Selasa, 20 September 2011

Tentang Penis dan Selaput Dara

Alkisah, si A dan si B sama-sama laki-laki. Darimana anda tahu mereka sama-sama laki-laki? Ya itu, mereka sama-sama punya “Penis”. Mereka sama-sama dikaruniai sifat keingintahuan dan alat untuk memenuhi keingintahuan itu.

Pada titik tertentu, si A dan si B telah memperoleh kebenaran pragmatis tentang fungsi “Penis”nya. Menembus “selaput dara” untuk tahu apa yang ada di baliknya. Tentu tidak perlu ditutupi karena itu adalah “common sense”.

Setelah keingintahuan itu terjawab, apa yang terjadi?

Tidak cukup sampai di situ, si A memang menerima bentuk dan fungsi “Penis”nya, tetapi masih ada spirit lain yang mengganjal. Keingintahuan tentang apa yang ada di balik “selaput dara” mitologi yang dijaga ketat oleh penganut kreasioner. Lapisan atmosfir bumi adalah “selaput dara” baru yang perlu ditembus sehingga diimajinasikanlah “Penis” buatan yang berfungsi menembus, melampaui “selaput dara” itu. “Roket” pun diciptakan, menurut gambar dan rupa “Penis” sebagai bentuk kecerdasan. Penjelajahan ruang angkasa dimulai, seluruh isinya diteropong, menghasilkan pengetahuan baru. Kalau tanpa bantuan “Roket” yang diimajinasikan dari fungsi “Penis”, tak mungkinlah dapat seperti itu.

Bagaimana dengan si B? Sayangnya, dia masih suka main-main dengan “Penis” originalnya. Menembus ke sana ke mari dengan alasan mencari tahu di balik “selaput dara” original. Dia masih hidup dalam bayang-bayang mitologi dan ideologi tentang sang “Penis” yang tak bisa salah karena pengetahuan dan kecerdasan satu-satunya hanyalah tentang “selaput dara” perempuan.

Si A dan si B, sama-sama punya “Penis”, sama-sama tahu fungsinya, tetapi karena beda habitus, si A dapat menciptakan sebentuk “Penis” yang lain (Roket) untuk membantu meneropong guna menjawab pertanyaan: ada apa di balik “selaput dara” semesta? sementara si B, tak sedetikpun berpikir melampaui kepunyaannya, masih terus meneropong dan bertanya: ada apa dengan “selaput dara” di balik Rok Mini dan Celana?

Tidak ada komentar: