Langsung ke konten utama

Apa Dampak Ekonomi dari Perhelatan Olah Raga Seperti Asian Games 2018?

Saya pribadi bukan orang yang "expert" di bidang ekonomi juga bukan individu yang punya prestasi di bidang olahraga. Saya hanya hendak mengajukan pertanyaan seperti yang tertera pada judul, "Apa dampak ekonomi dari perhelatan olah raga seperti Asian Games 2018?"Pertanyaan itu tidak datang tiba-tiba tetapi telah mengendap sekian lama dan baru diutarakan sekarang. 

Tanggal 29 Juli 2016 yang lalu, Kantor Staf Presiden (KSP) mempublikasikan satu tulisan dengan judul "Asian Games Momentum Penggerak Ekonomi." Dalam paragraf terakhir tulisan itu disebutkan, "Asian Games 2018 bukan hanya unjuk pamor Indonesia sebagai negara papan atas di Asia yang mampu menggelar ajang serupa lebih dari satu kali, tapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi agar rakyat pun merasakan dampak kesejahteraan dari Asian Games pertama yang dilaksanakan di dua kota ini."

Satu kata kunci di situ adalah "katalisator" yang lebih kurang berarti "seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa." Dalam konteks kalimat di atas, diharapkan bahwa Asian Games 2018 akan menjadi penyebab perubahan terkait pertumbuhan ekonomi, tentu saja perubahan yang dimaksudkan adalah peningkatan ekonomi.

Setiap argumentasi tentu ada beberapa pertimbangan atau penilaian (judgment) yang mendasarinya. Bagi Dewey, historical judgment menjadi hal pertama yang patut dikerjakan. Kenapa? Karena hakekat manusia adalah makluk sejarah yang selalu mendasarkan pengetahuan dan pengambilan keputusan-keputusan dalam hidup berdasarkan pengalaman, baik dirinya maupun orang lain. Pengalaman itu historis, menyejarah, empirik, karena itu secara pragmatis penting bagi pemecahan masalah. 

Belajar dari sejarah penyelenggaraan perhelatan-perhelatan olah raga besar mesti dilakukan dengan berimbang. KSP telah melakukan itu dalam tulisan mereka. Rujukan historisnya adalah penyelenggaraan Piala Dunia 2014 di Brasil dan Asian Games 2014 di Incheon Korea Selatan. Fakta-fakta itu dapat dibaca dalam tulisan tersebut. 

Bagi saya, penulis di KSP itu belum menampilkan fakta secara berimbang tetapi hanya menampilkan apa yang mendukung ide besarnya saja bahwa Asian Games akan menggerakkan ekonomi. Pasti Staf Presiden tahu tentang fakta penyelenggaraan Olimpiade 2004 di Athena, juga perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang bagi sebagian orang hanya meninggalkan kebusukan, bahkan Yunani kemudian mengalami krisis berkepanjangan sampai saat ini.

Terkait dengan ekonomi, apa yang sama dari seluruh perhelatan itu? Jika dilihat, hal yang sama adalah:
  1. Pada saat persiapan, penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak. Para pekerja akan terserap ke dalam proyek-proyek infrastruktur penunjang utama event-event tersebut.
  2. Pada saat berlangsungnya perhelatan, ribuan orang dari berbagai tempat akan memenuhi kota-kota, khususnya tempat-tempat penyelenggaraan. Ekonomi masyarakat akan tergerak dengan sendirinya karena kehadiran banyak orang itu.
Yang berbeda adalah kebijakan pasca perhelatan. Apa yang akan terjadi di hari berikutnya setelah perhelatan itu ditutup? Apakah negara bisa menjadi pengurus yang baik bagi apa yang telah diadakannya itu? Ataukah membiarkan pihak swasta yang profesional mengusahakannya demi dampak ekonomi yang baik?

Biasanya istilah yang sering digunakan adalah "Pesta Olahraga". Seperti pesta umumnya, akan banyak hal yang harus diurus setelah pesta itu usai. 

Itulah latar belakang mengapa saya harus sampai pada pertanyaan, "Apa dampak ekonomi dari perhelatan olah raga seperti Asian Games 2018?"

Adakah yang punya jawabannya?


Referensi:
  1. http://properti.kompas.com/read/2014/08/14/135858621/Lihatlah.Olimpiade.Yunani.2004.Hanya.Menyisakan.Kebusukan. 
  2. http://ksp.go.id/asian-games-momentum-penggerak-ekonomi/ 
  3. http://kbbi.web.id/katalisator
  4. http://www.globalresearch.ca/selling-south-africa-poverty-politics-and-the-2010-fifa-world-cup/18303
 

Komentar

Pos populer dari blog ini

5 Menit Lepas Dari Rusuh

Tanggal 28 Desember pagi hari kami sekeluarga berencana berlibur ke Amahei untuk menghadiri perayaan natal Amahei - Ihamahu 2012. Rencananya lewat laut menggunakan kapal cepat, tetapi setelah rencana kami diketahui oleh keluarga istri, jadilah semua rame-rame pada ikut ke Amahei. Karena tidak mungkin 8 orang menggunakan kapal cepat, kami memilih menggunakan mobil lewat jalan darat (Waipirit-Kairatu ke Masohi).


Berangkat dari rumah di Lateri-Ambon sekitar jam 10 pagi, tiba di Liang sebelum jam 11, baru bisa menyeberang dengan Ferry ke Waipirit sekitar jam 12 siang. Perjalan sekitar 1 jam, istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan sekitar jam 2 siang. Tiba di Masohi kurang lebih jam 5 sore.


Singkat cerita, bertemu dengan orang tua dan keluarga, dilanjutkan dengan merayakan natal sebagaimana tujuan kepulangan.


Tanggal 29 Desember 2012, kami kembali ke Ambon melalui jalan yang sama. Lepas dari Amahei sekitar jam 12 Siang dengan harapan sekitar jam 4 sore sudah bisa menyeberang ke Ambon.


Tiba…