Senin, 10 Maret 2008

Dengan Paul F Knitter

Gimana rasanya ketika anda mengagumi pekerjaan seorang yang terbilang expert di bidangnya dan pada suatu waktu, anda berkesempatan untuk bertemu langsung dengan orang itu? Rasa itu pasti sulit diucapkan dengan kata-kata. Itu juga yang saya alami ketika bertemu dengan salah seorang Profesor yang saya kagumi lewat pemikiran serta pekerjaannya di bidang Teologi Agama-Agama, Prof. Paul F. Knitter dari Xavier University, Cincinnati, Amerika Serikat. Beliau adalah penulis buku One Earth Many Religion dan No Other Names? Pertemuan saya dengan beliau terjadi pada bulan September 2004 ketika Program Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga menyelenggarakan Seminar Internasional dengan Topik: "Religious Dialogue and Global Responsibility".



Dari Kiri ke Kanan:
Saya, Prof. John Titaley (Rektor UKSW waktu itu), Prof. Paul F. Knitter, Bpk. Nico Likumahuwa (beliau yang menerjemahkan buku One Earth Many Religion ke dalam bahasa Indonesia), Izaak Lattu, M.A (salah seorang staf dosen Fakultas Teologi UKSW)



Waktu itu saya dikasih tahu oleh Bung Izaak bahwa akan diadakan seminar internasional dengan pembicara Prof. Paul L. Knitter. Weewww.... ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Saya pun meluncur dari Jogja bersama-sama dengan salah seorang teman, Tika Simatupang (editor di salah satu penerbit besar ibukota).
Menarik juga membayangkan pertemuan dengan salah seorang yang saya kagumi karena karya-karyanya. Kami tiba di Salatiga sebelum kegiatan dimulai.
Saya ingat, pada waktu itu sempat telpon ke Ambon, bilang buat Bung Elifas Maspaitella kalau sementara mendengarkan Prof. Knitter berbicara. Bung Eli langsung sms, coba usulkan buat Prof Knitter, kalau selama ini banyak agama dalam satu bumi dan hal itu bikin masalah, bisakah Prof. menulis buku tetapi dengan tema bahwa bumi ini tidak butuh agama lagi... Hal itu saya sampaikan dan langsung geer di dalam ruangan seminar. Prof. tertawa dan mengatakan bahwa agama itu inti dari kemanusiaan, jadi pandangan anda itu sepertinya menunjukkan bahwa anda sudah tidak percaya lagi dengan keberadaan agama.
Selesai seminar, kami berkesempatan untuk berkenalan dan mengambil gambar bersama. Prof. Knitter balik ke Jogja diantarkan oleh Bung Izaak Lattu, ditemani saya dan Tika. Perjalanan dari Salatiga ke Jogja diisi oleh diskusi kami berempat seputar permasalahan relasi agama-agama. Prof. Knitter sempat menceritakan pengalaman-pengalamannya. Kenangan yang tidak mungkin dilupakan, satu mobil bersama dengan Prof. Knitter dalam perjalanan dari Salatiga ke Jogja.
Kapan ya bisa jadi Profesor....?

3 komentar:

Steve Gaspersz mengatakan...

Lho...bukankah yang dari kiri ke kanan itu semuanya profesor? Kalau menurut Barthes, pencitraan fotografi sering meluluhkan batas-batas realitas dan karenanya menjadi medan pertarungan interpretasi - dalam bahasa Ricoeur "conflict of interpretation". Jadi, beta - Steve Gaspersz - melihat [menafsir] bahwa foto ini adalah foto diri 5 profesor yang pakar pada masing-masing bidangnya. Bukankah keprofesoran adalah sebuah dialektika intelektual yang terbangun dalam suatu diskusi [sebagai media pertukaran dan transformasi keilmuan]?

Jusuf Nikolas Anamofa mengatakan...

Hahahahaaa.... bisa-bisa katong dapa hajar ni... Tapi itulah kebebasan bos... Beta inga kalo Acu Paperu pake DR. Acu, Acu Lopuhaa pake Prof. Acu . . . Sebatas panggilan tidak masalah, tetapi kalau sudah berhubungan dengan pengalaman (Heidegger bilang pengalaman itu selain "Erleben" - menghidupi - hidup karena - hidup melalui - (dari kata "Leben" kio boss), tetapi juga "Erfahren", yang memiliki suatu kualitas lebih yang selain menunjuk pada perjalanan keluar untuk “belajar, temukan, dengarkan”, tetapi juga “menerima, menjalani” sesuatu. Suatu "Erfahrung" adalah pengalaman sebagai, atau dari, suatu hal yang eksternal (dalam bahasa Heidegger - peristiwa objektif), dan pelajaran yang dapat seseorang terima dari hal-hal eksternal (peristiwa-peristiwa objektif) itu.
Masalahnya adalah peristiwa-peristiwa objektif yang memungkinkan beta berpengalaman sebagai seorang profesor itu belum beta alami....
Dalam rangka itu pula beta sementara 'mau' "Keluar untuk melihat, mendengar, belajar dan temukan, sehingga bisa menjadi sejenis kesadaran inti yang paling dalam (itulah experience) supaya ketika istilah 'profesor' dikenakan pada beta, memang lahir dari pengalaman, sehingga seng ada yang bisa membantah....
Jadi, Lawamena Haulala kombali lai.

Anonim mengatakan...

Pace ko juga ee,
ko bisa bantu saya dengan Ilmu-ilmu bos Knitter itu kah?
ingat ko ada di Ktong pu tanah papua jadi ko harus bantu toh!

Iya Babe Kniter Pu pemikiran terbaru apakah? kan dulu dari eklesio, kristo, teo dan soterio- "centrism" ada perkembangan lain kah!

Wasalam

Knitter Akwan

Sampah Ambon