Sabtu, 06 November 2010

AGAMA dalam DUNIA SIMULASI: Studi terhadap agama dalam perspektif Jean Baudrillard

Sudah dua hari berturut-turut saya mendapatkan kiriman layanan pesan pendek (SMS) yang isinya menawarkan berlangganan ayat-ayat Alkitab. Saya tidak menanggapinya dan membiarkan begitu saja, toh tidak ada potongan biaya selama tidak mengetik reg (spasi) …… kirim ke …..
Walaupun tidak menanggapinya, saya menjadikan itu sebagai salah satu fakta dari beberapa fakta lain yang menegaskan bahwa cara beragama kita telah mengalami pergeseran yang radikal. Kita telah terperosok dalam kapitalisasi agama demi keuntungan semata. Tentu klaim itu saya kemukakan bukan tanpa dasar. Kalau boleh saya berargumentasi secara singkat, maka saya hendak menunjukkan bagaimana kapitalisasi agama itu telah merasuk sedemikian jauh dan mempengaruhi cara beragama kita.

Agama selalu dipahami sebagai media yang penyampaian penjelasan tentang hal-hal yang benar-benar nyata (really real). Surga dan neraka adalah kenyataan yang sebenarnya dengan ruang dan waktu tersendiri dalam bahasa agama. Dosa dan pahala adalah kenyataan lain yang dikemukakan sehingga membuat banyak orang ingin terus beragama. Saleh dan kafir menjadi bukti bahwa agama adalah legitimasi dalam kenyataan kehidupan manusia setiap hari. Bagi sebagian besar orang, kenyataan-kenyataan yang dijelaskan oleh agama itu tidak perlu lagi dipertanyakan karena itu benar adanya. Tetapi bagi sebagian kecil orang, penjelasan-penjelasan itu tidak pernah cukup menjadi alasan mengapa mereka harus beragama atau tidak beragama.

Upaya-upaya adaptasi agama (bahasa kerennya kontekstualisasi) dengan situasi mutakhir terus dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai para penjaga kebenaran iman agar penjelasan-penjelasan tentang yang benar-benar nyata itu tetap dapat dipahami. Upaya-upaya itu, kini telah memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mempromosikan dan menyebarkan penjelasan-penjelasan yang menjadi daya tarik agama. Media masa, khususnya televisi menjadi sesuatu yang menarik bagi agama-agama masa kini. Begitu sebaliknya, agama-agama telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para kapitalis media saat ini. Penginjilan dan dakwah (Kristen dan Islam) dilakukan lewat televisi yang memungkinkan lebih banyak orang dapat mendengar dan melihat tanpa harus dibatasi oleh ruang. Hal ini memang bukan lagi fenomena baru, tetapi telah terjadi bertahun-tahun lalu dan orang asyik-asyik saja menikmati bahkan sepertinya “semakin beriman” secara virtual. Perjumpaan-perjumpaan secara langsung dengan sesama tidak lagi penting karena telah tergantikan dalam ruang virtual di mana semua pergumulan dan keinginan kita dapat didoakan hanya dengan mengangkat telepon atau memencet “power on” pada televisi kita. Pernah dalam satu acara yang tanpa sengaja saya tonton, para penonton di rumah diminta untuk meletakkan tangan di layar kaca televisi agar dapat didoakan. Hal yang lebih sering terjadi adalah ketika penginjil mendoakan setiap pergumulan yang diungkapkan lewat hubungan telepon, atau hanya meletakkan tangannya di atas tumpukan sekian ribu surat dan mendoakan semuanya. Saat ini dengan maraknya sms premium, orang ditawarkan berlangganan ayat-ayat dari kitab suci dengan membayar secara premium dan berkala.

Kenyataan beragama yang diperhadapkan kepada kita menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan postmodern Barat telah merasuk melampaui batas-batas wilayah. Postmodern Barat telah mengglobal dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan media masa. Hal itu tidak dapat disangkali karena kekuatan postmodern adalah komunikasi dan informasi. Dari sana muncul pertanyaan, apakah agama telah menemukan medianya yang baru untuk menyampaikan pesan-pesan kebenaran? Apakah agama-agama virtual seperti itu adalah agama yang riil bagi para pemeluknya? Siapa yang diuntungkan dari kenyataan beragama kontemporer saat ini? Saya mencoba mencari jawaban secara singkat dari perspektif Jean Baudrillard, seorang pemikir postmodern berkebangsaan Perancis.

Dalam karyanya yang sangat terkenal, Simulacra and Simulation (terj. Inggris 1994), ia menganalisis hakekat kebudayaan postmodern dan menegaskan bahwa dalam kebudayaan postmodern, kita tidak dapat lagi membedakan antara citra atau imaji (image) dengan realitas (reality). Dalam karyanya yang lain, Impossible Exchange (terj. Inggris 2001), ia berpandangan bahwa “conventional universe of subject and object, of ends and means, of good and bad, does not correspond any more to the state of our world” (hlm. 28).

Berdasarkan konteks dari upaya eksplorasinya terhadap kebudayaan postmodern di Barat, Baudrillard secara khusus tertarik kepada masalah “representasi” (representation). Terhadap itu, ia berupaya menguji cara-cara yang digunakan oleh teknologi dan media untuk mempengaruhi kita, bagaimana kita merepresentasikan pengalaman-pengalaman kita dan apa yang kita ketahui tentang dunia kita. Baudrillard dengan jelas menyatakan bahwa kebudayaan kontemporer sangat dipenuhi oleh imaji-imaji (citra-citra) dari televisi, film, iklan dan banyak bentuk pemberitaan media masa yang mengakibatkan perbedaan antara yang nyata dan yang diimajinasi (real and the imagined), atau kebenaran dan kekeliruan (truth and falsity) tidak nampak lagi. Ia bahkan sampai pada pernyataan bahwa imaji atau citra tidak lagi berfungsi sebagai representasi realitas. Imaji dalam kebudayaan kontemporer adalah realitas itu sendiri. Oleh karena itu, kehidupan manusia hanyalah simulasi (simulation) dari realitas dalam arti simulasi itu yang mengkonstruksi apa yang dianggap sebagai realitas. Konsekuensinya adalah pengalaman-pengalaman kita tentang dunia telah dimediasi lewat banyak imaji atau citra yang diperhadapkan kepada kita setiap hari lewat media masa. Imaji-imaji itu kemudian menjadi bingkai untuk memandang dunia di sekeliling kita.

Lebih lanjut Baudrillard menyatakan kebudayaan postmodern memiliki beberapa ciri menonjol. Pertama, kebudayaan postmodern adalah kebudayaan uang, excremental culture. Uang mendapatkan peran yang sangat penting dalam masyarakat postmodern. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, fungsi dan makna uang dalam budaya postmodern tidaklah sekedar sebagai alat-tukar, melainkan lebih dari itu merupakan simbol, tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. Kedua, kebudayaan postmodern lebih mengutamakan penanda (signifier) ketimbang petanda (signified), media (medium) ketimbang pesan (message), fiksi (fiction) ketimbang fakta (fact), sistem tanda (system of signs) ketimbang sistem objek (system of objects), serta estetika (aesthetic) ketimbang etika (ethic). Ketiga, kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi, yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda, citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih dan berjalin kelindan. Keempat, sebagai konsekuensi logis karakter simulasi, budaya postmodern ditandai dengan sifat hiperrealitas, dimana citra dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama, dan lebih jauh lagi realitas semu (citra) mengalahkan realitas yang sesungguhnya (fakta). Kelima, kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa, budaya populer serta budaya media massa.

Konsep Baudrillard yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara realitas dan representasi dari realitas adalah “Simulacrum” dan “Hiperrealitas”. Menurutnya, satu simulacrum adalah imaji atau representasi dari sesuatu, tetapi telah mengambil alih tempat dari sesuatu yang direpresentasikannya itu. Dalam tulisannya Simulacra and Simulation, ia membedakan tiga tahapan dari proses ‘simulacrum’ dalam sejarah Barat. Dari tiap tahapan itu, imaji atau simulacrum semakin teralienasi dari apa yang mesti direpresentasikannya. Tahapan pertama simulacra adalah proses dimana imaji mengubah realitas sebagai topeng. Artinya, hal-hal yang artifisial adalah lebih penting daripada realitas sebenarnya yang direpresentasikan olehnya. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. Tahapan ini muncul pertama kali pada zaman Baroque (Era Renaisans sampai awal Revolusi Industri). Essei dari Walter Benjamin, ‘The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction’ menjadi gambaran bagi Baudrillard untuk mengidentifikasi tahapan kedua dari simulacra berupa produksi massal pada zaman modern yang menghasilkan istilah reproduksi. Reproduksi dilakukan tidak lagi didasarkan pada sesuatu yang riil dan original, tetapi terhadap imaji dari yang riil itu. Pada tahapan ini, imaji direproduksi dari imaji yang telah ada sebelumnya. Tahapan ketiga simulacra adalah pada masa postmodern. Menurut Baudrillard, di masa postmodern, simulacrum telah kehilangan semua hubungannya dengan realitas. Simulacrum adalah realitas, bukan lagi imitasi dari yang riil. Simulacrum telah mengambil posisi dan menggantikan realitas. Dengan demikian, dunia yang kita hidupi sekarang ini adalah dunia simulacra atau dunia pencitraan, dunia imaji saja.

Kalaupun pada tahapan-tahapan awal, imaji mungkin muncul untuk merujuk atau merepresentasikan objek-objek di dunia riil sebagai suatu realitas yang telah ada sebelum imaji ada, dalam dunia postmodern, imaji telah mendahului yang riil. Salah satu karakteristik dalam dunia postmodern menurut Baudrillard adalah perkembangan media yang memproduksi imaji sebagai simulasi atas realitas, berupa fotografi, film, televisi, bahkan website (World Wide Web). Baudrillard bahkan menyatakan bahwa “mensimulasi adalah berpura-pura memiliki apa yang tidak dimiliki” (Simulacra and Simulation, hlm. 3). Intinya adalah simulasi tidak lagi merujuk pada realitas atau sebagai tiruan dari realitas, tetapi telah membentuk realitas.

Contoh menarik yang disampaikan oleh Baudrillard terkait imaji yang mendahului realitas adalah cerita dari Jorge Luis Borges tentang tugas kartografer (pembuat peta) dari suatu Kekaisaran yang menyusun peta sedemikian rinci sampai akhirnya mencakup semua wilayah secara tepat. Peta itu, yang seharusnya hanya menjadi representasi dari ruang nyata, telah menjadi realitas tersendiri. Peta itu telah menggantikan posisi ruang nyata riil dan menjadi sumber utama reproduksi. Menggunakan bahasa Baudrillard, itu adalah ‘hiperrealitas’. Bahwa simulasi itu bukan lagi menunjuk pada “ada”nya wilayah dalam ruang nyata sebagai substansi yang harus direpresentasi, simulasi itu telah menjadi yang “ada” itu sendiri, simulasi itu adalah substansi itu sendiri. Reproduksi dari simulasi itu adalah suatu yang hiperreal. Dalam perspektif itu, jelas bahwa peta tidaklah dibuat untuk merepresentasi adanya wilayah di ruang nyata, tetapi wilayah di ruang nyata ada dan diketahui karena telah didahului dengan adanya peta. Bukan wilayah yang menimbulkan peta, tetapi petalah yang menimbulkan wilayah. Realitas sosial, budaya, politik, dibangun berlandaskan model-model yang telah dibuat sebelumnya. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan, tetapi model-model yang diciptakan secara virtual.

Dari contoh itu, cukup jelas ketika Baudrillard menyatakan bahwa suatu dunia hiperreal adalah situasi di mana tidak ada lagi pembatas antara ‘yang riil’ dan ‘yang imajiner’. Contohnya adalah ketika jaringan-jaringan televisi menampilkan hal yang samar antara fakta, opini, olahra, politik, cuaca dan hiburan. Semua yang ditampilkan itu tidak lagi merepresentasikan realitas, tetapi adalah realitas itu sendiri. Dalam kritiknya terhadap Amerika, Baudrillard menyatakan bahwa media dan konstruktor-konstruktor imajiner yang lain, seperti Disneyland, berfungsi untuk menciptakan Amerika sebagai sesuatu yang tidak lebih dari simulasi hiperreal dari yang riil. Simulasi biasanya merujuk pada sesuatu yang palsu atau pura-pura, tidak riil atau tidak asli. Tetapi Baudrillard tidaklah sesederhana itu membedakan antara simulasi dengan yang riil. Ia bergerak lebih dari itu dan melihat bahwa simulasi adalah pemutusan yang radikal dari realitas. Bagi Baudrillard, kita tidak lagi bisa menyatakan bahwa ada makna ketika berada dalam bidang penyelidikan terhadap relatifitas antara kebenaran dan kekeliruan dari imaji-imaji atau representasi-representasi. Hal itu disebabkan karena tidak ada lagi representasi, suatu imaji yang awalnya merepresentasi realitas telah menjadi realitas itu sendiri. Dalam hubungan dengan dunia virtual, ia menyatakan bahwa dunia virtual dibuat dengan grafik-grafik komputer dalam garis gagasan bahwa suatu realitas dapat dibuat di mana tidak ada realitas yang telah ada sebelumnya yang direpresentasikan oleh versi-versi virtual itu.

Berdasarkan perspektif Baudrillard di atas, saya mencoba untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlontar di atas:

1. Apakah agama masih menjadi media penyampaian pesan atau agama telah menjadi pesan itu sendiri?
Pertanyaan ini dilontarkan dengan asumsi bahwa agama sebagai institusi yang berupaya menjelaskan hal-hal yang benar-benar nyata dalam bahasanya telah mengalami pergeseran. Biasanya, agama adalah media penyampaian pesan, tetapi dalam kenyataan beragama kontemporer, media itu sendiri telah menjadi pesan. Biasanya, agama adalah media ‘perjumpaan-perjumpaan langsung’ antara sesama dan dalam perjumpaan langsung dengan sesama itu, diyakini telah ada perjumpaan secara vertikal dengan Tuhannya. Kini agama telah bergeser sebagai pesan yang dapat ditujukan kepada pribadi-pribadi dalam ruang-ruang grafik komputer yang disimulasi sedemikian rupa. Tampilan acara keagamaan di televisi, tampilan sms premium yang terbaca di layar HP, telah mengganti ruang-ruang ritual dan sosial keagamaan yang nyata di mana satu dengan yang lain dapat berbagi rasa, berbagi senyum, berpegang tangan, berangkulan, saling menguatkan dengan menepuk bahu, saling berdiskusi dengan memandang mata berupaya mencari tahu ketulusan dan kebenaran di balik itu.
Ketika agama telah menjadi pesan dan bukan lagi media, maka media masa telah mengambil peran agama sebagai media dalam penyampaian pesan.
Dalam kepentingan kapitalis untuk menjadikan masyarakat postmodern sebagai konsumer semata, maka Agama mesti dikomodifikasi sedemikian rupa sebagai pesan sehingga mudah direproduksi secara berulang oleh media masa. Dalam kerangka teori Baudrillard di atas, semangat religiusitas yang membungkus berbagai dimensi kehidupan masa kini yang diangkat dan direproduksi berulang-ulang tak lain hanyalah sebuah permainan simulasi belaka. Sadar atau tidak, kita telah terjebak pada bentuk kapitalisasi spiritualisme dengan cara mengubah spiritualisme itu sebagai sebuah tanda. Dengan demikian, pesan-pesan spiritual tidak lagi menjadi substansi agama, karena agama adalah pesan itu sendiri.

2. Apakah agama-agama virtual seperti itu telah menjadi sesuatu yang riil bagi para pengikutnya?
Pertanyaan ini terlontar ketika tampilan-tampilan beragama kita telah disimulasi sedemikian rupa dalam ruang-ruang virtual sehingga perjumpaan-perjumpaan sosial yang riil tidak lagi menjadi kebutuhan. Orang berpura-pura beragama padahal telah jauh dari pesan agama yang sesungguhnya. Hal itu harus terjadi dalam suatu masyarakat konsumerisme karena dengan menciptakan individu-individu konsumen, maka semakin mudah dimanipulasi dengan imaji-imaji yang direproduksi secara masal. Orang tidak lagi melihat dan mendengar tentang Yesus atau Nabi Muhammad, tetapi orang telah menentukan pilihan terhadap penginjil atau pendakwah siapa yang patut didengarkan dan dijadikan teladan. Orang tidak lagi peduli dengan isi pesan dari kekristenan atau Islam dan sebagainya, tetapi orang langsung menjatuhkan pilihan pada Kristen, Islam dan sebagainya. Kristen, Islam, dan lainnya lebih penting daripada pesan di dalamnya.
Walaupun ditawarkan dengan simulasi yang adalah realitas semu, orang pada umumnya telah menerima dengan senang hati realitas semu itu. Telah ada model-model beragama yang disuguhkan oleh televisi lewat sinetron agama, reality show agama, penginjilan dan dakwah agama, dan lain sebagainya. Para pemeran sebagai simbol pencitraan telah menjadi panutan sentral, melebihi dari pesan yang harusnya mereka sampaikan. Keberadaan mereka bukan lagi merepresentasikan cara hidup yang religius, tetapi cara hidup religius adalah mereka. Cara hidup, cara berpakaian, cara bicara, dan lain sebagainya milik mereka telah dijadikan sebagai patokan hidup bagi orang beragama. Cara mereka memandang dunia telah menjadi jendela bagi orang beragama memandang dunia. Apa saja yang dapat dipandang positif atau negatif lewat bingkai-bingkai itu telah ditentukan oleh model-model spiritual dimaksud.

3. Siapa yang diuntungkan dari kenyataan beragama kontemporer saat ini?
Pihak yang sangat diuntungkan adalah para komodifikator agama. Mereka yang memanfaatkan kehausan spiritual manusia demi keuntungan semata. Cobalah dihitung berapa biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan satu ayat Alkitab lewat sms premium tiap hari? Berapa orang yang melakukan registrasi untuk mendapatkan ayat-ayat itu? Atau berapa keuntungan dari semua telepon premium yang masuk untuk minta didoakan dalam acara-acara televisi? Berapa keuntungan dari penayangan iklan dalam durasi program penginjilan dan dakwah di televisi? Berapa keuntungan yang diperoleh dari film-film atau sinetron-sinetron religi atau reality show religi? Apakah kita sadar bahwa kita sebenarnya hidup dalam dunia simulasi di mana religiusitas kita sementara diperjualbelikan?

Terhadap kenyataan itu, diperlukan pembangkangan terhadap tawaran-tawaran pencitraan yang disodorkan tiap hari kepada kita. Studi terhadap peranan media masa khususnya televisi terhadap penciptaan citra-citra atau imaji-imaji penting dilakukan guna penyadaran terhadap masyarakat bahwa kita sementara dibentuk menjadi masyarakat konsumen yang bukan lagi mengkonsumsi barang atau jasa, tetapi sekedar mengkonsumsi tanda. Konsumsi terhadap tanda telah menjadi kebutuhan pokok manusia, tidak peduli kebutuhan dasarnya terpenuhi atau tidak.
Ketika agama telah menjadi pesan dan pendeta atau pemuka agama lainnya telah dijadikan sebagai model, maka sesungguhnya itu adalah pertanda bahwa masyarakat kita sementara berproses menjadi konsumen tanda.

Kepustakaan
1. Jean Baudrillard, "Imposibble Exchange" (transl. Chris Turner), Verso: London, 2001
2. ----------------, "Simulacra and Simulation" (transl. Sheila Faria Glaser), University of Michigan Press: Ann Arbor, 1994
3. Perselingkuhan Agama Dengan Kapitalisme
4. Pradana Boy ZTF, "Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama"

Tidak ada komentar: