Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Sakit Hati di Otak

Ada lirik lagu dangdut lama yang menyatakan: "Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini ...". Nah, "sakit gigi" yang dimaksud tentu saja sakit fisik, sementara "sakit hati" yang dimaksud adalah sakit psikis. Apa bisa ya membandingkan sakit fisik dengan psikis? Ah .. tentu saja itu cuma lagu yang penuh dengan kata-kata khiasan supaya para pendengar lebih tertarik untuk menyimak apa maksud dari ungkapan itu.

Tru's apa ada masalah dengan sakit gigi atau sakit hati? Kalau sakit gigi sieh, saya sudah pernah merasakannya, setengah mati, gak bisa makan, gak bisa tidur, gak bisa dengar keributan, gak bisa kena angin, gak bisa ini, gak bisa itu. Tapi kalau sakit hati, saya sieh belum pernah dan jangan sampai. Fungsi hati saya masih baik-baik saja sampai saat ini. Tetapi kalau yang dimaksud dengan sakit hati psikis, entah bagaimana menggambarkannya kalau tidak pakai khiasan lagi. Kata orang-orang sieh seperti diiris-iris sembilu. Saya bingung juga gimana ra…

Mempertanyakan Kebenaran Yang Dianggap Sudah Mapan?

Dalam salah satu diskusi tentang proses pembelajaran di kampus, salah seorang rekan melempar pernyataan bahwa materi kuliah sangat teoretis, mengawang-awang, tidak menyentuh aspek kehidupan sehari-hari. Hal itu berakibat pada kompetensi mahasiswa yang dihasilkan hanya sebatas kemampuan menghafal seperti robot saja.

Pernyataan itu langsung mengundang reaksi dari beberapa orang rekan dosen lainnya. Salah satu pernyataan seorang rekan yang melatarbelakangi tulisan ini adalah bahwa kalau proses pembelajaran dibuat terbuka dan materi terlalu bebas, maka mahasiswa akan dibuat bingung, apalagi kalau sampai mempertanyakan hal-hal yang dipandang sudah oke. Menurut beliau, mahasiswa sering mengeluh karena ada dosen yang sering bertanya di wilayah-wilayah yang menurut mereka kebenarannya sudah mapan.

Oleh karena kegiatan di kampus kami berhubungan dengan Pendidikan di Bidang Agama, maka tidak diragukan lagi, apa yang dianggap kebenaran yang sudah mapan itu adalah doktrin-doktrin gereja. Mulai dari…

Clan di Kampung Tobati - Injros

Pada bagian pertama cerita perjalanan saya ke Tobati - Injros, saya merasa bahwa ada hubungan yang amat dekat antara penduduk kedua kampung. Oleh karena itu, perjalanan berikutnya saya lakukan di perpustakaan untuk menemukan dokumen-dokumen tentang Kampung Tobati - Injros. Ada beberapa hal yang saya temukan, tetapi tidak mungkin dibahas semuanya. Pada bagian ini, saya sekedar menampilkan tentang clan-clan di Kampung Tobati dan Injros. Materi ini saya peroleh dari salah satu skripsi mahasiswa STT GKI I.S. Kijne - Jayapura, Sem David Stenly Merauje dengan judul Pengaruh Pendidikan "di Rumah Mauw" Terhadap Iman Jemaat GKI Abara Injros dan Viadolorosa Tobati pada tahun 1997.

Kampung Injros
Menurut penelitian dari Sem, pada awalnya, yang mendiami Kampung Injros adalah 8 (delapan) clan. Namun seiring perjalanan waktu, ada tambahan-tambahan clan, yaitu pecahan-pecahan dari clan-clan awal itu atau juga clan-clan pendatang baru. Tiap clan tentunya dengan tugas dan tanggung jawab sendir…

My Trip: Jalan-Jalan ke Tobati - Injros - Jayapura

Hari Minggu pagi, 5 Juni 2011, kakak ipar bilang kepada saya kalau ada acara peneguhan Majelis Jemaat di Injros. Salah seorang saudara sepupunya diteguhkan untuk menjadi syamas dan mereka sangat mengharapkan kehadiran keluarga. Wah ... pengalaman yang baru nieh, jalan-jalan ke Tobati - Injros, Jayapura. Maklumlah, sudah sejak 2005 saya tinggal di Jayapura, belum pernah sekalipun menginjakan kaki di atas rumah-rumah papan yang ditopang tiang-tiang pancang kokoh di kedua kampung itu.

Memang sieehhh .... tiap hari kedua kampung itu bisa dilihat dari jalan raya antara Abepura - Jayapura, lebih tepatnya dari atas jalan raya Skyland, tetapi untuk ke sana, sampai dengan tanggal 5 Juni 2011, saya belum pernah. Lebih jelasnya, letak Kampung Tobati dan Injros dari atas jalan Skyland dapat dilihat pada foto di sebelah (foto ini diambil tahun 2006, jadi masih gondrong dan sedikit culun) di tepi jalan (bukan bunga ya ...).

Oleh karena ingin menghadiri peneguhan Majelis Jemaat, maka dengan segera say…

Book Review: STUDYING CHRISTIAN SPIRITUALITY

Judul: STUDYING CHRISTIAN SPIRITUALITYPenulis: David B. PerrinTahun: 2007Penerbit: Routledge - New York and LondonHlm.: 346Jumlah Bab: 9
Menurut penerbitnya, buku Studying Christian Spirituality ini adalah salah satu pengantar yang ideal bagi orang-orang yang ingin memahami bagaimana spiritualitas dapat dimengerti melampaui batas-batas konvensionalnya, yang selama ini menjadi anggapan umum.Menurut saya, ada 2 (dua) cara pembuktian terhadap pernyataan dari penerbit itu, yaitu: (1) Dengan membacanya secara baik agar ditemukan ide-ide apa yang dapat membimbing kita melampaui batas-batas konvensionalitas pengertian spiritualitas; (2) Membaca saja tidak cukup, tetapi harus juga mengerjakan gagasan-gagasan penting itu secara empiris, apakah memang dapat membantu kita memahami spiritualitas seperti yang dimaksudkan, atau hanya sama saja dengan buku-buku lain yang membahas topik tentang penelitian spiritualitas.Membaca secara cermat adalah pilihan utama. Setelah melakukan "sed…