APAKAH PENTING HAL INI DIKATAKAN? BAHWA PEMENANG ITU LEBIH SEGALANYA DARI PECUNDANG?
Pemenang selalu menjadi bagian dari solusi
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah
(Saya berpikir: "Apakah mungkin akan ada pemenang tanpa pecundang? Akan ada solusi tanpa masalah?)
Pemenang selalu memiliki program atau rencana
Pecundang selalu memiki alasan dan permintaan maaf
(Saya berpikir: "bukankah permintaan maaf itu satu-satunya jalan untuk menyatakan bahwa kita masih punya hati? Tapi kalau kebanyakan minta maaf, ya hancurlah")
Pemenang berkata: "Biarkan saya yang melakukan untuk anda"
Pecundang berkata: "Itu bukan urusan saya"
(Saya berpikir: "Berarti spesialisasi dalam kehidupan saat ini adalah gagasan para pecundang? Bukankah pecundang tak bisa merencanakan?")
Pemenang berusaha mencari jawaban dari tiap masalah
Pecundang berusaha mencari masalah dalam tiap jawaban
(Saya berpikir: "Bukankah masalah dan jawaban itu bagaikan lingkaran, tak pernah habis-habisnya? Apakah tidak lebih baik pemenang berterima kasih kepada pecundang karena melihat ada masalah baru dalam tiap jawaban yang mereka berikan?")
Pemenang berkata: "Ini memang sulit, tetapi mungkin dikerjakan"
Pecundang berkata: "Ini mungkin dikerjakan, tetapi sulit"
(Saya berpikir: "Bukankah sama saja, kedua-duanya menyadari adanya kesulitan dan adanya kemungkinan?")
Ketika pemenang melakukan kesalahan, ia berkata: "itu kesalahan saya"
Ketika pecundang melakukan kesalahan, ia berkata: "bukan kesalahan saya"
(Saya berpikir: "Kalau pecundang mengaku bersalah, apakah bisa jadi pemenang? Atau mendapat hukuman yang terkadang tak hilang di ingatan?")
Pemenang membuat komitmen-komitmen
Pecundang membuat janji-janji
(Saya berpikir: "emang kita dididik untuk jadi pecundang. Coba lihat di sekeliling kita, siapa saja yang suka mengobral janji? Maukah kita menyebut mereka juga pecundang?")
Pemenang memiliki mimpi-mimpi
Pecundang memiliki rencana kotor
(Saya berpikir: "Syukurlah ada pecundang, dari sana saya bisa tahu seperti apa kotor dan bersihnya rencana.")
Pemenang berkata: "Saya harus melakukan sesuatu!"
Pecundang berkata: "Sesuatu harus dilakukan!"
(Saya berpikir: "Kadangkala kita juga butuh orang yang hanya menonton dan jadi supporter saja. Kadang-kadang kitapun cuma jadi penonton dan supporter. Para pengamat di semua bidang yang sering berkomentar di TV nasional, apakah mereka layak disebut pecundang?")
Pemenang adalah bagian dari tim
Pecundang terpisah dari tim
(Saya berpikir: "Padahal gagasan para pemenang adalah gagasan individualis kapitalis. Berada dalam tim tetapi demi memperkaya diri sendiri. Apakah ada yang salah dengan pecundang?")
Pemenang melihat keuntungan
Pecundang melihat penyakit
(Saya berpikir: "Mestinya bersyukur karena ada penyakit yang bisa dideteksi. Jangan-jangan buat para pemenang, penyakit yang dideteksi pecundang itu juga bawa keuntungan?")
Pemenang melihat prospek
Pecundang melihat masa lalu
(Saya berpikir: "Bukankah pengalaman adalah guru yang berharga? Ataukah yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang berharga itu memang cuma seorang pecundang?")
Pemenang memilih seperti yang ia inginkan
Pecundang memilih seperti orang kebanyakan
(Saya berpikir: "Jangan-jangan pemenang di sini adalah penguasa, sementara pecundang adalah orang biasa yang tak dikasih pilihan apa-apa sesuai hatinya.?")
Pemenang mengutarakan argumen yang kuat tetapi dengan kata yang lembut
Pecundang mengutarakan argumen yang lemah tetapi dengan kata yang kuat dan memaksa
(Saya berpikir: "Para pecundang memang tak ada pilihan karena selalu dididik untuk menurut dan tak boleh berpendapat. Ketika harus berpendapat, hanya pemaksaan yang dapat dilakukan.")
Pemenang membuat sesuatu terjadi
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi
(Saya berpikir: "apa salahnya dengan pecundang? Kadangkala, membiarkan sesuatu terjadi adalah pilihan terbaik, daripada harus menghukum diri karena tak punya solusi.")
Ah, pikiran saya cuma pikiran pecundang. Karena saya memang dididik dalam sistem yang cuma menghasilkan pecundang. Semua orang mau anggap diri sebagai pemenang, siapa yang harus jadi pecundang? Aku memilih jadi pecundang karena aku diciptakan hanya untuk itu. Ketika marah di jalan-jalan, dibilang tak berperasaan. Ketika menemukan ada masalah, dibilang hanya bikin gosip murahan.
Kami, memang diciptakan oleh para pemenang untuk tetap jadi pecundang. Biar kepala kami yang pecundang ini bisa dipenuhi janji-janji pemenang. Biar hati kami yang pecundang ini cuma bisa miris ketika lihat kalian yang anggap diri pemenang berjumpalitan karena senang bisa makan. Biar tubuh kami yang pecundang ini bisa diatur sesuka kalian, kerjakan semua yang kalian anggap mengotori lengan. Biar mata kami yang pecundang ini bisa lelehkan air mata sampai tak tersisa karena tetap dianggap pecundang.
Bukankah tanpa kami kalian tak berarti apa-apa? Bukankah tanpa pecundang tak akan ada pemenang?
MAAF, CUMA SEKEDAR BERBAGI (Aku tak bilang kalian pecundang)
Sumber di sini
"Talamburang" adalah istilah Ambon untuk menggambarkan keadaan yang tidak teratur, kacau balau, berantakan, amburadul. Namun, hanya dengan "talamburang" (chaos) maka keteraturan (cosmos) dapat dipahami dengan baik dan jernih.
Kamis, 25 November 2010
Kisah Fanatisme + Kerinduan Mendalam: Quo Vadis Sepakbola di Maluku?
Sepakbola memang telah mendarah daging dalam kehidupan kita (kita, loe aje kalee, gue gak tuh .. ). Sejak kecil telah terbiasa dengan bola, mulai dari bola pingpong, bola kasti, bola plastik, bola karet sampai piaraan di rumah pun dipanggil "bola ... bola ... bola ..." (mohon jangan tertawai aku karena panggilan "bola" itu).

Lapangan berkerikil di depan rumah, di bawah teduhnya daun-daun dari 3 batang pohon mangga jadi tempat bermain bola di waktu kecil. Sayangnya sekarang tinggal sepohon, lebih disayangkan lagi, aku tidak menjadikan sepakbola sebagai sandaran hidup karena itu tak lebih dari sekedar hobby. Lepas dari itu, kalau soal fanatisme terhadap permainan yang satu itu, jangan ditanya. Mungkin kadarnya seperti kebanyakan orang yang fanatik sepakbola.

Fanatisme itu dimulai ketika melihat liukan Maradona menari-nari di lapangan pada tahun 1986 ketika World Cup di Mexico. Waktu itu TV di rumah masih hitam putih dalam box kayu besar. Bersama dengan sepupuku, kami sangat menjagokan Argentina yang akhirnya jadi juara dunia. Tetapi persoalan Tim Nasional, tidak lain dan tak bukan, aku adalah pendukung setia Tim Oranye alias Belanda. Entah karena banyak keluargaku di Belanda atau karena memang permainan Belanda yang mantap, yang pasti kedua hal itu masuk dalam nominasi kalau ditanya penyebab kesukaanku pada Tim Oranye. Dengan kehadiran nama-nama seperti SIMON TAHAMATA, DANI LANZAAT, GIO dan lainnya dalam Timnas BELANDA, kefanatikanku menjadi tak terbendung lagi. Kalah menang, tetap Timnas BELANDA.

Kalau persoalan Tim dari luar negeri, maka BARCELONA pilihanku. Fanatisme terhadap Timnas BELANDA membuat saya pun fanatik dalam mendukung semua tim yang ada pemain Belanda di dalamnya. Dukungan fanatik kepada BARCELONA dimulai ketika Johan Cruyff menjadi pelatih kepala di sana. Sampai saat ini, gaya permainan BARCELONA yang diperkenalkan oleh Cruyff teah menyihirku untuk tetap bertahan, tak bisa pindah ke lain hati. Tiki Taka adalah istilah yang sepertinya asyik di telinga, apalagi ketika menyaksikan BARCELONA ber"tiki-taka" di lapangan hijau. Sama dengan Timnas BELANDA, kalah menang tetap BARCELONA.

Ada lagi Tim di Indonesia yang menjadi pilihanku, yaitu PERSIPURA. Sikap Fanatikku terhadap PERSIPURA baru saja dimulai tahun 2005. Pada pertengahan tahun itu, aku pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura - Papua dan merasakan panasnya atmosfir persaingan sepakbola Indonesia. Kakak perempuanku (alm.) bersama suaminya (alm.) adalah orang-orang yang memperkenalkan diriku dengan PERSIPURA. Para pemain PERSIPURA adalah sahabat baik keponakanku karena ia bersama beberapa di antara mereka termasuk dalam Tim Pon Papua ke Palembang. Sempat duduk makan dan minum bersama dengan Boaz Solossa, Ian Kabes, Ardiless Rumbiak, Kaka Edu, Victor Polanda, Oom Mettu Duaramuri, Elias Korwa dan lainnya adalah kebanggaan tersendiri buat diriku. Sama dengan Timnas BELANDA dan BARCELONA, kalah menang tetap PERSIPURA
Dukunganku kepada Timnas BELANDA, BARCELONA dan PERSIPURA sama besarnya dengan kerinduanku akan bangkitnya persepakbolaan di AMBON - MALUKU. Banyak potensi muda sepakbola di MALUKU. Banyak nama pemain besar Indonesia berasal dari Maluku, namun saat ini tak ada satupun satu tim sepakbola dari MALUKU yang berkompetisi pada level-level tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Dalam kerinduan itu, empat jempol tangan dan kaki teracung kepada PERSEMALRA yang sudah bisa bersaing di level Divisi Utama negeri ini. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri, walaupun harapannya adalah bisa naik ke kasta yang lebih tinggi.
Kabar gembira terakhir yang kudengar adalah berkunjungnya SIMON TAHAMATA, salah seorang legenda hidup sepakbola di BELANDA ke AMBON. Dalam hati hanya berkata, "mudah-mudahan ini pertanda kehidupan." Apalagi ada berhembus kabar, tahun depan GIO akan datang ke AMBON - MALUKU. Tentu kebanggaan luar biasa. Sambil terus berharap akan geliat kebangkitan sepakbola di MALUKU, PERSIPURA, BARCELONA, BELANDA, tetaplah jadi tambatan hati.
Semua yang dikerjakan dengan jujur dan tulus tentu akan diberkati oleh YANG KUASA. Semoga ..!!
Lapangan berkerikil di depan rumah, di bawah teduhnya daun-daun dari 3 batang pohon mangga jadi tempat bermain bola di waktu kecil. Sayangnya sekarang tinggal sepohon, lebih disayangkan lagi, aku tidak menjadikan sepakbola sebagai sandaran hidup karena itu tak lebih dari sekedar hobby. Lepas dari itu, kalau soal fanatisme terhadap permainan yang satu itu, jangan ditanya. Mungkin kadarnya seperti kebanyakan orang yang fanatik sepakbola.

Fanatisme itu dimulai ketika melihat liukan Maradona menari-nari di lapangan pada tahun 1986 ketika World Cup di Mexico. Waktu itu TV di rumah masih hitam putih dalam box kayu besar. Bersama dengan sepupuku, kami sangat menjagokan Argentina yang akhirnya jadi juara dunia. Tetapi persoalan Tim Nasional, tidak lain dan tak bukan, aku adalah pendukung setia Tim Oranye alias Belanda. Entah karena banyak keluargaku di Belanda atau karena memang permainan Belanda yang mantap, yang pasti kedua hal itu masuk dalam nominasi kalau ditanya penyebab kesukaanku pada Tim Oranye. Dengan kehadiran nama-nama seperti SIMON TAHAMATA, DANI LANZAAT, GIO dan lainnya dalam Timnas BELANDA, kefanatikanku menjadi tak terbendung lagi. Kalah menang, tetap Timnas BELANDA.

Kalau persoalan Tim dari luar negeri, maka BARCELONA pilihanku. Fanatisme terhadap Timnas BELANDA membuat saya pun fanatik dalam mendukung semua tim yang ada pemain Belanda di dalamnya. Dukungan fanatik kepada BARCELONA dimulai ketika Johan Cruyff menjadi pelatih kepala di sana. Sampai saat ini, gaya permainan BARCELONA yang diperkenalkan oleh Cruyff teah menyihirku untuk tetap bertahan, tak bisa pindah ke lain hati. Tiki Taka adalah istilah yang sepertinya asyik di telinga, apalagi ketika menyaksikan BARCELONA ber"tiki-taka" di lapangan hijau. Sama dengan Timnas BELANDA, kalah menang tetap BARCELONA.

Ada lagi Tim di Indonesia yang menjadi pilihanku, yaitu PERSIPURA. Sikap Fanatikku terhadap PERSIPURA baru saja dimulai tahun 2005. Pada pertengahan tahun itu, aku pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura - Papua dan merasakan panasnya atmosfir persaingan sepakbola Indonesia. Kakak perempuanku (alm.) bersama suaminya (alm.) adalah orang-orang yang memperkenalkan diriku dengan PERSIPURA. Para pemain PERSIPURA adalah sahabat baik keponakanku karena ia bersama beberapa di antara mereka termasuk dalam Tim Pon Papua ke Palembang. Sempat duduk makan dan minum bersama dengan Boaz Solossa, Ian Kabes, Ardiless Rumbiak, Kaka Edu, Victor Polanda, Oom Mettu Duaramuri, Elias Korwa dan lainnya adalah kebanggaan tersendiri buat diriku. Sama dengan Timnas BELANDA dan BARCELONA, kalah menang tetap PERSIPURA
Dukunganku kepada Timnas BELANDA, BARCELONA dan PERSIPURA sama besarnya dengan kerinduanku akan bangkitnya persepakbolaan di AMBON - MALUKU. Banyak potensi muda sepakbola di MALUKU. Banyak nama pemain besar Indonesia berasal dari Maluku, namun saat ini tak ada satupun satu tim sepakbola dari MALUKU yang berkompetisi pada level-level tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Dalam kerinduan itu, empat jempol tangan dan kaki teracung kepada PERSEMALRA yang sudah bisa bersaing di level Divisi Utama negeri ini. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri, walaupun harapannya adalah bisa naik ke kasta yang lebih tinggi.
Kabar gembira terakhir yang kudengar adalah berkunjungnya SIMON TAHAMATA, salah seorang legenda hidup sepakbola di BELANDA ke AMBON. Dalam hati hanya berkata, "mudah-mudahan ini pertanda kehidupan." Apalagi ada berhembus kabar, tahun depan GIO akan datang ke AMBON - MALUKU. Tentu kebanggaan luar biasa. Sambil terus berharap akan geliat kebangkitan sepakbola di MALUKU, PERSIPURA, BARCELONA, BELANDA, tetaplah jadi tambatan hati.
Semua yang dikerjakan dengan jujur dan tulus tentu akan diberkati oleh YANG KUASA. Semoga ..!!
Selasa, 23 November 2010
Robot atau Manusia: Sedikit Mengkritisi Sistem Pendidikan Kita

Salah seorang teman baru saja mengajak saya untuk berdiskusi lewat catatannya tentang "Empati dan Identitas Sosial". Dalam tulisan itu, ia mengkritisi model pendidikan yang cenderung tidak memberikan pilihan bagi kemampuan berpendapat peserta didik. Peserta didik seringkali diarahkan secara sengaja untuk memilih jawaban yang benar tanpa perlu mempermasalahkan jawaban itu lagi. Sistem ujian dengan menggunakan pilihan ganda adalah contoh umum yang dapat diberikan.
Dalam diskusi itu, saya teringat pengalaman pahit tetapi cukup membuat saya lega hampir setahun yang lalu. Pahit karena membuat sejarah yang tidak baik di program studi saya, lega karena saya pernah membuat sejarah seperti itu. Sedikit berbagi pengalaman. Alkisah, tahun 2008 saya diterima melanjutkan studi magister filsafat pada salah satu Universitas kebanggaan di negeri ini. Kalau saya bilang Universitas besar itu ada di Yogyakarta, tentu teman-teman semua sudah bisa menebaknya.
Dengan latar belakang S1 yang pas-pasan di bidang filsafat, apalagi datang dari Timur Indonesia yang sarana informasi dan komunikasi penunjang pendidikannya sungguh terbatas, saya coba hadapi semua itu dengan tegar dan tak gentar. Semester I dilewati dengan baik, semester II hancur berantakan. Saya membuat sejarah di dua mata kuliah dengan mendapatkan nilai C dan D. Kata Dekan Fakultas: "Mas, sejak program pascasarjana di fakultas ini berdiri, baru pernah kejadian, nilai ujian akhir mahasiswa sampai dapat D." Saya selain miris, tapi tersenyum bangga. Saya ternyata adalah pelaku sejarah juga. Orang pertama yang mendapat nilai D sepanjang sejarah program studi.
Ceritanya dimulai ketika ujian mata kuliah tersebut dilakukan dengan "pemaksaan kehendak sang dosen." Salah satunya dilakukan dengan sistem "Pilihan Ganda", yang lainnya dengan sistem esai tapi harus jawaban objektif (sesuai dengan catatan dan keinginan dosen). Sepuluh nomor ujian pilihan ganda membuat saya mendapat nilai C karena tidak berniat mengerjakannya, sementara 100 nomor esei dengan jawaban objektif membuat saya mendapat nilai D, karena tidak mengerjakannya juga.
Dalam hati, "Aneh bin Ajaib, di kampus filsafat jenjang S2, masih ada ujian model pilihan ganda yang memberikan batasan jawaban A, B, C, D, di mana tiga jawaban di antaranya adalah salah dan hanya satu jawaban yang benar (menurut dosen)." Saya tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan dan bermain-main dengan geliat pemikiran tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa didapatkan terkait permasalahan yang dihadapi. Saya hanya disuruh memilih A - B - C - D, tanpa penjelasan mengapa harus memilih salah satu di antara itu. Saya masih bisa memahami kalau itu dilakukan pada saat ujian TK, SD, SMP, SMA (SMP n SMA udah ketinggian kayaknya), tetapi di tingkat S2, filsafat lagi, sungguh tak masuk akal. Saya memilih untuk berdiam diri, tidak mengerjakannya, tanpa berupaya memprotes karena teman-teman saya asyik aja mengerjakannya tanpa banyak cincong.
Hal yang sama saya temui dalam ujian mata kuliah yang lain. Dari 100 pertanyaan yang diberikan, saya hanya mengerjakan 12 pertanyaan, itupun dengan memberikan beberapa pendasaran filosofis. Artinya, ada 88 pertanyaan yang tidak saya kerjakan karena benar-benar tidak harus dikerjakan. Pertanyaan yang butuh "jawaban objektif" (sesuai catatan dosen selama kuliah). Pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan kemampuan analisis saya tetapi hanya butuh kemampuan menghafal catatan dosen. Saya benar-benar tidak mampu kalau cuma sekedar disuruh menghafal. Akibatnya sudah bisa dibayangkan, nilai D yang saya dapatkan.
Setelah semua itu, saya melakukan protes kecil-kecilan kepada Dekan dan Pengelola Program Studi dengan alasan: "Apakah mahasiswa magister pascasarjana filsafat harus diarahkan pada satu jawaban yang benar? Bukankah kita selalu menolak dominasi kebenaran karena kita dituntut untuk mencoba menjelaskan dan menganalisis semua kemungkinan jawaban?" Saya memilih untuk mendapatkan nilai C dan D, daripada hasrat dan geliat pemikiran saya dikebiri cuma untuk memilih satu di antara A,B,C,D yang hanya hafalan. Saya lebih memilih mengulangi kuliah satu semester lagi, daripada pergi dan memohon kepada dosen yang sudah menganggap diri sumber kebenaran pengetahuan. Saya akan mengulanginya di semester IV, dengan demikian penulisan Tesis saya terlambat tetapi hati saya tidak lagi tertekan karena dipaksa mengakui kebenaran. Saya akan mengulanginya dengan catatan dosen-dosen itu tidak lagi diberikan kesempatan mengkebiri pikiran mahasiswa hanya demi kepuasan pemahamannya. Akhir kata, saya memang mengulang dua mata kuliah itu di semester IV dengan dosen yang lain. Kedua-duanya dapat saya selesaikan dengan nilai A karena ada kesempatan yang diberikan melakukan olah pikir yang memang harus dilakukan.
Dalam kaitan dengan pendidikan, ada beberapa tahapan tujuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik:
1. Mengetahui (ini apa, itu apa, dll).
2. Menjelaskan.
3. Menganalisis.
4. Mencipta.
Apa yang dapat diharapkan ketika sistem pendidikan kita menerapkan ujian dengan model pilihan ganda? Hanya sekedar menguji pengetahuan peserta didik, bukan menguji kemampuan deskripsi, analisis atau menghasilkan karya cipta. Bila cuma butuh menguji pengetahuan pada level yang paling rendah saja, mengapa masih digunakan sampai tingkat pendidikan yang tinggi? Jangan-jangan itu tanda bahwa ada pengajar yang tidak mau berubah dan mentransformasi diri mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik? Ataukah mereka tidak mau berubah karena sistem memang sangat membolehkan model seperti itu?
Dari pengalaman itu, saya kemudian menemukan bahwa model pendidikan kita memang tidak diarahkan pada kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Kita hanya diarahkan pada kemampuan menghafal dan mengetahui sesuatu yang kebenarannya itu pun harus sesuai dengan kebenaran yang diberikan oleh para pengajar di sekolah. Memang kebenaran-kebenaran itu adalah kebenaran umum (yang sementara) yang sudah menjadi konsumsi dunia akademis. Tetapi ketika berhenti di situ, maka kita sesungguhnya tidak lebih dari robot-robot yang sudah diprogram sedemikian rupa hanya untuk menghafal.
Ketika membaca catatan teman saya itu, saya dapat menganalogikan ciri pendidikan kita seperti robot di bidang industri yang dihidupkan pada jam tertentu, harus segera ke sekolah sebelum bel didentangkan, duduk dan tinggal diprogram dengan bahasa-bahasa program yang disodorkan, hanya bersuara dengan bahasa-bahasa program itu, kebenaran yang kita keluarkan pun adalah kebenaran dalam bahasa-bahasa itu. Kita tidak memiliki kemampuan lain karena memang tidak pernah diprogramkan untuk itu.
Lewat pengalaman dan catatan ini, saya sebenarnya hendak mengajak untuk sedikit kepala batu dengan situasi di mana pemikiran kita dikebiri dengan alasan apa saja. Saya hendak mengajak kita untuk tidak sekedar berhenti pada program menghafal saja, tetapi terus melakukan protes keras pada program-program seperti itu. Saya hendak mengajak kita untuk terus mencurigai apapun yang disodorkan kepada kita dengan alasan kebenaran. Saya hendak mengajak kita untuk menyatakan perang terhadap segala bentuk dominasi kuasa atas kebenaran di mana saja.
Mari berkeras kepala
Mari menolak jadi penjilat
Mari terus berpikir
Mari berontak terhadap kemapanan sistem
Kalau memang tak sanggup secara terbuka, pikirkanlah cara lain untuk terus berpikir tanpa mau dikebiri.
.
Penilaian Sejarah Menurut John Dewey
Apa yang dilakukan ketika kita diperhadapkan dengan masalah? Pasti banyak dari kita yang akan menjawabnya mengikuti prosedur ilmiah, yaitu dengan mengidentifikasi masalah, memahami masalah itu sejelas-jelasnya, berupaya menemukan solusi terbaik, menyelesaikan masalah itu. Tentu jawaban seperti itu sangat benar, tetapi kebanyakan dari kita seringkali panik ketika diperhadapkan dengan masalah yang berujung pada pengambilan keputusan yang tidak hati-hati, seolah-olah untuk menyelesaikan masalah kita hanya ada satu pilihan saja. Dalam situasi itu, kita tidak lagi melakukan penilaian-penilaian tetapi secara spontan mengambil solusi. Hal itupun tidak dapat disalahkan karena memang sangat situasional. Tetapi ada baiknya bila kita dapat melakukan penilaian sejenak terhadap semua masalah yang diperhadapkan kepada kita. Salah satu penilaian yang sering kita lakukan adalah penilaian sejarah. Terkait dengan itu, saya mencoba melakukan bacaan terhadap mekanisme penilaian sejarah menurut John Dewey.
Pendekatan John Dewey tentang historical judgment. Pendekatan itu dijelaskan oleh Dewey dalam karyanya Logic: The Theory of Inquiry (1938). Penjelasan Dewey sangat berhubungan dengan apa yang disebutnya sebagai inquiry. Ia memberikan definisi inquiry sebagai berikut:
“Inquiry is controlled or directed transformation of an indeterminate situation into one that is so determinate in its constituent distinctions and relations as to convert the elements of the original situation into a unified whole” (Dewey, 1938: 104-5).
Dalam upaya mengubah situasi sebagaimana definisi di atas, faktor penting adalah penilaian-penilaian (judgments). Menurut Dewey, inquiry bukan saja menyangkut hubungan antara penilaian-penilaian dengan proposisi-proposisi guna mendapatkan solusi yang objektif (dalam rangka problem solving), tetapi, juga dalam hubungan dengan faktor-faktor yang menghubungkan antara pengamat atau peneliti dengan materi-materi konseptual yang bertebaran namun relevan bagi pemecahan masalah.
Proses transformasi yang terarah terhadap situasi yang tidak menentu kepada situasi yang teratur dan dapat digunakan sebagai solusi bagi pemecahan masalah sangat tergantung dari penilaian-penilaian. Menurut Dewey, tiap hari manusia selalu melakukan penilaian terkait dengan pengalaman yang dihadapi. Seringkali, penilaian itu muncul begitu saja karena kemiripan pengalaman saat ini dengan pengalaman-pengalaman di masa lalu. Hal itu tidak menjadi masalah, tetapi bagi Dewey, alangkah baiknya jika penilaian-penilaian itu dilakukan secara terarah dalam suatu inquiry. Penilaian-penilaian yang terarah sangat memungkinkan transformasi situasi guna memberikan solusi yang relevan bagi tercapainya tujuan, yaitu pemecahan masalah.
Salah satu bentuk penilaian penting dalam rangka penemuan solusi bagi penyelesaian masalah adalah penilaian sejarah (historical judgment). Masalah apapun yang telah teridentifikasi dengan jelas membutuhkan penilaian sejarah untuk menemukan apa yang telah dilakukan di masa lalu terhadap masalah yang mirip. Selain itu, penilaian sejarah juga bermanfaat untuk menemukan benang merah antara hal-hal yang saling berkaitan dari masa lalu dengan masalah di masa sekarang.
Di dalam Historical Judgments, Pertanyaan penting yang diajukan Dewey bukanlah “Apakah Sejarah itu dapat menjadi suatu ilmu atau sains?”, tetapi “Atas dasar pertimbangan apa saja ‘serangkaian peristiwa-peristiwa masa lalu’ lebih dipercaya daripada ‘rangkaian peristiwa-peristiwa’ yang lain?” Dari pertanyaan itu, Dewey sesungguhnya hendak menunjukkan bahwa ada semacam “mekanisme” penilaian sejarah yang bersama-sama dengan penilaian-penilaian di bidang-bidang lain dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah masa kini. Beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari mekanisme penilaian sejarah menurut Dewey adalah:
1. Realitas yang sebenarnya adalah masa kini (present) dengan segala permasalahan yang diperhadapkan kepada manusia di dalam lingkungan hidupnya. Realitas itu adalah hasil interaksi antara manusia dan lingkungannya.
2. Masa lalu dianggap ada, sejauh memiliki sumbangan penting bagi masa kini. Sumbangannya itu adalah dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan manusia di dalam lingkungan hidupnya.
3. Masalah dalam kehidupan manusia muncul karena ada penerimaan tentang konsep perubahan. Bahwa semua hal itu tidak tetap, selalu berubah-ubah. Penerimaan tentang perubahan itulah yang memungkinkan adanya inquiry.
4. Ketika diperhadapkan dengan masalah, maka manusia dapat mengumpulkan serpihan-serpihan pengalaman, baik pengalaman dirinya sendiri maupun pengalaman orang lain yang berhubungan dengan masalah itu. Oleh karena banyak pengalaman yang diperhadapkan kepadanya, maka pengalaman-pengalaman yang berserakan itu perlu ditransformasi secara terkontrol menjadi satu kesatuan yang utuh. Upaya transformasi itulah yang disebut inquiry.
5. Hal yang penting di dalam inquiry adalah penilaian-penilaian. Dasar dari penilaian adalah kepentingan pemecahan masalah masa kini.
6. Salah satu inquiry dalam rangka transformasi itu adalah historical inquiry. Penilaian sejarah pun didasarkan pada kepentingan pemecahan masalah masa kini.
7. Dalam historical inquiry, seluruh fakta di masa lalu diteropong. Peneropongan itu dilakukan terhadap data-data evidensial yang tersedia di masa kini, yang menerangkan fakta-fakta itu. Data-data itu dipelajari, bukan dengan ilmu sejarah tetapi dengan bantuan disiplin-disiplin lain, seperti epigrafi, paleografi, numistatics, statistik, antropologi forensik dan lain sebagainya. Oleh karena itu, data-data evidensial itu harus tersedia pada saat proposisi-proposisi dibuat. Tanpa data-data itu, peneropongan terhadap masa lalu sangat sulit dilakukan.
8. Tidak semua data itu bermanfaat bagi kepentingan pemecahan masa kini, oleh karena itu ada mekanisme penting dalam penilaian, yaitu seleksi. Dasar seleksi itu adalah sejauhmana data-data yang berserakan itu memiliki keterkaitan dan sumbangan berarti demi pemecahan masalah saat ini. Dari seleksi awal terhadap data-data, dibangunlah proposisi-proposisi yang kemudian akan diseleksi lagi dengan dasar penilaian yang sama untuk menjadi satu proposisi umum (general proposition).
9. Proposisi umum dalam Historical Inquiry dihadirkan dalam bentuk deskripsi naratif. Deskriptif sangat berhubungan dengan keterbatasan ruang (spatiality) sementara narasi sangat berhubungan dengan keterbatasan waktu (temporality).
10. Dari situ, pertanyaan tentang “mengapa rangkaian peristiwa yang satu lebih penting daripada rangkaian peristiwa yang lain?” dapat terjawab. Hal itu disebabkan karena adanya kepentingan masa kini dalam rangka pemecahan masalah.
Pustaka
1. Dewey, John, “Historical Judgments”, dalam Hans Meyerhoff, The Philosophy of History in Our Time (Garden City, NY: Doubleday & Company, 1959), hlm. 163-172.
2. ------------------, 1938, Logic: The Theory of Inquiry, Henry Holt & Co., Inc.: NY
Pendekatan John Dewey tentang historical judgment. Pendekatan itu dijelaskan oleh Dewey dalam karyanya Logic: The Theory of Inquiry (1938). Penjelasan Dewey sangat berhubungan dengan apa yang disebutnya sebagai inquiry. Ia memberikan definisi inquiry sebagai berikut:
“Inquiry is controlled or directed transformation of an indeterminate situation into one that is so determinate in its constituent distinctions and relations as to convert the elements of the original situation into a unified whole” (Dewey, 1938: 104-5).
Dalam upaya mengubah situasi sebagaimana definisi di atas, faktor penting adalah penilaian-penilaian (judgments). Menurut Dewey, inquiry bukan saja menyangkut hubungan antara penilaian-penilaian dengan proposisi-proposisi guna mendapatkan solusi yang objektif (dalam rangka problem solving), tetapi, juga dalam hubungan dengan faktor-faktor yang menghubungkan antara pengamat atau peneliti dengan materi-materi konseptual yang bertebaran namun relevan bagi pemecahan masalah.
Proses transformasi yang terarah terhadap situasi yang tidak menentu kepada situasi yang teratur dan dapat digunakan sebagai solusi bagi pemecahan masalah sangat tergantung dari penilaian-penilaian. Menurut Dewey, tiap hari manusia selalu melakukan penilaian terkait dengan pengalaman yang dihadapi. Seringkali, penilaian itu muncul begitu saja karena kemiripan pengalaman saat ini dengan pengalaman-pengalaman di masa lalu. Hal itu tidak menjadi masalah, tetapi bagi Dewey, alangkah baiknya jika penilaian-penilaian itu dilakukan secara terarah dalam suatu inquiry. Penilaian-penilaian yang terarah sangat memungkinkan transformasi situasi guna memberikan solusi yang relevan bagi tercapainya tujuan, yaitu pemecahan masalah.
Salah satu bentuk penilaian penting dalam rangka penemuan solusi bagi penyelesaian masalah adalah penilaian sejarah (historical judgment). Masalah apapun yang telah teridentifikasi dengan jelas membutuhkan penilaian sejarah untuk menemukan apa yang telah dilakukan di masa lalu terhadap masalah yang mirip. Selain itu, penilaian sejarah juga bermanfaat untuk menemukan benang merah antara hal-hal yang saling berkaitan dari masa lalu dengan masalah di masa sekarang.
Di dalam Historical Judgments, Pertanyaan penting yang diajukan Dewey bukanlah “Apakah Sejarah itu dapat menjadi suatu ilmu atau sains?”, tetapi “Atas dasar pertimbangan apa saja ‘serangkaian peristiwa-peristiwa masa lalu’ lebih dipercaya daripada ‘rangkaian peristiwa-peristiwa’ yang lain?” Dari pertanyaan itu, Dewey sesungguhnya hendak menunjukkan bahwa ada semacam “mekanisme” penilaian sejarah yang bersama-sama dengan penilaian-penilaian di bidang-bidang lain dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah masa kini. Beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari mekanisme penilaian sejarah menurut Dewey adalah:
1. Realitas yang sebenarnya adalah masa kini (present) dengan segala permasalahan yang diperhadapkan kepada manusia di dalam lingkungan hidupnya. Realitas itu adalah hasil interaksi antara manusia dan lingkungannya.
2. Masa lalu dianggap ada, sejauh memiliki sumbangan penting bagi masa kini. Sumbangannya itu adalah dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan manusia di dalam lingkungan hidupnya.
3. Masalah dalam kehidupan manusia muncul karena ada penerimaan tentang konsep perubahan. Bahwa semua hal itu tidak tetap, selalu berubah-ubah. Penerimaan tentang perubahan itulah yang memungkinkan adanya inquiry.
4. Ketika diperhadapkan dengan masalah, maka manusia dapat mengumpulkan serpihan-serpihan pengalaman, baik pengalaman dirinya sendiri maupun pengalaman orang lain yang berhubungan dengan masalah itu. Oleh karena banyak pengalaman yang diperhadapkan kepadanya, maka pengalaman-pengalaman yang berserakan itu perlu ditransformasi secara terkontrol menjadi satu kesatuan yang utuh. Upaya transformasi itulah yang disebut inquiry.
5. Hal yang penting di dalam inquiry adalah penilaian-penilaian. Dasar dari penilaian adalah kepentingan pemecahan masalah masa kini.
6. Salah satu inquiry dalam rangka transformasi itu adalah historical inquiry. Penilaian sejarah pun didasarkan pada kepentingan pemecahan masalah masa kini.
7. Dalam historical inquiry, seluruh fakta di masa lalu diteropong. Peneropongan itu dilakukan terhadap data-data evidensial yang tersedia di masa kini, yang menerangkan fakta-fakta itu. Data-data itu dipelajari, bukan dengan ilmu sejarah tetapi dengan bantuan disiplin-disiplin lain, seperti epigrafi, paleografi, numistatics, statistik, antropologi forensik dan lain sebagainya. Oleh karena itu, data-data evidensial itu harus tersedia pada saat proposisi-proposisi dibuat. Tanpa data-data itu, peneropongan terhadap masa lalu sangat sulit dilakukan.
8. Tidak semua data itu bermanfaat bagi kepentingan pemecahan masa kini, oleh karena itu ada mekanisme penting dalam penilaian, yaitu seleksi. Dasar seleksi itu adalah sejauhmana data-data yang berserakan itu memiliki keterkaitan dan sumbangan berarti demi pemecahan masalah saat ini. Dari seleksi awal terhadap data-data, dibangunlah proposisi-proposisi yang kemudian akan diseleksi lagi dengan dasar penilaian yang sama untuk menjadi satu proposisi umum (general proposition).
9. Proposisi umum dalam Historical Inquiry dihadirkan dalam bentuk deskripsi naratif. Deskriptif sangat berhubungan dengan keterbatasan ruang (spatiality) sementara narasi sangat berhubungan dengan keterbatasan waktu (temporality).
10. Dari situ, pertanyaan tentang “mengapa rangkaian peristiwa yang satu lebih penting daripada rangkaian peristiwa yang lain?” dapat terjawab. Hal itu disebabkan karena adanya kepentingan masa kini dalam rangka pemecahan masalah.
Pustaka
1. Dewey, John, “Historical Judgments”, dalam Hans Meyerhoff, The Philosophy of History in Our Time (Garden City, NY: Doubleday & Company, 1959), hlm. 163-172.
2. ------------------, 1938, Logic: The Theory of Inquiry, Henry Holt & Co., Inc.: NY
Jumat, 19 November 2010
NEGARA KELIMA: Novel Menarik, Membongkar "Frame" Sejarah Kita

Pernahkah kita berpikir untuk melihat peta dunia secara terbalik? Bukan lagi Utara yang di atas, tetapi Selatan. Bukan lagi Barat yang di kiri, tetapi Timur.
Pernahkah terpikir siapa yang menggambar peta dengan meletakkan posisi Utara di atas dan Selatan di bawah garis katulistiwa? Pernahkah terpikir ada kepentingan dan ideologi apa di balik benak para kartografer itu?
Orang-orang di atas selalu menekan dan mendominasi orang-orang di bawah. Jangan-jangan peta sekarang ini sudah dibalik agar dunia menjadi lupa dengan cerita-cerita tentang dunia lama. Cerita-cerita tentang Dunia Selatan yang penuh kuasa, mendominasi peradaban.
Itu cuma selentingan narasi kritis dari satu novel provokatif yang asyik dan cerdas, NEGARA KELIMA, tulisan ES ITO, terbitan SERAMBI. Bercerita tentang Atlantis di Nusantara. Berkisah tentang sekelompok anak muda, 'KePaRad' (Kelompok Patriotik Radikal) yang muak dengan kondisi bernegara dan berbangsa di Indonesia, berniat meruntuhkan Indonesia dan mendirikan NEGARA KELIMA, NUSANTARA.
Kisah tentang Atlantis, kota ideal Plato dalam dialog Timaeus dan Critias, yang mendengarnya dari Solon, yang mendengarnya dari para pendeta di Kota Sais, yang mendengarnya dari orang-orang Punt, yaitu mereka yang selamat dari Atlantis 11.000 tahun yang lalu.
Plato menurunkannya pada Aristoteles, yang diturunkan kepada Alexander Agung, yang melakukan penaklukan demi penaklukan menuju ke timur dalam peta sekarang, menuju ke Atlantis Lama, tetapi cuma sampai India.
Ahhhh .. Asyiknya novel itu dibaca sendiri, fiksi dan non fiksi bercampur jadi satu, membongkar frame sejarah kita.
Rabu, 17 November 2010
MARI MENOLAK LUPA

Saya adalah anak kampung, dibesarkan di negeri yang semua orang saling mengenal satu dengan lainnya. Dibesarkan dengan tarian maku-maku dan cakalele serta cerita-cerita tentang kebesaran para leluhur. Dibesarkan dengan kapata dan nyanyian tanah yang keluar dari mulut tete dan nene. Walaupun kadang tidak mengerti artinya, kuikuti saja nyanyian-nyanyian itu sambil angguk kepala dan sesekali pejamkan mata.
Itu kenangan dulu, ketika saat kecil masih tak mengerti apa-apa tentang pentingnya ingatan. Kini, baru timbul kesadaran bahwa cerita-cerita itu begitu penting, bukan karena itu narasi tentang leluhurku, tetapi karena tiap cerita itu adalah upaya mereka agar tidak dilupakan. Saya teringat film semalam yang kutonton, bercerita tentang 300 tentara Sparta yang melawan ribuan tentara Persia. Pesan terakhir dari sang raja kepada para pejabat di istana adalah “jangan lupakan kami, teruslah bercerita tentang kami.”
Di saat orang tua terus menurunkan cerita, masih ada yang memaksa untuk lupa. Penguasa menjadi pihak yang paling bertanggungjawab terhadap seluruh proses pelupaan dari massa. Semua cerita sedih dan getir disimpan hingga membatu agar tiada yang peduli. Di masa ini, siapakah yang peduli kepada batu? Orang lebih memilih cerita-cerita emas daripada mendengarkan kisah-kisah tentang batu.
Kita turun temurun telah diajarkan untuk tidak lupa lewat kapata dan nyanyian tanah. Cuma itu harta kita saat kolonial dan agama membuat lupa bahasa tanah. Banyak hal yang tak boleh kita lupakan. Banyak hal yang mesti dituntut pertanggungjawaban.
Jangan lupakan 19 Januari 1999, ketika tanah Maluku banjir darah dan air mata.
Jangan lupakan 10 Nopember 2001 ketika Theys Eluay mati terbunuh.
Jangan lupakan Munir yang meregang nyawa antara bumi dan langit.
Jangan lupakan ribuan nyawa yang dibantai pasca 30 September 1965.
Jangan lupakan Trisakti
Jangan lupakan Semanggi
Jangan lupakan Tanjung Priuk
Jangan lupakan DOM Papua
Jangan lupakan DOM Aceh
Jangan lupakan 27 Juli
Jangan lupakan Century
Jangan lupakan ....................
Jangan lupakan ....................
Jangan lupakan ………………….
Jangan lupakan ………………….
Jangan lupakan ………………….
Jangan lupakan ………………….
Jangan lupakan ………………….
Mengampuni akan berarti ketika tidak ada luka.
Mengampuni haruslah terbuka, jujur apa adanya.
Mengampuni bukan berarti lupa.
MARI MENOLAK LUPA ...
Selasa, 16 November 2010
PRAGMATISME PENDIDIKAN: Belajar dari John Dewey
Pengantar
Pragmatisme sebagai aliran filsafat dikembangkan pertama kali di Amerika. Filsuf pertama yang memperkenalkan dan mengembangkan pemikiran pragmatisme adalah Charles S. Peirce yang menekankan tentang aktifitas dan tujuan manusia dalam memperoleh pengertian dan pengetahuan. Pemikir Amerika yang sangat lekat dengan filsafat pendidikan pragmatisme adalah John Dewey. Pragmatisme sebagai aliran filsafat dapat dipahami secara metafisis, epistemologis dan aksiologis.
Metafisika dan Epistemologi
Realitas dalam pandangan pragmatisme adalah kenyataan yang tidak tetap dan terus berubah. Perubahan-perubahan dalam realitas itu menuntut perubahan juga dalam pemahaman tentang realitas. Jika realitas berubah secara kontinyu, maka yang dibutuhkan adalah transfomasi dalam memahami realitas. Transformasi itu nampak dalam pendekatan epistemologis menurut pragmatisme.
Epistemologi melibatkan individu, organisme dan lingkungan. Individu berinteraksi dengan lingkungan untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Interaksi ini dapat mengubah lingkungan atau bahkan mengubah individu. Pengetahuan adalah transaksi antara individu sebagai orang yang belajar dengan lingkungannya. Dasar atas interaksi ini adalah konsep tentang perubahan. Masing-masing interaksi mungkin memiliki beberapa aspek umum atau pengalaman-pengalaman yang dapat ditransfer untuk interaksi berikutnya. Jadi, individu akan berubah dan demikian juga transaksi akan berubah. Kebenaran bagi pragmatisme adalah ketika suatu konsep itu bekerja dan mampu digunakan untuk memecahkan masalah.
Aksiologi
Oleh karena realitas dalam pendekatan metafisis pragmatisme adalah realitas yang tidak tetap, tetapi terus berubah, maka nilai-nilai yang mengikutinya pun akan terus berubah. Konsep nilai dalam pandangan pragmatisme adalah konsep yang situasional, tergantung situasi dan lingkungan. Nilai bersifat relatif terhadap waktu, tempat dan keadaan. Terhadap nilai-nilai lama yang terus dipertahankan dan tidak lagi memadai, perlu dilakukan uji ulang atas asumsi-asumsi yang mendasarinya.
Belajar Dari John Dewey
Dewey dalam bukunya The School and Society (1976: 39-40) menyatakan bahwa:
“[kita harus] membuat setiap sekolah kita sebagai embrio kehidupan masyarakat, aktif dengan tipe-tipe pekerjaan yang merefleksikan kehidupan dalam masyarakat pada umumnya dan menyebarkan semangat seni, sejarah dan pengembangan ilmu ke semua orang. Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih tiap anak dalam masyarakat menjadi bagian dari masyarakat dengan belajar dari masyarakat kecil di sekolah, memenuhkan dia dengan spirit melayani dan menyediakan baginya instrumen-instrumen yang efektif agar dapat digunakan secara pribadi, kita dapat berharap dengan baik tentang suatu masyarakat besar yang layak, penuh cinta dan harmoni.”
Pragmatisme Pendidikan yang dipelopori oleh filsuf Amerika John Dewey didasarkan pada perubahan, proses, relatifitas, dan rekonstruksi pengalaman. Pragmatisme pendidikan Dewey cukup dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin bahwa semua makhluk hidup baik secara biologis maupun sosiologis memiliki naluri untuk bertahan hidup dan untuk berkembang. Setiap organisme hidup di dalam habitat atau lingkungannya. Dalam proses kehidupan, organisme manusia mengalami situasi-situasi yang problematik sebagai ancaman bagi kelanjutan eksistensinya. Manusia yang sukses dalam hal ini adalah yang mampu memecahkan masalah-masalah itu dan menambahkan rincian-rincian dari proses-proses pemecahan masalah yang berbeda-beda ke dalam gudang pengalaman-pengalamannya untuk digunakan menghadapi masalah-masalah yang mungkin saja mirip di masa akan datang. Dalam filsafat pendidikan John Dewey, pengalaman adalah kata kunci. Pengalaman dapat didefinisikan sebagai interaksi antara makhluk manusia dengan lingkungannya. Dalam pandangan Darwin, untuk hidup tergantung dari kemampuan memecahkan masalah-masalah, maka Dewey memandang bahwa pendidikan menjadi tempat pelatihan bagi ketrampilan-ketrampilan dan metode-metode pemecahan masalah (problem solving skills and methods).
Filsafat pragmatis Dewey dapat juga disebut sebagai filsafat Eksperimentalis. Hal itu disebabkan karena menurutnya “tujuan dan rencana, dalam hal ini konsep-konsep manusia hanya dapat divalidasi dengan menjadikannya dasar tindakan dan dari konsekuensi-konsekuensi yang lahir dari tindakan-tindakan itulah tujuan, rencana atau konsep-konsep manusia dapat dinilai.” Penilaian berdasarkan konsekuensi tindakan juga diterapkan di dunia pendidikan. Bagi Dewey, suatu kurikulum atau strategi metodologi hanya dapat dikatakan valid dan berhasil bila telah diujicobakan dan dari uji coba itu hasil-hasilnya dapat dinilai. Ia dengan jelas menolak dasar-dasar pendidikan yang a priori seperti yang dikembangkan oleh kaum idealis, realis dan perennialis.
Dewey menekankan metodologi yang berhubungan dengan proses pemecahan masalah. Belajar berarti seseorang terlibat di dalam pemecahan masalah. Dalam epistemologi eksperimental menurut Dewey, siswa/pelajar, baik sebagai individu maupun anggota kelompok menggunakan metode-metode ilmu untuk memecahkan baik masalah pribadi maupun masalah sosial.
Menurut Dewey, anak-anak belajar lebih banyak dan lebih cepat ketika guru mendorong rasa keingintahuan alami mereka, bukan menjadikan mereka sebagai subjek yang kaku dan berdisiplin dengan cara-cara memberikan hukuman secara tradisional seperti dalam pendidikan abad ke-19 pada umumnya. Oleh karena itu, ia menggunakan permainan dan bentuk-bentuknya yang beragam sebagai alat belajar. Dari situlah, ia membentuk metodologi pendidikan modern abad ke-20. Dalam pengamatannya, ia menemukan bahwa cara anak-anak belajar banyak hal adalah sama dengan orang dewasa, yang berbeda hanyalah informasi yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka mengerti dalam sudut pandang mereka sendiri. Oleh karena itu, pendidikan menurutnya bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi akan bermakna dalam rangka pemecahan masalah-masalah.
Ia tidak sekedar memikirkan konsep pendidikan secara pragmatis, tetapi mengujicobakannya. Pada tahun 1894, Dewey pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago yang baru berumur 3 tahun sebagai kepala Departemen Filsafat di sana. Dia membuka Laboratorium Sekolah Universitas Chicago. Lewat laboratorium itulah ia menguji pemikirannya tentang pendidikan yang revolusioner itu. Sekolah itu kemudian dikenal dengan nama Sekolah Dewey, yang menjadi model dari sekolah-sekolah yang superior secara akademis di USA dan seluruh dunia sampai saat ini. Sekolah Dewey dibuka dengan 16 siswa dan 2 pengajar, namun dalam 7 tahun, berkembang menjadi 140 siswa, 23 pengajar dan 10 asisten pengajar. Sekolah itu dibuka dalam 10 kelas, mulai dari pra-sekolah sampai kelas 10. Sekolah menetapkan proyek-proyek yang menarik sesuai dengan usia para siswa.
Siswa yang paling muda ‘bermain’ rumah-rumahan, belajar berbagai tugas seperti memasak, menjahit, menggergaji dan memaku kayu dan membuat perabotan. Tetapi sementara bermain, mereka juga belajar matematika dengan mengukur, menambah dan mengurangi. Mereka juga belajar membaca dengan melihat resep masakan, juga belajar pola dan rencana dalam proses menjahit.
Anak umur 6 tahun (kelas 1) menggunakan ketrampilan dan peralatan dalam taman kanak-kanak untuk ‘membangun’ suatu peternakan, menggunakan blok-blok untuk tiap bangunan dan menanam tanaman-tanaman tiruan di atas meja pasir yang besar. Dengan membagi meja itu ke dalam area-area berbeda untuk tanaman-tanaman berbeda, mereka belajar tentang pecahan matematika. Anak-anak yang berumur enam tahun belajar dengan menggunakan tongkat-tongkat untuk membagi area bermain mereka ke dalam beberapa bagian. Sambil bermain, mreka belajar mengkonversi ukuran, dari inci ke kaki, yard, are dan unit-unit ukuran lainnya. Mereka mempelajari tentang volume ketika menggunakan gantang dalam permainan. Mereka belajar penjumlahan dan pengurangan serta satuan-satuan uang dengan bermain sebagai petani yang melakukan panen atas hasil panen dan menjualnya ke pasar. Mereka juga belajar menulis dan membaca dengan cepat karena harus membuat label-label tanaman yang harus mereka tanam dan kemudian jual di pasar. Mereka belajar melukis rencana bangunan untuk membangun rumah pertanian, gudang, kandang, dan melakukan pelabelan terhadap tiap bagian dari rencana itu dengan kata-kata yang jelas dan tepat. Mereka harus mengukur dengan pasti dan benar untuk menentukan blok nomor berapa yang akan digunakan membangun apa. Setiap kesalahan yang mereka buat, baik dalam pelabelan maupun pengukuran, akan membuat rumah pertanian dan yang lainnya tidak akan selesai atau roboh karena salah perhitungan. Dari situlah mereka belajar, dengan cara menghitung lagi dengan benar dan membangun lagi. Dengan cara belajar terus menerus dari kesalahan-kesalahan itu, mereka dapat memecahkan masalah-masalah itu dengan benar.
Siswa kelas 2 mempelajari kehidupan pra-sejarah dengan membangun gua buatan (menggunakan balok dan lembaran-lembaran kertas besar) dan berpura-pura hidup di dalamnya. Dalam setiap langkah untuk itu, siswa mengkombinasikan apa yang mereka baca di buku dengan melakukannya. Siswa kelas tiga belajar tentang peradaban awal, sementara siswa 9 tahun belajar tentang sejarah lokal dan geografi. Siswa 10 tahun belajar tentang sejarah kolonial dengan cara membangun pondok-pondok kayu pertahanan. Selain itu, ‘Darmawisata’ juga digunakan Dewey sebagai salah satu metode belajarnya guna menangkap imajinasi anak didiknya.
Anak kelas enam dan semua siswa yang lebih besar belajar dengan bekerja pada proyek-proyek yang melibatkan hal-hal yang lebih kompleks, seperti politik, pemerintahan dan ekonomi. Tidak lupa proyek-proyek penelitian ilmiah: biologi, kimia dan fisika dalam laboratorium di kelas. Demokrasi diajarkan dengan cara mempraktekkannya. Setiap kesempatan, kesalahan dalam pemahaman tentang demokrasi selalu dibetulkan dengan cara pengulangan.
Masalahnya adalah untuk mengajar di Sekolah Dewey lebih sulit daripada di sekolah-sekolah konvensional atau sekolah-sekolah biasa. Guru yang mengajar di sana harus dilatih dalam metode Dewey dan juga mendapatkan pelatihan yang cukup tentang psikologi anak. Selain itu, guru juga harus menjadikan pengetahuan tiap hari sebagai kemampuan diri. Pengetahuan tiap hari yang harus dikuasai oleh guru itu adalah penguasaan ketrampilan yang harus difasilitasi pembelajarannya kepada murid, mulai dari menjahit, pertukangan, fisika, musik, seni, olahraga dan lain sebagainya.
Guru dalam perspektif pendidikan aliran pragmatisme bukanlah guru yang terpaku pada diktat tetapi guru yang dituntut untuk kreatif. Guru harus belajar mempertahankan agar anak didik senang belajar dengan melihat dunia dari sudut pandang anak-anak serta sudut pandang orang dewasa.
Penutup
Dari bahasan tentang pengalaman John Dewey di atas, sangat jelas terlihat bahwa aliran Pragmatisme Pendidikan menghadirkan nuansa lain dari dunia pendidikan yang selama ini biasa diketahui. Pragmatisme pendidikan memposisikan anak didik sebagai pihak yang sangat penting dan mesti dipahami dengan baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik dan benar terhadap kebutuhan anak didik, diharapkan agar anak didik dapat menikmati sistem pendidikan yang diterapkan kepada mereka.
Dalam proses pelaksanaan pendidikan saat ini, pendidikan yang dimulai dari play group sampai dengan di tingkat pendidikan tinggi juga telah menganut pragmatisme pendidikan. Walaupun demikian, tidak ada satu aliran pendidikan pun yang diterapkan secara sendiri-sendiri dalam sistem pendidikan. Selalu saja ada gabungan dari aliran-aliran pendidikan yang ada sehingga menghasilkan suatu sistem pendidikan yang baik dan dapat memenuhi standar.
DAFTAR PUSTAKA
Dewey, John, 1920, Reconstruction in Philosophy, Henry Holt and Company: NY.
---------------------------, 1938, Logic: The Theory of Inquiry, Henry Holt & Co., Inc.: NY
---------------------------, (Jo Ann Boydston, Ed.), 1976, The School and Society, Southern Illinois University Press
Ornstein, Alan, C., & Levine, Daniel, U., (ed.), 1988, An Introduction to The Foundation of Education, Houghton Miftin Company: Boston.
Palmer, Joy, A., 2001, Fifty Major Thinkers on Education: From Confucius to Dewey, Routledge: London.
Provenzo, Eugene, F., & John Philip Renaud (ed.), 2009, Encyclopedia of The Social and Cultural Foundations of Education (vol. 1-3). Sage Publications: London.
Shook, John, R., & Joseph Margolis (ed.), 2006, A Companion to Pragmatism, Blackwell Publishing: MA
Unger, Harlow, G., 2007, Encyclopedia of American Education (vol. 1-3), Facts On File Inc.: NY.
Winch, Christoper & John Gingell, 1999, Philosophy of Education: The Key Concepts (2nd ed.). Routledge: London.
Pragmatisme sebagai aliran filsafat dikembangkan pertama kali di Amerika. Filsuf pertama yang memperkenalkan dan mengembangkan pemikiran pragmatisme adalah Charles S. Peirce yang menekankan tentang aktifitas dan tujuan manusia dalam memperoleh pengertian dan pengetahuan. Pemikir Amerika yang sangat lekat dengan filsafat pendidikan pragmatisme adalah John Dewey. Pragmatisme sebagai aliran filsafat dapat dipahami secara metafisis, epistemologis dan aksiologis.
Metafisika dan Epistemologi
Realitas dalam pandangan pragmatisme adalah kenyataan yang tidak tetap dan terus berubah. Perubahan-perubahan dalam realitas itu menuntut perubahan juga dalam pemahaman tentang realitas. Jika realitas berubah secara kontinyu, maka yang dibutuhkan adalah transfomasi dalam memahami realitas. Transformasi itu nampak dalam pendekatan epistemologis menurut pragmatisme.
Epistemologi melibatkan individu, organisme dan lingkungan. Individu berinteraksi dengan lingkungan untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Interaksi ini dapat mengubah lingkungan atau bahkan mengubah individu. Pengetahuan adalah transaksi antara individu sebagai orang yang belajar dengan lingkungannya. Dasar atas interaksi ini adalah konsep tentang perubahan. Masing-masing interaksi mungkin memiliki beberapa aspek umum atau pengalaman-pengalaman yang dapat ditransfer untuk interaksi berikutnya. Jadi, individu akan berubah dan demikian juga transaksi akan berubah. Kebenaran bagi pragmatisme adalah ketika suatu konsep itu bekerja dan mampu digunakan untuk memecahkan masalah.
Aksiologi
Oleh karena realitas dalam pendekatan metafisis pragmatisme adalah realitas yang tidak tetap, tetapi terus berubah, maka nilai-nilai yang mengikutinya pun akan terus berubah. Konsep nilai dalam pandangan pragmatisme adalah konsep yang situasional, tergantung situasi dan lingkungan. Nilai bersifat relatif terhadap waktu, tempat dan keadaan. Terhadap nilai-nilai lama yang terus dipertahankan dan tidak lagi memadai, perlu dilakukan uji ulang atas asumsi-asumsi yang mendasarinya.
Belajar Dari John Dewey
Dewey dalam bukunya The School and Society (1976: 39-40) menyatakan bahwa:
“[kita harus] membuat setiap sekolah kita sebagai embrio kehidupan masyarakat, aktif dengan tipe-tipe pekerjaan yang merefleksikan kehidupan dalam masyarakat pada umumnya dan menyebarkan semangat seni, sejarah dan pengembangan ilmu ke semua orang. Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih tiap anak dalam masyarakat menjadi bagian dari masyarakat dengan belajar dari masyarakat kecil di sekolah, memenuhkan dia dengan spirit melayani dan menyediakan baginya instrumen-instrumen yang efektif agar dapat digunakan secara pribadi, kita dapat berharap dengan baik tentang suatu masyarakat besar yang layak, penuh cinta dan harmoni.”
Pragmatisme Pendidikan yang dipelopori oleh filsuf Amerika John Dewey didasarkan pada perubahan, proses, relatifitas, dan rekonstruksi pengalaman. Pragmatisme pendidikan Dewey cukup dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin bahwa semua makhluk hidup baik secara biologis maupun sosiologis memiliki naluri untuk bertahan hidup dan untuk berkembang. Setiap organisme hidup di dalam habitat atau lingkungannya. Dalam proses kehidupan, organisme manusia mengalami situasi-situasi yang problematik sebagai ancaman bagi kelanjutan eksistensinya. Manusia yang sukses dalam hal ini adalah yang mampu memecahkan masalah-masalah itu dan menambahkan rincian-rincian dari proses-proses pemecahan masalah yang berbeda-beda ke dalam gudang pengalaman-pengalamannya untuk digunakan menghadapi masalah-masalah yang mungkin saja mirip di masa akan datang. Dalam filsafat pendidikan John Dewey, pengalaman adalah kata kunci. Pengalaman dapat didefinisikan sebagai interaksi antara makhluk manusia dengan lingkungannya. Dalam pandangan Darwin, untuk hidup tergantung dari kemampuan memecahkan masalah-masalah, maka Dewey memandang bahwa pendidikan menjadi tempat pelatihan bagi ketrampilan-ketrampilan dan metode-metode pemecahan masalah (problem solving skills and methods).
Filsafat pragmatis Dewey dapat juga disebut sebagai filsafat Eksperimentalis. Hal itu disebabkan karena menurutnya “tujuan dan rencana, dalam hal ini konsep-konsep manusia hanya dapat divalidasi dengan menjadikannya dasar tindakan dan dari konsekuensi-konsekuensi yang lahir dari tindakan-tindakan itulah tujuan, rencana atau konsep-konsep manusia dapat dinilai.” Penilaian berdasarkan konsekuensi tindakan juga diterapkan di dunia pendidikan. Bagi Dewey, suatu kurikulum atau strategi metodologi hanya dapat dikatakan valid dan berhasil bila telah diujicobakan dan dari uji coba itu hasil-hasilnya dapat dinilai. Ia dengan jelas menolak dasar-dasar pendidikan yang a priori seperti yang dikembangkan oleh kaum idealis, realis dan perennialis.
Dewey menekankan metodologi yang berhubungan dengan proses pemecahan masalah. Belajar berarti seseorang terlibat di dalam pemecahan masalah. Dalam epistemologi eksperimental menurut Dewey, siswa/pelajar, baik sebagai individu maupun anggota kelompok menggunakan metode-metode ilmu untuk memecahkan baik masalah pribadi maupun masalah sosial.
Menurut Dewey, anak-anak belajar lebih banyak dan lebih cepat ketika guru mendorong rasa keingintahuan alami mereka, bukan menjadikan mereka sebagai subjek yang kaku dan berdisiplin dengan cara-cara memberikan hukuman secara tradisional seperti dalam pendidikan abad ke-19 pada umumnya. Oleh karena itu, ia menggunakan permainan dan bentuk-bentuknya yang beragam sebagai alat belajar. Dari situlah, ia membentuk metodologi pendidikan modern abad ke-20. Dalam pengamatannya, ia menemukan bahwa cara anak-anak belajar banyak hal adalah sama dengan orang dewasa, yang berbeda hanyalah informasi yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka mengerti dalam sudut pandang mereka sendiri. Oleh karena itu, pendidikan menurutnya bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi akan bermakna dalam rangka pemecahan masalah-masalah.
Ia tidak sekedar memikirkan konsep pendidikan secara pragmatis, tetapi mengujicobakannya. Pada tahun 1894, Dewey pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago yang baru berumur 3 tahun sebagai kepala Departemen Filsafat di sana. Dia membuka Laboratorium Sekolah Universitas Chicago. Lewat laboratorium itulah ia menguji pemikirannya tentang pendidikan yang revolusioner itu. Sekolah itu kemudian dikenal dengan nama Sekolah Dewey, yang menjadi model dari sekolah-sekolah yang superior secara akademis di USA dan seluruh dunia sampai saat ini. Sekolah Dewey dibuka dengan 16 siswa dan 2 pengajar, namun dalam 7 tahun, berkembang menjadi 140 siswa, 23 pengajar dan 10 asisten pengajar. Sekolah itu dibuka dalam 10 kelas, mulai dari pra-sekolah sampai kelas 10. Sekolah menetapkan proyek-proyek yang menarik sesuai dengan usia para siswa.
Siswa yang paling muda ‘bermain’ rumah-rumahan, belajar berbagai tugas seperti memasak, menjahit, menggergaji dan memaku kayu dan membuat perabotan. Tetapi sementara bermain, mereka juga belajar matematika dengan mengukur, menambah dan mengurangi. Mereka juga belajar membaca dengan melihat resep masakan, juga belajar pola dan rencana dalam proses menjahit.
Anak umur 6 tahun (kelas 1) menggunakan ketrampilan dan peralatan dalam taman kanak-kanak untuk ‘membangun’ suatu peternakan, menggunakan blok-blok untuk tiap bangunan dan menanam tanaman-tanaman tiruan di atas meja pasir yang besar. Dengan membagi meja itu ke dalam area-area berbeda untuk tanaman-tanaman berbeda, mereka belajar tentang pecahan matematika. Anak-anak yang berumur enam tahun belajar dengan menggunakan tongkat-tongkat untuk membagi area bermain mereka ke dalam beberapa bagian. Sambil bermain, mreka belajar mengkonversi ukuran, dari inci ke kaki, yard, are dan unit-unit ukuran lainnya. Mereka mempelajari tentang volume ketika menggunakan gantang dalam permainan. Mereka belajar penjumlahan dan pengurangan serta satuan-satuan uang dengan bermain sebagai petani yang melakukan panen atas hasil panen dan menjualnya ke pasar. Mereka juga belajar menulis dan membaca dengan cepat karena harus membuat label-label tanaman yang harus mereka tanam dan kemudian jual di pasar. Mereka belajar melukis rencana bangunan untuk membangun rumah pertanian, gudang, kandang, dan melakukan pelabelan terhadap tiap bagian dari rencana itu dengan kata-kata yang jelas dan tepat. Mereka harus mengukur dengan pasti dan benar untuk menentukan blok nomor berapa yang akan digunakan membangun apa. Setiap kesalahan yang mereka buat, baik dalam pelabelan maupun pengukuran, akan membuat rumah pertanian dan yang lainnya tidak akan selesai atau roboh karena salah perhitungan. Dari situlah mereka belajar, dengan cara menghitung lagi dengan benar dan membangun lagi. Dengan cara belajar terus menerus dari kesalahan-kesalahan itu, mereka dapat memecahkan masalah-masalah itu dengan benar.
Siswa kelas 2 mempelajari kehidupan pra-sejarah dengan membangun gua buatan (menggunakan balok dan lembaran-lembaran kertas besar) dan berpura-pura hidup di dalamnya. Dalam setiap langkah untuk itu, siswa mengkombinasikan apa yang mereka baca di buku dengan melakukannya. Siswa kelas tiga belajar tentang peradaban awal, sementara siswa 9 tahun belajar tentang sejarah lokal dan geografi. Siswa 10 tahun belajar tentang sejarah kolonial dengan cara membangun pondok-pondok kayu pertahanan. Selain itu, ‘Darmawisata’ juga digunakan Dewey sebagai salah satu metode belajarnya guna menangkap imajinasi anak didiknya.
Anak kelas enam dan semua siswa yang lebih besar belajar dengan bekerja pada proyek-proyek yang melibatkan hal-hal yang lebih kompleks, seperti politik, pemerintahan dan ekonomi. Tidak lupa proyek-proyek penelitian ilmiah: biologi, kimia dan fisika dalam laboratorium di kelas. Demokrasi diajarkan dengan cara mempraktekkannya. Setiap kesempatan, kesalahan dalam pemahaman tentang demokrasi selalu dibetulkan dengan cara pengulangan.
Masalahnya adalah untuk mengajar di Sekolah Dewey lebih sulit daripada di sekolah-sekolah konvensional atau sekolah-sekolah biasa. Guru yang mengajar di sana harus dilatih dalam metode Dewey dan juga mendapatkan pelatihan yang cukup tentang psikologi anak. Selain itu, guru juga harus menjadikan pengetahuan tiap hari sebagai kemampuan diri. Pengetahuan tiap hari yang harus dikuasai oleh guru itu adalah penguasaan ketrampilan yang harus difasilitasi pembelajarannya kepada murid, mulai dari menjahit, pertukangan, fisika, musik, seni, olahraga dan lain sebagainya.
Guru dalam perspektif pendidikan aliran pragmatisme bukanlah guru yang terpaku pada diktat tetapi guru yang dituntut untuk kreatif. Guru harus belajar mempertahankan agar anak didik senang belajar dengan melihat dunia dari sudut pandang anak-anak serta sudut pandang orang dewasa.
Penutup
Dari bahasan tentang pengalaman John Dewey di atas, sangat jelas terlihat bahwa aliran Pragmatisme Pendidikan menghadirkan nuansa lain dari dunia pendidikan yang selama ini biasa diketahui. Pragmatisme pendidikan memposisikan anak didik sebagai pihak yang sangat penting dan mesti dipahami dengan baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik dan benar terhadap kebutuhan anak didik, diharapkan agar anak didik dapat menikmati sistem pendidikan yang diterapkan kepada mereka.
Dalam proses pelaksanaan pendidikan saat ini, pendidikan yang dimulai dari play group sampai dengan di tingkat pendidikan tinggi juga telah menganut pragmatisme pendidikan. Walaupun demikian, tidak ada satu aliran pendidikan pun yang diterapkan secara sendiri-sendiri dalam sistem pendidikan. Selalu saja ada gabungan dari aliran-aliran pendidikan yang ada sehingga menghasilkan suatu sistem pendidikan yang baik dan dapat memenuhi standar.
DAFTAR PUSTAKA
Dewey, John, 1920, Reconstruction in Philosophy, Henry Holt and Company: NY.
---------------------------, 1938, Logic: The Theory of Inquiry, Henry Holt & Co., Inc.: NY
---------------------------, (Jo Ann Boydston, Ed.), 1976, The School and Society, Southern Illinois University Press
Ornstein, Alan, C., & Levine, Daniel, U., (ed.), 1988, An Introduction to The Foundation of Education, Houghton Miftin Company: Boston.
Palmer, Joy, A., 2001, Fifty Major Thinkers on Education: From Confucius to Dewey, Routledge: London.
Provenzo, Eugene, F., & John Philip Renaud (ed.), 2009, Encyclopedia of The Social and Cultural Foundations of Education (vol. 1-3). Sage Publications: London.
Shook, John, R., & Joseph Margolis (ed.), 2006, A Companion to Pragmatism, Blackwell Publishing: MA
Unger, Harlow, G., 2007, Encyclopedia of American Education (vol. 1-3), Facts On File Inc.: NY.
Winch, Christoper & John Gingell, 1999, Philosophy of Education: The Key Concepts (2nd ed.). Routledge: London.
Langganan:
Postingan (Atom)