dong yang pilih langsung saja supaya dong bisa tarus kas ingat kalau para pemimpin yang dong pilih itu seng bikin bae-bae for Maluku.
Dari hasil Quick Count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada hari Rabu, 9 Juli 2008, hampir dipastikan bahwa Karel Albert Ralahalu dan Said Assegaf menempati posisi teratas dengan 61,81 % suara dari 87,71 % suara yang masuk ke LSI.
Memang belum pasti sih, tetapi Quick COunt sudah terbukti dapat dipercaya setelah coba diterapkan pada beberapa wilayah pemilihan kepala daerah di Indonesia.
Bagaimana dengan yang lainnya? Kita lihat saja nantilah. Tetapi sepertinya Calon yang diusung oleh PDIP ini bakal memimpin Maluku satu periode lagi.
Apakah ini menggambarkan bahwa para caleg dari PDIP di Maluku dapat memperoleh suara terbanyak juga pada 2009? Belum tentu booo....
Pemilu di Maluku sepertinya belum disadari manfaatnya oleh masyarakat. KPUD juga belum bekerja dengan baik. Nyatanya, masih banyak masyarakat yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya....
Semoga kenyataan itu dapat menjadi pelajaran berharga untuk Pemilu 2009 nanti.

Sumber: radio baku bae

Kamis, 19 Juni 2008

Holland - Netherlands - Belanda - Walanda







Mantap bos.... tim fave memperlihatkan progresifitas yang mantap... mudah-mudahan bisa melaju dengan baik sampe jadi juara




Apa antivirus komputer yang paling ampuh?

Antivirus komputer apa yang mantap sekarang ini? Sebenarnya, saya bukan seorang yang pakar di bidang per-virus-an. Tetapi karena saya juga sering kena dampak kurang menyenangkan dari apa yang namanya virus komputer, maka saya cuma mau bilang kalau antivirus yang sangat mantap sekarang ini sebenarnya adalah diri kita sendiri. Artinya, walaupun sering networking atau nyolok sana sini, tetapi kalau rajin ngecek di internet tentang virus terbaru dan tips n triks mensiasatinya, tentu dapat ditanggulangi. Itu namanya uapay memahami tentang virus komputer. Pemahaman sendiri bukanlah suatu term yang menunjukkan penguasaan kita tentang satu atau beberapa hal sampai batas-batas tertentu, tetapi lebih dari itu, pemahaman adalah keinginan kita untuk terlibat dalam upaya pencarian jawaban-jawaban terhadap satu atau beberapa hal itu. So, kalau kita terlibat memberikan masalah dan berdiskusi tentang masalah itu, walaupun orang lain yang menemukan jawabannya, toh kita terlibat dalam proses pencarian jawaban itu dan itulah pemahaman yang sebenarnya. (Skarang sih saya lagi download antivirus PCMAV keluaran terbaru)





Senin, 09 Juni 2008

MENGAPA ORANG SELALU BERBICARA BERTELE-TELE? KATA-KATA TIDAK PERNAH CUKUP

Saya pernah menulis bahwa cukup dengan kata-kata kita dapat membuat orang lain mengerti dan memahami apa yang kita maksudkan. Tetapi ternyata tulisan saya itu adalah sesuatu yang keliru karena saya baru menyadari bahwa kata-kata tidak pernah cukup untuk menerangkan apa yang kita maksudkan. Itulah sebabnya mengapa kalau orang berbicara untuk menjelaskan sesuatu, sering bertele-tele, mencoba menemukan banyak anonym, perumpamaan dan lainnya agar orang lain turut terlibat dalam pemahaman itu.




Kata-kata yang kita ucapkan ternyata bukanlah apa-apa, hanya tanda-tanda yang datang ke pikiran kita, tanda-tanda yang tak pernah mencakup dan melingkupi segala sesuatu yang ingin atau harus kita katakana jika kita ingin dipahami dengan benar (Jean Grondin, 2007: 40). Inilah yang dikatakan Gadamer sebagai dimensi spekulatif bahasa. Spekulatif berasal dari bahasa latin speculum yang berarti “cermin”, artinya pernyataan-pernyataan kita selalu merupakan pencerminan suatu makna yang tak pernah diucapkan seutuhnya. Pemahaman yang benar terhadap penyataan-pernyataan itu harus melangkah ke balik kata-kata yang terucap ini untuk mencapai motif-motif pendorong yang tak terkatakan (Grondin: 36).
Saya kemudian mencoba untuk menemukan hubungan dengan bagaimana seorang peneliti kualitatif bertindak sebagai instrumen utama untuk mendapatkan data berupa wawancara. Wawancara yang dilakukan terutama bukan untuk mendapatkan data yang muncul di permukaan tetapi lebih dari itu, seharusnya untuk menemukan motif-motif tersembunyi dari pernyataan-pernyataan sumber data. Mesin, komputer yang canggih sekalipun tidak mampu melakukan tugas-tugas hermeneutis seperti itu.
Studi-studi yang dilakukan atas karya-karya Gadamer menunjukkan bahwa Gadamer mengungkpakan elemen spekulatif bahasa ini dengan fakta bahwa kata-kata kita mengacu pada dimensi hermeneutis dari yang tak terkatakan yang menuntut untuk kita pahami, dengan apa yang dia sebut dengan logika “tanya jawab”. Suatu ucapan atau suatu kalimat hanya bisa dipahami dengan tepat jika seseorang mencoba memahami pertanyaan yang ingin dijawab oleh kalimat tersebut. Artinya, seseorang harus masuk ke dalam dan melewati proposisi tersebut untuk memahaminya, melibatkan diri ke dalam dialog tempat “munculnya” pernyataan itu dan juga dalam pengertian harfiah dari kata yang muncul tersebut (Grondin: 38).
Masalah kemudian muncul ketika kata-kata itu muncul dalam bentuk tulisan, di mana penulis kata-kata itu tidak ada untuk dimintai penjelasan tentang motif-motif pendorong ia menuliskan kata-kata itu. Bila demikian adanya, kata-kata tertulis dapat saja diberikan pemaknaan-pemaknaan yang berbeda-beda. Ketakutan terbesar Plato misalnya adalah kemungkinan penyalahgunaan bahasa. Kata-kata baik lisan atau tulisan semestinya hanya digunakan sebagai sarana untuk mengingat kembali (rememoration) kebenaran-kebenaran yang ingin diekspresikan. Yang harus dipahami bukanlah kata-kata yang terucapkan atau tertuliskan tetapi seluruh pemaknaan yang bisa tersampaikan kepada telinga yang mampu mendengar, pikiran yang mampu mengolah dan hati yang mampu memahami. Dalam hal ini, kita dituntun untuk masuk dalam inti dialektika Plato, bahwa bahasa tidak pernah cukup-diri dalam dirinya sendiri. Untuk memahami sebuah ucapan, kita harus selalu bertanya kepada diri kita sendiri: ucapan itu ingin menjawab pertanyaan atau pancingan apa dan bagaimana? Apakah pernyataan itu ironis? Untuk siapa ucapan itu dialamatkan? Tanpa menjelaskan konteks-konteks motivasional semacam ini, yang membuat pemahaman tulisan lebih sulit dan beresiko daripada kata yang terucap (Grondin: 66).
Persoalan kemudian muncul lagi terkait dengan hal “Pemahaman”. Apa itu pemahaman, bagaimana memahami sesuatu? Hampir semua orang beranggapan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “memahami” itu adalah ketika sudah menguasai dan mendominasi suatu atau beberapa hal sampai pada taraf-taraf tertentu. Tetapi bagi hermenutika, kita baru dikatakan sudah memahami sejauh kita berniat terlibat di dalam dialog yang dibukakan oleh apa yang dikatakan dan berusaha menyusuri apa yang tidak dikatakan yang amat esensial bagi pemahaman. Pemahaman bukan berarti penguasaan atas suatu atau beberapa hal, aka tetapi sebuah partisipasi dan keterlibatan dalam makna yang diakui bersama.

Jean Grondin (terj.Inyiak Ridwan Muzir), Sejarah Hermeneutik Dari Plato Sampai Gadamer, Yogyakarta AR-RUZZ MEDIA, 2007



Pantai Adoki BIAK




Pantai Adoki Biak

Saya s'karang lagi jalan-jalan ke Biak.... diajak teman melihat salah satu pantai yang asyik di sana, Adoki... ini picnya





Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"