Sabtu, 08 Maret 2008

Orgasme Intelektual

Entah siapa yang memunculkan pertama kali terminologi ini, tetapi seingat saya pada tahun 2004 (waktu itu saya masih menimba ilmu di Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM - tidak sampai thesis karena biaya), dan teman-teman yang lain sementara mengambil S2 juga di program Sosiologi Agama UKSW Salatiga, istilah ini sudah biasa kami gunakan kalau lagi berkumpul dan membahas sekian banyak hal tentang studi kami masing-masing.... Weeeewwww.... Kalau orgasme seksual saja sudah nikmat demikian rupa, apalagi orgasme intelektual bagi orang-orang yang memang benar-benar jatuh cinta dengan hal itu...



Beta ingat sekitar Januari 2004, tiba di Yogyakarta dan kuliah dimulai Pebruarinya. Maret atau April, teman-teman dari Ambon sudah tiba di Salatiga untuk melanjutkan studi juga. Mereka itu Bung Elifas Maspaitella, Bung Novi Salenussa, Bung Nus Sahureka, seng lupa Bapak Louis Ubra, dan beberapa teman lainnya. Karena jarak Yogyakarta-Salatiga tidak terlalu jauh, hampir tiap bulan beta menyempatkan diri mengunjungi mereka. Saat-saat bersama mereka, beta selalu mendiskusikan beberapa topik soal konflik Maluku dan hal-hal seputar itu. Gagasan-gagasan seputar filsafat resolusi konflik, mediasi, sosiologi konflik, diperkaya dengan gagasan mereka dari sisi sosiologi agama (konflik di Maluku memang sarat nuansa agama). Istilah ini muncul dari kakak kami, Bung Elifas Maspaitella, entah didapatkannya dari mana, pada saat sudah selesai berdiskusi dan merasa benar


1 komentar:

Steve Gaspersz mengatakan...

Orgasme intelektual sebenarnya merupakan translasi "science for science" atau "ilmu untuk ilmu". Dalam pendekatan etnografi paradigma "ilmu untuk ilmu" sudah lama ditinggalkan karena menurut para etnografisis "ilmu selayaknya menawarkan problem-solving". Atau dalam bahasa teologis, ia harus terus dikontekstualisasikan. Dan karena itulah, pemetaan konteks menjadi signifikan. Pendekatan kontekstualisasi ini sangat digairahkan oleh berbagai studi ilmu-ilmu sosial/budaya yang kontribusinya juga terasa dalam kajian ilmu-ilmu humaniora lainnya, termasuk teologi. Tetapi istilah "orgasme intelektual" juga bisa diartikan sebagai kegairahan intelektual dalam menyetubuhi wacana-wacana sosiologis/antropologis sehingga "ia" tidak lagi mandul dalam syahwat sosialitasnya. [hehehe...seng tau ini batul ka seng...barang beta juga sedang mengalami orgasme intelektual...]