Senin, 20 Februari 2012

Silabus Matakuliah FILSAFAT PENDIDIKAN (AGAMA KRISTEN)


Nama Mata Kuliah    : FILSAFAT PENDIDIKAN
Kode Mata Kuliah     : P 403192
SKS                             : 2 (teori)
Dosen                           : Jusuf Nikolas Anamofa, S.Si, M.Phil
Prasyarat                    : -
Waktu Perkuliahan   : Semester Genap (2011-2012)

Deskripsi Mata Kuliah:
Mata kuliah ini disajikan kepada mahasiswa semester II Jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK), Sekolah Tinggi Teologi GKI I.S. Kijne Jayapura. Dalam payung pola ilmiah pokok institusi, yaitu Teologi Kontekstual, maka mata kuliah ini akan memperkenalkan aspek-aspek Filsafat Pendidikan (Agama Kristen) dan menggali masalah-masalah pendidikan (agama Kristen) yang kontemporer dan kontekstual di Papua. Sumber bacaan yang digunakan adalah tentang pengantar umum ke dalam Filsafat Pendidikan, sementara untuk sumber-sumber bacaan pendukung, mahasiswa akan ditugaskan untuk mencari dan menemukannya.
Manfaat mata kuliah ini adalah untuk membangun komunitas intelektual yang mampu menemukenali masalah-masalah pendidikan, merefleksikannya dan mengekspresikannya dalam gagasan-gagasan yang rasional, kreatif dan logis untuk menjawab pertanyaan utama dari tujuan diberikannya mata kuliah ini, yaitu: Apa yang dapat pendidikan (agama Kristen) lakukan dalam kehidupan manusia, khususnya di Papua?
Kuliah ini terbagi atas dua bagian pertemuan besar, yaitu bagian pertama (sebelum Ujian Tengah Semester = UTS) adalah upaya menemukenali aspek-aspek teoretis dari Filsafat Pendidikan, dan bagian kedua (setelah UTS) adalah upaya untuk menemukenali masalah-masalah pendidikan kontemporer kontekstual, merefleksikannya dan mendiskusikannya.

Kompetensi Utama:
Setelah mempelajari mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat memiliki kemampuan untuk mendalami masalah-masalah pendidikan (Agama Kristen) yang kontemporer dan kontekstual dengan memanfaatkan perspektif Filsafat Pendidikan.

Kompetensi Pendukung:
Setelah mempelajari mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat memiliki kemampuan tambahan berupa:
  1. Kemampuan mencari dan menemukan bahan bacaan yang relevan baik cetak maupun elektronik.
  2. Kemampuan dalam membaca dan memahami literatur-literatur berbahasa Inggris.
  3. Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat baik secara lisan maupun tulisan secara sistematis.
  4. Kemampuan untuk mempresentasikan pendapat dengan baik dan jelas.

Garis Besar Materi Perkuliahan

Pengantar Ke Dalam Filsafat Pendidikan (Agama Kristen):
a.       Ruang Lingkup Filsafat (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi).
b.      Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan.
c.       Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Agama Kristen.

Konsep-Konsep Filsafat Dalam Bidang Pendidikan:
a.       Nativisme.
b.      Naturalisme.
c.       Empirisme.
d.      Konvergensi.

Aliran-aliran Filsafat Dalam Bidang Pendidikan:
a.       Idealisme
b.      Realisme
c.       Pragmatisme
d.      Eksistensialisme

Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
a.       Esensialisme
b.      Perenialisme
c.       Progresivisme
d.      Rekonstruksionisme
e.       Pendidikan Kritis (Critical Pedagogy)

Konsep Pendidikan Menurut Pemikir Indonesia
a.       Konsep Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara
b.      Konsep Pendidikan Menurut Driyarkara

Konsep Pendidikan Menurut Pemikir di Papua
a.       Konsep Pendidikan (Kristen) Menurut Izaak Samuel Kijne

Pendidikan Dalam Konteks Papua
a.       Masalah-Masalah Pendidikan di Papua Yang Dapat Ditemukenali.
b.      Analisis Terhadap Masalah-Masalah Bidang Pendidikan di Papua Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan.

Referensi:
  1. Audi, Robert (ed.), 1999, The Cambridge Dictionary of Philosophy (2nd ed.), Cambridge University Press: Cambridge
  2. Bagus, Lorens, 2005, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta
  3. Barrow, Robin & Ronald Woods, 2006, An Introduction to Philosophy of Education (4th ed.), Routledge: London & New York.
  4. Holley, Raymond, 1978, Religious Education and Religious Understanding: An Introduction To The Philosophy Of Religious Education, Routledge: London & New York.
  5. Kattsoff, Louis O, 2004, Pengantar Filsafat (terj. Soejono Soemargono), Tiara Wacana: Yogyakarta
  6. Magnis-Suseno, Franz, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius: Yogyakarta.
  7. Race, Richard, 2011, Multiculturalism and Education, Continuum: London.
  8. Soyomukti, Nurani, 2010, Teori-Teori Pendidikan: Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis, Postmodern, Arr-Ruzz Media: Yogyakarta.
  9. Sudiarja, A., dkk, 2006, Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir Yang Terlibat Penuh Dalam Perjuangan Bangsanya, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
  10.  Suparlan, Y.B, 1984, Aliran-Aliran Baru Dalam Pendidikan, Andi Offset: Yogyakarta.


Selasa, 14 Februari 2012

Berawal Dari Mengasah Parang Sampai Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Seperti tulisan-tulisan saya yang lalu, tulisan ini pun dimulai dengan pengalaman pribadi saya dalam mengerjakan sesuatu. Biasanya, pada saat mengerjakan hal itu, atau setelah selesai mengerjakannya, ada saja hal yang terlintas dalam pemikiran (mungkin itu yang namanya intuisi) yang kemudian mengarahkan saya untuk menuliskannya secara sederhana.

Sampai kini, Ujian Akhir Nasional (UAN) masih menjadi alat ukur kecerdasan manusia yang bersekolah di Indonesia. UAN adalah standar yang digunakan di seluruh sekolah negeri ini, tak peduli di kota atau kampung, pesisir atau gunung. Tak peduli swasta atau negeri, kekurangan guru atau kelebihan guru. Selain UAN yang diperuntukkan bagi para siswa di tingkat pendidikan dasar dan menengah, baru-baru ini muncul lagi kebijakan tentang wajib publikasi ilmiah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan S1, S2, dan S3 di negeri ini. Kewajiban itu pun rencananya akan menjadi standar saat Agustus 2012 nanti.

Adakah yang salah dengan aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan itu? Saya sendiri tidak berpretensi untuk menemukan kesalahan dan kebenaran karena dalam posisi sebagai penafsir terhadap tiap fakta, pilihan saya terhadap fakta-fakta yang relevan untuk dijadikan data bagi tulisan ini pun bisa saja berbeda dengan pilihan fakta-fakta orang lain. Perbedaan pilihan itu akan berujung pada perbedaan penafsiran. Perbedaan penafsiran tentu saja adalah hal yang wajar karena dalam bahasa John Dewey, pertimbangan-pertimbangan pemilihan fakta itu didasarkan pada kepentingan pemecahan masalah masa kini. Masalahnya adalah bagi sebagian orang, standarisasi pendidikan dalam rangka mengukur kecerdasan manusia itu tidak dilihat sebagai masalah, sementara bagi orang lain, itu adalah masalah paling mendasar terkait konsep pendidikan secara umum.

Saya kira sepenggal paragraf di atas cukup menjelaskan bahwa ada masalah terkait pendidikan di negeri kita. Masalah yang bagi sebagian orang ingin diselesaikan secara praktis, dalam perspektif logika waktu pendek, tetapi bagi sebagian yang lain perlu dipikirkan secara mendalam, hati-hati, demi memperoleh pencerahan yang kritis terkait masa depan pendidikan yang lebih baik. 


Terkait dengan itu, saya teringat perjalanan pulang kampung saat anak pertama saya lahir beberapa waktu lalu. Salah satu hal penting yang saya kerjakan, selain hal-hal penting lainnya adalah membeli parang yang baru dan mengasahnya menjadi tajam. Saya harus membeli parang baru karena keluarga dari istri adalah pekebun yang memang membutuhkannya.

Pertengahan Januari, saya mengambil waktu 2 hari untuk mengunjungi orang tua di Amahei, Seram Selatan. Kebetulan di sana juga tinggal masyarakat Negeri Iha yang tidak lagi kembali ke Negeri mereka di Saparua tetapi menetap di Pesisir Seram Selatan ke arah Timur, tepatnya di bekas Negeri Nuweletetu, dekat Sepa. Bagi orang-orang Maluku Tengah, sudah dimaklumi bahwa orang Iha adalah pandai besi terkenal yang "jago" membuat parang. Ditemani seorang kakak, kami pun berangkat ke Negeri Iha dan membeli 4 (empat) bilah parang. Sebilah parang panjang dan 3 (tiga) bilah yang pendek dapat kami bawa pulang. Keesokan harinya saya kembali ke Ambon dengan keempat bilah parang itu. Setelah tiba di Ambon, saya mulai melakukan "ritual parang baru", yaitu mengasahnya sampai tajam agar dapat digunakan. Bagi mereka yang tidak terbiasa mengasah parang baru, pekerjaan ini dianggap biasa saja, tetapi bagi saya yang selalu harus mengasah parang yang baru dibeli, ini adalah bagian yang paling penting jika hendak mendapatkan titik di mana ketajaman sebilah parang dapat bertahan. Istilah orang di kampung saya "goso parang pertama kali tuh musti bae-bae supaya akan pung waja bisa batahang." (Mengasah parang pertama kali itu harus yang baik supaya baja nya bisa bertahan). Baja dari sebilah parang biasanya terletak pada bagiannya yang tajam. Semakin bertahan baja parang itu, semakin bertahan ketajamannya. Agar baja parang itu dapat bertahan, dibutuhkan keahlian tertentu saat mengasahnya pertama kali.

Sesuai dengan kebiasaan di kampung, mengasah parang pertama kali tidak boleh menggunakan batu asah yang dibeli di toko, tetapi harus menggunakan batu yang diambil dari kali atau sungai. Kebetulan di rumah istri ada batu asah dari kali/sungai jadi saya tidak perlu mencari lagi. Dalam 1 minggu, saya baru bisa menajamkan 1 bilah parang, dengan perhitungan dalam sehari saya duduk mengasahnya selama 4 jam diselingi istirahat. Dalam waktu 4 jam itu, tiap sisi parang saya asah sebanyak 4000 kali dengan hitungan tiap 100 kali mengasah sisi yang satu, saya balik ke sisi yang lain dan mengasahnya sebanyak 100 kali, begitu seterusnya. Dapat dibayangkan, berapa kali tiap sisi parang itu saya asah selama 7 hari? Mari kita hitung: 4 x 7 = 28 x 4.000 = 112.000 kali pada tiap sisinya. Setelah mengasah sebanyak itu, barulah saya mendapatkan ketajaman sebilah parang yang benar-benar saya inginkan. Tetapi, itu baru sebilah parang. Beralih ke parang yang kedua, ternyata tidak sama waktunya dengan parang yang pertama. Saya hanya memerlukan waktu 4 hari saja untuk mengasahnya dengan rumus yang sama. Parang yang ketiga saya asah di Nabire karena sebilah parang saya bawa ke Nabire dan sebilah lagi ke Jayapura. Parang yang di Nabire saya asah selama 9 hari, itu pun belum tajam benar seperti yang saya inginkan. Parang yang saya bawa ke Jayapura adalah sebilah parang yang panjang, yang saya asah sampai hari ini, belum tajam seperti parang pertama (sudah 8 hari saya mengasahnya, tiap hari 2 jam dengan rumus yang sama [100 kali dibolak balik selama 2 jam]).
Setelah selesai seluruh parang diasah, saya memikirkan pertanyaan "Mengapa?". Mengapa waktu dan banyaknya asahan tidak sama terhadap masing-masing bilah parang agar diperoleh ketajaman yang diinginkan? 
Saya mencoba berspekulasi tentang jawabannya:
  1. Hal itu sangat tergantung dari bentuk atau kontur parang itu sendiri. Ada parang yang pada saat dibuat sudah dibentuk hampir tajam, ada yang masih tebal di bagian yang harusnya tajam.
  2. Hal itu tergantung dari panjang pendeknya parang. Sebilah parang yang panjang akan memakan waktu yang lebih lama dari pada parang pendek.
  3. Hal itu tergantung dari batu yang digunakan untuk mengasah. Ada batu asah yang sudah terbiasa digunakan sehingga "ia berpengalaman" dalam mengasah parang, artinya alur batu asahnya sudah dapat digunakan untuk mengasah parang dengan baik. Sementara yang di Nabire dan Jayapura, saya menggunakan batu asah yang baru diambil dari kali / sungai. Dengan demikian, baik parang maupun batu asah saling membentuk. Parang dibentuk ketajamannya, batu asah dibentuk alur asahannya.
  4. Hal itu tergantung dari perlakuan berbeda orang yang mengasah parang terhadap tiap bilah parang. Ada parang yang pada saat diasah ditekan sedemikian rupa sehingga cepat tajam, ada parang yang kurang ditekan, ada parang yang sudut tekanannya lebih kecil, ada parang yang sudut tekanannya lebih besar.
Kalau ada yang mau memberikan pendapat lain terkait itu, saya sangat hargai.

Memang benar peribahasa yang menyatakan "Semakin diasah, semakin tajam" yang menggambarkan tindakan manusia untuk terus belajar tentang apa saja yang ingin dikuasainya. Belajar dengan membaca, belajar dengan berkata-kata, belajar dengan melakukan, dan lain-lain dapat berujung pada penguasaan sesuatu secara maksimal.

Setelah selesai dengan keempat bilah parang itu baru saya sadari analoginya dengan bidang pendidikan manusia. Seperti halnya parang yang perlakuan terhadapnya berbeda satu sama lain, harusnya manusia yang terlibat di dalam pendidikan pun dipandang berbeda satu dengan yang lain. Dalam kenyataannya, seringkali tiap manusia dipandang sama, harus menerima sama banyak, sama waktu, sama model, sama metode, dengan harapan hasilnya sama. Hasil yang tidak sama akan dinyatakan tidak lulus.

Apakah demikian maksud dari pendidikan? Terhadap pertanyaan itu, tentu pandangan tentang manusia dan kecerdasannya tak dapat diabaikan. Dengan tidak meremehkan pandangan-pandangan lain tentang kecerdasan manusia, saya sangat tertarik membahas analogi ini dari sudut pandang Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) yang dikemukakan pertama kali oleh Howard Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya Frames Of Mind. Pendapat itu ditulisnya setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun tentang kapasitas kognitif manusia. Saat ia menemukan bahwa di antara anak-anak yang autis, di mana kemampuan berbahasa dan bersosialisasi sangat rendah, mereka memiliki kemampuan matematika atau musik yang sangat tinggi, dan kemampuan-kemampuan pada situasi ekstrim lainnya, di luar pemahaman selama ini. Dari sana, ia (Gardner) menolak pendapat yang menyatakan bahwa kognisi manusia adalah satu kesatuan dan manusia hanya memiliki kecerdasan tunggal yang mengarahkan segala tindakannya. Ia menyatakan bahwa tidak ada satu satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan saja, melainkan merupakan gabungan dari bermacam-macam kecerdasan.


Pokok-pokok pikiran  yang dikemukakan Gardner terkait kecerdasan adalah :
  1. Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya.
  2. Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain.
  3. Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia.
  4. Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.
Adapun Definisi Gardner tentang kecerdasan adalah:
  1. Kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
  2. Kecakapan untuk mengembangkan masalah baru untuk dipecahkan.
  3. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat didalam kehidupannya.
Kecerdasan majemuk yang diidentifikasi oleh Gardner dan para tokoh lain adalah:
  1. Kecerdasan Logika - Matematika (Logical-Mathematical Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan logika, abstraksi, penalaran, angka-angka. Para pecatur kelas dunia, programmer komputer, ahli matematika dan ahli-ahli lain yang mengandalkan kemampuan logika dan penguasaan angka-angka adalah mereka yang kecerdasan Logika-Matematikanya lebih dominan daripada kecerdasan yang lain.
  2. Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan pertimbangan-pertimbangan ruang dan kemampuan visualisasi dengan menggunakan indra penglihatan. Para seniman, desainer, arsitek adalah mereka yang memiliki kecerdasan ruang yang dominan.
  3. Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berurusan dengan kata-kata, bicara, menulis. Bagi mereka yang kecerdasan bahasanya dominan dapat dengan mudah membuat tulisan, berpidato, berdebat, menguasai bahasa asing, memahami struktur dan tata bahasa, dan lain-lain.
  4. Kecerdasan Kinestetik Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang memungkinkan kemampuan untuk mengontrol gerak tubuh dan menggerakan objek dengan memanfaatkan tubuh dengan sangat baik. Kecerdasan ini termasuk akurasi dalam tindakan, pandangan yang baik tentang tujuan dari tindakan-tindakan fisik dan lain-lain yang berhubungan dengan pemanfaatan tubuh. Olahragawan, penari, musisi, tentara, polisi adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan ini cukup dominan.  
  5. Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang sangat sensitif dengan bunyi musik, irama, nada, kontrol suara, dan sebagainya. Orang-orang dengan kecerdasan musikal yang dominan akan dengan mudah menciptakan lagu, memainkan alat musik, memanfaatkan teknologi di bidang musik dan sebagainya. 
  6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang memungkinkan seseorang secara cepat berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang kecerdasan interpersonalnya sangat dominan akan sangat sensitif dengan situasi orang lain, terkait perasaan, temperamen, motivasi, "mood"/suasana hati, dan lain-lain. Mereka memiliki kemampuan untuk bekerjasama dalam tim yang sangat baik. Mereka akan sangat berempati dengan situasi orang lain, termasuk ingin selalu belajar dari orang lain dan menikmati diskusi-diskusi atau debat-debat bersama. Para politisi, manejer, guru, pekerja sosial, sales, adalah orang-orang yang mestinya memiliki kecerdasan interpersonal yang dominan.
  7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan kemampuan introspektif dan refleksi diri. Orang-orang yang kecerdasan intrapersonalnya dominan adalah mereka yang sangat memahami dengan mendalam situasi diri sendiri, kekuatan/kelemahan, keunikan, reaksi, emosi, dan lain-lain. Para penulis buku, psikolog, konselor, filsuf, pendeta atau imam adalah mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal cukup dominan.
  8. Kecerdasan Naturalistik (Naturalistic Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Mereka mampu memahami alam dengan sangat baik, berempati dengan lingkungan, bekerja untuk lingkungan dan sebagainya. Mereka ini adalah para petani, para ilmuwan lingkungan, orang-orang yang bekerja di taman-taman kota, para nelayan, dan sebagainya.
  9. Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence): adalah wilayah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan wilayah spiritual yaitu kemampuan untuk berkontemplasi dan berefleksi tentang fenomena-fenomena dan berupaya mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang melampaui data-data yang dapat diindrai. Para pendeta, saintis, filsuf, fisikawan, matematikawan, kosmolog adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan eksistensial yang dominan.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa kecerdasan logika dan bahasa yang selama ini selalu menjadi ukuran dan standar kecerdasan di Indonesia (termasuk di dalam UAN dan wajib publikasi ilmiah nantinya) patut dipertimbangkan lagi posisinya. Mengapa?

Bila penjelasan Gardner tentang kecerdasan majemuk ini cukup menjelaskan realitas kecerdasan manusia, maka dengan menjadikan kecerdasan logika dan bahasa sebagai ukuran / standar, kecerdasan yang lain akan dianggap tidak ada karena "mesti" terserap ke dalam 1 atau 2 kecerdasan saja. Padahal, dalam faktanya tidaklah demikian.
Contoh: Ada orang yang bergiat di bidang lingkungan hidup dengan menanam bakau di wilayah-wilayah pantai yang mengalami abrasi, berhasil menyelamatkan wilayah itu dari abrasi lebih lanjut, bukanlah lulusan sekolah ternama. Ia tidak pernah mengikuti UAN apalagi mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Untuk membaca saja sudah cukup sulit, tetapi ia memiliki kecerdasan lain yang seorang sarjana ber IP 4 pun belum tentu memilikinya, yaitu kecerdasan lingkungan (Naturalistic Intelligence). Masih banyak contoh yang dapat diberikan untuk menolak standar kecerdasan hanya pada logika dan bahasa saja.
Setelah tulisan cukup panjang ini, apa hubungannya dengan mengasah parang? Analogi kecerdasan ada pada bentuk, ukuran dan kontur parang itu. Analogi perlakuan terhadap kecerdasan juga ada pada batu yang digunakan untuk mengasah, sudut untuk mengasah, waktu yang diperlukan untuk mengasah, dan sebagainya. Intinya, hal yang berbeda harus diberlakukan berbeda. Bila dalam mengasah parang standarnya adalah ketajaman ideal, maka dalam pendidikan, standarnya bukan lagi  lulus UAN atau publikasi ilmiah tetapi kemampuan memanfaatkan kecerdasan untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Kalau ada mahasiswa yang lulus dengan nilai baik tetapi setelah wisuda menjadi sales di dealer motor atau di perusahaan asuransi, itu bukan karena ia tidak cerdas di bidangnya, tetapi karena ia memiliki kecerdasan di wilayah lain yang lebih dominan.
Kalau ada siswa lulusan SMK otomotif atau bangunan memilih masuk sekolah pendeta atau musik, itu bukan karena panggilan Tuhan atau keinginan orang tua, tetapi karena dorongan kecerdasan eksistensial atau musikalnya yang dominan.
Ujung-ujungnya kita akan bicara tentang pendidikan secara khusus dimana sekolah menjadi domain penting. Sayang sekali, manajemen, administrasi, sistem, proses di sekolah tidak mengarah pada nilai-nilai ideal pendidikan yang meyakini bahwa kecerdasan manusia adalah majemuk, bukan tunggal. Sekolah saat ini telah menjadi instrumen kapitalisme sebagai bagian dari perselingkuhan negara dengan para penguasa modal. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak bersekolah dianggap tidak cerdas atau tidak akan memiliki kecerdasan. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga secara luas ada anggapan bahwa hanya lewat sekolah saja ada kemungkinan mobilisasi sosial, kaum bawah naik ke menengah, kaum menengah naik ke atas. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa sehingga seorang sopir sangat percaya kalau anaknya dapat menjadi pilot, seorang penjual korang percaya bahwa anaknya dapat menjadi wartawan dengan ide "pendidikan gratis" dari para politisi yang haus kekuasaan. Sekolah dicitrakan sedemikian rupa agar pada saat pemilihan eksekutif atau legislatif, suara-suara rakyat mengalir, tetapi pada akhirnya citra itu hanyalah bentuk lain dari kemunafikan. 
Saya sangat meyakini bahwa selama kepentingan politik-ekonomi masih dominan dalam sistem pendidikan kita, maka standar kecerdasan akan tetap dipertahankan karena hanya dengan standarisasilah kapital akan diperoleh. 
"Semakin diasah semakin tajam", tetapi tiap bilah parang harus diberlakukan berbeda karena memang berbeda.

Referensi:

Tentang Evaluasi Kinerja Dosen Oleh Mahasiswa

Semester yang lalu saya dipercayakan mengasuh mata kuliah Metode Penelitian Sosial pada Program Studi Teologi di kampus tempat saya bekerja. Tentu saja setiap hendak mengajar satu mata kuliah, saya selalu merasa tertantang. Tantangannya sederhana saja: Apakah mahasiswa saya dapat memiliki kemampuan sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki lewat diberikannya matakuliah Metode Penelitian Sosial? Tantangan yang lain adalah: Apakah saya juga dapat belajar bersama dengan mahasiswa terkait matakuliah yang saya berikan?

Melewati waktu, tantangan itu terbukti sudah. Dalam hitung-hitungan kualitatif saya, ternyata kedua tantangan itu hanya dapat dicapai sekitar 60 persen saja. Hal itu terbukti dengan hasil akhir ujian semester yang cukup pas-pasan untuk sebagian besar mahasiswa, walaupun ada juga mahasiswa yang cukup baik mengerjakannya. 

Tulisan ini tidak bermaksud mengemukakan tentang hasil ujian mahasiswa pada matakuliah Metode Penelitian Sosial, tetapi lebih merupakan evaluasi terhadap kinerja saya dalam mengampu matakuliah tersebut.

Seperti biasa, saat hendak memulai semester dengan tanggung jawab mengampu matakuliah tertentu, saya selalu menyarankan kepada mahasiswa untuk melakukan evaluasi kepada saya setiap akhir semester. Evaluasi itu paling kurang berisi cara mengajar, isi mengajar, waktu, dan lain-lain. Tetapi, biasanya pula mahasiswa tidak pernah memasukkan itu. Hal itu terjadi sampai awal tahun 2008, ketika saya akhirnya harus melanjutkan studi.

Terhadap situasi itu, saya mencoba mensiasatinya dengan memasukkan evaluasi kinerja saya saat mengampu matakuliah sebagai salah satu persyaratan nilai akhir. Artinya, ada satu bagian penilaian yang mengharuskan mahasiswa melakukan evaluasi terhadap seluruh aspek pembelajaran di kelas, mulai dari isi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dll. Evaluasi kinerja itu harus dimasukkan bersamaan dengan kertas kerja Ujian Akhir Semester. Tentu saja, kalau tidak memasukkannya berarti satu bagian itu tidak ada nilainya, dengan catatan ia tetap menjadi pembagi.

Setelah disiasati seperti itu barulah ada perubahan. Sekitar 90 % mahasiswa memasukkan evaluasi kinerja yang mereka lakukan terhadap saya, sementara 10 % lainnya untuk sementara saya tahan nilainya sampai mereka memasukkan evaluasi mereka.

Bagi sementara orang, evaluasi kinerja bukanlah hal yang penting, apalagi bagi sebagian besar dosen di lingkungan kerja kami. Bahkan ada yang "cenderung menentang" keinginan saya untuk secara resmi kampus melakukan evaluasi kinerja mahasiswa terhadap dosen setiap semester dengan alasan bahwa mahasiswa akan "membantai" para dosen terkait dengan kinerja mereka.

Oleh karena cuma saya sendiri yang mengusulkan itu dan harus berhadapan dengan banyak orang yang cenderung tidak menyetujuinya, maka untuk sementara hal itu dihentikan dan saya berjalan sendiri.

Bagi sedikit orang, khususnya para dosen yang hendak berkembang, evaluasi kinerja oleh mahasiswa merupakan hal yang sangat penting. Mengapa? Kinerja, memang persoalan kerja. Kerja yang bagaimana? Kerja yang direncanakan, rencana yang dilaksanakan, pelaksanaan yang ada hasilnya. Jadi, kinerja berarti ada perencanaan, ada pelaksanaan, ada hasil, ada evaluasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil, untuk kinerja berikutnya. Semakin suatu kinerja dievaluasi, semakin baik kinerja seseorang di masa yang akan datang. Tentu saja evaluasi kinerja itu akan berhubungan dengan banyak hal, terutama kompetensi dan kapasitas. Analisis terhadap evaluasi kinerja akan menghasilkan tindak lanjut berupa upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas seseorang di bidang tertentu, yang kalau diberlakukan bagi dosen, maka itu adalah upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (tri dharma perguruan tinggi).

Setelah memeriksa seluruh kertas kerja mahasiswa, tiba saatnya saya membaca hasil evaluasi kinerja yang dilakukan mahasiswa terhadap saya selama 1 semester kemarin.

Umumnya, seluruh mahasiswa yang memberikan evaluasi itu sangat berterima kasih kepada saya yang telah mengajar matakuliah tersebut. Hal ini sangat wajar karena pencantuman nama dalam evaluasi kinerja itu saya haruskan demi penilaian dan kejujuran. Kadangkala orang-orang hanya menyampaikan apa yang baik dan cenderung menyimpan apa yang buruk. Dalam hal ini, saya sebenarnya tidak ingin mahasiswa saya menjadi penjilat dengan menutup-nutupi kebobrokan dan keburukan saya dalam mengasuh matakuliah tersebut.

Terhadap mereka yang memuji-muji saya dalam catatannya, saya bandingkan lagi dengan kertas kerja masing-masing. Bila pujian itu berbanding lurus dengan hasil yang mereka dapatkan di kertas kerja, tentu pujian itu memang benar adanya. Bila kenyataannya berbanding terbalik, maka saya menganggap bahwa pujian itu hanyalah jilatan semata. Terhadap mereka yang punya kecenderungan memuji tetapi hasil kerjanya buruk, saya memberikan catatan pengingat agar tidak lagi seperti itu. 

Yang menarik adalah sekitar 30 % dari yang memasukkan catatan mereka tentang kinerja saya itu tidaklah memuji, tetapi berani berpendapat tentang saya. Umumnya, pendapat mereka adalah tentang waktu perkuliahan yang tidak mencukupi, penyampaian yang terlalu cepat sehingga mereka tidak dapat menangkap inti dari penjelasan saya, penggunaan bahasa yang terlalu ilmiah sehingga mereka sangat kesulitan untuk menemukan arti dari tiap penjelasan saya.

Apresiasi sangat besar saya berikan terhadap mereka yang dengan berani mengeluarkan pendapat tentang kinerja saya di dalam kelas. Tentu saja, terhadap mereka ini saya berikan angka sempurna bagi evaluasi kinerja yang mereka lakukan terhadap saya.

Setelah saya membaca seluruh catatan itu, tentu saja ada penjelasan-penjelasan yang mesti saya berikan, walaupun memang di sini bukan tempat yang tepat, tetapi saya coba mengemukakannya sebagai bahan pelajaran bersama. 

Persoalan waktu perkuliahan yang tidak mencukupi memang saya maklumi. Biasanya, saya selalu menyiapkan silabus dengan rencana pertemuan sekitar 15-16 kali dalam satu semester. Tetapi pada semester yang lalu, situasi Papua, khususnya Jayapura, lebih khusus Abepura tidak memungkinkan saya mencapai target waktu perkuliahan itu. Akibatnya adalah saya hanya dapat mengadakan pertemuan sebanyak 11 kali saja dengan konsekuensi, 1 Pokok Bahasan yang berupa Praktek Lapangan tidak dapat dilaksanakan. Tentu saja ada siasat yang perlu saya ambil terkait itu, yaitu dengan melaksanakan praktek di dalam kelas, antar mahasiswa. Bagi saya, dalam situasi seperti waktu itu, metode tersebut cukup bagi mahasiswa untuk pengenalan awal. Ada yang bilang, "Kalau kesan pertama menggoda, maka selanjutnya terserah anda". Saya ikut mendukung pernyataan itu, sehingga kesan pertama tentang praktek di antara mahasiswa saya buat sedemikian rupa menggoda sehingga ada yang menyatakan bahwa dari praktek itu barulah mereka menyadari tentang sesuatu.

Persoalan berikutnya adalah tentang kebiasaan saya yang berbicara cepat. Terhadap ini tentu saja saya sangat berterima kasih akan kritiknya karena mengingatkan saya akan kebiasaan itu. Kebiasaan itu tentu tidak datang begitu saja. Sejak kecil kami telah dibiasakan untuk bicara dan bekerja dengan cepat. Jangan terlalu lambat, apalagi bertele-tele. Ternyata kebiasaan itu cukup berpengaruh ketika saya harus mengajar di dalam kelas. Terkait hal itu, saya juga sepertinya harus belajar tentang pengaturan kata-kata dalam memberikan penjelasan, jangan terlalu cepat, jangan terlalu lambat. Bagi orang yang sudah terbiasa berbicara cepat, atau lambat, tentu menurunkan atau menaikan tempo adalah hal yang cukup sulit. Butuh latihan berulang-ulang. Mudah-mudahan saya bisa memberikan yang terbaik bagi mereka yang berani mengkritik saya terkait hal itu.

Hal yang lain adalah tentang penggunaan bahasa yang dianggap terlalu ilmiah sehingga mereka kesulitan menangkap arti dari beberapa hal penting yang saya jelaskan. Tentang hal ini, lagi-lagi saya sampaikan terima kasih karena kritikannya. Saya sangat menyadari situasi itu, di mana saya tidak berani mengelaborasi istilah-istilah pasar atau bahasa sehari-hari, khususnya yang digunakan oleh anak-anak muda di Jayapura. Lain halnya jika saya diharuskan untuk bertugas di tempat asal saya, di mana tiap istilah sehari-hari telah kami ketahui maknanya secara bersama dan itu memudahkan saya untuk menemukan padanan-padanan istilah-istilah tertentu dalam bahasa sehari-hari. Tentu saja kritik ini sangat membangun karena apa yang namanya ilmiah itu bukan berarti penggunaan kata-kata yang sulit dimengerti, tetapi kemampuan menggunakan kata-kata setempat untuk menjelaskan sesuatu secara sistematis dan metodis. Bukan tanpa beban, saya akhirnya harus melecut diri untuk lebih banyak bergaul dengan lebih banyak orang, khususnya anak-anak muda Jayapura untuk memahami istilah-istilah sehari-hari yang mereka gunakan, yang mungkin saja bermanfaat dalam proses pembelajaran di kelas.

Lepas dari evaluasi dan penjelasan saya di atas, saya akhirnya menyadari bahwa evaluasi kinerja itu sangat penting demi perubahan ke arah yang lebih baik. Pada titik ini, saya berani menyarankan kepada semua rekan dosen yang masih muda agar mewajibkan setiap mahasiswa  yang terlibat dalam proses pembelajaran bersama kita untuk mengevaluasi kinerja kita dalam belajar mengajar. Saya sangat yakin kalau semua yang kita dapatkan dari hasil evaluasi mahasiswa itu akan bermanfaat bila ditindaklanjuti dengan kesadaran diri.


Selasa, 07 Februari 2012

Kisah 17 Januari 2012 bersama "para pejuang cilik" di Pesisir Seram Selatan


Kemarin (17 Januari 2012), beta pulang ke Amahei. Karena sudah setahun tidak pulang ke sana (tahun lalu bersama istri pulang ke sana lewat jalan darat: Ambon – Kairatu – Masohi), beta ambil kesempatan untuk nikmati perjalanan lewat darat lagi. Kebetulan lagi musim buah durian di Ambon dan sekitarnya, beta berharap dalam perjalanan ke Masohi bisa makan durian di tengah perjalanan. Ternyata harapan itu tidak terwujud sama sekali karena tak ada satu pohon durian pun yang menampakkan buahnya di sepanjang jalan antara Kairatu – Masohi.

Tulisan ini bukan tentang kandasnya harapan karena tidak bisa menikmati buah durian. Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap perjuangan menggapai harapan dari tiga anak kecil (dan banyak anak lainnya) di pesisir Seram Selatan.

Singkat kata, dengan didukung oleh cuaca yang cerah, beta tiba di dermaga ferry Waipirit. Perlahan beta memacu sepeda motor menuju Masohi. Setelah lepas dari Kota Kairatu, beta sedikit memacu kendaraan dengan harapan tidak terlalu lama berada di perjalanan, selain harapan awal di atas. Setelah melewati beberapa negeri, beta tiba di Negeri Sanahu bertepatan dengan anak-anak SD pulang sekolah. Karena banyaknya anak, beta memperlambat jalan kendaraan sambil memperhatikan tingkah laku mereka. Ada yang masih cerah ceria, ada yang sudah lelah dan dengan guntainya mengayun langkah. Menariknya adalah terhadap setiap kendaraan yang lewat ke arah Masohi (ada beberapa sepeda motor yang mengekori beta), sebagian besar dari mereka mengacungkan jarinya minta tumpangan, termasuk kepada beta. Sayang sekali, tidak ada yang mau berhenti untuk mereka. Sebagian besar pengendara itu berlalu dengan klakson panjang agar tidak dihalangi jalannya. Beta pun dengan sedikit menyesal tidak bisa memberikan tumpangan. Bukan karena beban atau barang bawaan yang banyak, memenuhi kendaraan, tetapi karena yang mengacungkan jarinya ke arah beta lebih dari sepuluh orang. Beta sendiri tidak sampai hati kalau hanya mengangkut satu atau dua orang dan meninggalkan yang lain. Dengan berat hati, beta tetap melaju dengan kecepatan rendah melewati rombongan demi rombongan anak-anak itu. Dalam pikiran beta, “andai saja semua pengendara yang telah lewat memberikan tumpangan, paling kurang sudah sekitar 20 anak terangkut ke tujuan mereka”. Tetapi sepertinya itu bukan kebiasaan para pengendara di pesisir pantai Selatan Seram ini.

Tidak terlalu jauh dari rombongan besar, mungkin sekitar lima ratus meter, ada empat orang anak laki-laki yang juga mengacungkan jari mereka sambil teriak, “oom, numpang oom, oom, numpang oom.” Dalam pertimbangan yang cukup cepat, beta berhenti sekitar sepuluh meter dan mereka berlari mendapati beta untuk meyakinkan diri bahwa beta memang berhenti untuk memberikan tumpangan bagi mereka, “oom, katong bisa manumpang ka?”, “ke mana?” tanya beta, “ke Pohon Batu” dengan serempak mereka menjawab. “Iyo sudah, naik sudah”, beta mempersilahkan mereka berempat untuk berdesak-desakan di belakang sepeda motor yang kecil itu. Ternyata hanya tiga orang yang hendak menumpangi kendaraan beta, sementara yang satunya sudah kelihatan rumahnya. 

Di tengah perjalanan, beta bercakap-cakap dengan mereka bertiga. “Pohon Batu jauh dari Sanahu ka?”, beta membuka percakapan. “Dekat saja oom, di muka saja. Barang oom seng tahu ka?”, seorang anak yang paling rapat dengan tubuh beta menjawab seketika. “Iyo, beta jarang lewat sini, beta jua seng hapal jarak Sanahu deng Pohon Batu”, beta kembali menerangkan kepada mereka. “Ade dong tiap hari pigi skolah jalan kaki ka?”, beta kembali bertanya. “Iya oom, bajalang kaki jua, katong samua bajalang kaki.” Dalam hati beta, “ah, pasti dekat saja Pohon Batu dengan Sanahu.” Beta perhatikan jarum penunjuk kecepatan dan jarak, sudah hampir satu kilometer. Beta kembali bertanya, “eh, masih jauh ka?”, seorang yang lain dengan cepat menjawab, “su dekat oom, di muka saja!!” seolah takut diturunkan. Dengan santai beta jalankan sepeda motor sambil terus memperhatikan speedometer. Ketika angka sudah menunjukkan bahwa kami telah melewati hampir dua kilometer, beta kembali bertanya, “heiii … tadi bilang kata su dekat, ini su amper dua kilo katong balong sampe lai??”, “seng oom, lewat jombatang di muka tu saja lalu Pohon Batu ..!!” Ternyata, jembatan yang dibilang anak itu masih hampir satu kilo lagi. Benar saja, setelah melewati jembatan itu, tidak lama kami tiba di Pohon Batu. Ternyata, Pohon Batu itu adalah dusun dari Negeri Sanahu yang terletak di kaki Pohon Batu, satu bukit batu terjal yang harus dilewati dalam perjalanan dari Kairatu ke Masohi atau sebaliknya.

Hitung punya hitung, perjalanan yang kami tempuh hampir empat kilometer (mudah-mudahan speedometer dan mata beta tidak saling menipu untuk ini). Ketika tiba dusun itu, beberapa orang tua yang sementara duduk di teras rumah melihat kami dan mengembangkan senyum mereka sambil meneriakkan ucapan terima kasih. Ketiga anak itu pun dengan tangkasnya turun dari sepeda motor, mengucapkan terima kasih dan hendak berlalu. “Ehhhhh … sabar dolo ..! Beta balong tau dong tiga pung nama. Ale nama sapa?” tanya beta sambil menunjuk yang paling kecil. “Mario oom ..”, “kalo ale?”, “Semuel oom ..”, “lalu, ale nama sapa?”, tanya beta kepada yang paling jauh. “Beta Jeky oom ..”, jawabnya. “Ok, hati-hati eee … sk’olah bae-bae .. !!!”, pesan singkat beta untuk Mario, Semuel, dan Jeky.

Setelah meninggalkan mereka bertiga dan dusun mereka, beta terus berpikir tentang perjuangan mereka memperoleh pendidikan. Syukurlah, hari ini mereka bertiga dapat menumpang motor beta sementara Mario-Mario, Semuel-Semuel, Jeky-Jeky yang lain mungkin sekitar 1 jam lagi baru tiba di rumah mereka di Pohon Batu.

Semangat mereka menuntut ilmu mengalahkan keletihan dan kepenatan menempuh hampir delapan kilometer pulang pergi sekolah. 

Banyak tanya berkecamuk dalam benak tentang adakah kemungkinan-kemungkinan bagi mereka untuk diperhatikan oleh pemerintah atau pihak-pihak yang berwenang dengan pendidikan anak-anak bangsa. Atau yang lebih sederhana, “koq tidak ada satu pun pengendara motor yang mau berhenti untuk sekedar memberikan tumpangan sejauh tiga kilometer lebih kepada anak-anak sekolah ini?” Mengingat itu, beta kembali berpikir tentang matinya rasa dan hati nurani ketika raga masih bergerak. 

Anak-anak sebenarnya tidak pernah melakukan dengan baik dan benar apa yang dikatakan oleh orang tua atau orang dewasa. Mereka akan melakukan dengan sangat baik dan sangat benar apa yang dikerjakan oleh orang tua atau orang dewasa. Bertolak dari situ, beta sedikit menghibur diri karena sudah memberikan contoh kecil bagi Mario, Semuel, dan Jeky tentang pentingnya saling menolong, terhadap orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun. Banyak orang akan takut dan curiga terhadap pendapat ini, karena berhadapan dengan orang asing bukanlah hal yang mudah. Tetapi bagi beta, dengan membuka diri untuk berhadapan kemudian berdampingan dengan tulus, maka kehidupan akan lebih indah. 

Semoga Tuhan mau kuatkan Mario, Semuel, dan Jeky (juga semua anak seperti mereka bertiga) di Pohon Batu sana  

Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"