Rabu, 29 Juni 2011

Sakit Hati di Otak

Ada lirik lagu dangdut lama yang menyatakan: "Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini ...". Nah, "sakit gigi" yang dimaksud tentu saja sakit fisik, sementara "sakit hati" yang dimaksud adalah sakit psikis. Apa bisa ya membandingkan sakit fisik dengan psikis? Ah .. tentu saja itu cuma lagu yang penuh dengan kata-kata khiasan supaya para pendengar lebih tertarik untuk menyimak apa maksud dari ungkapan itu.

Tru's apa ada masalah dengan sakit gigi atau sakit hati? Kalau sakit gigi sieh, saya sudah pernah merasakannya, setengah mati, gak bisa makan, gak bisa tidur, gak bisa dengar keributan, gak bisa kena angin, gak bisa ini, gak bisa itu. Tapi kalau sakit hati, saya sieh belum pernah dan jangan sampai. Fungsi hati saya masih baik-baik saja sampai saat ini. Tetapi kalau yang dimaksud dengan sakit hati psikis, entah bagaimana menggambarkannya kalau tidak pakai khiasan lagi. Kata orang-orang sieh seperti diiris-iris sembilu. Saya bingung juga gimana rasanya teriris sembilu. Yang pasti, pernah suatu ketika, salah seorang mantan pacar saya dulu ketahuan selingkuh gara-gara laki-laki selingkuhannya itu punya kendaraan sementara saya hanya modal jalan kaki doang, dada ini terasa nyeri, sesak nafas. Semakin dipikir, semakin nyeri dan sesak. Kalau gak dipikir (walaupun susah juga ilangin pikiran itu dalam waktu singkat) seperti plong rasanya. Kalau memang sakit hati (psikis) seperti itu, berarti saya sudah pernah merasakannya.

Sakit hati sudah pasti sangat berhubungan dengan pikiran, ingatan, dan lain-lain fungsi otak. Itu berarti "sakit hati" hanyalah khiasan belaka untuk menggambarkan betapa nyeri dada dan sesak nafas di saat memikirkan hal-hal yang menurut kita tidak dapat diterima begitu saja. Sakit hati sangat berhubungan dengan "perasaan". Nah, barang apa lagi nieh .. "perasaan". Bagi saya, apa pun itu, perasaan juga sangat berhubungan dengan pikiran, ingatan dan lain-lain fungsi otak. Begitu juga dengan emosi, cinta dan lain sebagainya yang oleh sebagian besar orang tidak berhubungan dengan rasio dan rasionalitas manusia.

Bagi para ahli yang mempelajari neurosains, yang namanya jiwa, perasaan, emosi, cinta, dan lain sebagainya itu adalah hasil kerja otak manusia. Jadi, semua hal di dalam kehidupan ini, bahkan sampai dengan pengalaman-pengalaman keagamaan pun adalah hasil kerja otak manusia. Pendapat-pendapat para neurosaintis ini tentu saja didukung oleh eksperimen-eksperimen penting yang dilakukan dalam jangka waktu lama terhadap fungsi kerja otak manusia.

Apakah pendapat-pendapat mereka itu menggambarkan realitas sebenarnya atau hanyalah konstruksi teoretis guna mendukung proses-proses eksperimen yang dilakukan? Perlu dikaji lebih lanjut secara filosofis. Untuk masuk pada bagian itu, butuh lebih banyak bacaan dan kajian terhadap apa yang dikerjakan oleh para neurosaintis, mulai dari asumsi-asumsi dasar yang digunakan, metodologi yang digunakan sampai pada penyampaian konklusi-konklusinya. Sampai tahap ini, percaya atau tidak, saya sepertinya lebih condong untuk ikut mendukung pendapat-pendapat mereka dengan catatan bahwa semakin banyak yang diketahui tentang fungsi kerja otak manusia, maka sesungguhnya masih banyak hal yang belum diketahui tentang itu.

Kamis, 09 Juni 2011

Mempertanyakan Kebenaran Yang Dianggap Sudah Mapan?

Dalam salah satu diskusi tentang proses pembelajaran di kampus, salah seorang rekan melempar pernyataan bahwa materi kuliah sangat teoretis, mengawang-awang, tidak menyentuh aspek kehidupan sehari-hari. Hal itu berakibat pada kompetensi mahasiswa yang dihasilkan hanya sebatas kemampuan menghafal seperti robot saja.

Pernyataan itu langsung mengundang reaksi dari beberapa orang rekan dosen lainnya. Salah satu pernyataan seorang rekan yang melatarbelakangi tulisan ini adalah bahwa kalau proses pembelajaran dibuat terbuka dan materi terlalu bebas, maka mahasiswa akan dibuat bingung, apalagi kalau sampai mempertanyakan hal-hal yang dipandang sudah oke. Menurut beliau, mahasiswa sering mengeluh karena ada dosen yang sering bertanya di wilayah-wilayah yang menurut mereka kebenarannya sudah mapan.

Oleh karena kegiatan di kampus kami berhubungan dengan Pendidikan di Bidang Agama, maka tidak diragukan lagi, apa yang dianggap kebenaran yang sudah mapan itu adalah doktrin-doktrin gereja. Mulai dari doktrin tentang Allah, tentang Yesus, tentang Roh Kudus, tentang Gereja, tentang keselamatan, dan lain sebagainya. Tentu saja bagi sebagian besar kita, hal-hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi karena kebenarannya sudah final. Sementara bagi sebagian kecil memandang bahwa hal-hal seperti itu masih bisa diganggu gugat dengan mempertanyakannya terus menerus.

Saya pribadi tidak berusaha masuk ke dalam kedua kelompok itu. Kalaupun harus dipaksa masuk, maka saya memilih berada di kelompok yang kedua dan akan terus mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang sudah dianggap mapan itu. Terus, di mana posisi saya sebenarnya?

Saya cuma hendak melakukan sedikit penelusuran tentang apakah "kebenaran yang sudah (dianggap) mapan" boleh dipertanyakan atau tidak?

Pertanyaan pertama yang patut dijawab adalah apakah kebenaran itu?
Untuk menjawab itu, saya mencoba memberikan contoh-contoh sebagai berikut:

A itu benar jika:
  • A = kenyataan di luar kendali pemikiran manusia. Contoh: Salju berwarna putih dianggap sebagai kebenaran karena dalam kenyataan di luar sana tidak ada satu pun salju berwarna selain putih. Kalau sampai didapati ada salju berwarna selain putih, maka perlu ditemukan penyebab-penyebabnya. Kalau sampai setelah diuji dan didapati ada salju berwarna selain putih, maka kebenaran itu dapat berubah. Teori ini didukung oleh para pemikir realisme yang menyatakan bahwa realitas itu ada di luar sana, bukan di dalam pemikiran manusia. Para empirisist menyatakan bahwa apa yang dinyatakan benar itu haruslah berkorespondensi dengan apa yang ada di luar sana. Kalau kita mengatakan setan itu ada, buktikanlah secara empirik bahwa setan itu ada. Atau sebaliknya, kalau mengatakan bahwa Tuhan itu ada, buktikanlah secara empirik bahwa Tuhan memang ada. Pembuktian secara empiris menjadi faktor penting memperoleh kebenaran. Pendekatan induktif menjadi pilihan pembuktian dengan mengumpulkan data-data empirik dan melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan data-data itu.
  • A = apa yang ada di dalam pemikiran manusia. Contoh: Saya berani mengatakan bahwa 2 + 2 itu 4 sebagai kebenaran dan tak ada jawaban lain selain itu. Teori ini didukung oleh para pemikir idealisme. Mereka menyatakan bahwa hanya ide-ide di dalam pemikiran manusialah yang bisa benar. Sekalipun ada realitas di luar sana, itu hanyalah cerminan dari ide-ide manusia. Para rasionalis menyatakan bahwa apa yang dinyatakan benar itu harus koheren dengan hal-hal sebelumnya yang telah diyakini sebagai kebenaran. Jadi, kalau kita mengatakan bahwa setan atau Tuhan itu ada, maka pembuktian terhadap pernyataan itu haruslah dilakukan dengan menemukan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap sebagai kebenaran. Pendekatan deduktif adalah pilihan pembuktian, dimulai dengan membuat pernyataan rasional dan berupaya mengumpulkan data-data yang mendukung pernyataan itu.
  • A = apa yang bisa memecahkan masalah. Contoh: Pernyataan bahwa Tuhan itu ada adalah benar jika pernyataan itu dapat dibuktikan secara operasional dalam memecahkan masalah kehidupan setiap hari. Para pragmatist adalah pendukung teori ini. Jadi, pembuktian bahwa sesuatu itu benar hanya dapat dilakukan dengan cara mengoperasikannya dalam situasi pemecahan masalah atau problem solving. Dapat diawali dengan induktif atau deduktif, tetapi hasilnya belumlah sebuah kebenaran karena harus melalui tahap pengujian lagi, apakah dapat diterapkan sebagai model atau teori guna memecahkan masalah dalam kehidupan setiap hari.
Pertanyaan saya, adalah apakah ada teori yang menyatakan bahwa jika sesuatu itu sudah dianggap benar, tidak perlu dipertanyakan lagi? Masalahnya adalah pada pembuktian. Dalam pendekatan filsafat sains, ada dikenal istilah verifikasi dan falsifikasi.
verifikasi adalah upaya-upaya pengumpulan data yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu pernyataan atau teori yang telah dirumuskan sebelumnya itu benar. Jadi, verifikasi sangat berhubungan dengan pendekatan deduktif.
falsifikasi adalah upaya-upaya pengumpulan data yang dilakukan untuk membuat pernyataan atau teori baru dengan cara membuktikan bahwa pernyataan atau teori yang sementara berlaku itu tidak benar. Jadi falsifikasi sangat berhubungan dengan pendekatan induktif.
Pada tahap ini, kebenaran itu dianggap sebagai Objective Truth

Bagaimana dengan kebenaran religius atau agama? Ketika berbicara tentang kebenaran yang berhubungan dengan agama, maka sebagian besar orang akan menunjuk pada iman atau faith. Mengapa? Karena sumber dari kebenaran agama adalah iman manusia. Pertanyaannya adalah apa itu iman?

Secara sederhana, saya dapat menyatakan bahwa iman adalah kepercayaan yang diperoleh berdasarkan dialektika antara refleksi dan ekspresi. Tiap refleksi akan menghasilkan ekspresi dan tiap ekspresi akan mengarah pada refleksi. Refleksi biasanya dilakukan terhadap warisan-warisan yang telah ada, juga terhadap ekspresi yang dinyatakan berdasarkan refleksi sebelumnya. Tiap upaya refleksi mensyaratkan suatu penafsiran. Tiap penafsiran dilakukan berdasarkan suatu sudut pandang. Suatu sudut pandang adalah sistem episteme yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, yang melegitimasi seluruh hasil penafsiran itu. Sistem episteme itu muncul sebagai kebutuhan dalam situasi tertentu. Contoh: Doktrin Gereja bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Hal itu dianggap sebagai kebenaran. Pertanyaannya adalah darimana pernyataan atau doktrin itu datang? Tentu itu adalah ekspresi gereja pada masa tertentu yang didasarkan atas penafsiran terhadap Alkitab dengan menggunakan sistem episteme zaman itu, untuk menjawab persoalan-persoalan zaman itu. Ketika diperhadapkan dengan masalah, maka refleksi dilakukan dengan cara menafsir warisan keyakinan berupa Alkitab dan mengekspresikannya lewat doktrin tersebut. Apakah hal itu dapat dikatakan benar? Ya, itu adalah kebenaran bagi gereja pada suatu masa, untuk menjawab masalah-masalah di masa itu. Apakah doktrin itu dapat dipertanyakan?

Hal yang membedakan tiap zaman atau tiap masa adalah persoalan atau permasalahan yang dihadapi. Kebutuhan manusia menjawab persoalan-persoalan itu kemudian melahirkan sistem-sistem episteme baru atau perspektif-perspektif baru. Tentu saja refleksi yang baru terhadap warisan-warisan lama perlu dilakukan guna menghasilkan ekspresi baru menjawab tantangan baru di zaman yang baru. Apakah kita dapat begitu saja melakukan copy paste terhadap jawaban-jawaban yang sesungguhnya ditujukan untuk menjawab pertanyaan lain di lain tempat dan lain waktu? Kalaupun ada yang mau melakukan itu, saya sangat mempertanyakan hakekat kemanusiaannya. Bagi saya, itu perbuatan harap gampang yang sangat tidak bisa ditolerir sebagai manusia yang memiliki kelengkapan sedemikian rupa untuk berpikir.

Dengan persoalan baru, sistem episteme baru, maka dapat dipastikan ada refleksi baru dan ekspresi baru. Pada tahap itu, maka menurut saya, kebenaran-kebenaran yang telah dianggap mapan itu dapat dipertanyakan lagi, apakah masih sesuai dengan kebutuhan kita saat ini? Kalau masih sesuai, buktikan itu melalui penafsiran-penafsiran baru dalam sistem episteme baru. Dapat saja bagi sebagian orang akan melihat bahwa Yesus hanyalah satu dari sekian banyak jalan keselamatan dan mereka memilih jalan Yesus karena alasan-alasan tertentu.
Pada tahap ini, kebenaran adalah Konstruksi Pemikiran Manusia.

Jadi, terhadap pertanyaan awal tentang apakah suatu kebenaran yang sudah dianggap mapan dapat dipertanyakan lagi? Maka jawaban saya adalah jika kebenaran yang terkait Objective Truth saja selalu ada upaya falsifikasi, apalagi terhadap kebenaran yang terkait dengan Konstruksi Pemikiran Manusia. Bagi orang-orang yang sudah tidak mau lagi bertanya dan terus bertanya karena kemapanan, saya pikir sudah saatnya untuk meninggalkan perspektif tersebut kalau ingin tidak tergerus oleh zaman. Apa yang saya pikir itu pun bukan kebenaran absolut, boleh dibantah dengan argumentasi-argumentasi lain.

Clan di Kampung Tobati - Injros

Pada bagian pertama cerita perjalanan saya ke Tobati - Injros, saya merasa bahwa ada hubungan yang amat dekat antara penduduk kedua kampung. Oleh karena itu, perjalanan berikutnya saya lakukan di perpustakaan untuk menemukan dokumen-dokumen tentang Kampung Tobati - Injros. Ada beberapa hal yang saya temukan, tetapi tidak mungkin dibahas semuanya. Pada bagian ini, saya sekedar menampilkan tentang clan-clan di Kampung Tobati dan Injros. Materi ini saya peroleh dari salah satu skripsi mahasiswa STT GKI I.S. Kijne - Jayapura, Sem David Stenly Merauje dengan judul Pengaruh Pendidikan "di Rumah Mauw" Terhadap Iman Jemaat GKI Abara Injros dan Viadolorosa Tobati pada tahun 1997.

Kampung Injros
Menurut penelitian dari Sem, pada awalnya, yang mendiami Kampung Injros adalah 8 (delapan) clan. Namun seiring perjalanan waktu, ada tambahan-tambahan clan, yaitu pecahan-pecahan dari clan-clan awal itu atau juga clan-clan pendatang baru. Tiap clan tentunya dengan tugas dan tanggung jawab sendiri. Oleh karena itu, tidak heran bila ada pelevelan terhadap tiap clan di Kampung Injros. Di bawah ini adalah clan-clan yang ada di Kampung Injros berdasarkan level atau tingkatan atau posisi sosialnya:
  1. Clan Runyi (Drunyi)
  2. Clan Anyi (Sanyi)
  3. Clan Sembra (Semra)
  4. Clan Meraujwe (Merauje)
  5. Clan Anasbei (Hanasbei)
  6. Clan Chaai (Haai)
  7. Clan Hababuk
  8. Clan Itaar (dari Kampung Nafri)
  9. Clan Samai (pecahan dari Clan Meraujwe)
  10. Clan Ansuai (pecahan dari Clan Sanyi)
  11. Clan Hamadi (dari Kampung Tobati)
  12. Clan Afaar (dari Kampung Tobati)
  13. Clan Iwo (dari Kampung Tobati)
  14. Clan Feb (dari Skou)
  15. Clan Maigoda (dari Maluku)

Kampung Tobati
Pada awalnya yang mendiami wilayah Tobati adalah 11 Clan utama, ditambah Clan pecahan dan Clan pendatang. Di bawah ini adalah clan-clan yang ada di Kampung Tobati berdasarkan level atau tingkatan atau posisi sosialnya:
  1. Clan Khamadi (Hamadi)
  2. Clan Ireu (Ireeuw)
  3. Clan Hasor
  4. Clan Anasbei (Hanasbei)
  5. Clan Khaai (Haai)
  6. Clan Iwo
  7. Clan Meraujwe (Merauje)
  8. Clan Afaar
  9. Clan Hababuk
  10. Clan Dawir
  11. Clan Sremraube (Srem-Srem, sekarang telah berdiam di Kampung Nafri)
  12. Clan Amsor (dari PNG)
  13. Clan Injama (pecahan dari Clan Ireu)
  14. Clan Makbi (pecahan dari Clan Hamadi, sekarang sudah tidak ada lagi)
  15. Clan Mano (pecahan dari Clan Hamadi)
  16. Clan Itaar (pecahan dari Afaar)
  17. Clan Sanyi (dari Kampung Injros)
  18. Clan Feb (dari Skou)
  19. Clan Ondi (dari Kampung Serei, Sentani Kota)
Dengan demikian, cukup jelas bagi kita bersama tentang semua Clan di Kampung Injros dan Tobati.

Senin, 06 Juni 2011

My Trip: Jalan-Jalan ke Tobati - Injros - Jayapura

Hari Minggu pagi, 5 Juni 2011, kakak ipar bilang kepada saya kalau ada acara peneguhan Majelis Jemaat di Injros. Salah seorang saudara sepupunya diteguhkan untuk menjadi syamas dan mereka sangat mengharapkan kehadiran keluarga. Wah ... pengalaman yang baru nieh, jalan-jalan ke Tobati - Injros, Jayapura. Maklumlah, sudah sejak 2005 saya tinggal di Jayapura, belum pernah sekalipun menginjakan kaki di atas rumah-rumah papan yang ditopang tiang-tiang pancang kokoh di kedua kampung itu.

Memang sieehhh .... tiap hari kedua kampung itu bisa dilihat dari jalan raya antara Abepura - Jayapura, lebih tepatnya dari atas jalan raya Skyland, tetapi untuk ke sana, sampai dengan tanggal 5 Juni 2011, saya belum pernah. Lebih jelasnya, letak Kampung Tobati dan Injros dari atas jalan Skyland dapat dilihat pada foto di sebelah (foto ini diambil tahun 2006, jadi masih gondrong dan sedikit culun) di tepi jalan (bukan bunga ya ...).

Oleh karena ingin menghadiri peneguhan Majelis Jemaat, maka dengan segera saya bersiap untuk berangkat. Saya tahu bahwa jam 9 pagi, ibadah peneguhan sudah dimulai. Untuk itu, sebelum jam 9, saya bersama dengan kakak ipar laki-laki telah berangkat menuju pantai Hamadi untuk menuju ke Tobati sambil menunggu keluarga yang lain berangkat ke Injros. Jarak antara Kampung Tobati dengan Injros tidak terlalu jauh, seperti yang terlihat pada latar belakang foto di atas. Mungkin sekitar 10 menit menyeberang dengan perahu motor, kita sudah bisa tiba di sana.

Tiba di pantai Hamadi, saya disuguhi dengan pemandangan hutan bakau yang cukup lebat. Jadi teringat kampung halaman di Amahei sana, di mana hutan bakau menjadi tempat bermain dan belajar mencari hidup saat kecil.

Masih dalam kekaguman akan suasana itu, ternyata kami sudah ditunggu oleh keluarga yang menjemput tepat di dermaga baru yang dibangun sebagai jalan lingkar Jayapura. Dalam hati .. "Wahhh ... sepertinya akan menjadi jalan yang cukup megah di Papua nieheee .... ".

Dengan segera bunyi motor mengagetkanku agar naik ke dalam perahu karena akan berangkat. Sambil menyusuri kanal yang dibuat di pinggir jembatan itu, kami menuju ke Kampung Tobati, ke rumah salah satu keluarga dari kakak ipar. Marga dari keluarga itu adalah Hamadi, sama dengan nama daerah di wilayah Jayapura adalah Hamadi. Rupa-rupanya tempat yang bernama Hamadi itu adalah wilayah yang sebagian besar dimiliki oleh Suku Hamadi dari Tobati.

Hampir 10 menit perjalanan menyusuri hutan bakau, akhirnya kami tiba di Kampung Tobati. Di sisi Kampung Tobati, telah terpancang tiang-tiang beton yang akan menyangga jembatan penghubung dari Pantai Hamadi ke arah Abepura. Menurut cerita mereka yang tahu tentang rencana itu, Jembatan tersebut akan mengarah ke pantai di bawah Vihara, tepatnya di pertigaan jalan ke arah Abepura, Jayapura dan Tanah Hitam.

Setelah sempat singgah sebentar di Tobati, kami melanjutkan perjalanan ke Injros. Ada satu pemandangan yang menarik perhatian saya. Kalau dilihat dari jauh, seperti tiang menara lonceng gereja yang sangat besar di Kampung Injros. Waw .... kampung yang berada di tengah laut punya menara lonceng yang begitu megah. Rasa penasaran sedikit ditahan membuat saya tidak langsung bertanya kepada ipar atau kerabatnya. Ketika kami perlahan-lahan meninggalkan Tobati menuju ke Injros, pemandangan itu semakin jelas di mata. Akhirnya saya sadar bahwa itu bukanlah bagian dari satu gedung gereja, tetapi adalah tugu peringatan masuknya Injil ke kampung Injros. Memang, tugu itu berdiri dengan megahnya di daratan yang cuma sedikit di sana.

Jam di tangan telah menunjukkan pukul 10.30 ketika perahu motor kami merapat di depan rumah kerabat dari Ipar di Kampung Injros. Ibadah belum dimulai waktu itu. Dengan segera kami bergegas menuju gereja untuk mengikuti ibadah sekaligus peneguhan Majelis Jemaat yang baru. Hmmmm .... gereja yang sungguh megah, terbuat dari beton di atas timbunan tanah di tengah laut. Gereja itu dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk yang berdiri di atas tiang pancang alias rumah gantung. Dalam hati saya sempat memuji ketekunan mereka membangun gereja di tengah laut seperti itu. Sayangnya, karena keasyikan menikmati suasana dan juga makanan hasil laut dari Injros, saya lupa mengambil gambar posisi gereja tersebut. Tetapi suatu waktu pasti saya akan kembali untuk mengambilnya. Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah di Jemaat GKI Abara Injros ada juga kelompok belajar yang dibentuk oleh Jemaat.

Puas menikmati makanan laut yang segar di sana (saya menghabiskan seekor kepiting bakau yang besar, 5 tusuk sate kerang, seekor ikan bakar, nasi secukupnya ... sangat kenyang). Kami menikmati semilir angin laut dan aroma lumpur keras yang mulai bermunculan karena surutnya air laut. Saya mendapat pemandangan baru ketika air laut sudah benar-benar surut dan meninggalkan sebidang tanah lumpur keras di tengah-tengah Kampung Injros. Sambil menikmati pemandangan alam yang luar biasa, satu per satu pemuda turun ke tengah-tengah tempat kering itu sambil membawa bola. Ya, mereka berlatih dan bermain bola di tengah-tengah daratan kering itu. Hal itu dilakukan setiap air laut surut pada sore hari. Ketika air kembali pasang, mereka kembali naik ke rumah-rumah gantung.

Ternyata air pasang begitu lama dan gelap hampir tiba. Kami harus kembali ke Tobati kemudian ke Pantai Hamadi dan pulang ke Abepura. Kami pun memutuskan untuk segera berangkat dengan catatan perahu motor yang kami tumpangi akan menunggu di ujung jembatan kayu di mana air laut masih sedikit dalam dan dapat dilewati. Dalam perjalanan pulang itu, pemandangan menarik juga ditemui ketika saya memandang ke arah Kampung Tobati. Gedung gereja di Kampung Tobati ternyata menjadi objek sempurna dalam indra penglihatan saya ketika dilihat dari tengah laut. Dengan latar depan rumah-rumah penduduk Tobati yang terbuat dari papan dan berdiri di atas tiang-tiang pancang, gedung gereja itu berdiri di salah satu pulau karang kecil dengan indahnya. Wawww .... pilihan tempat yang sangat strategis (menurut saya sieh .... ).

Dalam sehari perjalanan, ternyata ada banyak hal yang dapat direfleksikan dan diekspresikan. Ini mungkin hanya cerita biasa tentang perjalanan biasa, tetapi tak ada salahnya bila cerita ini dibagikan. Ada hal-hal indah di sekeliling kita, tinggal kita mau memaknainya dan menjadikannya pengalaman berharga dalam kehidupan. Tetapi ada juga hal-hal yang tidak indah di sekeliling kita. Pemaknaan terhadapnya pun perlu dilakukan agar kita mendapat pelajaran berharga. Tiap saat, tiap waktu adalah saat dan waktu belajar.


bersambung ......

Jumat, 03 Juni 2011

Book Review: STUDYING CHRISTIAN SPIRITUALITY


Judul: STUDYING CHRISTIAN SPIRITUALITY

Penulis: David B. Perrin

Tahun: 2007

Penerbit: Routledge - New York and London

Hlm.: 346

Jumlah Bab: 9


Menurut penerbitnya, buku Studying Christian Spirituality ini adalah salah satu pengantar yang ideal bagi orang-orang yang ingin memahami bagaimana spiritualitas dapat dimengerti melampaui batas-batas konvensionalnya, yang selama ini menjadi anggapan umum.

Menurut saya, ada 2 (dua) cara pembuktian terhadap pernyataan dari penerbit itu, yaitu: (1) Dengan membacanya secara baik agar ditemukan ide-ide apa yang dapat membimbing kita melampaui batas-batas konvensionalitas pengertian spiritualitas; (2) Membaca saja tidak cukup, tetapi harus juga mengerjakan gagasan-gagasan penting itu secara empiris, apakah memang dapat membantu kita memahami spiritualitas seperti yang dimaksudkan, atau hanya sama saja dengan buku-buku lain yang membahas topik tentang penelitian spiritualitas.

Membaca secara cermat adalah pilihan utama. Setelah melakukan "sedikit" bacaan, saya menemukan bahwa buku ini cukup membantu dalam upaya memahami kerangka metodologi penelitian tentang spiritualitas. Apabila pemahaman spiritualitas Kristen selama ini difokuskan pada teologi dan sejarah spiritualitas Kristen, maka Perrin dalam buku ini mencoba untuk membuat hubungan antara spiritualitas Kristen dengan bidang-bidang ilmu lain tentang manusia (human sciences), seperti filsafat, psikologi, sejarah, sosiologi, fenomenologi, hermeneutika dan antropologi. Menurut Perrin, usaha yang dilakukannya dalam buku ini adalah untuk menjawab pertanyaan mendasar, yaitu: Apa artinya berpikir secara kritis dalam perspektif spiritualitas Kristen saat ini?

Secara keseluruhan, ada 7 (tujuh) pokok yang dibahas dalam buku ini, yaitu:

1. Bahasan tentang pengertian spiritualitas

Menurut Perrin, sudah saatnya kita memikirkan spiritualitas melampaui batas-batas organisasi agama. Hal itu disebabkan karena saat ini (saat buku ini ditulis), sudah semakin banyak orang tertarik dengan dimensi spiritualitas dalam kehidupan tanpa ingin terikat dalam organisasi-organisasi keagamaan. Hal itu menunjukkan bahwa spiritualitas bukan lagi dominasi agama, tetapi juga dapat dibicarakan tentang spiritualitas sosial, spiritualitas budaya, dll. Setiap aspek kehidupan manusia seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dll., dapat menjadi sumber utama data bagi orang-orang yang ingin memahami spiritualitas dengan cara baru. Data dari bidang-bidang kehidupan itu akan membuat pemahaman tentang spiritualitas Kristen lebih kaya daripada yang ada sebelumnya.

2. Hubungan antara spiritualitas Kristen dengan teologi

Sepertinya, teologi masih tetap menjadi bahan kajian menarik. Tentu saja spiritualitas Kristen tak dapat dilepaspisahkan dari teologi Kristen. Hal itu dapat dipahami karena bagaimana spiritualitas Kristen dipahami dan dimanfaatkan dalam aspek kehidupan setiap hari juga tergantung pada asumsi-asumsi yang dihubungkan dengan pemahaman teologis seorang Kristen. Perrin ketika membahas hubungan antara spiritualitas Kristen dengan teologi kemudian menyatakan bahwa hubungan antara keduanya bersifat dialektis, di mana satu sama lain saling berkontribusi.

3. Pengalaman sebagai objek material studi

Dalam perspektif metodologis, yang disebut sebagai objek material adalah suatu bidang, isu, masalah, hal, atau apa pun namanya, yang hendak diteliti atau dikaji. Dalam pengertian itu, apa yang dibahas oleh Perrin dalam buku ini adalah tentang upaya memahami pengalaman sebagai pengalaman, bukan pengalaman-pengalaman yang telah coba ditarik pada tataran abstraksi. Menurut Perrin, pengertian yang kritis tentang pengalaman harus membuat kita memahami bahwa spiritual Kristen tidak berbicara tentang bagaimana aplikasi dari kategori-kategori teologi Kristen dalam kehidupan setiap hari. Studi tentang spiritualitas harus melampaui kategori-kategori teologis yang adalah doktrin-doktrin teologis. Studi tentang spiritualitas harusnya terbuka terhadap seluruh pengalaman manusia dalam segala aspek kehidupan.

4. Pentingnya konteks

Terhadap pokok ini, tentu saja akan banyak orang yang sepakat bahwa konteks memegang peranan penting dalam studi-studi tentang manusia dan pengalaman setiap harinya. Dalam studi tentang spiritual, konteks ekonomi, sosial, politik, keagamaan, dll., dan hubungan-hubungan di antara semuanya itu menjadi penting untuk diketahui. Hal itu disebabkan karena pengalaman manusia ada dalam relasi konteks kehidupan tersebut. Dengan semangat mengutamakan konteks, maka tiap pengalaman di tiap tempat dan tiap waktu adalah unik. Dari sana, seharusnya tak boleh ada upaya-upaya generalisasi atau lebih lagi pereduksian pengalaman-pengalaman tiap orang.

5. Pendekatan Multidisiplin

Perrin menyatakan bahwa multidisiplin adalah prinsip utama metodologi dalam upaya menstudikan spiritualitas Kristen. Asumsinya adalah bahwa tak akan ada dan tak akan pernah ada satu disiplin saja yang memiliki semua jawaban tentang pengalaman kehidupan manusia. Oleh karena itu, Perrin mencoba menghubungkan spiritualitas Kristen dengan bidang-bidang ilmu lain tentang manusia.

6. Kesadaran Sejarah

Ketika membicarakan tentang bagaimana masa lalu berhubungan dengan masa kini dan masa depan, sesungguhnya Perrin hendak membicarakan tentang kesadaran sejarah. Dalam bahasan tentang hal ini, Perrin menunjukkan bahwa mesti ada keyakinan kalau manusia adalah produk dari masanya sendiri, walaupun ada tradisi-tradisi, nilai-nilai, ide-ide, dll., yang diwariskan generasi ke generasi. Dari sisi metodologis, dengan menekankan aspek kesadaran sejarah, Perrin hendak mengingatkan kita bahwa ketika melakukan studi, kita selalu berada dalam horison kesadaran sejarah pribadi. Dengan menyadari bahwa horison kesadaran sejarah pribadi selalu kita miliki, maka hal yang sangat mungkin agar studi kritis dapat dibangun adalah membuat horison itu seeksplisit atau seterang mungkin. Artinya, kita mesti jujur dan terbuka akan hal itu.

7. Pendekatan Hermeneutika

Studi terhadap spiritual Kristen sesungguhnya adalah pencarian akan makna dari pengalaman-pengalaman manusia sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang menjalani pengalaman-pengalaman itu. Pemaknaan terhadap satu hal dapat saja berbeda bagi tiap orang. Pemaknaan itu belum diketahui sebelumnya oleh kita yang hendak melakukan studi. Pada titik itulah, hermeneutika hadir sebagai kekuatan metodologis untuk membantu kita menemukan makna.

Bagi saya, buku ini sangat menarik. Lepas dari itu, buku ini sangat membantu untuk merancang studi tentang spiritualitas Kristen. Harusnya buku ini juga menarik bagi semua orang yang tertarik untuk melakukan studi-studi empiris tentang spiritualitas Kristen.

Jusuf Nikolas Anamofa