Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Kepentingan Aksiologi: Review Terhadap Pemikiran Archie Bahm Tentang Ilmu

Pamor Aksiologi sebagai salah satu bidang kajian filsafat ternyata belum mendapat tempat yang layak bagi para ilmuan dan filsuf ilmu, khususnya dalam kajian filsafat Ilmu. Selama ini, yang sering mendapat perhatian adalah aspek Ontologis dan Epistemologis ilmu.
Tulisan ini hendak mereview tulisan Archie J. Bahm dengan judul What Is "Science"
Yang menjadi latar belakang penulisan risalah dengan judul What Is ”Science” ini adalah keinginan penulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masalah yang ilmiah. Bahm menuliskan
"What makes a problem ”scientific”? Are all problems scientific? No. If not, what then characterizes a problem as scientific? Differing answers to this question by scientists and philosophers of science are so various that general agreement seems impossible soon."Jawaban-jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan-pertanyaan itu berbeda-beda baik oleh para ilmuan maupun para filsuf ilmu yang berujung pada semacam ketidakmungkinan persetujuan um…

Epistemologi Sosial: Sudah Layakkah Dipakai Sebagai Objek Formal Studi Filosofis?

Menurut J. Sudarminta, berdasarkan objek kajiannya, epistemologi atau filsafat pengetahuan dapat dibedakan menjadi Epistemologi Individu dan Epistemologi Sosial (Social Epistemology). Menurutnya, epistemologi sebagaimana yang dipahami sampai saat ini adalah epistemologi individual, artinya bahwa kajian tentang pengetahuan baik tentang status kognitif maupun proses pemerolehannya adalah semata-mata aktifitas individu terlepas dari lingkungan sosialnya. Tetapi, belakangan ini muncul apa yang disebut sebagai Epistemologi Sosial, yang diartikan sebagai kajian filosofis terhadap pengetahuan sebagai data sosiologis. Bagi epistemologi sosial, hubungan, kepentingan dan lembaga sosial punya peranan yang sangat penting dalam proses, cara pemerolehan pengetahuan. (J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: 22-3)
Setelah ditelusuri, ternyata kajian tentang epistemologi sosial ini belum banyak dilakukan. Salah satu buku yang dirujuk oleh Sudarminta adalah Social Epistemology yang ditulis oleh salah seorang…

RASISME DALAM LEMBAGA NEGARA: Sedikit Cerita Dari Uji Publik RUU Pornografi di Yogyakarta

Belum lama ini dilaksanakan uji publik terhadap RUU Pornografi di Provinsi D.I. Yogyakarta. Uji publik itu dilakukan oleh pokja RUU pornografi. Dalam tarik ulur pro dan kontra terhadap RUU Pornografi ini, ada hal yang membuat saya sangat berang dan marah, yaitu pernyataan Balkan Kaplale (seingat saya, Kaplale itu salah satu marga dari Maluku Tengah - di Masohi, ibukota Kabupaten Maluku Tengah, ada salah satu tempat yang namanya gedung Kaplale dekat Lapangan Olahraga Nusantara.) untuk mengomentari pertanyaan dan pendapat dari salah seorang wakil masyarakat Papua, kalau tidak salah namanya Albert. Balkan Kaplele mengatakan seperti ini, "Adik Albert kita sama-sama orang Timur, Belajarlah dari orang Jawa biar jadi beradab, dan menikah dengan orang Solo saja agar memperbaiki keturunan".
Saya kembali teringat tulisan Sendius Wonda, SH, M.Si yang berjudul Tenggelamnya Rumpun Melanesia: Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat. Buku yang ditarik dari peredarannya oleh “pihak yang meny…

PAPUA TANAH DAMAI: Apa Artinya?

Bicara tentang Papua berarti bicara tentang keberagaman tetapi juga kesatuan. Artinya, kalau mau belajar tentang berbeda-beda tetapi tetap satu, belajarlah di Papua. Bayangkan saja, dalam studi-studi etnografis dan sebagaimana yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik, dapat ditemukan kurang lebih 312 suku di Papua. 
Dalam keragaman dan kekayaan budaya itu, Papua juga dianugerahi dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Artinya, Papua menyumbang begitu banyak bagi Indonesia baik kekayaan budayanya maupun kekayaan alamnya. 
Membicarakan Papua tidak saja bicara tentang wilayah geografis, tetapi juga manusianya. "Papua" menyatukan begitu banyak keragaman (sebagaimana yang diakui bahwa "Indonesia" dapat menyatukan banyak keragaman). Dalam kenyataan geopolitik Indonesia, Papua dilihat dalam kepentingan politik kewilayahan dan bukan politik kemanusiaan. "Wilayah Papua"-lah yang penting dan bukan "Manusia Papua". Ketika melihat Papua dalam kepentinga…